Kategori Arsip: Puisi Anggota - Halaman 2

SEPASANG TEROMPAH

Puisi: Hafney Maulana @ Lana esEs

Sepasang terompah yang kau pakai dulu
kini rapuh berdebu menunggu jejak kita
yang ditinggal peziarah mengusung deritanya

Sepasang terompah yang kau pakai dulu
bagai remaja yang merenung gadisnya
menemukan mimpi yang tak habis-habis
membangun kemegahan
yang tersengal dalam derita

Sepasang terompah yang kau pakai dulu
pucat bagai bibirmu – gelisah diusik dongeng
yang mencemburui warna
pada bingkai kaca. tempat kita berdarah
di dalamnya.

spiritual experience I

kau pun menjadi api
membayangkanmu aku terbakar

paramadina, 2009

Sujud

tersimpuh pada halaman suratmu
lebur aku khusuk dalam tulisan cinta
bertebaran pada rerumputan bulumata
sampai tatapanmu, kekasih
aku ikuti jejak malam penuh tasbih
kausematkan purnama di langit sunyiku

tersentuh dalam alunan ayat-ayat
airmata berpendaran di celah-celah rakaat
menerangi mihrab hingga subuhku
kutanamkan doa-doa kuimpikan semerbaknya
kusirami dengan embun sujudku

terenyuh dalam kehangatan rumahmu
kaubisikkan kehadiranmu, ampunan dan keimanan
bersinaran lamat-lamat fajar jiwaku
bersinaran tak henti-henti

http://puisiuntukkekasih.com

2009

pagi di atas tangga

aku memiliki tangga di rumahku
tangga yang aneh :
tangga yang cemburu dan menakutkan

suatu pagi aku berdiri di atas tangga itu
menatap kehidupan
yang sedang merayap di bawahnya

pemandangan di atas sini benar-benar lain :

ruang keluarga menjelma padang belantara
dimana para rerumput membunuh televisi—
ruang tamu serupa lemonade
yang kuminum malam kemarin

saat berdiri di puncaknya :
kau dapat mendengarnya bernapas :
berat dan berderak—
dan akhirnya dia berkata :
“mengapa mereka belum juga berkarat?”
“mengapa mereka belum juga melapuk?”

aku tahu diatas sini—
dia begitu mengginginkan napas kami
yang kami sembunyikan di bawah bantal
di ruang tamu

aku punya tangga di rumah—
tangga yang aneh :
tangga yang cemburu
tangga yang menyedihkan :

karena setiap malam
aku selalu mendengarnya benyanyi
berderit di bawah kubangan bulan
ah, bulan?
aku kira itu darah

ia berkata—
karena warnanya begitu manis :
bagai susu yang ada di bawah kakiku
beberapa abad yang silam

claire lawliet
2006

pantai waktu

di sepanjang dermaga :
dia berlabuh
mengambil senja dan jeritan
yang melayang di setiap nadi kanvas

buminya :

memanjang-memanjang :
akhirnya lenyap
di pagi jendela itu—

di sepanjang dermaga :
dia menggumam
bertanya pada karang dan tirai waktu

di pagi jendela itu—

dermaga suram
yang terbentang di bawah tempat tidurmu

claire lawliet
2006

sereal tentang kemarin

“apa sereal hari ini ma?”
aku bertanya pada ibuku.
yang sedang menghadapi dapurnya :
yang sedang bergayut pada keraguannya.

dinding jam memukul-mukul mentari di keningku :
mengingatkanku pada sarapan yang kemarin.

sarapan yang kemarin lebih indah.

ibuku membuat burger dengan saus tirai kamarku.
membuatnya lain dari pizza apapun yang ada di utara tempat tidurmu.

aku lapar.
setelah bangun dari kesunyian mimpi, aku lapar.
“apa sereal hari ini ma?”
tanyaku lagi.

iapun menoleh dari dapurnya :
tangannya memegang detik waktu
yang terus mengitari kipas angin yang menyala di depanku :
walaupun udara di luar semanis roti yang di panggang dalam kebenciannya,
tapi kipas itu terus menggumam : terus mengingau

lalu susuku tumpah
memantul di langit yang bersembunyi dalam nadiku

“apa sereal hari ini ma?”
namun ia tak menjawabku :
hanya riak dan derit takdir saja yang jatuh dari kelopak jiwanya

yuuna xiirou
2006

ruang senja

aku menghitung desahan daun kering
di akhir musim
di mana para pemburu telah pulang
ke rimbunnya malam yang menggigil
: memanggil pulang semua kawanan rusa
ke balik jariku

aku sedang bersedih : sebab darahku seringan jeritku,
dan lukaku seindah gaunku

aku menghitung desah daunan
yang pulang ke hangatnya kopiku :
ke nyamannya kamar tidurku

kenapa dia menaruh kesedihan seperti itu?
membiarkan ratap dan ringkik kuda menjelma
menjadi asap pada puing-puing kota

biarkan kematian mengepakkan sayapnya:
menjemput senja yang timpang di sikumu
tapi jangan biarkan keningmu memanjat
dinding-dinding jam
membuatnya menjadi remahan roti di piringku.

pulanglah ke rumahku:
ke lorong yang lebih rumit dari gelap
ke waktu yang lebih tua dari wajah dedaunan

claire lawliet
2006

musim dingin

aku menatap hujan lewat jendela kamarku
langit begitu gelap dibawah kubah matahari
ah, jangan mengajakku untuk menikmati malam
sebab bulan masih menangis di kediamannya yang kumuh
mengejar roti yang ada di meja kamarku

aku mengambil kopi,
susu, dan kelelahan
kunikmati bersama kepakan sayap liar di halaman benakku
ada yang menggigil di rumput
mungkin derit air : mungkin derit jiwaku
memanggil dalam lebatnya zaman yang kelabu
jangan buka jendela itu! : teriaknya
sebab hujan itu masih merangkak

masih mengginginkan roti yang kini ada di dalam darahku

aku masih memandangi hujan lewat jendela napasku
namun kini hujan itu menjerit :
bunuh aku !
bunuh semua rintik mimpi yang kubawa ke kardus ini
sebab bumi ini hanya sebuah kardus
yang dibuang oleh anakku sore kemarin

maka malam ini masih mengingini rotiku
roti yang kini ada di antara derasnya sejarah

sejarah yang dibuang anakku kemarin sore

maka aku masih memandangi hujan di dalam selimut waktu :
yang masih memandangi rotiku :
bersama angin membunuh lautan zaman

claire lawliet
2006

Nyanyian Gurun

dari senggama pasir dan debu
fatamorgana membias perak,

oase mungkin sebuah lubang

begitu dingin
begitu dalam

di luas gurun,
di jauh gurun.

mungkin kau telah menutup matamu,
mengukur dahaga di lehermu ketika
seseorang tiba di puncak sunyi piramida
dan berkata:

“sphinx yang buta adalah bidak
yang jatuh dari luas langit
seperti usia hanya ingin kembali
jadi gurun abadi dari rahasia.”

dari senggama pasir dan debu,
seseorang mengirim tanda
dengan panji di tangannya,

ketika yang maya segaris
dengan gradasi bianglala:
debu pun beterbangan,

dan cinta ingin menjemputmu,
siang itu.

“sebenarnya aku tak ingin menjerit
siang itu.” gumammu perlahan.

dari senggama pasir dan debu
Tuhan pun telah mencipta tanda.

(2009)

aku dan kamu

aku pekat
aku gelap
aku malam

dan kamu adalah adzan maghrib yang menuntaskan senja dengan matahari jingga, yang menjanjikan rembulan pada tiap tertutupnya pintu dan jendela, yang mengantar kepulangan sekawanan kepodang menuju sarang-sarangnya

aku lembab
ditengah awan
siap menjelma hujan

dan kamu seumpama sungai, seumpama danau, seumpama laut yang membisikan kata-kata penyejuk bagi batu, rumput, pasir yang kamu sentuh dengan teramat lembut, teramat halus, teramat aku tak akan sanggup

aku berujar
dari sebuah ingatan
hingga tenggelam kata-kata

menghalau segala argumen logis pada dialekta bintang dan cahaya lampu, sebab kamu membawa aku ke bilik rindu di ujung bulu mata dan sela-sela pikiranku

* judul diubah oleh editor