Puisi

Karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif) – Herman J. Waluyo

Sajak ilalang kering

Jika kau tanya, siapa aku:
Aku adalah ilalang kecil yang jauh dari maha-meru ,terinjak dan guncang di mainkan derasnya angin ,tak berarti tajam yang di pucuknya tapi goresnya sia-sia,dan bunganya bergelanyut di sapu angin entah.

Jika kau tanya ,alamatku: di bawah langit kesia-siaan kujepitkan nafas helai demi helai.suaraku kadang nyaris tak terdengar dan tanganpun meraih badai

Aku di lahirkan di bumi merah tempat penindasan membangun istana megah,dan ketimpangan merajai mimpi-mimpi putih anak negeri.pada waktu dimana jalan-jalan tiap tapak menjadi saksi jiwa-jiwa yang terlindas oleh derap rolling stone

Pagi kemarin aku menyapa mentari,kubacakan puisi ku satu-satu ,ya….puisi ilalang kering dari ladang tandusku ,dengan harapan langit mendengar,tapi sia-sia,hanya memeluk sia-sia.

Barangkali di senja ini di pelabuhan terakhir’ kubakar diktat yang lunglai setelah dibentu-benturkan dan di remuk-remuk dari lorong hampa ke lorong hampa lainya.di sinilah ku coba gadaikan jiwaku untuk menimang mimpi terbang bersama kebebasan.

Kah kau dengar elang lain dari benua kesedihan memekak langit,wahai kebebasan sudilah melintas di awan kepakan sayap terakhir elang yang rapuh dan terluka ini,atas nama kemacetan yang bersetubuh dengan bumi dan lautan.
Tapi aku hanya ilalang kering yang mengangguk dan bernyanyi jika ada angin meniup.

Maaf bumiku dan lautan,maaf tanah dan airmu yang biru ,kali ini aku hanya bisa.seperti yang ku bisa ini.

Ada yang tersisa dari pelukanmu

Gelap yang gagal,cambuk langit patah-patah dan jarang.
Dari jauh gemuruh tawa,dari oramg-orang tercinta sisakan satu halaman di jiwa,yaitu seikat kembang jingga dan putihnya do’a.
Gelap itu luntur,di pintu tempat aku memeluk mu,ya…,ada harum tubuhmu yang tersisa.
Ada cinta yang mengalir tertinggal di sini.
Tanpamu,jalan dan langit yang ku hampiri adalah tak bernyanyi dan,gelap yang mengendap di tiap tikungan,aku hanya pengelana.
Gelap itu hanya mata,putihmu sumber penerang masih tersisa.

Masih ada ,dan selalu sisa tinggal bekaskan disini.