Kategori Arsip: Puisi - Halaman 2

Puisi-Puisi Yayan R. Triyansyah

PENIUP SERULING ILALANG
kepada: Seruling Ilalang

Dari rumah sunyi diperbukitan hening, tiba-tiba
kaudatang menyapa mengetuk pintu
dengan suara seruling dan tarian ilalang.
Membangunkanku dari lelap tanpa kutahu, apasiapa
rupa dan muka dirimu

mungkinkah,
dirimu peniup seruling ilalang
; rumah nada-nada dan gerak tari semesta
; racikan kemabukan beriburibu rindu

lalu kubertanya, tentang
perjalanan ruh adalah susur alir sungai, menyemai
kerinduan di tiap arusnya, serupa
angin yang tertiup lewat lobang jasad, seruling
nada kehidupan dan kausebut itu “belum”

lalu kaucerita
“pada merdu nada seruling, ilalang di halaman rumah sunyiku menari…
di puncak perbukitan hening semuanya bergeming.”

maka pada merdu nadanya, sunyi lindap, sepi mengendap
di puncak bukit hening, tempat pertapa sunyi tinggal,
menyatupersatukan tetes di luas samudera…

hilanglah kau, aku dan dia tanpa ada kata kita

Semarang, 15 November 2009

MENGAPA KITA TAK MENGGANTINYA SAJA

Karena sepi yang tinggal di kepalamu sudah terlalu tua dan kita lupa menggantinya dengan sepi serupa yang berusia lebih mudausianya. Sayangnya kemudaan menjadikanmu beralasan bahwa usia meniadakan guguran daun yang penuhi sejarah nisan ayahmu. Bukankah sepi itu sama saja? Dimana-mana orang menyebutnya sebagai pintu kesunyian, sebuah harapan yang menyimpan keputus asaan laiknya kelebihan beban kehidupan, sehingga puncak kebisingan menjadi sebuah denging tiada henti.

Semarang 2009

PEREMPUANKU

seusai cerita malam itu, kau seduh candu di secangkir kopi dan menyelimutiku dengan bara ragamu, terbesit kata rancu tentang janji, hingga kubiarkan keraibanmu menelan rinduku, sekedar rupa kabar yang kau umbar pada lorong kenang yang tak sabar.

; semoga kau ingat, sengatan kesumat yang tinggalkan bercak hitam di tengkuk dan lenganku.

ketika itu, belum usai kulukis pemandangan indah di tubuhmu, namun kau keburu diserbu, dan aku hanya terkantuk menunggu giliran serdadu yang jilat peluhmu ;sungguh tragis, setitik tangis atau ringis tak kulihat di rautmu.

sementara hanya harap yang kudekap, seperti lantai usang yang berkerak. Setiup redup sayup ingatku, kusampaikan lewat toa masjid, musholla dan orkestra pada pesta perkawinan karibmu, agar sampai jua kabarmu pada goresan pallet dan kuas yang kulukiskan di tubuh dan kemukusmu serta mulutmu yang meracau ketika itu.

Rembang, 2008

REVISI PETISI PUISI

setelah menuliskannya sedikit dari yang tertangisi

sebentar saja bersepakat dengan sangsi atau saksi dalam tradisi.
Sekujur tubuh puisi tak pernah mati,
hanya ada tertinggali atau tiada meninggali.
“hey, ingatlah !sebuah petisi tak harus harga mati,
karena dari adalah ambisi dan untuk tak berarti sugesti”
begitulah sebuah konsepsi.

Logika mengganti logistik yang dicuri,
maka revisi pun elak dihindari.

begini ;coba kembali pada mimpi, atau
apa yang hadir dari hari, mungkin sadari inspirasi.
“tak apalah, jadikan ini sebuah prasasti, walau
sebatas mengaji diri”

Pondok Gede, 2009

TENTANG KATA DAN MATA

Di sana kita lihat banyak manusia, mengusung
kepala-kepala gaduh,
entah mengaduh atau sungguh.
Sementara teman-teman sunyi kita mulai terjaga
;dan dimulailah percakapan dari pasang mata kita,
muncul kata-kata tak terbaca ;tentang perjalanan duka suka.

Jangan lupa kawan, coretan yang
kita lukis di dinding tiap masing belum usai.
Sambut saja mereka, dan luapkan dalam rasa.
Hingga lahir kata yang tak sebatas.
Kita sama tahu, banyak kata yang menunggu,
Dan aku ;hanya bekal rindu yang tak tentu.

Pondok Gede, 2009

Yayan R. Triyansyah, lahir di Rembang 21 April 1989. Tercatat sebagai mahasiswa Universitas Negeri Semarang 2006, program studi Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia. Beberapa puisinya dibukukan dalam Antologi pendapa 8 “SECANGKIR KOPI DAN PUISI” (TBJT, Juni 2009), Antologi bersama komunitas LEKAS(Jakarta, 2009), Antologi Penyair Nusantara “MUSIBAH GEMPA PADANG” (Malaysia, November 2009), bergiat di Komunitas Roda Gila, Komunitas Hysteria Semarang dan Komunitas Mata Aksara

SEPASANG TEROMPAH

Puisi: Hafney Maulana @ Lana esEs

Sepasang terompah yang kau pakai dulu
kini rapuh berdebu menunggu jejak kita
yang ditinggal peziarah mengusung deritanya

Sepasang terompah yang kau pakai dulu
bagai remaja yang merenung gadisnya
menemukan mimpi yang tak habis-habis
membangun kemegahan
yang tersengal dalam derita

Sepasang terompah yang kau pakai dulu
pucat bagai bibirmu – gelisah diusik dongeng
yang mencemburui warna
pada bingkai kaca. tempat kita berdarah
di dalamnya.

spiritual experience I

kau pun menjadi api
membayangkanmu aku terbakar

paramadina, 2009

Sujud

tersimpuh pada halaman suratmu
lebur aku khusuk dalam tulisan cinta
bertebaran pada rerumputan bulumata
sampai tatapanmu, kekasih
aku ikuti jejak malam penuh tasbih
kausematkan purnama di langit sunyiku

tersentuh dalam alunan ayat-ayat
airmata berpendaran di celah-celah rakaat
menerangi mihrab hingga subuhku
kutanamkan doa-doa kuimpikan semerbaknya
kusirami dengan embun sujudku

terenyuh dalam kehangatan rumahmu
kaubisikkan kehadiranmu, ampunan dan keimanan
bersinaran lamat-lamat fajar jiwaku
bersinaran tak henti-henti

http://puisiuntukkekasih.com

2009

pagi di atas tangga

aku memiliki tangga di rumahku
tangga yang aneh :
tangga yang cemburu dan menakutkan

suatu pagi aku berdiri di atas tangga itu
menatap kehidupan
yang sedang merayap di bawahnya

pemandangan di atas sini benar-benar lain :

ruang keluarga menjelma padang belantara
dimana para rerumput membunuh televisi—
ruang tamu serupa lemonade
yang kuminum malam kemarin

saat berdiri di puncaknya :
kau dapat mendengarnya bernapas :
berat dan berderak—
dan akhirnya dia berkata :
“mengapa mereka belum juga berkarat?”
“mengapa mereka belum juga melapuk?”

aku tahu diatas sini—
dia begitu mengginginkan napas kami
yang kami sembunyikan di bawah bantal
di ruang tamu

aku punya tangga di rumah—
tangga yang aneh :
tangga yang cemburu
tangga yang menyedihkan :

karena setiap malam
aku selalu mendengarnya benyanyi
berderit di bawah kubangan bulan
ah, bulan?
aku kira itu darah

ia berkata—
karena warnanya begitu manis :
bagai susu yang ada di bawah kakiku
beberapa abad yang silam

claire lawliet
2006

pantai waktu

di sepanjang dermaga :
dia berlabuh
mengambil senja dan jeritan
yang melayang di setiap nadi kanvas

buminya :

memanjang-memanjang :
akhirnya lenyap
di pagi jendela itu—

di sepanjang dermaga :
dia menggumam
bertanya pada karang dan tirai waktu

di pagi jendela itu—

dermaga suram
yang terbentang di bawah tempat tidurmu

claire lawliet
2006

sereal tentang kemarin

“apa sereal hari ini ma?”
aku bertanya pada ibuku.
yang sedang menghadapi dapurnya :
yang sedang bergayut pada keraguannya.

dinding jam memukul-mukul mentari di keningku :
mengingatkanku pada sarapan yang kemarin.

sarapan yang kemarin lebih indah.

ibuku membuat burger dengan saus tirai kamarku.
membuatnya lain dari pizza apapun yang ada di utara tempat tidurmu.

aku lapar.
setelah bangun dari kesunyian mimpi, aku lapar.
“apa sereal hari ini ma?”
tanyaku lagi.

iapun menoleh dari dapurnya :
tangannya memegang detik waktu
yang terus mengitari kipas angin yang menyala di depanku :
walaupun udara di luar semanis roti yang di panggang dalam kebenciannya,
tapi kipas itu terus menggumam : terus mengingau

lalu susuku tumpah
memantul di langit yang bersembunyi dalam nadiku

“apa sereal hari ini ma?”
namun ia tak menjawabku :
hanya riak dan derit takdir saja yang jatuh dari kelopak jiwanya

yuuna xiirou
2006

ruang senja

aku menghitung desahan daun kering
di akhir musim
di mana para pemburu telah pulang
ke rimbunnya malam yang menggigil
: memanggil pulang semua kawanan rusa
ke balik jariku

aku sedang bersedih : sebab darahku seringan jeritku,
dan lukaku seindah gaunku

aku menghitung desah daunan
yang pulang ke hangatnya kopiku :
ke nyamannya kamar tidurku

kenapa dia menaruh kesedihan seperti itu?
membiarkan ratap dan ringkik kuda menjelma
menjadi asap pada puing-puing kota

biarkan kematian mengepakkan sayapnya:
menjemput senja yang timpang di sikumu
tapi jangan biarkan keningmu memanjat
dinding-dinding jam
membuatnya menjadi remahan roti di piringku.

pulanglah ke rumahku:
ke lorong yang lebih rumit dari gelap
ke waktu yang lebih tua dari wajah dedaunan

claire lawliet
2006

musim dingin

aku menatap hujan lewat jendela kamarku
langit begitu gelap dibawah kubah matahari
ah, jangan mengajakku untuk menikmati malam
sebab bulan masih menangis di kediamannya yang kumuh
mengejar roti yang ada di meja kamarku

aku mengambil kopi,
susu, dan kelelahan
kunikmati bersama kepakan sayap liar di halaman benakku
ada yang menggigil di rumput
mungkin derit air : mungkin derit jiwaku
memanggil dalam lebatnya zaman yang kelabu
jangan buka jendela itu! : teriaknya
sebab hujan itu masih merangkak

masih mengginginkan roti yang kini ada di dalam darahku

aku masih memandangi hujan lewat jendela napasku
namun kini hujan itu menjerit :
bunuh aku !
bunuh semua rintik mimpi yang kubawa ke kardus ini
sebab bumi ini hanya sebuah kardus
yang dibuang oleh anakku sore kemarin

maka malam ini masih mengingini rotiku
roti yang kini ada di antara derasnya sejarah

sejarah yang dibuang anakku kemarin sore

maka aku masih memandangi hujan di dalam selimut waktu :
yang masih memandangi rotiku :
bersama angin membunuh lautan zaman

claire lawliet
2006

Morning, Noon, Night

I
the awaken sun
climbs into the sky’s white stairs
tons of hopes arise

II
golden summer heat
pond touched by shimmering wind
sunny sweet escape

III
twinkling of fireflies
underneath the blinking stars
wish to catch eden