Kategori Arsip: Artikel - Halaman 2

Johannes Sugianto

Johannes SugiantoJohannes Sugianto dilahirkan di Bojonegoro, 5 Mei 1962 dan sejak usia setahun pindah ke Malang, kota yang membesarkannya dengan berbagai pengalaman dan petualangan. Lalu hijrah ke Jakarta, melanjutkan kuliahnya tapi mandek di tengah jalan karena biaya. Dunia jurnalistik sempat dijalaninya selama 7 tahun, dan sekarang menjadi staf Public Relations di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Sejak kecil, dunia sastra tak asing lagi baginya. Namun puisi memang baru disentuhnya, yang membuatnya langsung jatuh cinta.

Karya-karyanya bertebaran di berbagai milis puisi seperti Bunga Matahari, Apresiasi Sastra, Puitika, Penyair, Fordisastra & media cetak. Di antologi "Jogja 5,9 Skala Richter" dan "Empati untuk Yogya" puisinya ikut bersanding dengan para penyair lainnya.'Mengalir bagai air, saat sumbat terbuka' begitu puisi baginya. Karena itu, ia tak hentinya belajar dari banyak penyair yang dianggapnya sebagai guru, seperti Hasan Aspahani, TS Pinang dan Joko Pinurbo. Buku-buku puisi, entah itu kumpulan esai atau antologi dilahapnya karena sumur sastra memang tak hentinya habis ditimba. Kru Puitika.Net berkesempatan berbincang dengan penyair generasi cyber, Johannes Sugianto via e-mail. Berikut hasilnya bisa anda baca.

Sejak kapan anda mulai menulis puisi?

Berbicara soal 'menulis', apakah harus berwujud coretan di kertas atau tersimpan di file computer? Ketika jatuh cinta, puisi telah tertulis meski tak terkata. Ketika tersayat oleh duka, puisi juga tercipta.

Meski baru mempublikasikan karya puisi lewat media cyber/internet dan media massa, saya sejak SMP sudah menyukai dunia sastra. Puisi-puisi Rendra, Sapardi, Subagio Sastrowardojo sudah saya baca. Lirik-lirik lagu juga merupakan puisi bagi saya.

Sumber-sumber inspirasi menulis puisi?

Sumber inspirasi menulis puisi adalah perjalanan hidup. Tapaknya meninggalkan jejak yang terekam dalam jiwa. Lalu satu demi satu menetes, menjadi inspirasi. Pergulatan hidup saat kecil, untuk bisa membayar uang sekolah dengan berjualan kripik atau kerupuk, saya tuangkan dalam puisi 'Keripik Singkong'. Ketika anak saya ketiga, Anggita, pergi karena sakit, puisi-puisi tercipta dari sini. Begitu juga saat datang ide ketika menyaksikan reruntuhan rumah dan wajah putus asa para warga yang tertimpa gempa di Yogya.

Bagaimana masa kecil dan remaja anda, pernah terbersit untuk menjadi seorang penyair?

Saya lahir di Bojonegoro, di desa yang saya tinggalkan saat berusia satu tahun untuk pindah ke Malang. Di kota dingin ini saya menikmati masa kecil dan remaja yang mengesankan.

Menjadi seorang penyair? Hehehehe…tidak pernah terbersit sedikitpun. Ketika kecil, saya ingin menjadi pemain sepakbola, dengan posisi sebagai back atau pemain bertahan. Pernah ketika kuliah mendirikan kesebelasan yang hanya seumur jagung, dan ingin suatu saat punya klub sepakbola.

Lalu saat mulai jatuh cinta pada puisi, terutama tahun 2006 ini begitu intens menulis, saya juga tidak berpikir akan menjadi seorang Penyair. Saya hanya mencintai sastra, terutama puisi. Jika lalu ada sebutan sebagai Penyair, saya hanya bisa ucapkan 'alhamdulilah' karena karya saya dikenal dan lalu dianggap sebagai Penyair. Tetapi apapun sebutan yang ada, saya selalu merasa kurang dalam belantara sastra ini. Jika bicara ilmu, baru setinggi got saja, masih cetek kerena sumur sastra memang begitu dalam untuk diselami.

Anda lekat dengan komunitas Bunga Matahari, anda bisa ceritakan kepada kami kiprah anda di sana dan seberapa besar peran komunitas menyokong kepenyairan anda?

Bunga Matahari, seperti halnya milis apresiasi-sastra, penyair, sejuta-puisi, fordisastra, puitika.net dan lainnya, adalah wadah yang berarti untuk penggodokan kematangan seorang calon penyair. Dengan kredo yang sangat bagus 'semua bisa berpuisi', Bunga Matahari menjadi tempat menuangkan puisi tanpa mempedulikan kaidah sastra, dengan bahasa yang semau gue, asal dan sebagainya.

Komunitas yang ada, punya peranan cukup besar untuk pengembangan dan penggembelengan diri. Tapi ini saja tidaklah cukup. Saya melengkapinya dengan terus dan terus membaca karya puisi, esai puisi dan bahasan-bahasan seputar puisi, bertemu para penyair, cerpenis dan sebagainya untuk mengasah (mencuri) ilmu. Tanpa itu, dalam wadah apapun namanya, kita hanya akan 'berjalan di tempat', tak ada kemajuan berarti meski sekian lama berpuisi.

Selain itu, mempertajam naluri dan empati saat di jalanan, dialog dengan warga di kampung saya serta jeli melihat apa yang terjadi di jalanan, fenomena sosial yang tertangkap dalam berita televisi, media massa dan internet.

Dalam waktu dekat ini antologi puisi tunggal anda akan segera terbit, bagaimana benang merah antologi anda dan hal menarik di dalamnya?

Hmm….antologi, atau saya suka menyebutnya kumpulan puisi, merupakan suatu 'prasasti pribadi' tempat kita bisa memahatkan karya-karya puisi kita. Apa yang kita alami dalam hidup, sebagian tertuang di situ, ada dokumentasinya.

Penerbitan kumpulan puisi ini juga sarat dengan idealisme. Sejak awal, saya tahu dan sadar bahwa janganlah bermimpi buku ini akan laris, habis dibeli. Budaya masyarakat kita belum mencapai tataran cukup untuk menghargai karya puisi. Karena itu, saya lebih menekankan pada suatu semangat yang ingin saya tawarkan lewat penerbitan buku ini, kepada semua penulis dan penggemar puisi, bahwa 'kemauan, keberanian dan kesempatan' harus diraih. Saya berharap ini dapat menjadi dorongan bagi pengembangan dunia puisi kita.

Anda demikian produktif menulis puisi, bagaimana teknik anda menyampaikan ide gagasan ke puisi?

Terima kasih jika dibilang produktif. Terus terang, saya orangnya otodidak, tidak memiliki latar belakang pendidikan sastra. Saya suka membaca puisi-puisi dari buku, majalah sastra (yang memprihatinkan karena tinggal Horison dan beberapa saja di daerah), di media cetak (yang hanya terbit seminggu sekali, dan ini pun terbatas).

Saya tak punya teknik khusus Saat ada ide, dengan getaran di dada, saya langsung menghadapi komputer mengetik puisi. Jika tidak, saat di jalan, ya menulis di handphone untuk disalin di komputer. Mungkin sejalan dengan ilmu yang diberikan para guru puisi, juga pengalaman yang masih tak seberapa, saya endapkan puisi yang telah tercipta. Saya lihat lagi kata-katanya. Jika terasa kurang pas dengan alur yang ada, saya bongkar dan jika perlu dihapus.

Tentang puisi-puisi anda, adakah tema besar yang anda bawa?

Kehidupan. Pada anak, gejolak jiwa, gelisah, bertanya dan juga cinta secara universal.

Bagaimana dukungan keluarga dengan karir kepenyairan anda?

Pada awalnya, mereka tak mengerti kenapa saya suka puisi. Bagi mereka, dan ini juga cermin dari masyarakat kita, menulis puisi itu sia-sia. Cengeng dan kurang 'macho'. Namun karena mereka melihat saya keras kepala, akhirnya menerima dan tak lagi ada kata-kata untuk puisi yang tercipta, untuk pergulatan saat melihat saya membaca, menuliskan kata dan terlibat dalam berbagai kegiatan sastra.

Penyair favorit dan antologi kesukaan anda?

Penyair favorit saya antara lain Rendra, Sapardi Djoko Damono, Subagio Sastrowardojo dan Joko Pinurbo. Sedang antologi kesukaan saya "Sajak-sajak Sepatu Tua" (Rendra), "Hujan Bulan Juli" (Sapardi) dan "Kekasihku" (Joko Pinurbo).

Saya juga membaca dan belajar banyak dari para sastrawan yang menuliskan essay dan puisi, seperti Linus Suryadi AG, Abdul Hadi W.K., Kahlil Gibran, Hasan Aspahani dan lainnya.

Makanan kesukaan anda?

Saya punya kelemahan dalam makanan : tidak bisa pedas sedikitpun dan tak suka sayur. Maka makanan kesukaan saya tak jauh dari dagin dan kuah, seperti Rawon, Sayur Bayam, Soto, Sop Konro atau Sate.

Apa prinsip hidup anda?

Menerima dengan pasrah, memberi dengan tulus.

Apa rencana anda selanjutnya?

Mempunyai usaha sendiri dan terus menulis puisi.

Membaca puisi paling berkesan?

Saat peluncuran antologi 100 penyair "Jogja 5,9 Skala Richter" di Jakarta, saat membaca karya sendiri "Maafkan Aku"di depan para penyair lainnya yang dimuat di antologi itu.

Dengan kata-kata anda sendiri, apa itu puisi?

Puisi adalah perayaan hidup, curahan hati yang jujur dan jernih.

Kembali Ke Komunitas

Entah ada hubungan apa antara sastra dengan ilmu ekologi, tetapi yang menjadi pikiran saat melakukan perjalanan ke kota Cilegon untuk bertemu dengan Pemimpin Redaksi Fordisastra : Nanang Suryadi, adalah bahwa ada kemiripan antara niche (relung ekologi) dengan komunitas puisi cyber. Keduanya berlaku sebagai unit-unit fungsional dengan peran yang sangat menonjol di dalam habitat yang luas. Jika bicara niche maka kita bicara soal lingkungan hidup di suatu tempat tertentu, tetapi jika kita bicara soal komunitas puisi cyber maka kita bicara soal penyair. Keduanya adalah unit kecil di tengah-tengah sebuah kompleksitas.

Kembali pada kisah perjalanan ke Cilegon. Setelah menyaksikan alam yang sedang diterpa oleh panasnya matahari musim kemarau, didapatkan pengetahuan baru dari seorang Nanang Suryadi – yang mengaku sedang vacuum menulis sejak dikaruniai sebuah puisi konkret yaitu seorang anak perempuan bernama Cahaya – bahwa komunitas seorang penyair tidak bisa dibatasi. Pertemuan yang ramah di rumah beliau sungguh membuktikan bahwa penyair kondang akan selalu terbuka untuk menerima orang-orang yang ingin belajar menyair padanya. Dan dalam perjalanan selanjutnya, teorema seperti ini sudah menjadi fakta dan tradisi, sebab mereka yang namanya sering kita baca di media cetak sangat ingin menumbuhkembangkan sastra sehingga tak segan menerima yang ingin berguru. Nyantri, istilah blue4gie.

Atas dasar pemikiran Nanang yang lahir di Pulomerak, Serang pada 8 Juli 1973 dan keinginan yang menggebu, sebuah tawaran ke Rumah Dunia (RD) dan Sanggar Seni Serang (S3) yang dikomandani oleh Gola Gong, Tias Tatanka, Toto St Radik, serta Venayaksa langsung kami sambar tanpa piker panjang lagi. Di sana, kembali kita dapatkan kembali fakta bahwa seorang Gola Gong menerima dengan tangan yang terbuka. Bahkan beliau menyambut rencana Johannes Sugiyanto yang hendak menerbitkan antologi puisinya November mendatang, untuk dijadikan agenda diskusi puisi pada Januari 2007. Rumah Dunia yang terbuka untuk diskusi setiap sabtu dan minggu, bahkan menawarkan diri sebagai tempat jika komunitas puisi cyber ataupun komunitas sastra lainnya jika mempunyai agenda acara. Juga bersedia untuk menyiapkan para pembahasnya.

Sebuah terobosan yang sedang digarap oleh RD dan S3 adalah proyek penerbitan buku (baik buku puisi maupun kum-cer) oleh beberapa penyair / penulis secara bersama dan dalam format sederhana sehingga bisa ditekan biaya cetaknya. Hal ini dilakukan dengan alasan bahwa saat ini penerbit banyak yang mengeluhkan soal kurangnya dana. Juga ada indikasi adanya budaya “siapa yang mengenalkan siapa” untuk mengangkat seorang penyair bisa masuk dalam media massa, hal yang dirasakan sendiri oleh Gola Gong di dunia penulisan skenario sinetron yang di dominasi kelompok-kelompok penulis tertentu. Terobosan ini dapat ditiru oleh komunitas puisi cyber atau sastra lainnya. Dengan demikian makin banyak penyair dan penulisa sastra bisa bermunculan dengan pesat. Di RD kami pun berkenalan dengan penyair-penyair muda ; Qizink La Aziva dan Bahroji.

Kunjungan terakhir di rumah Toto St Radik melengkapi kenikmatan bertemu para sastrawan di Serang ini. Terutama mengenai nasib puisi yang masih dianggap tidak punya nilai jual oleh kalangan lain di luar sastrawan. Dia mencontohkan buku puisinya yang dijual kepada anggota dewan di tingkat provinsi Banten saat mereka bersidang, seharga Rp. 10.000,- dan tidak ada yang mau membeli. Ketika Totok memberitahu itu gratis, semua anggota Dewan yang terhormat itu tanpa risih langsung mengantonginya. Hal ini adalah tantangan yang luar biasa bagi para penyair. Beliau juga menekankan agar para penyair muda dalam satu komunitas harus mau banyak “bergaul” dengan komunitas lain demi terciptanya kebersamaan semangat dan hal-hal yang bersifat saling mengisi.

Berbekal hal itu semua, dalam perjalanan pulang kembali ke Jakarta, terpikirkan bahwa komunitas puisi cyber bukanlah satu niche tetapi seyogyanya adalah satu mata rantai dari sebuah gerakan kesadaran bersastra.

(Kami yang melakukan perjalanan di Jumat 27 Oktober 2006 : Johannes Sugianto, Dino F. Umahuk & Dedy Tri Riyadi )

Launching "Tulislah Namaku Dengan Abu" Karya Abdul Mukhid

Bertempat di Aula Perpustakaan Universitas Negeri Malang, Rabu, 11 Oktober 2006Pukul: 12.45 – 14.00 WIB, antologi puisi Abdul Mukhid yang pertama diluncurkan. Antologi yang berjudul "Tulislah Namaku Dengan Abu" adalah kumpulan puisi sepanjang tahun 1998-2003. Acara ini melibatkan Nanang Suryadi (pendiri Fordisastra.com) dan ARS Ilalang (penyair) sebagai pembicara tamu. Jumlah tamu yang hadir memang kebanyakan mahasiswa dan rekan-rekan teater dari kota Malang. lainnya rekan-rekan dari bengkel Imajinasi . Total yang datang sekitar 50 puluhan.
Acara di mulai dengan pembacaan puisi oleh Abdul Mukhid selanjutnya diikuti oleh perbincangan mengenai antologi oleh Nanang Suryadi dan ARS Ilalang.

Berikut pengantar dari Nanang Suryadi untuk karya Abdul Mukhid.

Pergulatan dengan puisi seringkali mendorong penyair mencintai
dengan keras kepala. Seringkali penyair tidak dapat melepaskan diri
dari puisi, bukan karena ia ingin mendapatkan gelar atau sebutan
penyair, namun yang terjadi adalah ia selalu merasa terikat dengan
dunia tersebut, entah apapun alasannya. Jika pada akhirnya Mukhid
menerbitkan sebuah buku kumpulan puisi, setelah sekian lama tidak
pernah membukukan dalam antologi tunggal, adalah juga merupakan
bagian dari proses kepenyairannya. Dengan adanya sebuah buku
kumpulan puisi, sang penyair dapat berharap puisi-puisi yang lahir
melalui tangannya tidak lenyap begitu saja. Puisi berhak untuk
bergaul dan dikenal banyak orang di luar penyairnya sendiri.
Pengalaman puitis sang penyair berhak dicatet dan mendapat tempat.

Saya mengenal Mukhid lebih dari sepuluh tahun lalu, bersama-sama
terlibat dalam kegiatan seni di Kota Malang sejak masa mahasiswa di
tahun 90-an, khususnya teater dan sastra. Masa-masa penuh gairah
berkesenian, hingga menembus malam dengan diskusi-diskusi tentang
berbagai hal, termasuk mendiskusikan puisi yang kami tulis. Beberapa
sajaknya saya baca dalam kumpulan-kumpulan puisi bersama. Namun
dalam pengamatan saya, dibanding aktivitas penulisan puisi Mukhid
lebih intens dalam pementasan teater.

Aktivitas Mukhid dalam pementasan teater, baik sebagai aktor,
sutradara serta penulis naskah terasa mempengaruhi penulisan sajak-
sajaknya, sebagai buktinya adalah karya-karya dalam buku ini.
Pertunjukan teater seringkali menampilkan "kejelasan"
atau "keterbukaan" yang lebih dengan menggunakan bahasa verbal dan
bahasa tubuh agar penonton dapat memahami apa yang disampaikan sang
aktor di panggung. Keterbukaan inilah yang seringkali saya temui
dalam sajak-sajak Mukhid. Penyair dalam menulis sajak-sajaknya
seperti telah mempersiapkan untuk melisankan sajak-sajaknya dalam
sebuah panggung pementasan, bukan sekedar tampil dalam sebuah buku.
Tradisi pelisanan sebuah karya sastra menjadikan sajak-sajak yang
ditulis penyair menjadi lebih cair dengan bahasa yang lugas.
Terlebih lagi, jika ditelusuri dalam beberapa larik sajaknya terasa
Mukhid secara sadar atau tidak meminjam gaya penyair yang sering
melisankan puisinya di atas panggung, seperti Rendra dan Emha Ainun
Najib.

Dalam 44 sajak yang ada dalam buku ini, saya temukan banyak sekali
kata-kata tentang Tuhan, atau kata gantinya seperti Mu, Gusti, Sang
Maha Suci, Nya, Engkau. Kata-kata tersebut muncul dalam berbagai
suasana sajaknya, entah di saat sepi, entah di saat gaduh hiruk
pikuk protes sosial. Hubungan penyair dengan Tuhannya memang
seringkali merupakan sebuah pengalaman puitis yang menggelitik untuk
dituliskan menjadi sebuah sajak. Jika kita baca sajak-sajak dalam
khazanah perpuisian tanah air dan dunia, tema tentang hubungan
penyair dengan Tuhannya sangat banyak dijumpai.

Hubungan Mukhid dengan Tuhannya, dapat terlihat dalam larik-larik
sajak berikut: Tuhan, kalau Engkau memang Kenyataan Tertinggi./Kita
berdamai saja mulai hari ini (Berdamai Dengan Kenyataan). "Tidak!
Sebelum aku menyamai Tuhan!" (Dialog Imajiner dengan Caligula).
Kugedor lagi pintu. Kuteriakkan keras-keras/ entah nama-Nya atau
namaku./ Tetap tak ada jawab. Selain harap/ (Di Luar terlalu Gaduh)
Dengan putus asa aku pun berbisik lembut:/ "Gusti. Bukakan pintu.
Kuncinya tak kutemu/ Aku ingin istirah. Di luar terlalu gaduh./ Di
luar terlalu gaduh…"/ (Di Luar Terlalu Gaduh). Tuhan, maafkan
aku/114 surat yang kau kirim/ tak pernah sempat kubalas// Engkau
terlalu absurd sih,/ hingga untuk memahami satu huruf saja/ dari
kalimat-kalimat indahmu/ diperlukan ribuan kesabaran bumi/ dan
ratusan kesetiaan matahari.// Engkau terrlalu misterius sih,/ hingga
meski kudapat 99 catatan alamatmu/ yang terpatri di helaan nafasku/
jangankan mengetuk pintumu/ membaca alifmu saja aku tak mampu//
Engkau terlalu lembut,/ hingga walau kutemu 6666 kunci gaibmu/ tak
pernah bisa kubuka jua/ jangankan tabir Diri-Mu/ tabir diriku saja
aku tak kuasa// Tuhan, maafkan aku/ 114 surat yang kau kirim/ tak
pernah sempat kubalas// (Mungkin mataku yang buta/ hingga tak pandai
mengeja./ Mungkin tanganku yang tak berdaya.)" (Tuhan Maafkan Aku).
Tuhan, tuntunlah tanganku (Peta Nasib 2). Masihkah tersisa ruang
buat Tuhan/ di sudut nuarni? (Sajak Milenium). Tak semua bisa
dirumuskan/ memang./ Seperti malam ini/ ketika air mata bercucuran/
Sewaktu tiba-tiba/ kita melakukan kesalahan yang memang dikehendaki-
Nya. (Tak Semua) Duh Gusti,/ hamba semakin tak mengerti (Malam di
Ujung). Di dalam ruang kecemasan:/ mungkin saja Tuhan sedang
tertawa/ mengolok-olok kekonyolan kita (Di Dalam Ruang Kecemasan).
Kubaca namaMu/ dalam dekap sunyi kalbuku (Kubaca Dunia). Tiba-tiba
aku jadi teringat/ butir-butir firman Tuhan,/ maut, kubur dan
akhirat/ Aku jadi semakin tak percaya/ bahwa dunia ini betul-betul
nyata// "Duh Gusti,/ tanggal apa dan hari berapa/ kita akan
bertemu?" (Ini Hari Apa? Tanggal Berapa?). Tuhan,/ Kalau memang
kecemasan adalah salah satu dari/ bahasa Cinta-Mu/ Beri aku satu
kecemasan saja:/ harap-harap cemas kalau-kalau aku tak mampu/
memandang wajah-Mu/ di Hari Yang Dijanjikan (56 Tahun Indonesia
(Masih) Cemas). Duhai Sang Pengarang/ kapan ini bermula/ dan kapan
ini akan berakhir? (Tanda Tanya Agung). Tuhan, beri aku kekuatan
untuk berevolusi/ sebab aku tak mau hatiku mati (Revolusi Dimulai
Hari Ini). Tuhan, Biarkan kugedor bilik hatimu-Mu/ Biar lunglai
kakiku ragu/ Biar gentar mataku sayu// Tuhan,/ Bukalah pintu rumah-
Mu/ Biar aku bertamu/ dan menyantap semua hidangan-Mu: / sekerat
cinta, periuk nasib, saripati keyakinan, juga/ manisan keindahan
segala jaman (Bukalah Bilik Hatimu). Gusti,/ Mohon kali ini engkau/
balas dengan gambling/ Tak perlu attachment/ alias lampiran/ Tolong
kirimi aku: peta nasib, resume keyakinan/ dan sejumlah alamat
kebahagiaan (Tuhan@Arasy. Com). Maka Tuhan pun memanggil seluruh
pejabat/ negeri yang kata orang potongan sorga itu./ Sungguh
pemandangan menakjubkan/ Menyaksikan berjajar-jajar orang/
menantikan keputusan Sang Maha Adil (Tuhan Tidak Menerima Sogokan)

Kata-kata lain yang juga digemari Mukhid dan kerap muncul dalam
sajaknya adalah sepi, cemas, nasib serta nama-nama tokoh mitos dan
tokoh nyata. Kata sepi bahkan menjadi bagian dalam judul bukan hanya
dalam teks di tubuh sajaknya (misalnya judul: Catatan Sepi 1,
Catatan Sepi 2, Catatan Sepi 3, Catatan Sepi 4)

Demikianlah, sekedar catatan singkat pengantar diskusi. Banyak hal
yang ingin saya sampaikan tentang sajak-sajak Mukhid ini, yang
mungkin bersetuju dengan para peserta diskus
i kita kali ini. Sebagai
penutup saya bacakan 4 Sajak Mukhid:

TULISLAH NAMAKU DENGAN ABU

Bakarlah aku dalam bilik jantungmu
hingga yang tersisa hanya abu
Lalu dengan abu itu tulislah namaku
seperti waktu kau punguti jam-jam yang meragu

Tulislah namaku dengan abu
Sebab kenangan hanyalah catatan alam yang
berdebu
Meski hidup cuma bayangan semu
Tataplah hari-hari dengan senyummu

Tulislah namaku dengan abu
Untuk sekedar memberi kemungkinan sang waktu
Melakukan tawar menawar dengan Tuhan
Karena perjalanan, betapapun berat, harus
diteruskan

Tuliskan namaku dengan abu
Berdoalah agar dari kematianku
datang kelahiran baru
Agar aku tak kehilangan kepercayaan
kepada kesejatian

Tulislah namaku dengan abu
Karena rasa berdaya tak boleh mati begitu saja
kesabaran menjadi samudra
daya hidup menjadi cakrawala

Tulislah namaku dengan abu
Sebab kita tak pernah berencana bertemu
Tulislah namaku dengan abu
Biarlah angina membawa pergi kemana ia mau

21 Maret 1998

DI LUAR TERLALU GADUH

Dengan tergopoh-gopoh kugedor pintu:
"Buka pintu! Cepat! Di luar terlalu gaduh.
Aku ingin istirah, biar hatiku teduh."

Tak ada jawab. Hanya senyap.

Kugedor lagi pintu. Kuteriakkan keras-keras
entah nama-Nya atau namaku.
Tetap tak ada jawab. Selain harap.

Sekali lagi kugedor pintu. Tak bisa lagi nunggu.
Kali ini segala hardik dan serapah
Melumur jua dari bibirku. Senyap sesaat.
Sampai…

"Kuncinya ada padamu!"

Aku kelabakan, berputar-putar mencari kunci.
Dari segala batas yang kutahu, aku mencari.
Dari segala ujung yang kutahu, aku mencari
Tak juga kutemu.

Dengan putus asa akupun berbisik lembut:
"Gusti. Bukakan pintu. Kuncinya tak kutemu.
Aku ingin istirah. Di luar terlalu gaduh.
Di luar terlalu gaduh…"

18 Desember 1998

SAJAK SEPOTONG MANGGA

Pernahkah engkau bertanya:
Kenapa mangga rela
Menjadi mangga

24 Desember 1999

KUTUKLAH AKU UNTUK MENCINTAIMU

Kutuklah aku untuk mencintaiMu,
karena mataku telah buta oleh pesona dunia
karena telingaku telah terpikat oleh merdu sarwa
Suara
karena tanganku telah kotor oleh noda
karena mulutku telah berlumur pura-pura
karena aku selalu kalah oleh nafsu yang bertahta

Kutuklah aku untuk mencintaiMu
Karena aku telah terperangkap asmara nan maya
Karena jauh di lubuk kalbuku
Masih kurindu wajahMu
Walau dengan perih hati dan rasa amat tak berdaya

Kutuklah aku untuk mencintaiMu
sebab aku tak mampu lepas dari berhala diri
sebab aku tak sanggup menghindar dari nafsu
duniawi
sebab aku terkurung dalam labirin kepalsuan nan
memabukkan
sebab aku terperangkap dalam jerat-jerat keakuan
Kutuklah aku untuk mencintaiMu

Jauhkan segala yang akan menjauhkan aku dariMu
Singkirkan segala yang menyilaukan aku dari
memandangMu
halau segala yang menambatkan hatiku tidak
padaMu
kutuklah aku menjadi pecinta sejatiMu

Acara ini menjadi saksi langkah kepenyairan Abdul Mukhid yang sebelumnya dikenal sebagai teaterawan dan penterjemah buku dibandingkan penyair. Semoga tahun-tahun ke depan Abdul Mukhid akan lebih berkarya secara totalitas dan terus produktif. Selamat atas peluncuran karyanya Pak De!

Syahrirul Habib Ramadhan

Perjalanan Estetik, Spirit Religiusitas dan Sosial*

Abdul Mukhid - Tulislah Namaku Dengan AbuKegelisahan hampir dapat dipastikan akan selalu ada dalam perjalanan hidup manusia. Seperti juga aku dan juga anda tentunya. Tetapi di sini jelas berbeda. Dalam hal apa? Tentunya dalam hal penyikapan, penguraian, pemaknaan dan pengaktualisasian dari rentetan kegelisahan yang melingkupi perjalanan diri. Ada pilihan-pilihan yang akan terpampang dalam perjalanan (proses) pencarian untuk ditetapkan sebagai media aktualisasi. Menulis puisi adalah salah satunya. Konsistensi sangat dibutuhkan untuk membawa eksistensi diri muncul kepermukaan.

Nah, di sini salah satu fase telah dilewati oleh penulis puisi (penyair) ketika ia telah menerbitkan (mempublikasikan) karya-karyanya. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer dalam Rumah Kaca “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”. Seorang penulis akan diakui eksistensi dirinya sebagai penulis kalau tulisan (karyanya) telah terpublikasikan, bukan dari sebuah keakuan yang sering dilontarkan “Aku seorang penulis”, “Aku seorang penyair!”, “Aku juga bisa menulis!”, “Aku bisa menulis seperti itu 10 biji dalam sehari!” dan seterusnya. Karena predikat penulis, penyair, pelukis, teaterawan dan sebagainya akan secara otomatis akan diberikan oleh publik secara otomatis seiring dengan karya-karya yang dihasilkan yang terpublikasikan.

Pencapaian ini telah dilalui oleh seorang Abdul Mukhid sebagai seorang penyair (walaupun dia sendiri enggan disebut penyair). Ada proses yang begitu kental dijalani untuk sekedar mengalahkan kata antinomi yang terdapat dalarn salah satu puisinya dalam buku “Tulislah Namaku Dengan Abu” yang berjudul “Aku Bukan Penyair, Karena Itu Aku Tulis Puisi”. Demikian satu bait sajaknya:

Aku bukan peyair, karena itu aku tulis puisi
Sebab banyak penyair yang tak menulis puisi
Hanya berteriak melolong memuja diri
Sedargkan puisi ditinggalkan di sudut-sudut nurani

(halaman 53)

Dia membawa wacana etika profesionalisme yang cenderung memuja diri dengan pengakuan banal dari eksistensi. Satirisme yang ia bawa mengena pada titik kulturalisasi keberadaan figur. Kesadaran akan kekaryaan bukan semata karena sebuah frame yang dipaksakan. Pengakuan bukan berasal dari ke”aku”an, tapi dari sebuah konsistensi proses yang dijalani.

Merujuk dari sebuah perjalanan seorang manusia yang memiliki batas kemampuan (nalar, laku dan rasa), seorang Mukhid telah rnelampauinya. Puisi dalam hal ini tidak sekedar teks puitis tapi memiliki kekuatan yang sengaja atuu tidak sebagai sarana kontemplasi dan introspeksi diri (khususnya bagi penulis). Ada energi yang melonjak dari baris satu ke baris berikutnya. Dari satu bait ke bait berikutnya. Yang menciptakan efek dramatik dari proses dilematik yang tereduksi oleh kemampuan daya nalar penyair (yang benar-benar penyair).

Dari sajak di atas muncul seorang Mukhid yang agraris secara demografi. Proses adaptatif yang dilakoni ketika berada pada sistem budaya yang membelenggu sebuah perilaku religius membawa Mukhid pada pemaknaan dia tentang transendensi terhadap keberadaan Tuhan. Mukhid berusaha membongkar dogma walau malu-malu dan cenderung takut. Melalui kemampuan dari kembaraan imajinasi yang ragu. Ada kepasrahan pada perjalanan religiusitasnya. Sebuah do’a dari umat kepada tuhannya. Tengok petikan sajak berikut:

Kutuklah aku untuk mencintaiMu
karena mataku telah buta oleh pesona dunia
karena telingaku telah terpikat oleh merdu sarwa, suara
karena tanganku telah kotor oleh noda karena mulutku telah
berlumur pura-pura karena aku selalu kalah oleh nafsu yang bertahta

(halaman 49)

Kesadaran Mukhid untuk memasuki ranah estetik kultur formalisme persajakan Indonesia. Membawa dia pada rotasi imajiner dari perjalanan spiritual yang estetis. Hal ini terlihat di sajak Tuhan@Arasy.com demikian sajaknya:

Gusti,
mohon kali ini Engkau
balas dengan dengan gambling tak perlu attachment
alias lampiran tolong kirimi aku: peta nasib, resume keyakinan
dan sejumlah alamat kebahagiaan.
N.B.: Jangan lupa kirimkan remainder dosa dan keangkuhan.

(halaman 42)

Dari sajak di atas ada sesuatu yang ‘entah’ sengaja atau tidak dimunculkan. Terminologi sufistik kentara sekali dari terputusnya egoisitas seorang Mukhid yang menjalani proses sublimasi makna dari pergulatan emosi yang ‘banal’. Lebih mengacu pada peralihan perspektif yang pada awal penciptaannya berasal dari empirisme. Penjangkauan transendensi yang lincah ingin dicapai dengan mengaburkan obyek yang temui. Walau terlihat keraguan namun amat progresif muncul dari orang yang sangat religius.

Ada pola-pola penafikan yang diperuntukkan pada efek-efek visual menentang rima dalam penciptaan makna transendensial. Kekuatan-kekuatan kata yang semula terhimpun tiba-tiba dilepaskan seketika. Semangat yang meledak-ledak seketika surut. Terjadi progresivitas negatif dari makna teks. Antiklimak. Post. Nir. Adanya trans subyektivitas keberadaan Tuhan pada diri seorang Mukhid yang santun. Adanya kesadaran Mukhid melewati proses pemaknaan terhadap dogma. Batas empirik dan fakta. Cara pandang kultural yang belum terbongkar. Kembali pada sifat kanak-kanak yang naif. Pasrah. Menerima apa adanya. Sesuatu yang tak (boleh) tersentuh. Perjalanan spiritual Mukhid. Mukhid adalah “pendo’a” Pembacaan ini banyak terdapat pada sajaknya. Salah satunya ada dipetikan sajak berikut:

…….. ketika kita ingin memberontak
dan ditengah cerita tiba-tiba kita terperangah
Duhai Sang Pengarang
kapan ini bermula dan kapan ini berakhir

(halaman 36)

Kecerdasan. Dalam sajak lainnya aku melihat makna ekplisit mengumbara pada ruang-ruang publik yang ingin dirambah. Tetap pada ranah Sufi (sengaja atau tidak) ingin diajak kontemplasi. Ruang-ruang publik yang telah dipagari rapat-rapat dan diperuntukkan bagi kaum yang homogen dan mencipta istana-istana baru yang membawa kebenarannya masing-masing, memunculkan pesimisme dari semangat yang berapi-api seorang Mukhid. Juga budaya yang telah bergeser dari timur ke barat. Kebenaran yang ia emban berada pada situasi yang akut (khawatir). Tetap dengan kecerdasan dan kepekaan intuitif vang dimiliki, Mukhid menampilkan realitas sosial yang tereduksi habis-habisan oleh seduksi duniawi. Konsumerisme. Ya konsumerisme Yang rnenciptakan tuhan-tuhan baru pada gejala-gejala sosial telah tertangkap oleh indera Mukhid. Walaupun yang dimunculkan baru pada tukaran opini. Kembali pada kekawatiran Mukhid yang santun tidak memberikan solusi atau sekedar resolusi dari sebuah pergulatan batin yang ia alami, la meruang pada pertanyaan-pertanyaan. Menciptakan literal yang nyaman. Berkorelasi dengan pemahaman masyarakat kebanyakan. Tengoklah sajak berikut:

Ketika mata kita dijajah televisi
Pada saat hati kita dijajah playstation
Sewaktu otak kita diserbu komputer
Di masa peradaban kita dikangkangi internet
Masihkah tersisa ruang buat Tuhan
di sudut nurani?

(halaman 23)

Atau sajak berikut:

Barangkali Sisipus memang berdosa
Dan harus menanggung hukumannya
Walau bukan tidak mungkin ia bahagia
Tapi mengapa kita harus ikut merasa menderita
Mungkin kita ingin jadi Tuhan
Dan diam-diam telah menyiapkan
Sebuah rencana pemberontakan

(halaman 22)

Abdul Mukhid sang pendo’a yang membawa citra spektakuler pada pembacaan ruang yang didiaminya. Pada kesepian. Pada kejengahan terhadap realita. Yang tidak terbawa arus perspektif seksualitas yang “booming” setidaknya sampai saat ini. Abdul Mukhid telah menuliskan sejarahnya dengan runut. Aku pernah bilang kepada seorang kawan lama mengenai pemahaman dan penerjemahanku terhadap sejarah. “Sejarah putih selalu tercipta dari mereka Yang berkuasa. Tapi sejarah yang sebenarnya akan tertoreh dari mereka yang peduli.” Dan Abdul Mukhid adalah salah satu orang yang perduli dari sekumpulan orang yang perduli pula. Bagaimana dengan Anda?

* Disampaikan saat launching antologi puisi Abdul Mukhid “Tulislah Namaku Dengan Abu”, 11 Oktober di Aula Perpustakaan UM.

Abdul Mukhid

Abdul Mukhid, lahir di Kepanjen Malang 22 februari 1974. Lulus dari pendidikan Bahasa Inggris IKIP Malang tahun 1998. Sewaktu SMA dan mahasiswa sering membacakan puisi-puisinya di radio-radio setempat, maupun dari kampus ke kampus. Saat ini menjadi instruktur bahasa inggris di Yayasan Persahabatan Indonesia Amerika (YPIA), di Malang. Aktif dalam Komunitas Bengkel Imajinasi dan redaktur buletin berkala BACA.

Puisinya termuat dalam antologi puisi bersama: Interupsi (SPMM,1994), Luka Waktu (Taman Budaya Jatim, 1998), Pemberontak Yang Gagal (Forum Remaja 2000, 1999), Ning (Sanggar Purbacaraka, 2000). Puisi bahasa inggrisnya masuk dalam antologi Whispering Recollections (International Library of Poetry, 2002). Sedangkan antologi tunggalnya "Tulislah Namaku Dengan Abu" (Babel Publishing, 2006).

Setelah Idul Fitri, Abdul Mukhid merencanakan baca puisi keliling antara lain ke Mojokerto dan Madura, namun tidak menutup kemungkinan ke kota lain asalkan tidak bertabrakan dengan jadwal mengajarnya. Selain baca puisi akan diadakan diskusi buku.

Teater adalah aktivitas kesenian lain yang digelutinya. Salah satu naskah drama nya Rahawana menjadi juara II lomba penulisan naskah Dewan Kesenian Medan 2005. Prestasi terbaiknya adalah menjadi salah satu sutradara terbaik dalam Pekan Seni Mahasiswa Regional Jatim atas nama Teater Hampa Indonesia IKIP Malang tahun 1999. Beberapa kali menjadi sutradara dan aktor dalam proses pementasan sejumlah komunitas kesenian di Malang.

Menjadi penerjemah adalah salah satu karirnya. Beberapa terjemahannya: Filsafat Ilmu Sosial Kontemporer (Tadarus dan Jendela, Jogyakarta, 2002), Seri Tokoh Dunia: Nietzsche (Bentang,Jogjakarta, 2003), Gender Voices (Pedati, Pasuruan, 2003), Telaah Kritis Rabindranath Tagore (Pedati, Pasuruan, 2003), The Fifth Column (Pedati, Pasuruan, 2004), The Theatre of the Absurd (Martin Esslin, dalam proses edit).

Kru Puitika.Net berkesempatan mewawancarai via email. Berikut perbincangannya.

Sejak kapan anda menulis puisi?

Saya memulainya secara iseng ketika saya SMP

Bagaimana masa kecil anda dan peran orangtua dalam karir sebagai penyair?

Orang tua saya bukan orang berpendidikan.Kepenyairan saya lebih banyak timbul dari pergulatan batin dan kegemaran membaca

Siapa penyair kesayangan dan antologi kesukaan anda?

Goenawan Mohammad, Sapardi Joko Damono, Rendra, Emha Ainun Najib, Octavio Paz, Robert Frost. Antologi 'asmaradana' [GM]

Bagaimana proses kreatif anda dalam menulis puisi, misal menentukan tema dan seterusnya?

Lebih banyak merupakan hasil kontempelasi yang mengendap baik yang bersifat individual, sosial maupun spiritual

Anda baru saja menerbitkan buku antologi terbaru, apa benang merah dari buku tersebut?

Sebagian besar merupakan catatan perjalanan batin saya dalam proses pencarian eksistensi diri dan hubungan dengan Tuhan

Anda berlatar belakang pendidikan sastra inggris, mana yang lebih nyaman, menulis puisi dalam bahasa inggris atau indonesia? alasannya?

Bahasa Indonesia tentunya karena merupakan bahasa ibu saya. Menulis dalam bahasa Inggris sering terkendala dengan keterlibatan batin dengan bahasa itu sendiri.

Apa filosofi hidup Anda?

Mengalir seperti air

Jenis musik yang Anda sukai?

Semua suka terutama New Age, Klasik dan Jazz

Anda aktif di teater, seberapa seberapa besar pentingnya berkomunitas menyokong Anda sebagai penyair?

Sangat penting karena mereka turut mempengaruhi kepenyairan dan pergulatan saya.

Jika Anda diberikan kesempatan untuk mewujudkan 3 permintaan Anda, apa yang akan Anda minta?

Hmmm sulit menjawabnya. Tapi baiklah saya akan jawab satu saja: saya hanya mengharapkan keridhaan Allah dalam setiap langkah dalam kehidupan saya.

Apa rencana selanjutnya dari seorang Abdul Mukhid?

Terus berkarya: berteater, menulis puisi, cerpen dan kalau mungkin novel. Yang jelas dalam waktu dekat saya akan keliling JATIM untuk promo antologi puisi saya.

Membaca puisi paling berkesan?

Waktu demo 1998 karena saya merasa betapa saat itu puisi amat dihargai banyak orang.

Terakhir, puisi menurut Anda?

Puisi adalah kehidupan dan kehidupan adalah puisi.

Sastra Etnik : Diskusi Dewan Kesenian Jawa Timur

Hari Kamis , 21 September 2006 jam 14.00 WIB diadakan Diskusi Sastra Etnik di Dewan Kesenian Jawa Timur. Diskusi ini melibatkan sejumlah nama seperti Bonari Nabonenar, Widodo Basuki, W Haryanto, Aming Aminudin, Sugeng Wiyadi, Hadi Setyowati, Oktarano Sazano dan lainnya. Diskusi yang bertajuk Sastra Etnik ini merupakan langkah awal dari acara besar Festival Sastra Etnik yang semoga bisa diwujudkan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Dalam acara ini Bonari Nabonenar dan Widodo Basuki di daulat menjadi pembicara, sementara itu yang menjadi moderator adalah W Haryanto.

Berikut pemaparan dari pembicara dan beserta beberapa pertanyaan dan tanggapan.

Bonari Nabonenar :

Berbicara masalah sastra Etnik, sebetulnya saya sudah selipkan beberapa gagasan saya dalam beberapa tulisan. Sebagian besar sudah dimuat di Jawa Pos, termasuk yang terakhir kali meski agak emosional yang berjudul "Jadi Pemakalah di Kongres Bahasa Jawa IV
Walikota Bambang DH mau Bilang Apa? " tapi ternyata kabarnya beliau tidak hadir. Ternyata banyak penguasa lokal (Bupati & Walikota) yang diplot sebagai pemakalah dan tidak hadir. Karena itu pula di Semarang itu sesi ketika para Bupati dan Walikota harus bicara disebabkan ketidakhadiran mereka dan peminatnya juga sedikit kemudian diurungkan kemudian peserta berpindah ke sesi yang lain.

Kenapa saya awali dengan menyinggung para penguasa lokal karena seiring dengan desentralisasi (otonomi daerah) yang konon para politikus menganggap otonomi daerah itu tidak berjalan pada relnya, salah satunya di wilayah kebudayaan. Para politisi itu menterjemahkan otonomi itu pada tataran politis. Jadi kita melihat demokrasi di daerah pada saat Pilkada, atau pada saat eprebutan aset. Semangat otonomi ini begitu kental. Akan tetapi kalau sudah bicara soal wilayah kebudayaan, mereka lupa. Jadi sekali lagi saya membuat contoh pada zaman Pak Harto dulu ada lembaga penerbitan yang dianggap penerbitan nasional bernama "Balai Pustaka", yang masih secara berkala walau jumlahnya tidak banyak memperhatikan kebudayaan-kebudayaan lokal nusantara dengan bukti antara lain terbitnya nuku seperti Tunggak-Tunggak Jati. Persoalannya, sekarang begitu otonomi meluncur tampaknya pemerintah nasional tidak perlu lagi melayani kepentingan khas lokal itu, sehingga seharusnya ada oper alih yang cepat mengenai persoalan lokalitas itu dan etrnyata ini kurang tanggap. memang ada beberapa orang kreatif, misalnya seperti yang saya jumpai , seorang Kasubdin kebudayaan di Kabupaten Pasuruan ketika di forum MGMP Bahasa Jawa, misalnya saja para guru berteriak etriak kekurangan materi bacaan penunjang . Pak Kasubdin tadi dengan bijaknya memancing para guru di wilayahnya untuk menulis tembang yang isinya disesuaikan dengan kondisi geografis dimana mereka berada, misalnya yang di pesisir pantai berbicara persoalan terkait. Permasalahan itu kemudian diungkap, ditulis dan kemudian dicetak walau jumlahnya terbatas tetapi itu menurut saya sangat bagus.

Dalam kaitannya dengan sastra etnik Jawa , para kreator sastra Jawa jumlahnya cukup banyak dan etrsebar di banyak wilayah. Artinya jika tiap subkultur mau menerbitkan karya sastra ebrbahasa Etnik setempat maka SDMnya sangat banyak. CUma sayangnya persoalannya belum diberdayakan dengan baik. Ada satu hal persoalan tentang penguasa lokal , dimana saya merasa tersindir ketika membaca sebuah surat pembaca di koran terbitan Surabaya, ia mengatakan sepertinya seniman itu hanya bisa merengak, meminta pada pemerintah , cermin bahwa seniman itu tidak kreatif, dan lain-lain. Ini sebenarnya persoalan yang perlu kita bongkar, karena apa , kita perlu semacam penyadaran ke masyarakat bahwa ada hak-hak rakyat yang ahrus dipenuhi oleh pemerintah. Kita menuntut bukan meminta atau merengek. Kita bisa berkarya sendiri,pengarang bisa menulis, pelukis bisa melukis walau pemerintah tidak ada kebijakan apa-apa tapi kita menunggu-nunggu tidak kunjung ada orang atau tokoh yang bisa mengkomunikasikan persoalan-persoalan ini kepada penguasa. Karena itu kemudian peran itu kita ambil seperti halnya kalau seni itu kan orang yang kadang-kadang semuanya bisa di kreatifkan, tidak nganggur, misalnya seorang cerpenis, ketika tidak ada yang menulis kritik ia menulis kritik sendiri misalnya . Ini sebenarnya persoalan-persoalan yang bisa saja kita anggap bukan tugas kita sebagai seniman tapi kita tunggu-tunggu tidak ada. Nah apa salahnya jika suatu saat kita mengingatkan seperti yang tercermin dalam beberapa tulisan saya itu. Sebetulnya pada saat forum kongres bahasa Jawa itu kalau penguasa lokal itu datang dan kemudian membeberkan masalah atau bercerita apa yang mereka lakukan di wilayah mereka masing-masing, saya fikir itu akan menjadi diskusi yang sangat menarik, yang menurut saya lebih menarik daripada , misalnya mendatangkan orang Suriname, walaupun secara emosional layak berita dan dijual oleh media massa .Pada tataran emosional ini sangat bagus tapi untuk perbandingan dan saling belajar justru penguasa lokal di Jawa itu yang harusnya bertemu atau apa yang harus dilakukan. Persoalannya akan jauh berbeda apalagi menyangkut kemampuan dana dan lain sebagainya. Misalnya pendidikan, misalnya 20 % dari Belanja Negara misalnya. Di Suriname ada radio-radio berbahasa Jawa kita pun juga ada bahkan siaran TV yang menggunakan bahasa lokal kemudian itu justru menimbulkan persoalan yang saya beber dalam tulisan saya. Tapi masyarakat dibiarkan bertengkar sendiri , penguasa tidak mengambil perannya di sana, kita butuh kamus misalnya, tapi siapa yang mendanai jika kamus ini dibuat misalnya. Salah satu diskusi sastra di Balai Bahasa tentang Kamus Jawa dimana JTV atau lainnya yang membantu , saya segera berteriak ini pemerintah yang seharusnya membiayai bukan JTV atau lainnya tapi bila bicara soal kebijakan maka pemerintah yang punya kekuatan untuk berbuat bukan pengusaha tersebut. Mereka cukup sebagai sponsor namun pilar utama dan harus dituntut adalah pemerintah. Dan dalam hal ini jika bicara tentang bahasa etnis, sastra etnis, lokalitas adalah penguasa lokal itu yang seharusnya bertanggungjawab . Persoalannya sekarang bagaimana kita membahasakan menurut Arswendo Atmowiloto , sebenarnya proyek kita bagus bagus tapi kita salah membahasakannya. Contohnya, PPSJS membuat acara meminta bantuan Pemda dengan tajuk Ulang Tahun , walaupun di Ulang Tahun di PPSJS ada mata-mata acara yang sangat bagus di pandangd ari proyek kebudayaan. Tapi karena tajuknya Ulang Tahun maka bahasa proyeknya tidak "berbunyi". Juga mengenai cakupannya dengan penguasa lokal , saya melihat sejak saat berakhirnya Periode Soeharto, pada saat itu tokoh-tokoh menemui tokoh lokal, ini cermin ketika penguasa selama itu tidak perhatian dan tidak memahami aspirasi , jati diri siapa yang dipimpin itu. Mediatornya misalnya Kiai atau lainnya. Bagaimana kita bisa mengolah pola instan tadi kemudian menjadi kebijakan yang sesuai dengan kita harapkan .Bukannya kita mengenyampingkan tugas Kiai dan lainnya karena mereka adalah bagian. Tetapi pemangku komunitas kecil atau sekian banyak lainnya, mereka adalah sumber titik-titik yang bisa dimanfaatkan dan bekerjasama dengan penguasa lokal untuk berbagi untuk apa yang diinginkan oleh masyarakat dan sebagainya. Saya pikir bila mekanisme itu berjalan jadi tidak ada pola instan seperti tadi. Salah satu contoh, ketika saya di kirim ke Singapura, sebuah sanggar seni Melayu berulangtahun di sebuah Hotel seorang menteri datang. Nah sanggar seni itu kalau di kita ya ada PPSJS atau lainnya. Persoalan mungkin Singapura sempit, akan tetapi jika ada cara komunitas akankah Walikota datang? Selama ini jarang etrjadi. Mungkin sebagai pengantar saya ingin mengajak teman-teman untuk menuntut penguasa lokal memperhatikan khasanah budaya lokal dimana mereka berkuasa.

Widodo Basuki selanjutnya membuka sisi-sisi idealisasi dan penciptaan.

Ada beberapa hal yang mungkin di benak saya. Saya lebih pada hal yang saaya sangat bangg
akan sebagai seorang petani, misalnya orangtua saya kepala sekolah SD tapi 75 % adalah petani. Dalam kaitannya dengan budaya Jawa makanya saya katakan masalah seorang petani, karena bekal seorang petani adalah ilmu Tiban . Ada beberapa hal yang mungkin bisa kita cermati dalam beberapa dekade ini ketika bencana mulai luar biasa ada kesadaran pada hal yang sifatnya lokal. Mungkin bapak-bapak tahu bahwa Kidarmodipuro, kepala Museum Radio Pustoko sangat membenci SBY karena SBY itu mengatakan budaya Jawa yang mengkaitkan dengan perhitungan Jawa itu adalah klenik , takhayul dan lain sebagainya. Ternyata teman saya yang paranormal lainnya sangat luarbiasa membenci SBY "Dikutuk Dewo"itu dari sisi-sisi yang menarik. Ada satu hal lagi misalnya masalah kesadaran lokal dari masalah lokal . Beberapa saat yang lalu saya ikut teman-teman di Trawas mereka menyadari betapa bencana itu karena kurangnya kesadaran lokalitas kita. Misalnya di Trawas, berapa ribu liter air yang disedot tapi kenyataannya orang Prigen sendiri akan beli karena sumber-sumber di sana tidak dilestarikan. Makanya mereka membuat lokakarya melestarikan alam dengan budaya desa. Cara -cara orang dulu misalnya ditanamin pohon Kemado yang gatal-gatal agar orang lain tidak mengganggu sumber itu dll. Pada intinya mereka sadar bahwa keterkaitan seseorang dengan alam sekitarnya terkait erat. Kesadaran lokal itu kembali ketika bencana berkali menerpa Indonesia termasuk Lapindo . Jadi sisi lain yang mesti dipahami apa benar karena kesalahan kita pada leluhur kalau perlu diruwat dengan bahasa-bahasa "Dewa". Pada sisi lain yang terkait sastra etnik Jawa saya tidak bisa melihat ada hal hal yang mengagetkan dari kelahiran sastra Jawa dulu dari zamannya Pak Sw, pak Suparto Brata, zaman era sekarang. tidak ada perubahan mengangetkan sebenarnya tapi yang menarik lebih pada polemiknya. Mungkin ini sebuah kenyataan, mungkin karena saya di media dan mengamati perkembangannya atau mungkin bersentuhan dengan teman-teman di lapangan. Ada pendapat pada waktu di Dinas Kodya , saya tanyakan apakah ini tidak juga menggunakan guritan suroboyoan karena di Surabaya. Tiba-tiba ia ketakutan karena image Surabaya yang kasar lain-lain. Terus saya katakan bahasa Ludruk , jawa Timuran itu juga menarik, mereka tetap bilang jangan dulu. Itulah kenyataan di lapangan. Saya berpandangan untuk merubah sastra Jawa bahkan Etnik lebih cenderung pada diri sendiri, saya tidak pernah berusaha mengubah kebijakan sebelum saya mengubah diri saya sendiri. Karena fikiran saya fikiran seorang petani ketika berhadapan dengan orang-orang dilingkungan macam-macam ada lingkungan guru, kami tua dll saya mencoba untuk mereka bersastra. Fikiran orang yang tradisional sekali. Ternyata mereka bisa diajak dialog dan barangkali kalau saya ke Trawas membaca guritan atau kidung mereka tertawa, itulah kebahagiaan seorang petani. Barangkali cara bersastra itu yang saya ingin tularkan pada teman-teman meski pun kita punya fikiran yang pelik tapi juga fikiran kebawah. Tapi kembali lagi proses kreatif saya sendiri, dari dalam diri sendiri kita bisa merubah yang lain.

Beberapa pertanyaan dan pandangan :

Adi dari Karang Tembok :
Tertarik dengan apa yang dijabarkan oleh Cak Bonari bahwasanya kita hendaklah membikin proposal yang menyangkut kedaerahan. Kemudian permasalahan Balai Pustaka dimana dulu bisa merangkul karya sastra etnik kemudian agak melempem seiring dengan otonomi daerah. Masalah Balai Pustaka sendiri konon tidak tertarik dengan sastra daerah karena penjualannya yang seret sehingga Suparto Brata sendiri dalam cerkaknya yang berjudul Trem harus merogoh koceknya 2,5 Juta. Kemudian diikuti Widodo Basuki untuk Semedi Ilalangnya , 3 juta. Kemudian Suparto Brata lagi tahun 2004 untuk novelnya dengan tebal 553 halaman merogoh lagi 8 juta termasuk Donga Kembang Warunya Trinil. Untuk perkembangannya khususnya bagi pemula terbebani oleh berita ini saat ini jika mereka terus menulis tapi tidak ada yang menerbitkan jadi repot. Disinggung juga mengenai kamus bahasa Jawa sub Dialek Suroboyoan karena kamus ini mendesak sekali untuk diterbitkan sebab dari saya sendiri tertarik untuk menggeluti geguritan Suroboyoan. Masalah fonetis yang rumit.

Hadi Setyowati

Menyimak wacana Bonari dengan tuntutannya dan Widodo Basuki yang lebih menerima kenyataan, saya sintesakan perkembangan budaya Jawa saya mengacu langsung pada Kongres di Semarang. Ternyata banyak aspek yang sebetulnya kaya dalam budaya bahasa Jawa tapi tidak dikemas untuk konsumsi masa kini. Saat saya lihat pameran-pameran edisinya jelek banget sehingga orang tidak tertarik untuk melihat. Mungkin ini belum dikelola oleh penyangga orang sastra Jawa. Kita kurang pemasaran, kalau kita hanya bisa menuntut mungkin akan memancing konfrontasi, jika terlalu pasrah mungkin tidak dianggap. Maka saya fikir kita perlu ada pemasarnya. Kita cari donatur-donatur, itu salah satunya.

Kepada dua pembicara saya ingin menanyakan topik Sastra Etnik. Saya mungkin bertanya secara terminologisnya. Dengan memberikan nama sastra Etnik yang baru mencuat. Mungkin etnik atau etnisitas dalam pengertian politik sudah sering diungkapkan. Sedangkan sastra etnik sedang pada sisi lain ada sastra lokal yang terkait lokalitas dsb. Secara terminologis bagaimana cara kita membatasinya, apakah sastra etnik itu diidentikan dengan sastra lokal , apa yang bisa kita berikan untuk penyebutan dengan sastra etnik itu, apakah kita lihat bahasanya atau itu yang kita gunakan untuk penanda karakteristiknya atau kah penyadaran lokal atau budaya, rohnya yang membicarakan etnik yang dimaksudkan. Saya sendiri belum memiliki gambaran , sastra etnik yang bagaimana itu. Kenapa hari ini kita berbicara prihal sastra etnik, apakah demikian fenomenal , apakah ada sastra-sastra diklaim sebagai sastra etnik yang baru muncul atau seperti apa.

Pembahasan Batasan Etnik

Bonari Nabonenar:
Pertama-tama saya ingin meluruskan penafsiran mas Widodo Basuki yang dianggap oleh Ibu Adi dianggap sebagai dikotomi dan kontras. Yang ingin saya klarifikasikan, mengenai bekerja sesuai bidang masing-masing. Jadi saya tidak setuju, mungkin tugasnya mengarang, iya. Mungkin ada semacam pertentangan sendiri dengan kalimat Widodo Basuki. Berbicara itu bekerja dalam konteks MC/Pranotocoro. Saya dan Widodo Basuki juga berbicara meski tidak dibayar. Disisi lain dalam konteks – penyair-karya-pasar, bagi saya tugas saya bukan menerbitkan buku, dalam konteks penulis ketiksa selesai menulis tugas pokoknya sudah habis. Berterima kasihlah kita dari apa yang kita tuntut. Kita harus berfikir ada bidang-bidang tetapi tetap saja ada orang yang sadar ketika kita mendudukkan diri kita sebagai penjual buku, atau penulis dan bukannya tidak mungkin pekerjaan itu kita rangkap. Bisa saja penulis , menerbitkan , menjual, dan membeli sendiri bukunya tidak masalah menurut saya. Jika menurut Bu Hadi kita perlu ahli mengemas dll. Mekanisme itu bisa terjadi jika iklimnya sudah kondusif, iklim yang kondusif ini adalah hak kita menuntut pemerintah agar ini terbangun. Kalau Widodo Basuki yakin memulainya dari diri sendiri itu bukan juga persoalan menurut saya. Ini suatu wacana , persoalannya kita sadar , dan kapan memulainya. Sebetulnya tidak ada masalah , yang perlu mind set kita juga perlu diluruskan dulu. Jadi ada orang yang sinis misalnya Budi Dharma , pada orang yang menerbitkan bukunya sendiri. Tapi pak Suparto Brata menerbitkan bukunya sendiri , saya hormat pada dia tetapi tidak mengurangi rasa hormat saya pada pak Budi. Sebenarnya Pak Budi sebenarnya juga rendah hati. Pak Budi Dharma juga dalam konteks rendah hati.

Terminologi , justru saya minta tolong pada akademisi untuk pijakan tersebut untuk menyambut Festival Sastra Etnik tersebut. Dasar berfikirnya adalah dasar berfikir kebudayaan. Bahwa dalam kebudayaan itu ada unsur politiknya , sosiologisnya, seninya itu akan mengalir dengan sendirinya. Di Semarang itu saya kemukakan dan didengar oleh Arswendo Atmowiloto , yang tampaknya antusias, selama ini yang disebut oleh Bambang Sa
dono sastrawan Jawa itu tidak cerdas dan kreatif karena mereka tidak punya kemampuan untuk mengkomunikasikan dan menjual apa yang kita punya. Ini semacam test case jika ini terwujud semoga tidak terlalu lama tertunda yaitu Festival Sastra Etnik Jawa , karena sponsor yang diharapkan Pemprov maka jika ada sastra osing, mataraman , jawa Suroboyan, Madura , misalnya kita mengundang peserta tamu misalnya ada penggalan ronggeng dukuh paru yang sudah diBanyumaskan oleh pengarangnya sendiri oleh Ahmad Tohari . Yang lainnya ketika mahasiswa Unes mendramatisasi karya Suparto Brata. Semangatnya adalah kita tidak berfikir sempit, provisinsialis, bahwa kita sedikit banyak menggeluti sastra Jawa , iya, penting ada kepedulian pada lokalitasnya, mari kita jalin kerjasama yang baik, dan saya harapkan penguasa lokal ini memperhatikan potensi lokal masing-masing. Bahasa yang kita jual, kita dari Jawa mengenali Jawa dengan baik, mengemas Jawanya dengan baik untuk dapat berkenalan, bersinggungan dengan komunitas di luar dirinya dengan baik sehingga Indonesia ini jadi bersatu karena antar etnis itu tidak saling berbenturan karena saling kenal . Komunikasi antar budaya ini menjadi penting. Persoalan-persoalan kebudayan termasuk di dalamnya sastra bisa mewujudkan cita-cita besar itu. Saya setuju dengan pendapat Beni Setya yang kita pegang adalah bahasanya , kita tidak lagi berbicara bahasa Jawa ketika kita membaca karya Darmanto Jatman , puisinya jauh lebih Jawa dibanding karya saya yang berbahasa Jawa. Tapi kita tidak berbicara karya Darmanto itu dalam konteks sastra Jawa karena karyanya berbahasa Indonesia yang kebetulan lokalitasnya adalah Jawa.

Widodo Basuki:

Ada beberapa lontaran di Komisi C, pendidikan formal. Ada kata-kata yang sangat menarik menurut saya, kita itu belum pernah kerjasama tapi sama -sama kerja. Mungkin kita Jawa merasa bergelut di situ tapi tidak bersentuhan. Ada agak hal yang sensitif, mengenai "Jangan Ngomong Doang" mengingat masa lalu tapi perlu diungkapkan lagi. Pada saat pengadilan sastra Jawa , pada saat saya mendapat penghargaan Rancage , ada dari teman-teman , mari kita membuat suatu iklim baru , kita tidak mengadili peraih itu tapi imbasnya ada pada persoalan-persoalan yang tidak mendasar. Mungkin saya yang duduk di situ menjadi tidak enak, kenapa pertanyaan tidak pada orangnya, pada karyanya. Sehingga biar kondusif , mari kita menerbitkan buku bareng-bareng. Saya mencoba untuk ensarehkan diri, ketika itu memberikan energi saya, kemarahan saya, kesedihan saya, dll untuk menciptakan buku baru lagi, tapi kesedihan lagi ketika tiba-tiba saya melihat di toko buku, buku "Kristal Emas" terbitan tahun 1984, saya membelinya seharga 2500 dan didiskon 500 . Buku itu sekian tahun berada di sana. Dengan pemasaran seperti ini sulit. Perlu kerjasama. Maka saya perlu memberikan buku itu di UNY, pada guru yang berpengaruh , atau saya letakkan satu dan saya baca kemudian mendapat respon bagus. Jadi energi kemarahan saya jadi impas terbayar.

Saya sebenarnya kurang paham ditanyakan prihal teori. Yang saya tahu ada saya pernah bersama Zawawi Imron memetakan sastra daerah itu belum ada sebutan itu, tahun 1999 itu dijadikan buku Wulan Sedhuring Geni . Bukunya berisi macam-macam sastra. Kalau saya sendiri lebih cenderung pada sastra daerah tapi sastra daerah punya sub etnik , misalnya osing, ada suroboyoan, dll. Saya kira itu saja. Sebenarnya itu saja. Kita sudah cukup paham. Ada beberapa kritikan, kenapa cerita-cerita berbahasa Jawa tidak bernuansa Jawa. Kecendrungan yang sekarang justru mereka menulis hal yang terkait mereka sendiri. Misalnya mengenasnya nasib kesenian ketoprak, dia misalnya sebagai tokoh atau dirinya sendiri sebagai sastrawan. Kenapa tidak ada tema yang mengandung nuansa Jawa untuk digarap.

Bonari Nabonenar:

Saya sangat setuju dengan seorang Darmanto Jatman yang sangat setuju bahwa ada kelompok Jawa Fundamentalis itu yang justru golongan yang tidak menerima perubahan. Bahwa Pujangga Jawa itu hanya Ronggo Warsito, penyair Jawa setelah itu tidak lagi. Menganggap bahasa Jawa Solo itu yang hanya boleh berkembang, sedangkan dialek Suroboyan, pesisiran tak perlu diperhatikan lagi. Ahmad Tohari mengungkapkan kita harus memandang sama derajatnya bahasa etnis itu. Tidak ada bahasa yang kita pandang lebih adiluhung dibanding yang lain. Apabila kita kembali mengingat ,barangkali sejarah orang Jawa mungkin satu -satunya etnis atau kelompok di dunia ini yang paling lentur menerima peradaban dari negara-negara lain. Justru kemampuan itulah yang membuat orang Jawa bertahan dan termasuk bahasanya. Dulu kita mengenal aksara Jawa , dulu sebelum ada bahasa Jawa Bali, bahasa Kawi, bahasa sansekerta. Jadi orang Jawa itu tadi pintar-pintarnya mensintesakan kebudayaan lain. Kalau kita menuntut pada sastra ebrnuansa Jawa yang kita lihat bukan sebagai Jawa itu, mungkin itulah Jawa yang sekarang. Mungkin yang kelompok fundamentalis saja yang disebutkan oleh Darmanto Jatman yang menuntut tersebut.

Tambahan Lain

Sugeng Wiyadi:

Menurut saya selaku akademisi harus memiliki ketegasan sikap. Bahwa sastra menggunakan medium bahasa. Masalah persoalan lain jika sastra etnik jawa ditulis dengan bahasa Jawa membicarakan orang Inggris atau lainnya menjadi persoalan lain. Jadi sekali lagi kita harus punya konsep yang jelas dan keyakinan bahwa sastra etnik memang harus berangkat dari bahasa. Jadi saya tidak setuju jika sastra Jawa menceritakan orang kota kemudian dianggap bukan sastra Jawa karena kehilangan jawanya, saya kurang setuju karena itulah dinamika yang harus ditangkap. Ada satu sesi yang menarik dari kongres Jawa tersebut yang menampilkan Ahmad Tohari. Ahmad Tohari merasa tertampar mukanya ketika di undang ke Leiden dan ditanya Profesor H. Meyer , Kenapa Ronggeng Dukuh Paru yang begitu menarik tidak anda tulis dengan bahasa Jawa tapi menggunakan bahasa Indonesia. Berangkat dari situ Ahmad Tohari merasa diingatkan agar melakukan pertobatan dan hasilnya beberapa novel tersebut diterjemahkan dengan bahasa Banyumasan. Saat ini banyak juga yang menyuarakan kesadaran budaya tetapi sebatas retorika semata , justru yang menarik dia mengajak sastrawan Jawa untuk melakukan pengkhiatan, tidak hanya menggunakan bahasa Jawa yang gaul tetapi ada sisi-sisi lain yang bisa ditempuh misalnya pengarang sastra Jawa harus menulis dalam bahasa Indonesia. Sehingga dia bisa melihat jernih apa yang menonjol , atau yang kurang dari sastra Jawa.

Surabaya , 21 September 2006

 

Link terkait :

http://nabonenar.blogspot.com

Yockie Soeryoprayogo Di I Like Monday* Ke Musikalisasi Puisi

Di rumah kediaman Eros Djarot di bilangan Deplu Bintaro, seminggu terakhir ini terdengar bising dengan deru instrumen musik yang beradu dengan timbre vokal berbeda-beda, menyanyikan lagu yang sempat berada diundakan teratas pada bebera dekade silam.Seolah dejavu mendengar lengkingan soprano seorang wanita menyanyikan  :"musim berlalu  masa berganti, matahari pagi bersinar gelisah kini….." Ah itu kan Berlian Hutauruk dari album fenomenal "Badai Pasti Berlalu".

Tak lama berselang terdengar vokal pria meradang, tampaknya mencuatkan imaji rock ….."hei hei tunggu dulu…..susu anakku !" Hmm rupanya ini tribute to God Bless melalui kerongkongan Nugie.

Lalu ada duet………."engkau lilin lilin kecil masihkah kau menyengat sejuta cahaya"…..inilah lagu yang tak bisa didelete dari sejarah musikal Chrisye…….menjadi apik dan kontras di tangan Marcell dan Tere.

          Arkian, Yockie Soerjoprajogo adalah arsiteknya……music director, composer sekaligus player yang menyelusup dalam berbagai genre musik di negeri ini…..dari rock, pop, jazz(y), folk-rock dan entah apa lagi.Yockie berada dibalik kemegahan grup rock masa silam God Bless, dibalik album Badai Pasti Berlalu, dibalik fenomena Chrisye yang tak lekang dimakan zaman,dibalik nama Dian Pramana Poetra, Titi DJ, Vonny Sumlang, Mel Shandy, Nicky Astria, Ikang Fawzy, Iwan Fals, Ita Purnamasari, Andi Meriem Mattalatta dan sederet panjang lainnya.Termasuk masuk dalam pergaulan budayanya dengan Kantata Takwa, Swami, Suket.

Jikalau ingin melihat catatan perjalanan musiknya yang panjang,rasanya kita mesti menyaksikan salah satu penggalannya pada hari Senin 17 September dalam "I Like Monday" di Hard Rock Cafe.

          Jockie yang dikerubuti pemusik belia seperti Rama Yaya (dram), Rudy (Bass), Tharas (gitar)  dan tentu saja Yockie  pada baby piano dan kibord, bakal membarengi penyanyi era kiwari Ressa Herlambang, Tere, Marcell, Nugie dan "diva" dalam arti sesungguhnya Berlian Hutauruk.

          Kehadiran Yockie di I Like Monday ini bukanlah sekadar untuk meramaikan saja, tapi karena akan ada jejak langkah besar berikutnya yang akan di jalani seorang Yockie. " Ini adalah pemanasan saya untuk terjun lagi di dunia musik. Berikutnya saya telah menusun rancangan konsep kerja."Tutur Yockie, di rumahnya dibilangan BSD.

          Salah satu konsep rancangan Yockie, adalah akan membuat sebuah album musikalisasi puisi bersama seorang penyair, dan seorang pelantun musikalisasi puisi yang namanya belum siap untuk diumumkan.

          Puisi yang digarap menjadi lagu itu, merupakan puisi dengan thema yang beragap, "Sekarang baru selesai 50%. Kesulitan utama adalah bagaimana ia tampil tidak pop, tapi bisa komersil. Karena selama ini ada kesan kalau musikalisasi puisi itu, pasti tidak komersil. Dan lagi, saya harus menyeimbangai antara kekuatan lirik dan musik. Musik tak boleh menonjol dari puisis, begitu pula pelantunnya, harus bisa menjiwai puisi secara total. Ini tantangan," ujarnya merendah. Padahal kita tau, bahwa dalam perjalanan karirnya, ia telah pernah menterjemahlan puisi si burung merak (WS Rendra), seorang budayawan, saat menggarap Kantata Taqwa.

          Akankah Yockie bakal mengulang sukses sebagai composer besar Indonesia, baik lewat jalur pop, rock dan kolaborasi dan juga akan sukses pula dengan musikalisasi puisinya ini.

          Semoga.
 

- Hard Rock Cafe Jakarta
– 11 September (911 day)
– 20.00 – 22.00 WIB

 

Setlist 11 September 2006 :
 
Pelangi, Matahari, Lilin Lilin Kecil, Juwita, Sabda Alam, Anak Jalanan, Gita Cinta SMA, Resesi, Selamat Jalan Kekasih, Kau Seputih Melati, Ratu Sejagad, Kehidupan, Percayalah Kasih dan beberapa hits lainnya.
 
Salam
Denny Sakri
0818417357

S Yoga

S YogaS Yoga lahir di Purworejo, Jawa Tengah. Karya-karya S Yoga di antaranya dimuat di Jurnal Cerpen, Jurnal Puisi, Nubuat Labirin Luka-Antologi Puisi untuk Munir-Aceh Working Group-Sayap Baru 2005, Maha Duka Aceh; Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin 2005, Antologi dari Zefir sampai Puncak Fujiyama-Lomba Cerpen Kreativitas Pemuda Diknas & ICW 2004, Lomba Cipta Puisi Krakatau Award 2004, Antologi Penyair Jawa Timur-FSS-2004, Permohonan Hijau-Antologi Penyair Jawa Timur 2003, Graffiti Imaji- Antologi Cerpen Pendek YMS 2002, Para Penari- Lomba Cipta Cerpen Nasional Kota Batu 2002, Sepuluh besar Lomba Cipta Cerpen Nasional Bali Post 2002, Dari Negeri Asing-Lomba Cipta Cerpen Forum Lingkar Pena 2002, Lampung Kenangan : Lomba Cipta Puisi Krakatau Award 2002, Semifinalis Poetry.com bulan Agustus 2002, Gelak Esai & Ombak Sajak Anno- Kompas 2002, Lomba Cipta Cerpen dan Puisi KOPISISA Purworejo 1998,Antologi Puisi Indonesia 1997-KSI, Amsal Sebuah Patung Borobudur Award 1997, Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, Horison, Kompas, Surabaya Post, Sinar Harapan, The jakarta Post, Jawa Pos, Surya, Lampung Post, Surabaya News, Suara Merdeka, Solo Pos, Suara Karya, Suara Pembaruan, Bali Post, Penyebar Semangat, dan Jayabaya. Puisinya yang berjudul Silhuet Negeri Tropis pernah dibahas dan dibacakan di Radio Jerman.

Pernah menjadi sutradara film independen bersama teman-temannya di @rekfilm Surabaya untuk lomba film di TVRI Surabaya tahun 2002, filmnya yang berjudul Ia yang pergi dan Ia yang Kembali terpilih sebagai film terbaik. Naskah dramanya yang berjudul Rumah di Tubir Jurang, menjadi salah satu pilihan dari lima naskah drama lainnya untuk dipentaskan oleh peserta dalam Festival teater remaja se-Jawa Timur 2005- Taman Budaya Jawa Timur.

Penyair yang baru saja meluncurkan antologi puisinya "Patung Matahari" akan berbicara banyak perihal diri dan puisinya dalam wawancara dengan Puitika.Net. Simak dan nikmati.

Sejak kapan Anda mulai menulis puisi?

Mulai SMP sudah bikin puisi dan cerpen, tapi hanya untuk pribadi, diary, lalu di SMA saya masuk jurusan Bahasa dan Budaya atau A4, karena lebih suka budaya dan sastranya, di SMA Purworejo-Jawa Tengah dengan beberapa teman pernah membuat antologi puisi dan cerpen "Kering Shanira" selain menulis saya juga berteater. Ketika SMA inilah ketertarikan saya terhadap sastra semakin kuat, ketika itu saya sudah suka membaca karya sastra, kebetulan perpustakaan SMA dan daerah cukup baik koleksinya, di antaranya yang pernah saya baca waktu itu Olenka; Budi Darma, Godlob; Danarto, Telegram dan Stasiun; Putu Wijaya, Lelaki Tua dan Laut; Ernest Hemingway, Kunang-Kunang di Manhattan Umar Kayam, Tegak Lurus dengan Langit, Ziarah, Koong, Merahnya-Merah; Iwan Simatupang, Jalan Tak Ada Ujung, Harimau-Harimau, Senja di Jakarta; Mochtar Lubis, Kemarau; AA Navis. Sedangkan karya puisi yang pernah saya baca waktu SMA, Empat Kumpulan Sajak, WS Rendra, Perahu Kertas, Mata Pisau, Akuarium; Sapardi Djoko Darmono, dan karya-karya Ayip Rosidi, Sajak Ladang Jagung dan karyanya yang tentang Jepang, mungkin judulnya Negeri Matahari. Ketika kuliah saya terus berteater dan menulis puisi, cerpen dan naskah drama, mula-mula hanya untuk diterbitkan sebagai antologi bersama, di teater Puska FISIP Unair. Baru pada tahun 1995 mulai menyebarkan tulisan-tulisan di media masa, baik puisi, cerpen, esai sastra-budaya dan artikel sosial, cerpen saya yang pertama dimuat di majalah Horison, Sumur Ajaib. Sedang puisi yang pertama saya kirimkan dimuat di Surabaya Post.

Anda lahir di Purworejo, bisa anda ceritakan bagaimana masa kecil anda?

Kota Purworejo hanya kota kecil di antara Yogyakarta dan Purwokerto, waktu kecil saya pernah tinggal di Yogyakarta dan pindah ke Purworejo karena ayah pindah tugas. Waktu SD saya sudah suka membaca buku cerita, kebetulan perpustakaan SD kami cukup baik menurut pandangan saya waktu itu. Beberapa buku yang pernah saya baca di antaranya karya Mochtar Lubis, judulnya lupa, tapi mengisahkan petualangan anak-anak, kemudian ada Sungai Serayu entah karya siapa dan beberapa karya perjuangan yang tidak dapat saya ingat lagi. Kebetulan juga Bude saya yang tinggal di Bandung sering membawa majalah Si Kuncung dan Bobo kalau pulang ke Purworejo, kebetulan Bude langganan, sehingga begitu memupuk daya imajinasi. Begitu juga kebudayaan yang ada disekitar tanpa saya sadari ternyata telah membentuk cara pandang dan kreatifitas saya dikemudian hari. Waktu kecil kami suka nonton wayang, ketoprak dan terlibat dalam upacara-upacara adat yang ada. Apalagi nenek saya setiap hari sebelum tidur pasti akan mendongeng cerita-cerita seperti Cidelaras, Sakuriang, Ande-Ande Lumut, Bawang Putih, Si Kancil, Timun Mas dan lain-lain, cerita-cerita ini begitu memukau masa kecil saya.

Bagaimana peran keluarga dalam proses kepenyairan anda dan sekarang khususnya istri?

Keluarga ibu saya adalah pemain-pemain wayang orang di masa mudanya, mereka suka berlatih menari dan sesekali bermain ketoprak. Dalam dunia berkesenian, orang tua saya tidak mau ikut campur, karena mereka membiarkan anak-anaknya menentukan pilihan hidupnya sendiri, mendorong tidak, melarang juga tidak. Sedangkan istri saya, karena saya menikah ketika saya sudah berkecimpung di dunia satstra sehingga secara pembentukan karakter karya tidak begitu bepengaruh karena saya sudah memiliki cara pandang dalam dunia sastra sebelum menikah. Hanya dalam proses kreatif seringkali mnemberikan dorongan dan ide-ide. Tulisan saya yang pertama kali membaca ya istri saya, kadang ia mengritik dan saya tanggapi tapi kadang juga saya biarkan saja. Ada sebuah pernyataan dari teman-teman penulis yang mengatakan tantangan terberat seorang penulis adalah ketika bekerja dan menikah, karena secara waktu dan pikiran pastilah sudah terbagi sehingga bagi penulis ketika bekerja dan menikah masih bisa eksis dalam dunia kepenulisan maka yang bersangkutan bisa dibilang "hebat". Demikian juga saya tantangan menulis rupanya lebih berat ketika sudah bekerja dan menikah, bukan dari idenya namun dari waktu dan kesempatan, sehingga inspirasi yang sering muncul seringkali terlewat begitu saja oleh rutinitas keluarga atau kerja. Jadi kalau dibilang produktifitasnya tentu lebih produktif sebelum menikah.

Darimana sumber-sumber inspirasi menulis puisi?

Sumber penulisan saya bisa saja lewat bacaan, perjalanan atau cerita teman-teman. Namun semua itu tidak akan merangsang saya menulis kalau tidak ada sebuah ide yang menarik di dalamnya. Seringkali dari kisah yang sederhana atau cerita yang sepele justru memunculkan ide yang menarik. Yang saya pertaruhkan adalah kreatifitas atau menyulap hal yang sederhana menjadi menarik, di sinilah kerja penulis menurut saya. Suatu saat saya tidak dapat menulis apa-apa karena rutinitas kerja maka saya imbangi dengan membaca buku-buku yang bermutu sehingga insting dalam kepenulisan tetap terjaga. Pada periode tahun 1999 s/d 2002 saya jarang menulis puisi namun lebih cenderung ke cerpen karena saya merasa intuisi saya lebih cair atau prosais sehingga untuk menulis puisi rasanya agak berat. Sehingga dalam berkarya saya sering mengikuti kata hati, kalau pikiran sedang mengkristal maka saya akan menulis puisi dan sebaliknya. Inspirasi apa pun bisa ditulis, namun secara tidak sadar rasa-rasanya saya menulis umumnya banyak yang berkaitan dengan kesewenang-wenangan dan pencarian jati diri. Bagi saya inspirasi hanyalah pelatuk untuk berkarya yang lebih penting lagi adalah obsesi pengarangnya, karena obsesi pengarang inilah yang umumnya akan menjiwai karya-karyanya, entah apa pun materi yang akan ia tulis.

Antologi anda yang terbaru berjudul "Patung Matahari" bisa anda ceritakan benang merah dari antologi tersebut?

Pada mulanya saya kesulitan untuk menentukan judul antologi ini, namun setelah saya pikirkan masak-masak "Patung Matahari"lah yang tepat, memang kedengarannya gagah untuk sebuah judul buku. Pada diskusi buku di Ponpes Anaqoyah Guluk Guluk pertanyaan seperti ini juga muncul. Bagi saya patung matahari adalah cita-cita semua manusia dalam hidupnya di mana sebelum mati ia ingin membuat patung yang dapat dikenang siapa pun, patung adalah benda yang bersejarah, namun yang dibuat bukan patung sembarangan namun patung matahari, sedangkan matahari adalah benda yang selalu akan bersinar di mana pun ia berada, di mana sinar itu akan berupa cahaya-cahaya yang dapat menerangi siapa pun. Jadi benang merah dalam antologi saya kurang lebih hendak menceritakan jatuh bangunnya manusia dalam membuat patung matahari atau memburu cahaya-cahaya agar dapat menerangi hidupnya, yang seringkali ditutupi oleh bayang-bayang yang berseliweran atau jati diri yang belum ketemu. Sastrawan Akudiat dalam diskusi di DKJT dengan tepat mengambarkan obsesi saya yang katanya dapat diwakili oleh puisi "Pandai Besi" di mana dalam puisi itu dipertanyakan dari apa dibuat, dan untuk apa dibuat kalau akhirnya nanti juga lebur dalam api kuasanya, hidup hanyalan penyamaran-penyamaran yang seringkali mengalami kegagalan, sedang pandai besi adalah kehidupan yang keras yang selalu berhubungan dengan api dan lewat ububan ia akan memainkan cahaya, cahaya itu dapat dikecilkan atau dibesarkan atau dimatikan sekehendaknya. Meski dalam antologi saya banyak memakai materi lokal, kesenian, tari, upacara, tempat-temapt wisata dan lain-lain namun itu hanyalah tubuh pinjaman yang rohnya adalah pencarian jati diri dalam menemukan cahaya.

Puisi-puisi dalam antologi "Patung Matahari" ditulis di atas tahun 2000. Apakah ada fase menulis dalam hidup anda? Apa perbedaan yang besar antara puisi yang ditulis sebelum tahun 2000 dan setelahnya?

Seperti juga hidup dalam berkarya pun tentunya mengalami fase-fase juga, yang tentunya harus dilalui. Kalau boleh saya mengambarkan perjalan kepenulisan saya, rasanya hingga saat ini ada 3 fase yang saya alami. Fase pertama adalah fase di mana saya memandang, sehingga karya-karya saya banyak sekali yang kuat di dalam intuisi. Fase kedua adalah fase di mana saya dipandang sehingga karya-karya saya banyak yang mencerminkan nafsu dan hasrat atau gejolak yang kadang tidak terkendali karena kuatnya fenomena yang saya hadapi, seolah saya tersedot oleh bahan tulisan saya, yang kadang kalau tidak pandai menjinakan akan nampak emosional. Sedangkan fase yang ketiga merupakan fase yang memandang dan dipandang sehingga terjadi dialog yang diharapkan obyektif dan terjadilah ruang itu sendiri atau obyek itu sendiri yang bicara. Pada antologi "Patung Matahari" saya merasa berada pada fase yang ketiga tersebut. Saya masih menyimpan puisi-puisi yang ada di fase pertama dan kedua yang akan saya terbitkan nanti. Namun fase-fase itu hanyalah pembatas yang tidak absolut karena seringkali saya juga masih suka menulis puisi-puisi yang berada pada fase pertama dan kedua, dan hal itu memiliki kenikmatan sendiri-sendiri. Perlu dipahami juga bahwa seseorang dalam membuat antologi puisi umumnya mengumpulkan karya-karya dalam satu antologi yang memiliki karakter yang berdekatan/berkaitan sehingga dapat disebut kesatuan yang kokoh/kuat/utuh.

Dari sekian banyak penyair yang anda ajak kerja sama atau anda baca karyanya, siapakah yang menjadi favorit anda?

Tentu saja saya sangat kagum dengan Amir Hamzah dan Chairil Anwar, puisi-puisinya begitu memukau. Yang lain saya suka serat Wulangreh karya Paku Buwana IV, Wedhatama; Mingkar mingkure angkara/angkarana karenan mardi siswi/sinawung resmining kidung/sinuba sinukarta…. karya Mangkunegaran IV Kalatidal; amenangi jaman edan/ewuh aya ing pambudi/melu edan nora tahan/yen tan melu anglakoni/boya kaduman melik/kaliren wekasanipun/……karya pujangga besar R Ng Ronggowarsito dan suluk-suluk pesisiran. Kelihatannya kuno ya, namun kadang kita tidak paham pada tradisi sendiri dan mengagung-agungkan karya dari luar, bukannya yang dari luar jelek, tapi yang dari tradisi kita sendiri banyak yang bagus-bagus. Mau cari yang surealis, absurd, realisme magis ada dalam khazanah sastra lama kita. Contoh tembang Semut Ireng; Semut ireng anak-anak sapi/Kebo bongkang nyabrang kali bengawan/Keong kondhang jarak sungute/Timun wuku ron wolu/Surabaya geger kepati/Gegering wong nguyakmacan/Cinandak wadahi bumbung/Alun-alun Kartasuro/Gajah meto cinancang wit sidoguri/Mati cineker pitik trondol. Merupakan sebuah karya yang sangat simbolis sekaligus surealis bagi saya. Juga tembang Ilir-Ilir yang diciptakan Sunan Giri (ada yang berpendapat diciptakan Sunan Kalijaga, tapi dugaan kuat Sunan Girilah yang menciptakan karena beliau sering menciptakan lagu anak-anak) yang mempesona itu, yang tidak sekedar tembang anak-anak. Cuma kadang kita yang malas untuk membacanya. Justru orang luar yang terkagum-kagum dengan Serat Centhini misalnya. Memang saya juga membaca karya-karya Octavio Paz, Derek Walcot, Baudeliar, TS Eliot, Pablo Neruda dan yang lainnya.

Anda senyatanya lahir di Jawa Tengah namun berdomisili di Jawa Timur. Puisi-puisi anda lekat dengan nafas Jawa Timur khususnya Madura. Bahkan ada yang menganggap puisi S Yoga lebih Madura dibanding orang Madura sendiri. Anda setuju?

Bukan kapasitas saya untuk menjawab pertanyaan ini. Kalau boleh saya menganalogikan pengarang itu bagikan seekor bunglon yang selalu ingin beradaptasi di mana pun tempatnya, sehingga ia akan dapat meyerap rasa dan suasana tempat yang ditinggali. Dan apakah itu memberikan kenyamanan bagi orang disekitarnya atau tidak itu bukan soal. Dan apakah karyanya akan dianggap mencerminkan komunitas tertentu itu juga bukan soal, karena tugas pengarang adalah menyampaikan kebenaran sesuai yang dapat ia rasakan waktu itu, dan kebenaran itu bisa jadi terasa pahit, bukankah jamu untuk kesehatan juga rasanya pahit.

Literatur-literatur apa yang anda baca?

Pada prinispnya saya tidak membatasi bacaan, bacaan apa saja saya baca asalkan itu menarik, unik dan bagus, karya-karya lama kita seperti serat-serat sering saya baca berulang-ulang. Apakah itu relevan atau tidak dengan kepenyairan itu bukan soal. Karena bacaan adalah memberikan wawasan pengetahuan kepada kita, sehingga dengan banyaknya wawasan maka hal apa pun akan bisa kita tulis.

Apakah anda punya strategi dalam menulis? Tema-tema apa saja yang anda bawa dalam puisi anda?

Strategi menulis tidak ada yang khusus, hanya saya memiliki teknik dengan menempatkan sudut pandang yang obyektif terhadap sebuah materi, sehingga menurut W Haryanto karya-karya saya begitu berjarak dan dingin. Untuk dapat menulis tidak ada resepnya kecualai disiplin, latihlah setiap hari, bisa lwat penghayatan terhadap hidup, lewat bacaan atau menulis langsung entah apa yang ditulis, bisa jadi hanya sketsa-sketsa saja namun hal itu bagus untuk melatih insting kita dalam berkarya. Tema umumnya dalam karya-karya saya tidak jauh dari pencarian jati diri atau inginya manunggaling kawula gusti sedangkan sub-sub temanya bisa bervariasi; kesewenang-wenangan, kesunyian, kematian dan kesementaraan.

Apa falsafah hidup anda?

Ojo Dumeh. Di atas langit masih ada langit.

Secara keilmuan anda berlatar belakang pendidikan Sosiologi, seberapa besar latar belakang tersebut mengasah intuisi anda dalam menulis puisi?

Perannya cukup besar karena analisa bisa bertalian dengan intuisi, dalam Sosiologi sesuatu fenomena haruslah dipelajari dulu dari dalam dan diharapkan dapat memunculkan analisa tertentu secara obyektif entah itu fenomena baik atau buruk kemudian barulah diolah dalam dunia intuisi yang berjarak dan harus memahami roh dari materi yang akan diangkat sehingga diharapan bentuk dan isi dapat menyatu dalam sebuah karya. Sehingga kata teman-teman karya-karya saya begitu sosiologis.

Anda lekat dengan Madura, mungkin anda bisa ceritakan peta penyair di pulau tersebut dan geliat sastranya?

Dalam dunia sastra kita lihat banyak penyair-penyair Madura yang bermunculan, pada mulanya saya menduga mereka dapat ilmu dari mana, namun setelah saya tinggal di Madura, rupanya mereka secara alamiah membentuk dirinya sendiri menjadi penyair. Hal ini kurang lebih dapat saya jelaskan begini, di Madura tradisi macapat masih berlangsung di desa-desa hingga kini sehingga secara tradisi mereka sudah mengenal apa itu sastra, kognitif mereka sudah terisi dengan sendirinya. Apalgi dunia semacam parikan atau patun di sini masih berlangsung. Bahkan dalam upacara pernikahan hal ini terjadi, ketika sang juru bicara mau masuk ke pengantin wanita mereka beradu patun kalau yang satunya belum bisa menjawab maka tidak diperkenankan masuk. Di samping itu ponpes-ponpes begitu menjiwai darah anak-anak Madura, rasanya malu kalau belum mondok di pesantren, karena prinsip mereka ilmu agama lebih penting dari pada ilmu umum. Sedang dipondok mereka mengkaji kitab dan mempelajari ilmu agama, yang mana antara agama, filfasat dan sastra adalah saling bergandengan tangan, kalau diibaratkan merupakan trisula hidup, yang akan membawa manusia ke jalan yang lebih baik. Akhirnya mereka lebih mudah menghayati dunia sastra. Sehingga sampai sekarang geliat satra yang ada di Mudara banyak terdapat di pesantren seperti Anaqoyah Guluk Guluk, Al Amin Prenduan dan lainnya, di samping itu ada di kampus STKIP dengan sanggar Lentera yang nota bene mereka juga pernah mondok. Ada pula komuintas radio Nada yang setiap minggunya menampilkan acara Sastra Udara yang membacakan dan membahas karya-karya yang masuk. Peta sastra di Madura nampaknya berputat di Sumenep karena begitu banyaknya penyair-penyair yang lahir dari Sumenep. Umumnya karya-karya mereka sangat intuisi dan memiliki kekuatan sastra lisan yang tinggi.

Apa rencana anda selanjutnya?

Menulis, menulis, menulis, menulis dan menulis. Selain keliling kota membacakan puisi-puisi yang ada di "Patung Matahari" agar lebih banyak yang beli he he he. Sayang kalau ndak beli karena dari 50 puisi 25 di antaranya pernah dimuat di media masa, yang 15 puisi pernah dimuat di Kompas. Promosi he he he.

Membaca puisi paling berkesan dan dimana?

Wah kalau membaca puisi paling berkesan, masing masing tempat memiliki keistimewaan sendiri-sendiri, paling istimewa kalau banyak cewek-ceweknya ha ha ha. Karena saya bukan pembaca yang baik tak ada tempat yang istimewa, semua tempat saya hayati, bukankah penyair itu bunglon ha ha ha.

Terakhir, apa itu puisi menurut anda?

Puisi adalah menyederhanakan hal yang tidak sederhana dengan kata-kata yang telah memiliki drajat dan kehormatan, sebelum kata-kata itu memiliki drajat dan kehormatan maka itu bukan puisi yang baik. Penyair adalah tukang sulap yang pandai menyihir kata-kata tak sederhana menjadi kata-kata yang lebih bermakna bagaikan berlian yang berkilauan dari segala arah.

Personalitas dan Impersonalitas Puisi-Puisi S. Yoga*

Laboratorium Sastra yang digagas oleh Dewan Kesenian Jawa Timur pada kali ketiga mengulas puisi-puisi karya S Yoga dalam kumpulan Patung Matahari. Bertempat di gedung DKJT tanggal 26 Agustus 2006 pukul dua siang sang penyair S Yoga menyempatkan diri untuk berdiskusi langsung perihal antologi puisinya tersebut. Sebagai pembedah kali ini didaulat Lina Puryanti (Dosen Sastra Unair). Acara yang berlangsung santai tapi penuh keseriusan ini dihadiri oleh sejumlah teman dekat sang penyair yang juga diantaranya merupakan pengurus dari DKJT.

Sebut saja nama-nama seperti W Haryanto, Sony Karsono, Didik, Akhudiat, Ribut Wijoto dan penulis Soya Herawati, penyair muda perempuan Puput Amiranti serta sejumlah siswa SMU di Surabaya.

Sekedar untuk diketahui S Yoga adalah penyair yang lahir di Purworejo Jawa Tengah. Alumnus Sosiologi FISIP UNAIR Surabaya. Sajak-sajaknya tersiar di sejumlah terbitan, baik local maupun nasional. Juga menulis cerpen, naskah drama, geguritan, essay, novel dan masalah sosial. Kini bekerja sebagai konsultan pemberdayaan masyarakat.

Laboratorium sastra sendiri memang sebuah upaya menjaga konsistensi , membuka wacana, dan menjembatani teks sastra kepada pelaku , penikmat karya tersebut di Surabaya. Dalam kenyataannya memang acara ini tidak dirancang besar. Hanya beberapa orang tertentu yang diundang yang diharapkan dengan adanya proses kontinuitas maka umpan balik yang positif sangat diharapkan dari pertemuan semacam ini.

Acara dimulai dengan pembacaan puisi oleh S Yoga dilanjutkan dengan beberapa patah kata pengantar untuk karyanya yang terbaru. Pembacaan puisi juga dibacakan oleh dua siswa SMU yang hadir. di Rencananya buku ini akan dibedah di kota yang berbeda nantinya.

Berikut materi dari pembedah (Lina Purwanti) dan pengantar oleh W Haryanto .

Membaca sajak-sajak Yoga adalah perkelanaan ke banyak lapisan waktu, tempat, dan peristiwa. Dari lima puluh kumpulan puisi yang terangkum dalam Patung Matahari, maka hamper sebagian besarnya adalah lukisan-lukisan pengalaman konkrit yang dipunguti dengan ketekunan, dari setiap yang dilangkahkan, yang Yoga (agaknya) tak rela tertinggal tanpa catatan. Detail-detail tercatat dengan rapi yang berjalin dengan bisik-bisik dengan suara rendah, kesunyian kata-kata, yang menunjukkan perpaduan perasaan hati seorang penyair sekaligus etnografer yang merekam dengan teliti. Lihatlah pada sajak Ojong (Sumenep, 2005) yang menggambarkan suatu upacara ritual ini saling bertarung dengan rotan hingga terluka:

yang tinggal di atas
dekat langit dekat matahari
dan yang di gunung mari main Ojung
yang di bawah dan di lembah
mari ke atas mengentaskan diri
yang tak mau naik silahkan menyingkir
tinggallah di bawah dan jangan menyesal
karena tak akan pernah menyaksikan
panasnya matahari, pedihnya derita
sembunyilah di kegelapan bumi

diiringi tari perang
dengan musik gambang
dhuk-dhuk, tambur bercela
rotan di tangan dan ikat kepala merah
agar tabah menjalani hidup
sarung di balutan tangan kiri
tepat selasa sore di musim kemarau
saat bumi terluka oleh musim
kau bisikkan doa pada setiap gerak
di pinggang dan selangkangan
terajam huruf arab guna pegangan
baju zirah kau lekatkan di pinggang
agar lawan menyerah pada Allah.

Kau yang ada di atas
Adalah wasitnya
Berkeliling mengawasi
Setiap gerak pemain'
Bla terluka segera diobati
Dengan ludah kehidupan
Yang akan memberi pelajaran pahit
Pengalaman pada derita serta rasa sakit
Sebelum bertanding
Kau berjalan berhadapan
Dan berbalik punggung
Untuk memberi hormat pada hidup
Agar tidak ada yang main dari belakang
Agar diri jujur dan bersih

Pada puisi di atas Yoga berbiaa tentang peristiwa yang hidup, bergerak, berdarah sehingga menjadikan peristiwa itu benar ada di antara kita. Yoga tidak sedang menjalankan peran kenabian seorang penyair yang berkhotbah di atas bukit kepada umatna (pembaca) yang jauh ada di dasar lembah . Kita seolah melihat sebuah dimana Ojung sedang dimainkan dan Yoga menjdi penonton yang mencermati mengamati. Puisi semacam laporan pandangan mata yang ada di dalamnya hanya tersisa sedikit "rasa Individual" sang penyair . Dalam beberapa puisinya yang lain suasana pandangan mata ini juga masih terasa gentanya. Lihatlah pada puisi Oseng-Oseng Mercon, Nyadar, Dolalak; penggunaan kata kamu, mu menjadi pilihan Yoga dibandingkan dengan ku yang menandakan ekspresi individualnya sendiri sebagai bentuk penghayatan terhadap sebuah kisah. Bahkan pada puisi Kerang ataupun Kekelawar Hijau dimana ku dipakai, impersonalitas ini tetap terasa karena ku bukan menunjukkan posisi subyek Yoga sebagai penyai tetapi lebih pada bagaimana sang kerang dan kekelawar melihat, memandang, menakar, dan menghayati dirinya, hidupnya. Dalam sajak-sajak tersebut Yoga memang mengedepankan persepsi daripada konsepsi. Alam benda menjadi hadir dalam makna yang sesungguhnya, imaji yang bebas tumbuh melalui panca indera kepekaan sang penyair. Ia membiarkan peristiwa sebagai sesuatu yang terus menjadi, mengalir , tanpa pretensi untuk memaknainya secara pasti yang berarti juga membekukannya. Tapi Yoga tetap bersembunyi malu-malu. Ia tidak datang dengan segenap keperkasaan seorang penyair yang siap menyediakan jawab bagi setiap pertanyaan yang elalu muncul dari sketsa-sketsa yang dicatatnya. Tetapi perenungan ini tidaklah ia munculkan kembali dalam bentuk yang membuat keberadaan personalnya mudah dikenali. Ia masuk kepada peristiwa tetapi sekaligus mencoba menjaga jarak dengannya.
Beberapa puisi Yoga yang berbau personal banyak merujuk pada pengalaman yang berbau relijius namun otentik, teka-teki hidup dan kematian, pencarian akan yang hakiki. Sesuatu yang dikatakan Aiken tentang puisi sebagai "potret manusia yang dengan peluh di kening, darah di tangan, siksa-siksa neraka di hati, dengan gayanya, dengan absurditasnya, dengan kejalangannya, keyakinan-keyakinannya dan keraguan-keraguannya. Dalam puisi Kitab Kehidupan, misalnya, potret jujur ini dapat ditemukan

….
Doa-doa tak terbalas dalam setahun
Di sore hari anjingku yang patuh
Berlarian di antara ilalang panjang
Mengejarku di tubir jurang
Menyaksikan kenangan yang terperosok
Ke dasar lembah
Kuhadapkan wajah di beranda rumah
Sesosok wajah jahat penuh rajah
Memahat hatiku yang membatu
Rambutnya yang tergerai
Seperti peri
Atau ilahi
Setelah peristiwa itu
Ingin kupastikan perasaan hatiku yang luput
Apakah aku masih milikmu
Kepercayaan-kepercayaanku yang purba
Telah longsor menghadapi kenyataan cacat

Hanya bayang-bayang yang dapat kukejar
Dan kueja dalam penyamaran ini
Samar-samar wajah yang kekal dan berjamak rupa
Selalu menghantui jalan fikiran

Puisi di atas menjadi semacam rekaman dari seorang manusia yang mencari-Nya. Bukankah sebuah pencarian yang romantis tetapi penuh dengan luka seorang yang terus mendamba. Dengan begitu pembicaraan curhat hati disini tidak tampil sebagai suatu yang melangit, tetapi dengan bahasa manusia yang sangat biasa. Tuhan menjadi sebentuk kehadiran yang selalu muncul di tiap baris. Sementara Yoga yang merumuskan Kehadiran itu dengan bunyi mu.. dengan m kecil menjelaskan adanya Engkau yang dekat, yang intim. Mu… dengan M besar yang muncul pada baris-baris paling akhir menunjukkan bagaimana pada akhirnya Tuhan dalam KehadiranNya masih merupakan sesuatu yang jauh dan sayup

"bila kau datang tiba-tiba
Seret aku dalam ketelanjangan imanku
Yang buta ini
Pulang
Ke rumah r />
Mu

Kehadiran yang teramat dekat tapi tidak seluruhnya terpahami memunculkan satu sikap pencarian yang semakin memuncak. Dalam Patung Matahari pencarian ini makin menemukan bentuknya. Pada bagian akhir puisi ini terasa setiap baris makin menemukan kekuatannya untuk sampai pada klimaksnya. Kegelisahan menjadi selesai. Yang becming telah diputuskan menjadi being. Tak ada lagi ambiguitas, semua sudah seterang matahai yang tak punya bayang-bayang karena semua cahaya sudah terserap dirinya. Apalagikah yang masih tersisa, Yoga?

W Haryanto selanjutnya memberikan pengantar untuk membuka dialog diskusi "Patung Matahari" karya S Yoga.

Saya mencoba membuat semacam kata pembuka. Jadi ada beberapa ungkapan dari Mbak Lina tadi mengenai ketidakstabilan. Jadi ada sebuah proses kalau kita membicarakan relijiusitas. Dan kemudian ketika ada sebuah pengertian tentang jarak budaya mengenai mu kecil dan Mu besar saya teringat puisinya Jeffry Qadri, Tuhan Tidak Menjenguk kita. Saya pernah membuat sebuah kajian tentang Jeffry. Ia memandang konsep Tuhan itu bukan konsep transendensi tetapi konsep sosiologis. Jadi Tuhan itu datang dalam sebuah pengalaman sosiologis . Jadi saya ingat sebuah kutipan ini " sebelum proklamasi Tuhan itu datang ke Jakarta tapi selama 10 menit membisikkan pada Sukarno , Indonesia harus merdeka". Kemudian Sukarno bersama teman-temannya melantunkan proklamasi, setelah itu menurut Jeffry Tuhan tidak lagi menjenguk Indonesia tetapi ia berada di belahan dunia lain. Ia sedang memerdekakan bangsa-bangsa lain". Tuhan dalam konsep ini adalah kemerdekaan, pembebasan". Kalau kita kembali ketidakstabilan ini bisa menjadi proses yang menarik dari seorang S Yoga. Jadi yang saya kenal dari Yoga ini, karya-karya dia sejak kenal di awal 10 tahun lalu, Yoga memang seorang yang dingin dalam hal yang sifatnya personal. Karya ia lebih mengembangkan masalah jarak. Jarak antara aku teks , adalah sebuah jarak. Dan itu adalah kekhasan Yoga termasuk cerpen-cerpennya. Jadi puisi yang saya kenal adalah puisi dingin. Jadi hampir tidak ada "aku" Yoga . yang ada "aku" yang melihat Yoga. Jadi posisi ini adalah pengembaraan dari seorang S Yoga. Ketika saya sentil Yoga nantinya bisa mengadili Budi Darma bukan masalah sesuatu tetapi benar apa yang dikatakan Mbak Lina tadi bahwa kumpulan puisi ini ditujukan untuk Budi Dharma tapi bukan arti mengadili tapi Ini kan Matahari, matahari sebuah cahaya jadi sebuah patung. Judulnya saja sudah menyiratkan Yoga sedikit tersentil dengan sikap Budi Dharma yang belakangan ini yang cenderung menjadi patung dari sebuah cahaya yang sudah mati. Jadi ada beberapa persoalan yang bisa dibicarakan lebih lanjut. Tadi Mbak Lina sudah menyinggung masalah seperti tahap, peristiwa, etografer. Bagi saya tahapan ini cukup unik dan tahapan bagi seorang penyair masuk kedalam hal puitis seperti ini tradisinya memang lebih tradisi Sougi dibanding teori sastra itu sendiri . jadi pentahapan itu Yoga masuk kedalam sebuah ruang , menjalani ruang tapi mengambil jarak dengan ruang itu kemudian dari proses itu dia menjadi ruang itu. Dari tiga tahap itu kita bisa mengambil satu teknik dari Kris Budiman tentang Proses Pengasingan. Kris Budiman itu membuat sebuah pengandaian 3 tahap, Tahap pemisahan : pemisahan dari tradisi social jadi Kris pernah mengupas tentang Bulan Pasinya Rendra Nyanyian Angsa Rendra. Tahap pertama melepas semua kebiasaan sosialnya untuk menuju proses sakral, kemudian saat aku bertemu dengan Tuhan dimana ia terjebak dengan dunia antara, tahap ketiga si pelacur bersetubuh dengan Tuhan. Aku sudah masuk, Tahap penyatuan. Kris Budiman mengupas Nyanyian Angsa dalam konteks relijiusitas. Dari sini Yoga masuk dalam posisi ini. Ia datang pada peristiwa tradisi Madura ia berjarak dan terakhir ia menyetubuhi tradisi itu. Yoga bilang saya menafsirkan tafsir. Jadi ia bukan lagi orang yang melihat atau berjarak, tapi tahap ketiga Yoga sudah menjadi seorang yang lebih Madura dibanding madura itu sendiri. Saya pernah dialog dengan beberapa kawan, setiap kali saya membaca puisi tentang Madura saya tidak bisa menghilangkan kenangan dengan Zawawi Imron. Baru setelah Patung Matahari saya bisa melihat sesungguhnya Madura setelah Zawawi masih ada. Tapi sayangnya bukan Madura tapi pendatang. Jadi ini merupakan tantangan bagi orang Mmadura itu sendiri. Dari banyak karya orang Madura yang saya baca banyak mereka yang ternyata malu menjadi Madura, kesadaran psikisnya cenderung seperti itu. Jadi Madura itu ada dua konsep sesungguhnya , konsep memori sebagai Madura, kesadaran sebagai Madura. Jadi orang Madura sekarang cenderung menganggap Madura sebagai memori karena ia bersuku Madura bukan menjadi orang dengan kesadaran Madura. Memang sesungguhnya jika kita bandingkan dengan sastra Jawa , ini bukan masalah dukungan Madura di Madura sendiri ada majalah Pakem Madu , sebuah majalah yang mengkhususkan diri dalam studi Madura. Jadi saya fikir Yoga tidak sekedar hadir dalam konteks personal dia sebagai penyair tapi Yoga lebih pada seorang pejalan. Dia menjalani dan menjadi Madura lain yang bisa jadi mengkoreksi Madura.

 

*
Diskusi Laboratorium Sastra DKJT , 26 Agustus 2006

W Haryanto

W Haryanto lahir di Surabaya, 14 Oktober 1972. Penyair, eseis, Komite Sastra DKJT, pimred Majalah Kidung, juga penggiat kelompok diskusi TaS, selain kesehariannya sebagai staff TU Balai Bahasa Surabaya. Karya-karyanya banyak dipublikasikan di sejumlah media massa, termasuk Kompas, Jurnal Kalam, Jurnal Filsafat Mitra Budaya, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Bali Post, Surabaya Post, dll. Saat ini sedang menyiapkan buku kritik sastra, "Penyair Tak Perlu Negara: menyingkap teks 10 penyair Jawa Timur".

Kru Puitika.Net berkesempatan mewawancarai penyair ini di kantor DKJT Surabaya. Berikut percakapannya.

Setiap orang memiliki cerita yang berbeda tentang pengalaman mereka menulis puisi. Anda mungkin bisa menceritakan sejak kapan menulis puisi?

Saya menulis pertama kali tahun 1994 akhir itu karena saya berinteraksi dengan beberapa kawan di kampus. Beberapa kawan saat ini masih aktif seperti Soni Karsono kemudian S. Yoga kemudian Panji K. Hadi kemudian ada lagi yang menjadi novelis itu S Jai. Saya memang berinteraksi dan waktu itu memang sebenarnya basic saya itu seni rupa . Kemudian oleh kawan-kawan saya sering diposisikan untuk menyetting, ketika teman-teman mengadakan pembacaan puisi saya disuruh nyetting . Dari interaksi itu saya mulai tertarik menulis tapi proses pertama saya bukan proses perkenalan itu tapi waktu tahun 1995 awal Februari saya KKN di daerah Pasuruan dan daerah itu daerah minus. Disana tidak ada listrik dan masyarakatnya masih sangat terbelakang sekali. Waktu itu saya dibekali oleh pemahaman kultur orang Madura itu kasar meskipun tetangga saya sendiri banyak yang Madura tapi ketika saya datang ke daerah yang masyarakatnya tidak mengenal bahasa Indonesia tetapi bahasa Madura. Saya sempat mengalami shock. Kemudian disana saya memulai semacam studi sosial. Saya banyak mendalami persoalan-persoalan di sana termasuk di sana persoalan sejarah mungkin terlepas dari kajian sejarah kita tentang Sakera. Di sana yang namanya Sakera sama adek perguruan yang berpihak pada Belanda masih ada di sana dan bertetangga. Keduanya saling berebut posisi politis. Kalau keduanya itu berfikir tidak merebut posisi aparat desa itu sangat menakutkan, masing-masing itu bisa saling membantai. Jadi di sana itu mungkin kita bisa membongkar lagi stigma kalau Kyai seseorang yang memiliki posisi tinggi tapi disana tidak, teori itu gagal. Tapi kalau ada Kyai meskipun begitu rumahnya bisa dibakar massa. Tapi kalau yang namanya Kades . Mereka tidak berani sama sekali. Makanya dari dua keluarga ini kemudian berebut dalam posisi entah kades dan kekuasaan lainnya. Berebut itu. Dans alah satu keturuannya dari adek yang menjadi musuhnya Sakera itu berkata ‘ kalau saya tidak menjadi Sekdes keluarga saya dihabisi masyarakat . Proses itu kemudian saya mencoba mengembangkan sebuah pengalaman sosiologis, pengalaman tidak langsung. Saya sering ngobrol orang di sana dan permasalahannya memang kritis banget. Tahu-tahu saat saya pulang ke Surabaya sempat cuti 2 hari saat kembali kesana ada Carok. Dan situasinya sangat mengkuatirkan. Disana itu tidak ada listrik yang ada ada diesel. Dan listrik hanya menyala jam enam sampai jam sembilan . Setelah itu mati. Tekanan-tekanan semacam itu memacu saya untuk menulis dan puisi saya yang pertama adalah Retoris Bisu , itu untuk merefleksikan persoalan seperti itu. Ada larik-larik kata seperti ini :

Ternyata orang-orang tidak berjalan dengan kakinya tidak menangis dengan matanya

Ketika saya datang kesana dengan sebuah kultur saya sebagai anak kuliah dengan idealisme tinggi dengan dibekali teori sosial dan saya datang kesana dengan pesan sosial. Kalau mau ngomong kapan saya menulis pertama kali ya itu. Jadi saya memang menulis itu karena bukan seperti teman-teman yang mungkin bergaul dengan sastrawan dan membaca buku. Saya nggak, saya punya strategi sosiologis. Dan sejak itu saya gemar berjalan-jalan antar kota. Dan sering saya amati itu ekspresi orang-orang, tapi saya tidak melakukan interaksi dengan mereka. Jadi saya cukup didekat mereka kemudian saya menikmati ekspresi mereka. Saya pernah ke Solo itu ada tukang kuli barang. Ada teman-teman mahasiswa mau nunggu kereta. Mereka teman saya yang baru pentas jadi bawa alat musik lengkap karena nunggu kereta jadi alat musiknya nganggur. Tau-tau tukang kuli barang tadi meminjam alat musik tadi dan kemudian memainkannya dan enak ternyata. Satu hal yang tidak sangka orang ini menemukan sebuah tingkat kebenaran lain. Disatu sisi ia itukan dalam tekanan sosial tapi di sisi lain ketika ada alat musik dia ingin mengekspresikan secara total. Ekspresi dia itu saya nikmati banget. Nah dari sini jika bicara proses , saya menulis itu bukan dari kasus persoalan sosial tapi dari ekspresi yang saya tangkap mungkin ini lebih pada strategi drama. Karena memang awalnya saya anak Teater.

Dalam perjalanannya, anda dikenal penyair yang mengusung tema “Maut”, anda setuju?

Di awal-awal tulisan saya memang bercerita masalah maut . Itu karena saya punya trauma, punya memori yang sampai sekarang saya bawa. Waktu saya masih kecil mungkin masih SD kelas satu ada kecelakaan kereta dibelakang rumah saya. Ada bis kota ngebut ditabrak kereta. Dan hari itu langsung meningal lebih dari seratus. Orang kampong saya mengeluarkan tikar. Satu hal yang saya ingat itu mayatnya bajunya itu bersih. Yang hancur kepala dan berdarah dan itu terbawa sampai sekarang. Saya berfikir manusia itu tidak lebih dari tubuh bukan esensi . Memori itu saya bawa dalam tulisan saya di awal-awal. Kemudian saya terlibat dengan kultur lain, aspek-aspek kebudayaan dunia lain misalnya saya pernah ke Bugis disana ada persoalan. Jadi setelah periode kedua dari tahun 1999 sampai dengan sekarang lebih pada bagaimana seorang pengarang berada ada satu kultur lain tapi bukan dalam konteks menghakimi tapi pada posisi bagaimana dia membangun dialog budaya. Dia menemukan ukuran budaya.

Jika dihubungkan dengan profesi anda sebagai PNS saat ini, bagaimana menjaga konsistensi tadi sementara waktu anda tidak cukup luang untuk melakukan perjalanan?

Kalau sekarang saya mencoba menulis esai. Saya mau menyusun sebuah buku, judulnya “Penyair Tidak Perlu Negara : Menyingkap Teks 10 Penyair Jawa Timur”. Sebuah kajian tentang 10 penyair Jawa Timur. Strategi saya seperti ini. Jika saya tidak memiliki kesempatan untuk berjalan-jalan saya akan menulis esai.

Mungkin anda bisa menceritakan tentang kajian anda tadi?

Selama ini kan penyair kita itu kan dibekali dengan sebuah beban nominal. Jadi mereka itu tidak pernah berfikir kritis dengan karyanya. Jadi mereka sudah cukup merasa bangga ketika membaca puisinya diundang pada event tertentu. Sementara kualitas itu nggak ada Saya pernah pengalaman membuat lomba kritik sastra, waktu itu di Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya. Saya memang melontarkan itu. Dan itu memang cuma satu orang dan saya memang meresahkan proses ini karena sastra memang tidak bisa dilepaskan dari kritik. Tanpa kritik kualitas itu tidak bisa dibaca. Sebenarnya tulisan ini kumpulan dari makalah-makalah saya. Jadi beberapa kali saya menjadi pembicara yang saya kembangkan lagi menjadi tulisan. Dan kalau beberapa pengarang ini saya memang tidak menggunakan ukuran isme atau gaya atau rentang waktu. Karena memang itu bukan masalah yang urgen dalam perkembangan sastra Jawa Timur .karena banyak sekali pengarang-pengarang sastrawan Jawa Timur yang lama-lama pun belum perah diulas. Jadi beberapa pengarang yang maket yang sudah jadi antara lain Trinil sendiri itu tulisan saya sempat dimuat di Surabaya Pos kemudian pengantar saya untuk Sabrot D. Malioboro, Almarhum Brewok. Kemudian beberapa penyair muda dari Unair sudah saya ulas. Kemudian penyair dari Jerman, saya mencoba membangun pertandingan dengan penyair Saiful Hajar, kemudian ada lagi penyair dari Malang, Rego, Panji dari Madiun dan kemudian S Yoga.

Bagaimana dengan nama-nama lain di Jawa Timur?

Mungkin akan saya sajikan lain di edisi berikutya.

Anda banyak berkomunitas misalnya FS3LP , seberapa besar komunitas membantu proses kepenyairan?

Kalau bagi saya justru di awal-awal tapi ketika komunitas mulai besar kontribusi dari komunitas itu malah gak ada, tapi justru komunitas itu masih belum terbangun jadi masih gerilya jadi masih sekumpulan orang sering berkumpul di warung kemudian membangun komunitas di Teater Gapus. Waktu itu masih ada Panji, Pamuji, disana saya digodok. Tapi ketika Teater sudah mulai besar, terbalik. Bukan komunitas membangun saya malah saya bergerak sendiri. Artinya komunitas itu bukan jaminan . Yang jadi jaminan dari komunitas itu komunitas sosial dalam komunitas itu sendiri. Karena memang banyak dalam komunitas itu toko-toko sentral yang kemudian membangun jarak antar generasi dan itu berbahaya dan itu memang terjadi di hampir semua komunitas. Jadi bicara penulisan sudah bersifat pribadi bagaimana dari pribadi itu membangun disiplin untuk sebuah proses. Komunitas itu faktor B jadi hanya masalah iklim saja. Jadi seseorang bisa lahir dari komunitas tapi proses itud ari penyair itu sendiri bukan dari komunitas.

Menulis sejak lama tentunya ada masa kritis bagi kepenyairan anda?

Masa kritis itu pada saat saya menghadapi skripsi. Pada waktu saya diharapkan banyak teori menghadai ujian akhir. Itulah masa Kritis saya. Jadi disana pola pikir kreatif saya tidak jalan yang jalan pola rasio. Saya mengalami itu hampir satu tahun lebih , saya masih menulis puisi tapi puisi saya jelek.

Setiap penyair memiliki falsasah hidup, bagaimana dengan anda?

Saya ingin merebut apa yang tidak bisa saya rebut. Apapun itu.

Berbicara masalah penuangan ide ke dalam puisi, bagaimana prosesnya bagi anda secara pribadi?

Kalau saya suka membuat buku catatan kecil. Jadi sebuah puisi tidak tiba-tiba menjadi sebuah puisi. Kalau imajinasi saya selalu dalam perjalanan. Ada pernah buku alamat itu saya buang karena isinya bukan alamat tetapi isinya potongan-potongan kalimat. Dalam perjalanan saya banyak sekali mengamati baik itu ekspresi atau apa . Dari sana muncul rasa kata. Baru kemudian saya endapkan sekian lama. Kemudian pada saat saya hendak menulis buku itu saya buka lagi. Saya buka pelan-pelan satu persatu. Untuk sampai ke tema.

Proses koreksi dalam puisi sering dilakukan?

Paling sering. Satu puisi bisa beberapa kali koreksi.

Banyak berkenalan dengan penyair tentunya selama ini. Siapa penyair favorit dan antologi kesayangan anda?

Kalau saya favoritnya. John Keats, penyair romantik Inggris. Bahasanya luar biasa, padat dan ia itu paling jujur. Diksi-diksinya penuh kejujuran. Kemudian ia kalau menulis larik begitu padat. Ketika ia mencapai suatu teknik perlambangan itu begitu tinggi jadi tidak sekedar sebuah bunyi, bunyi letupan. Tetapi mengandung sikap pribadi seorang penyair pada dunia. Kalau di Indonesia saya paling suka Subagio Sastrowardoyo karena ia memiliki intelegensi paling tinggi. Menurut saya di Indonesia dia yang paling tinggi. Dia tidak Cuma memiliki kemampuan filsafat, kajian kebudayaan. Tapi ia justru menulis puisi itu sederhana tapi dalam.

Kalau antologi kesayangan dari Subagio Sastrowardoyo itu “Hari Dan Hara”.

Anda memiliki latar belakang bahasa secara akademis yang baik. Tetapi jarang sekali anda menulis puisi dalam berbahasa Inggris. Ada apa?

Saya menulis memang dalam bahasa Indonesia. Bahasa Inggris saya cuma membaca dan belajar.

Sedikit menyimpang, penyanyi favorit anda?

Saya suka Hallowen. Paling suka.

Makanan favorit?

Ikan asin (tertawa kecil)

Membaca puisi paling berkesan, kapan dan dimana?

Pada tahun 1996, waktu membaca di DKS. Saya di undang dalam forum itu saya tidak merasa demam panggung.

Dibalik penelitian/kajian tadi? Ada rencana lain selanjutnya untuk diwujudkan?

Saya ingin menulis kritik sastra semua penyair di Jawa Timur

Semua yang berdomisili di Jawa Timur?

Tidak semua yang berdomisili di Jawa Timur tetapi mereka yang mencitrakan jawa Timur karena sebagian itu banyak yang keluar misalnya di Bali. Tapi karya mereka itu masih memberikan citraan Jawa Timur.

Identitas Jawa Timur itu ditunjukkan melalui nama tempat atau hal lainnya seperti bahasa daerah?

Oh bukan tapi karakter bahasanya, kelihatan dari sistem lariknya. Ini Jawa Timur ini nggak. Kemudian dari pilihan kata tapi bukan merujuk pada kata khas daerah seperti ‘jancuk”. Justru pada saat ia menggunakan kata-kata biasa justrru ada ekspresi “jancuk” di sana. Jadi memang perlu ketelitian.

Bagaimana dengan globalisasi? Idiom yang kita kenal bersama dinikmati bersama?

Memang sulit. Makanya buku yang pertama ini banyak dari penyair yang tua. Jika kita bicara masalah generasi memang sulit. Penyair tua ini lebih kental Jawa Timurannya. Kalau generasi sekarang akrab dengan buku terjemahan tanpa sempat berkontemplasi. Akhirnya karakter mereka ini hilang karena bergelimang dengan buku terjemahan ini. Mereka tidak sempat membangun dialog dengan buku.Mereka langsung menelan buku tersebut dan membuat maket untuk menulis. Penyair generasi sekarang seragam. Jadi kalau mau dibuat kajian itu sulit karena karakter mereka sama semua. Fikiran sama semua. Padahal setiap daerah itu kekhasan persoalan, personal itu berbeda semua. Masalahnya ini seringkali luput dari generasi sekarang. Makanya saya dengan mutasi mutakhir saya kesulitan mencari angle jawa Timurnya mana. Kalau penyair seperti Brewok kelihatan banget. Nafas Suroboyonya khas banget. Ada karakter-karakter dalam tulisannya.

Menyinggung masalah kritik sastra. Bagaimana menurut anda membudayakan kritik sastra?

Jadi sebenarnya alternatif itu dari kampus. Jadi pihak kampus harus ada kurikulum yang memadai untuk melakukan kritik. Kemudian pemahaman orang berkuliah . karena pemahaman orang kita tentang berkuliah itu seringkali salah. Sehingga mahasiswa kita ada satu pemahaman bukan lagi untuk mencari ilmu tapi untuk mencari pekerjaan. Kalau pekerjaan kan semua orang mencari pekerjaan tap ketika berkuliah dia harus intens dengan ilmunya itu. Bisa jadi seorang sarjana sastra bekerja di Bank tapi setelah pulang dari bank dia meluangkan waktu untuk kritik sastra. Tapi itu tidak terjadi. Bahkan mereka yang bersinggungan dengan sastra. Habis lulus mereka menjadi guru misalnya tapi tidak menulis sastra. Dan itu sesungguhnya masalah mental pendidikan kita yang sudah salah. Kalau bicara masalah alternatif memang sebenarnya di akademik sastra. Bukan di kroan bukan di Dewan Kesenian tapi Akademisi sastra. Kalau koran itu kan perkembangan sistem kesenian bukan kritik, untuk kualitas itu tanggung jawab akademi karena tiap hari mereka berkecimpung dengan teori.

Anda aktif di DKJT, mungkin bisa cerita perihal kiprah DKJT meningkatkan minat berpuisi?

Adanya Laboratorium Sastra. Misalnya dengan membedah buku karya sastrawan. Kami tidak mengundang banyak orang dan memang setiap acara biasanya tujuh orang yang datang. Termasuk pengarangnya sendiri. Di sana kami mencoba mendistribusikan pemahaman, apresiasi. Selama ini kan pengarang setelah menulis selesai , saya coba menghadapkan penulis dengan apresiator. Kemudian saya juga melibatkan dosen-dosen sastra. Saya ingin fakultas sastra terlibat paling tidak dari dosennya tertarik untuk menulis buku.

Anda banyak berkenalan dengan penyair muda. Bagaimana dengan nama-nama muda yang muncul di Jawa Timur yang berpotensi?

Kalau itu saya belum bisa jawab karena penyair Jawa Timur sekarang sudah terkooptasi dengan gaya-gaya penulisan Jakarta. Sebenarnya ada beberapa misalnya Ragil Sukriwul dari Malang. Dia aktif di Teater seringkali dia melakukan perjalanan panjang muhibah ke beberapa tempat dan wilayah dan dari sana dia menuliskan catatan-catatan. Membangun sebuah dialog. Paling tidak ia punya modal besar cuma saya pun berani bisa bilang ia punya potensi tapi seringkali saya membaca karya Ragil itupun saya belum melihat kekuatan penyair muda Jawa Timur. Setelah eranya Arief Prasetyo paling kalau digenerasi saya itu S Yoga. Setelah itu nggak ada.

Apakah ada keharusan penyair menulis esai?

Saya pikir itu harus. Puisi kan abstrak banget ketika menulis bunyi, tema. Ketika menulis esai dia dipertaruhkan dengan logika. Bagaimana dia mempertanggungjawabkan pikiran-pikiran dia ke audiens. Kebanyakan saya lihat penyair besar adalah penulis esai yang handal . Subagyo Sastrowardoyo itu buku-bukunya luar biasa. Ada bukunya yang monumental dan saya jadikan patokan “Sosok Pribadi Dalam Sastra”, kemudian Sapardi juga aktif dan Goenawan juga. Kenapa kritik sastra kita lemah karena mereka paling lemah menulis esai. Untuntuk mempertanggungjawabkan pikiran-pikiran dia.

Beberapa esai yang ditulis oleh rekan-rekan dari Jawa Timur cenderung mengangkat nama-nama penyair jawa Timur, ada strategi khusus?

Kenapa tidak, karena mereka layak masuk dalam sejarah sastra. Karena selama ini sejarah sastra jawa Timur pun sangat tergantung dengan Jakarta. Di DJK sejak dua tahun lalu mendapat proyek dari Diknas, membuat buku panduan untuk pelajaran sastra. Termasuk selama ini kan pelajaran sastra itu kan berhenti di Chairil Anwar, terakhir Rendra. Nah sekarang oleh DKJ, jadi mereka membuat program, membuat catatan, membuat sejarah sastra sulit untuk dilakukan di daerah karena membutuhkan biaya besar, jadi mereka mengundang beberapa penyair datang ke Jakarta dan dibiayai Cuma masalahnya ini bias juga . karena memang yang terpilih pun teman-teman dekat kuratornya. Ini yang jadi masalah. Kayak kasus di Yogyakarta ada beberapa nama penulis muda yang punya potensi tapi tidak masuk justru yang amsuk pengarang yang masuk seperti generasi tahun 70-an. Itu kan jadi masalah. Dengan masalah itu saya berfikir kenapa tidak membuat sejarah sendiri. Saya mengangkat sastrawan jawa Timur saja.

Anda bisa memperjelas posisi Surabaya di antara kota besar di Indonesia; Bandung, Yogya dan Jakarta?

Kalau saya, Indonesia itu hampir sama saja. Kalau di Jakarta memang lebih baik karena disana masih ada dialog-dialog antar komunitas, kemudian kegiatan bedah buku dan itu rame. Kalau itu kita jadikan ukuran perkembangan maka iya. Setiap kali bedah buku di sana rame, entah pengarang muda, terkenal selalau ramai. Bahkan terakhir kali waktu itu saya tidak sempat menghadiri tapi saya langsung pulang ada bedah buku. Pengarangnya sudah tidak terkenal, mati muda dan ia hanya dikenal sebagai penyair komunitas Metro Mini. Jadi pengarang-pengarang Batak itu punya komunitas namanya Metro Mini. Jadi pengarang itu meninggal waktu menjadi supir. Waktu itu dibahas di TIM, rame. Jadi tidak masalah apakah terkenal atau tidak. Sebenarnya apakah buku itu layak atau tidak, itulah yang tidak dipegang di Surabaya. Jadi kalau mau ngomong, kalau di Yogya lebih parah. Yogya punya khas, orang-orang tua itu menjegal anak muda terang-terangan. Kalau disini tidak terang-terangan tapi menjegal. Kalau disini kan acara anak muda kan tidak mau datang. Kalau disini orang Surabaya sulit sekali diajak diskusi. Ini sudah saya temui sejak euforia 98. Terakhir rame itu pas acara Tengsoe Tjahyono, dan penontonnya aktif dan kemudian dari beberapa wilayah di Surabaya. Terakhir kali pas saya menjadi pembicara Rego malah sedikit yang datang.

Kampus pun sekarang jarang membuat jaringan. Mereka mebuat jalan-jalan sendiri. Kalau mengundang pun hanya alakadarnya. Tetar kampus itu sekarang gap.

Terakhir, puisi menurut anda?

Puisi itu adalah sebuah logika. Logika menghadapi dunia menandingi alam karena manusia sendiri kalah dengan alam. Kita kalah dengan angin, kalau angin kencang sedikit kita sakit. Dan manusia dilahirkan untuk menaklukkan alam tapi bukan untuk mengeksploitasi alam. Dan Puisi arahnya kesana, menandingi alam. Alam tandingan.