Kategori Arsip: Artikel

Rindu Saya pada Puisi Lampung

bejuta hanipi ngeringkol dilom hati:
“jadikon hurikmu ngedok reti
jama niku, ulun tuhamu, rikmu
jama sapa riya!”

“APA artinya,” tanya Pak Dian Komarsyah, pembimbing saya ketika membaca bait puisi ini dalam lembar halaman motto di skripsi berjudul “Hubungan Komitmen dengan Penegakan Disiplin Pegawai Negeri Sipil” sebagai tugas akhir di Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung (1996).

Pak Dian wajar tidak mengerti petikan sajak Kehaga I (Damba I) yang saya cantumkan itu karena ia memang tidak beretnis Lampung. Dan, saya juga yakin meski sudah lama di Lampung, dia sangat jarang mendengar orang bertutur dengan bahasa Lampung.

Tapi, yang terjadi ini: Ayah-ibu saya Lampung yang paseh berbahasa Lampung. Tapi, saya tidak bisa berbahasa Lampung. Di rumah sehari-hari berbahasa Indonesia. Dan, saya tengah memperdalam kemampuan berbahasa Inggris saya.

Ah, itulah yang terjadi pada anak saya, keponakan-keponakan saya, dan beberapa generasi tahun 1980-an hingga kini.

***

Meskipun tulisan ini jauh dari ilmiah, tetapi saya perlu menyampaikan beberapa istilah yang saya pakai dalam tulisan ini.

Sastra Lampung merujuk pada sastra yang ditulis dengan menggunakan bahasa Lampung. Sebab, sastra adalah seni berbahasa. Sastra Lampung berbahan baku bahasa Lampung. Karena itu tidak saya tulis dengan “sastra berbahasa Lampung”. Dengan begitu, sastrawan Lampung adalah sastrawan yang menggunakan bahasa Lampung dalam kerja kesesusastraan (proses kreatif)-nya.

Turunan dari (sebagai bagian dari/salah satu jenis) sastra Lampung adalah puisi/sajak Lampung. Puisi Lampung jelas ditulis dengan bahasa Lampung, sehingga tidak harus dipanjangkan “puisi berbahasa Lampung” atau “sajak berbahasa Lampung”. Dan karena itu, penyair Lampung adalah penulis puisi yang menuliskan syair (sajak/puisi) dalam bahasa Lampung.

Batasan ini saya pakai hanya dalam tulisan ini.

***

Sekarang saya hanya mau bercerita bagaimana saya bersentuhan dengan sastra Lampung atau lebih spesifiknya puisi Lampung sejak masih lahir. Orang Lampung harusnya bisa bersyukur karena nenek moyang yang sangat kreatif. Mereka mewariskan suku Lampung dengan sistem budaya, bahasa, sastra, dan aksara.

Sebuah warisan yang tidak ternilai harganya sebenarnya. Tapi, kebanyakan kita orang Lampung atau setidaknya yang mengaku Lampung (soalnya banyak juga yang malu menyatakan diri Lampung) tidak menyadari ini.

Tapi, saya beruntung (atau malah sebuah ‘kesialan’) lahir di Liwa, sebuah tempat yang — kata istri saya sendiri — terlalu jauh dari Bandar Lampung. Dulu, seingat saya saya, hampir tidak pernah menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa lain dalam kehidupan sehari-hari, kecuali di ruang kelas sekolah.

Saya mendengar semua orang berbicara dalam bahasa Lampung, meski ada sedikit saja yang menggunakan bahasa Indonesia. Petani, pedagang, Pegawai negeri, polisi, tentara, apa pun profesi mereka, tetap berbahasa Lampung. Di pasar, di kantor, di sekolah, di ladang, di terminal, di mana saja yang terdengar bahasa Lampung.

Dalam setiap ucapan orang-orang itu — sungguh baru saya sadari beberapa tahun kemudian — saya menemukan puisi. Puisi Lampung!

Jangankan di upacara-upacara adat yang menuntut kemampuan berbahasa Lampung yang mumpuni; dalam percakapan sehari-hari pun sesungguhnya orang Lampung seperti tengah berpuisi.

***

Masih di SMP saya menemukan sebuah buku tua yang hampir terbuang. Sebuah buku tentang aksara Lampung (Kaganga) karangan Moehammad Noeh. Waktu itu bahasa Lampung belum lagi menjadi muatan lokal di sekolah-sekolah, sehingga saya pun tidak pernah belajar secara resmi membaca dan menulis huruf Lampung itu di sekolah.

Saya penasaran. Secara otodidak, saya pelajari sendiri buku itu, bagaimana membaca dan menuliskannya. Karena jarang saya pergunakan, saya tidak terlalu mahir menggunakan huruf Kaganga ini.
Tapi, huruf Lampung ini cukup membekas dalam ingatan saya. Apalagi ketika Pemerintah Provinsi Lampung kemudian menjadikan bahasa Lampung — sebenarnya cuma huruf Lampung — sebagai pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah. Saya jelas, tidak bersekolah lagi.

***

Dalam ingatan saya, puisi Lampung bisa kita dengar ketika muli-meranai segata (berbalas pantun) dalam nyambai (di tempat lain nama yang mirip: miyah damar, cangget bara, dan sebagainya). Puisi juga saya dengar ketika orang-orang tua berasan (melamar), behimpun (bermusyawarah), betetah (pemberian adok), serta dalam rangkaian berbagai upacara adat dari lahir, sunat, menikah hingga meninggal.

Ada pula setekut (berbicara dengan batas dinding antara muli dan meranai di tengah malam) yang penuh bahasa puisi.

Seorang yang hendak menikah tetapi melangkahi kakaknya mampu melahirkan puisi. Seorang yang ditinggal orang yang sangat ia kasihi menghadirkan puisi. Seseorang yang tengah bergembira membuahkan puisi. Seseorang yang jatuh cinta menelurkan puisi. Orang sakit diobati dengan memmang (mantera). Pendeknya, puisi lahir kapan dan dimana, dan oleh siapa saja.

Tapi, tidak ada yang berani berani berkata, “Saya penyair.” Sebab, puisi lahir sebagai sebuah spontanitas saja. Untuk merayu seorang muli yang sedang lewat, misalnya. Puisi lahir seperti angin lewat saja. Setelah itu, dilupakan tidak apa.

Lain waktu akan lahir puisi baru lagi.

***

Tibalah saatnya saya memasuki kehidupan urban Bandar Lampung selepas SMP. Bandar Lampung! Saya tidak perlu bercerita lagi tentang bagaimana kehidupan di Bandar Lampung. Yang jelas, saya semakin sulit menemukan puisi Lampung dalam keseharian di kota ini, kecuali di komunitas yang sangat kecil di tempat tinggal saya di Pakis Kawat dulu.

Rindu saya terhadap puisi Lampung sesekali memang terobati saat pulang pekon mengikuti rangkaian nayuh (pesta pernikahan) dan acara muli-meranai (nyambai).

Tapi, kini acara-acara penuh puisi itu sudah semakin jarang. Berganti dengan organ tunggal, dangdut, dan kesibukan kaum muda berkunjung ke tempat-tempat hiburan dan rekreasi. Anehnya, meski sering mendatangi tempat-tempat indah, kita tetap tak mampu berpuisi. Hahahaa….

***

Ada lebih dari 30 jenis sastra lisan Lampung, kata pengamat sastra Lampung.

Wah, buat sastrawan Lampung atau penyair Lampung, jelas ini (seharusnya) menjadi stok bahan bakar yang banyak untuk berpuisi ria. Saya merindukan puisi Lampung. Tapi, rasanya tidak mungkin saya selalu hadir ketika orang-orang Lampung tengah berpesta puisi.

Maka, tidak ada jalan lain, puisi Lampung itu harus ditulis, dikreasi ulang, diperkaya dengan imaji baru. Ya, puisi Lampung atau sastra Lampung harus memasuki era yang lebih modern dengan ciri utama: keberaksaraan, tidak anonim, kebaruan (walau tetap tidak melupakan ruh kelampungannya), dan mungkin juga semangat perlawanan (pemberontakan atas kemapanan).

Semoga.

* Udo Z. Karzi, perantau yang selalu merindui puisi Lampung

Patron Yang Berpendar

Setelah membaca majalah Horison pada edisi ulang tahunya yang ke 40, secara umum dapat dilihat peta sastrawan, pengaruh sastrawan, konflik sastrawan dan jaringan sastrawan mulai tahun 1966 (semenjak kelahiran Horison). Sebuah perebutan Patronase sastra dengan sebuah ikon majalah Horison memperlihatkan dinamika sastrawan dan kelahiran karya-karya sastra. Sebuah perjalanan majalah Horison yang melibatkan banyak sekali Kampiun Sastra negeri ini diceritakan secara jujur dan terbuka. Horison terlihat sebagai sebuah piala bergilir yang selalu diperebutkan oleh sastrawan-sastrawan yang memiliki tujuannya masing-masing. Generasi-generasi sastrawan diera sekarang ini, yang tidak terikat secara emosional didalam perebutan piala bergilir majalah Horison dapat melihat dan mengerti peta sastrawan pada zaman dulu. Sehingga para sastrawan di era sekarang ini dapat melihat bahwa ada suatu Faktor “X” yang harus menjadi sebuah pertimbangan dalam melihat sebuah kulitas karya sastra. Bahkan faktor “X” ini selalu ada dari dulu hingga sekarang dan Faktot”X” inilah yang seringnya menjadi penyebab yang utama sebuah penilaian kualitas karya sastra. Tetapi sayangnya pada majalah Horison pada edisi ulang tahun yang ke 40 tidak membahas permasalahan serupa dengan bentuk yang berbeda pada sastrwan dan karya sastra di era sekarang ini. Sebuah Publikasi bertahannya majalah sastra horison selama 40 tahun, kesuksesan meningkatkan Oplah dan Road Show ke berbagai penjuru tanah air dengan berbagai suka dukanya adalah sebuah gambaran kesuksesan sastra di era sekarang ini.

Pada tanggal 8 september 1974 adanya gugatan terhadap Patron sastra oleh beberapa penyair muda terhadap penyair senior terhadap kuatnya dominasi sastra. Salah satu puisi yang mewakili situasi tersebut adalah karya Mahawan berjudul Teka-teki :saya ada dalam puisi/saya ada dalam cerpen/saya ada dalam novel/saya ada dalam roman/saya ada dalam kritik/saya ada dalam esai/saya ada dalam w.c//siapakah saya?/jawab:hb jassin//(Maman S.Mahayana,Horison Nov 2006). Cerita diatas di tampilkan sebagai sebuah dinamika sastra masa silam. Dan sepertinya, di era sekarang ini tidak adanya sebuah Patron terhadap dunia sastra Indonesia, sehingga majalah Horison tidak perlu membahasnya.

Patron Sastra diera sekarang ini telah berpendar. Patron sastra telah bergeser dari patron Individu ke patron Kelompok sastra. “Kegairahan” sastra di era sekarang ini di mentahkan oleh-oleh tembok-tembok kelompok sastra. Para anggota kelompok-kelompak sastra yang menduduki redaksi di berbagai Media telah “merampok”karya sastrawan gelandangan atau di luar kelompok komunitasnya yang tidak sepaham. Kelompok-kelompok sastrawan ini dengan komplotanya memberikan sebuah tiket gratis publikasi buat para anggotanya di berbagai media. Hanya dengan memberikan keterangan sebuah “Adress Sastrawan” di akhir sebuah karyanya. Aktif di “anu”, Pembina sanggar “anu”.Penggerak kelompok penulis”anu dan sebagainya yang berkaitan dengan “anu”. Sama seperti politikus yang membeli kartu anggota Parpol tertentu untuk sebuah tiket menjadi Gubernur,Bupati ataupun Presiden sekalipun. Hal ini pernah diucapkan oleh saudara saut situmorang”Politik representasi identitas”sastra Indonesia oleh komunitas sastra tertentu terbukti cuma menimbulkan krisis artistik”selera artistik komunitas tertentu dianggap merupakan selera internasional/kosmopolit(Politik Komunitas sastra”SINDO”)

Sebuah “gairah”yang hanya dapat dinikmati oleh sebuah kelompok lama kelamaan akan menamatkan kegairahan itu. Sebuah kreatifitas akan mati, karena semuanya memunculkan sebuah warna yang sama. ”Sekarangpun saya masih membaca media-media lain dengan setia tetapi tanpa debar-debar jiwa remaja. Apakah tulisan saya dimuat di media ini atau itu.” Kata Agus R sarjono(Horison Mitos dan Horison realitas”Horison November 2006). Sebuah kegairahan telah hilang pada diri redaktur Horison tersebut, sebuah persaingan yang ditandai dengan debar-debar sudah tidak ada. Sebab dia telah memiliki sebuah tiket gratis sehingga semua tulisan akan selalu mulus keberbagai media. Kehilangan debar-debar adalah kehilangan kegairahan dan kreatifitas. Inilah salah satu wajah sastra Indonesia yang selalu”melihat siapa yang menulis bukan apa yang ditulis.”

Sudah seharusnya kelompok sastra yang saat ini sebagai pemegang Patron sastra Indonesia lebih menghargai sebagai keorisinilan “IDE” sebab sebuah ide yang cemerlang dari berbagai tema tidak akan tergantikan oleh siapapun. Kelompok sastra sebaiknya bergerak dalam tataran Teknis penulisan, sehingga sebuah Ide dari seorang penulis dapat sampai kepada pembaca sesuai yang di maksud. Bergerak dalam tataran kualitas hanya akan membawa gerbong kelompok sastra yang di ikutinya mengekor dan menutup kelompok lain yang berseberangan.”bukankah kualitas masih diperdebatkan?seperti Ruwetnya puisi Afrizal Malna(Ikhwal Kritik sastra Alex R Nainggolan”SINDO”).

Kesuksesan meningkatkan Oplah sebuah majalah sastra Horison seperti sekarang ini dianggap sebagai sebuah kegairahan sastra. Secara Kwantitative memang benar, sebab sebuah majalah sastra semakin laku berarti ada sebuah kegairahan dari masyarakat untuk membaca sastra. Tetapi jika pemberian sebuah majalah sastra secara gratis, apakah dapat di katakana masyarakat bergairah dengan majalah sastra atau hanya gratis kemudian bergairah. Karena seorang pemulungpun bergairah sekali jika diberikan koran-koran bekas. Tetapi tentu saja, pemulung bergairah dengan Koran bekas karena aroma uangnya bukan bergairah membaca isi berita dari Koran-koran bekas tersebut. Secara Oplah setelah terjadinya Road Show sastrawan dengan bantuan Ford Foundation dan Departemen Pendidikan Nasional memang meningkat. Semula 9000 Eksemplar tahun 2004 kemudian meningkat mencapai 12000 Eksemplar, setelah Departemen Pendidikan nasional memberikan bantuan sebanyak 4500 sekolah menengah atas dan Madrasah Aliyah menjadi pelanggan(Maman S Mahayana,Horison Nov 2006). Berarti Majalah Horison yang diberikan sercara gratis sebanyak 37,5%,sehingga masyarakat yang membeli Majalah Horison karena menyukai sastra sebanyak 62,5% atau 7500 Eksemplar. Jadi sebenarnya dibandingkan dengan 2004 majalah horison sebenarnya mengalami penurunan peminat. Kurangnya Peminat tentu karena kualitas isinya, sebab seorang pembeli majalah jika menyukai majalah tertentu sesulit apapun pasti mencarinya. Jadi sastra telah berhasil menggairahkan Pemerintah bukan masyarakat.

Apabila nanti, Departemen pendidikan nasional mencabut subsidi, sekolah-sekolah tersebut masih berlangganan majalah Horison, berarti majalah sastra Horison sebagai majalah sastra yang turut berjasa memajukan sastra Indonesia.

Dengan melihat Road Show para sastrawan dengan memakan biaya yang tidak kecil, ternyata sampai saat ini belum dapat menggairahkan karya sastra Indonesia(dengan parameter menurunnya pembeli Potensial majalah Horison). Sehingga yang terlihat dari kegiatan ini hanyalah sebuah “Proyek Sastra”. Dan sudah saatnya para sastrwan mengubah cara pandang dalam menggairahkan sastra Indonesia. Para sastrwan harus menyadari benar apa sebenarnya kurang bergairahnya sastra di negeri ini. Sebab permasalahan menggairahkan sastra di Indonesia sekarang ini jauh lebih rumit dari era tahun 1966. Sebab hiburan-hiburan Instant yang di komandani Televisi dengan berbagai variasi acaranya menawarkan sesuatu yang lebih nyaman di otak dan lebih murah biayanya.

Sastra harus membuka diri dan jangan terkungkung oleh sebuah “Patron yang berpendar”.Karya sastra tidak boleh terkungkung dalam kelompok-kelompok sastra yang sekarang sebagai pemegang Tafsir di berbagai media. Sastra harus lebih dekat dengan masyarakat bukan siswa. Sastrawan tidak perlu takut jika sastra dilepas ke masyarakat, sastra akan kehilangan kesakralanya dan keelitanya. Sebab dari Kwantitas pasti akan melahirkan Kwalitas. Akan sangat Indah jika warna sastra berwarna-warni, sehingga masyarakat dari berbagai kelompok akan menganggap sastra adalah bagian dari hidupnya. Bukan milik para sastrawan saja atau kelompok-kelompok sastra. Untuk saat ini, ternyata Puisi Teka-teki karya mahawan masih Relevan.

Saya ada dalam puisi/saya ada dalam cerpen/saya dalam novel/saya ada dalam roman/saya ada dalam kritik/saya ada dalam esai/saya ada dalam wc//siapakah saya?/jawab:komplotan sastra//

Bogor, 2007

Moch Arif Makruf
ALUMNI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA

Penggiat di SAINS,Sajogyo Inside Bogor
Anggota KMB(komunitas menulis Bogor)
Beberapa Puisi saya tergabung dalam antologi bersama penulis muda,yang terbit tanggal 7 agustus 2007
Beberapa tulisan saya baik berupa Opini,cerpen,puisi dan esai sastra pernah dimuat di harian suara Karya,surya(jawa Timur),Pakuan Raya(bogor),majalah anak orbit,Batam Pos dan lain-lain.)
Perumahan Bukit Mekar Wangi
Blok C8 No.6
Kec.Tanah Sareal,Ds.Mekar Wangi Bogor-Jawa Barat
Telepon : (0251)7536078/0815 6544964
Email:Endoetmembara@gmail.com/arifmakruf@telkom.net

Lintang Sugianto

Lintang Sugianto lahir di Jakarta, 28 April 1969 ( jam 7 malam). Mengecap pendidikan di Arsitektur Landscape Trisakti dan ASMI. Menulis puisi , cerpen dan novel. Beberapa kumpulan puisi yang sudah dibukukan dan diterbitkan seperti Illahi (1998),Pelepah I (1999), Pelepah II (2000), Namaku Perempuan (2006), dan Kusampaikan (2006) . Kumpulan cerpennya, yaitu GWINAR (2003),Orang-orang Kalah (2004),ADIBA (2005), Aku, Anak Matahari (2005).

Novel pertamanya berjudul Matahari Di Atas Gili diterbitkan tahun 2004. Selain itu dia juga membuat Narasi : Lukisan anak-anak Aceh ~ Menyapa Pagi Yang Baru (2006). Puisi dan cerpen pernah dimuat di berbagai Media cetak Pikiran Rakyat, Republika, Kompas, Sindo, M2 Media, Jawa Pos dan Jurnal Perempuan.

Aktivitas-aktivitas :
• Bergabung dengan Seniman Daerah, mengadakan Observasi Budaya seJawa-Bali (1999)
• Pernah menjadi guru sukarela di P.Gilli Jawa Timur (2000)
• Ikut mensosialisasikan Negara Kemaritiman melalui Budaya Pesisir dan Gemar Membaca pada daerah pesisir di Jawa – Madura (2003)
• Bergabung dengan UNFPA (United Nation Population Fund) dalam program “Psychosocial Terapy Art” bagi para pengungsi korban gempa dan tsunami di Banda Aceh, Aceh Jaya, Aceh Besar (NAD) (Juni-September 2005)
• Sebagai pembicara dalam bedah buku sastra di IAIN Jakarta, UNPAD Bandung, IKIP Malang, RESTO GAMA Malang dan UNEJ Jember
• Sebagai Nara Sumber bedah sastra di radio MAS FM – Malang, radio Suara Jember FM, M2 FM radio – Bekasi
• Membuat Narasi Lukisan para korban gempa dan tsunami di NAD yang akan di bukukan oleh UNFPA (Maret 2006)
- Sebagai trainer di workshop penulisan di pondok-pondok pesantren, dan komunitas-komunitas sastra.

Berikut percakapan Puitika.net via e-mail dengan penyair , cerpenis dan novelis perempuan , seorang Lintang Sugianto :

Bisakah anda ceritakan masa kecil anda? Sejak kapan anda mulai menulis puisi dan apa yang menjadi pendorongnya?

~ Dulu, ketika saya tumbuh menjadi gadis kecil, saya bukanlah tergolong gadis kecil yang menggebu-gebu, tetapi pemalu, dan penuh kekhawatiran. Saya lebih sering menarik diri dari keramaian, menutup diri di dalam kamar dengan di temani tumpukkan buku-buku. Orangtua saya mewajibkan saya untuk membaca. Setiap pulang sekolah, di meja makan, di samping piring dan menu makanan siang, selalu ada sebuah buku baru dengan catatan kecil di atasnya. Dan saya merasa bosan dan enggan, membaca catatan bernada perintah itu setiap hari: Baca! Dan ceritakan kembali nanti malam. Seusai makan siang, saya segera berlari ke halaman belakang rumah. Lalu, saya memanjat pohon belimbing, dan berlama-lama duduk di dahan sambil membaca buku yang di wajibkan. Pada akhirnya, pohon belimbing itu telah menjadi buku harian saya. Diatasnya, saya banyak melewatkan waktu untuk mencari potret diri yang gembira, dan berkhayal menjadi gadis kecil periang yang dapat di terima di kalangan teman-teman. Meskipun, setiap kali turun dari pohon belimbing, saya tetap merasa tak berhasil. Perubahan tidak terjadi pada diri saya, saat itu. Saya tetap tumbuh menjadi gadis sensitif dan pemikir. Di atas pohon belimbing, saya dapat dengan leluasa untuk marah, menangis, terluka, bahkan fantasi saya dapat berkelana bebas dan jauh, membentuk kisah dramatis, menghadirkan seorang pangeran dengan cinta, yang menunggu saya turun dari atas pohon. Di atas pohon belimbing itu, saya merasa memiliki otoritas untuk menjangkau dunia melalui medium buku dan ide-ide. Ide-ide itu berwujud nyata, ketika huruf-huruf dalam buku-buku itu menjadi ilustrasi yang hidup. Saya bermain-main sendiri dengan mereka – huruf-huruf itu. Saya menyadari betapa berharga kebersamaan saya dengan pohon belimbing di periode hidup saya saat itu. Dan bahwa, walaupun menyimpan banyak ketidaktahuan tentang hidup dan dunia, pengalaman itu tidak tergantikan oleh apapun. Di sanalah, di masa kecil saya, masih di penuhi tarian saya bersama kupu-kupu. Mengubur semut-semut yang mati. Menangisi pohon pepaya yang telah lama tumbuh, tetapi tak memiliki kembang dan buah. Atau bertanya kepada malam, di balik jendela kamar, mengapa bintang tak merendah? Saya merasa, kala itu, saya berada di fase pembelajaran sebagai perempuan, sebagai manusia. Saya bahagia…

~ Ayah saya mempunyai kebiasaan menulis surat kepada saya dan menyelipkannya di bawah pintu kamar tidur saya. Kebiasaan itu ia lakukan, setiap kali ia mendapati saya melakukan hal yang membuatnya marah, senang, ataupun berupa sebuah nasehat. Dan saya selalu membalasnya – mengungkapkan argument-argument saya di dalam tulisan. Kemudian saya pun melakukan hal yang sama, yaitu menyelipkan surat balasan itu di bawah pintu kamar tidur ayah saya. Ternyata kebiasaan itu membuat saya cukup percaya diri dalam merangkai kata, dan menuang ide-ide menjadi sebuah kalimat atau puisi. Pada saat kelas 2 SMP, saya merasa hidup saya telah berubah, sejak berkenalan dengan seorang gadis kecil – 9 tahun – bernama Lastri. Ia, pengemis gelandangan yang saya jumpai di Alun-alun Kota Malang. Suatu hari, saya bermain ke tempat tinggalnya – sebuah tempat penampungan pengemis, yang terorganisir – di Kuto Bedah. Saat itu, setelah mendengar cerita dari Lastri yang polos, saya menemukan kehidupan Lastri yang terguling ke dalam jurang kengerian yang berdasar. Ia telah di calonkan sebagai pelacur, saat usianya mencapai 11 tahun. Saat Lastri bercerita, saya hampir tidak dapat menerjemahkan ekspresi wajahnya yang biasa saja, bahkan tidak ada ketakutan. Tetapi dari sinar matanya saya dapat memastikan bahwa ia belum sampai pada sebuah pengertian yang jelas, mengenai arti sesungguhnya pelacur itu. Saya berusaha menjelaskan dan mengajaknya pergi. Tetapi, Lastri menolak. Dihadapan beberapa pengasuhnya yang terlihat mabuk, saya menggenggam tangan Lastri. (Hingga saat ini, saya masih mengingat wajahnya dan kejadian itu) Dan dunia terasa ambruk berserta atribut-atribut positifnya, ketika saya tak bisa membawa Lastri pergi. Saya menangis. Tangisan itu menjadi sebuah puisi pertama yang saya cipta. Sebuah puisi panjang, personal, penuh teriakan, dan serupa doa. Dan puisi – Setaman Seribu Dunia – itulah, yang pada akhirnya menjadi “ibu” dari seluruh puisi-puisi saya.

Literatur-literatur yang mempengaruhi karya anda?

Saat saya remaja, hampir berminggu-minggu lamanya, saya merasa sulit menghilangkan jejak kisah “Looking For Alibrandi” – karya Melina Marchetta – dari pikiran saya. Saya masih dipenuhi keharuan dan kekaguman pada seorang perempuan berdarah Italia yang lahir dan dibesarkan di Australia, lalu, menghadapi pertentangan nilai-nilai konvesional dan modern yang di temuinya sehari-hari. Saya akuhi, dari novel itulah saya berdiskusi dengan teman-teman, dan mulai belajar pula menimbang baik buruknya sesuatu. Tidak hanya melalui batasan-batasan absurd di sekolah, walaupun saat itu, saya bukanlah tergolong anak “gaul”. Namun, di perpustakaan kecil saya – dulu hingga sekarang – serial cerita remaja “Girl Talk” (Sidney Sheldon), “The Earth Gods” (Khalil Gibran), “Musyawarah Burung” (Farid Ud – Din Attar), Jalaluddin Rumi, Hamka, “Catatan Pinggir” (Goenawan Muhamad), hingga Shakespeare tetaplah bergiliran menemani malam-malam saya, meskipun telah berulang kali saya baca. Akhir-akhir ini, saya lebih menyukai buku-buku karya pengarang India. Saya sedang mengoleksi buku sejarah India, hingga “Aparajito” (Bibhutibhusan Bando padhyay) atau serial “Krishnamurti”. Meskipun saya juga mengagumi “That Other World That Was The World” (Nadine Gordime). Yang menceritakan tentang peran dan pengalaman pribadinya sebagi penulis di masa pemerintahan Apartheid Afrika Selatan. Tetapi perlu saya tegaskan bahwa observasi fisik secara khusus lebih berpengaruh terhadap seluruh karya saya.

Bentuk seni lain yang mempengaruhi anda? Dan seniman yang memberikan inspirasi pada anda?

~ Menyanyi dan menari adalah kegiatan yang tak pernah lepas di dalam keseharian saya. Meskipun hanya menggerakkan kedua tangan dan bersenandung, keduanya saya lakukan dengan perasaan sungguh-sungguh, di saat saya memerlukan sebuah “pause” di tengah-tengah waktu ketika saya sedang menulis.
~ Segala sesuatu yang ada di semesta pikiran manusia adalah energi. Di sanalah, muara bagi persatuan ide yang tak terbatas, semua pengetahun, dan penemuan. Secara alamiah, energi itu tumbuh bersamaan dengan kelahiran manusia. Kemudian ia – energi – berkembang menjadi energi positif akibat magnet energi yang secara elektris tak berkesudahan menyerap dan memberi kemurnian cinta, di sekitar kehidupan manusia. Inspirasi, penemuan, dan penciptaan adalah bagian daripadanya. Sebagai manusia, saya bersyukur tiada henti, dengan dihadirkannya dua magnet energi yang secara berkesinambungan di dalam hidup saya. Dua magnet energi itu, ialah Ayah saya, dan lelaki berambut panjang yang pada akhirnya menjadi suami saya, yang selalu saya panggil dengan sebutan Abang. Dari saya kecil hingga dewasa, Ayah saya berperan total sebagai guru kehidupan. Setelah Ayah saya meninggal, peran itu di lanjutkan oleh Abang. Saya mengagumi mereka. Dan merekalah yang memberi inspirasi terbesar bagi saya.

Penyair-penyair kesayangan anda?
Setelah Jallaludin Rumi, saya mengagumi Rendra. Mereka sama-sama menggetarkan. Mereka bergairah. Mereka sama-sama memiliki mata cinta yang tajam. Mereka sama-sama memastikan diri – dengan sikap teguh – bahwa mereka terkait sepenuhnya dengan alam semesta, kemudia menjelajahi pengalaman spiritual, hingga tingkat-tingkat tertentu. Dan keduanya, sama-sama meraih kebesaran di zamannya masing-masing, karena kesabaran, cinta dan rendah hati.

Sebagai seorang istri, ibu, aktivis, dan juga penulis, bagaimana anda mengatur waktu anda itu semua? Apakah keluarga memberikan dukungan?

Saya merasa tidak bergerak bersama waktu seperti perempuan pada umumnya. Tetapi, saya bahagia melewati 1×24 jam, tanpa tersisa dengan kesia-siaan. Jika saya sedang tidak memiliki aktivitas diluar, maka pukul 14.00 siang – saat anak-anak pulang sekolah – adalah waktu kami sekeluarga berkumpul. Kami bermain, berdiskusi, dan menyelesaikan berbagai hal. Di waktu-waktu itu, saya berwujud sebagai seorang ibu seutuhnya. Kebersamaan saya dengan anak-anak berakhir ketika pukul 21.00 malam. Dan saat mereka tertidur, waktu saya di dominasi penuh oleh Abang. Di ruang waktu yang personal itu, saya pun telah berdiri di depan Abang sebagai istri, kekasih, teman, terkadang ibu, atau murid yang total dan patuh. Kami saling menyatakan cinta, saling mengevaluasi, saling menyerap dan memberi makna sprirtual, sekaligus makna batin yang sangat mendalam. Ketika saatnya tiba, kurang lebih pukul 01.00 dini hari, dengan sikap elegan, Abang sering mengingatkan saya agar segera memanjat “Pohon Belimbing”. Seketika saya berubah menjadi diri saya sendiri, bahkan terkadang seperti anak kecil yang amat gembira berlari ke arah, “Pohon Belimbing”. Tentu saja, pohon belimbing yang saya panjat sekarang, bukanlah berbentuk pohon, berdaun, berdahan, dan berbuah. Tetapi sebuah metafora bagi compiuter atau alat tulis saya, yang saya perkenalkan kepada anak-anak dan Abang secara akrab. Kegiatan menulis, setiap hari saya lakukan hingga pagi hari. Setelah sholat subuh dan makan pagi bersama, saya melepas keberangkatan anak-anak saya ke sekolah, lalu, saya berangkat tidur hingga pukul 12.00 siang. Pada awalnya, membiasakan kebiasaan yang tidak biasa, adalah tidak mudah dan berat. Namun, setelah hampir 7 tahun, saya membiasakan pemakaian waktu yang tidak masuk akal ini, saya justru mendapatkan perkembangan pemikiran yang sehat. Barangkali, ini menjadi hal yang sulit untuk anda yakini, jika saya katakan bahwa di tengah malam, di keheningan, saya justru seperti kanak-kanak yang menimba ilmu tentang estetis dari kehidupan yang lurus, dan menimba energi kelembutan. Dan bukankah dua hal di atas adalah bekal untuk mendapatkan pena yang tajam?

Anda menulis banyak puisi, cerpen dan terakhir menulis novel, bisa anda ceritakan sedikit tentang karya novel anda yang terbaru “Matahari Di atas Gilli”?

Sebenarnya “Matahari Di atas Gilli” sudah pernah diterbitkan oleh Penerbit Bima Rodheta – 2004. Tapi, saya merasa proses pengemasan pada saat itu kurang menyenangkan;tidak ada editor, pendistribusiannya pun tidak gesit dan nyaris tidak bergerak. Saya pun mengakuhi naskah awal, memang kurang tersajikan dengan sudut pandang yang luas, juga belum matang. Lalu, pada tahun 2006, saya merevisinya selama 1 tahun, dan pada bulan Juli 2007, “Matahari Diatas Gilli kembali di terbitkan oleh Penerbit Republika. Menulis “Matahari Diatas Gilli”merupakan sebuah pengalaman yang berguna. Pengalaman itu membuat saya mengalami hal-hal yang mengejutkan, setiap kali saya berusaha keras menghadirkan Pulau Gilli kembali dan hadir seutuhnya di hadapan saya, dan di atas kertas. Yang paling penting, saya menyadari betapa berharga dan formatifnya periode naluri imajiner saya, meskipun banyak tantangan. Setidaknya, saya merasa siap untuk menceritakan kehidupana masyarakat Pulau Gilli yang terasing, teringgal, bahkan tak mengenal secara pasti negaranya sendiri. Matahari Di atas Gilli adalah kisah yang jauh lebih mendekati kebenaran, karena saya mengenal masyarakatnya, dan saya hidup di tengah mereka selama 6 bulan. Di dalam novel itu, saya menghidupkan tokoh perempuan bernama Suhada, yang tidak pernah mengenal kasih sayang orangtuanya. Tetapi ia berdiri tegar di atas nasibnya. Setelah ia menikah dengan Suamar – lelaki asal P. Gilli – hidupnya berubah total dengan cara yang sangat tak terduga. Suhada menjadi antusias, dan energetik, ketik ia mulai jatuh cinta pada anak-anak Gilli, masyarakat dan alamnya. Awalnya, ia hanya bersahabat dengan Tuhan saja. Karena seluruh masyarakat Gilli menolak dirinya, saat ia mengajar anak-anak mereka menulis dan berbahasa Indonesia.

Bagaimana proses kreatif anda menulis puisi?

Perlahan-lahan saya mulai fasih terhadap hal-hal di sekitar hidup saya, termasuk akrab dan menerjemahkan bahasa keheningan itu sendiri. Keheningan menjadir sebuah lorong panjang bagi seluruh ide-ide saya yang bersenandung pelan tapi berirama. Awalnya, kata-kata berkelebatan, sebagai penterjemahan bahasa nurani saya. Biasanya, itu terjadi sesaat setelah saya bergesekkan langsung dengan idium yang berhasil menempati hati saya. Yang tak bisa saya hindari, adalah hati saya selalu bersikap setia kepada apapun yang tertindas – tanpa bicara benar atau salah. Segalanya terjadi sangat singkat, dan refleks. Seperti ada elektroda yang menempel di kepala, lantas, bagaian dalam tubuh saya berguncang seirama dengan aktivitas listrik itu. Di saat itulah, secara tersembunyi, saya berdialog panjang dengan idium, kemudian memutuskan, Saya menjadi Engkau. Saya tetaplah Lintang. Tetapi “Engkau” bisa berbeda-beda dan berjumlah. “Engkau” adalah wujud dari Stunami di Aceh. “Engkau” adalah gempa di Jogja, Lumpur Panas Sidoarjo, Lastri, Pengemis anak-anak di lampu merah, Pelacur, Indonesia atau Gilli. Dan “Engkau”, juga adalah cinta manusia kepada Tuhannya. “Engkau”, menjadi berkembang, berganda menyeret-nyeret saya mengembara ke masa silam yang amat jauh, juga ke sebuah tempat yang mungkin tak dapat di capai secara fisik. Pada dasarnya proses penciptaan karya sastra; novel, cerpen, puisi, harus di letakkan di dalam hubungan antara Tuhan, alam dan manusian. Tuhan, sebagai Maha Pemilik Ilmu memerlukan semesta untuk menampakkan kehadiranNya. Sedangkan semestam, ia hanya sebuah alam yang bisa; ada, tak bisa di maknai, apabila tanpa manusia, karena hanya manusia yang dapat memaknainya dengan peristiwa yang di alami manusia. Terakhir, menurut saya, karya sastra – novel, cerpen dan puisi – adalah tubuh pengarang. Pengarang harus berani menjauhkan, mendiamkan, bahkan meniadakah dirinya sendiri untuk mencapai proses penciptaan tokoh, dalam alur, dan tema. Pengarang harus penuh kesabaran membuat terowongan yang terjalin antara Tuhan, semesta dan manusia. Kemudian ia harus berjalan mondar-mandir diantara ketiga hal itu. Tanpa keterikatan itu, sebuah karya sastra akan lemah, tak bertonggak. Ia tak dapat menyampaikan pesan moral bagi pembacanya.

Sebagai seorang perempuan, bagaimana kepentingan feminisme merasuk ke dalam karya puisi-puisi anda? Atau anda punya misi-misi lain dalam menulis puisi?

Revolusi yang tertuang di dalam tulisan – novel, cerpen, puisi – para penulis perempuan Indonesia memang merupakan konsekuensi wajar yang timbul dalam sebuah budaya massa. Hal itu sama seperti beberapa fenomen lainya: Feminisme merupakan konsekuensi dari kekuasaan patriaki, dan anarki adalah bias demokrasi dalam perlawanan menentang tirani kekuasaan tertentu. Namun, perlu disadari bahwa revolusi itu pun bagian dari evolusi. Fenomena-fenomena yang muncul pun merupakan dialetika yang terjadi dalam naungan evolusi. Sebenarnya perempuan memiliki kesempatan lebih untuk meredefinesi diri dalam peran sosialnya. Dan saatnya pula menerima kenyataan bahwa dirinya ialah bagian evolusi yang terjadi selama milyaran tahun, yang lalu. Saya kira, tak ada gunanya melawan hukum alam. Untuk lebih jelasnya, apa yang saya baca, apa yang saya tulis – novel, cerpern dan puisi – saya lalukan sebagai seorang manusia. Dalam proses penciptaan itu, saya merasa tak perlu terbatas dengan keperempuanan, dan tak perlu pergi dari keperempuanan saya. Jika memang “terlanjur” ada penulis/penyair pria dan perempuan, yang kemudian keduanya memiliki wilayah masing-masing, saya berharap sejogjanya keduanya saling menjaga citra sebanding. Meskipun, saya tetap yakin bahwa yang ada di dalam sastra hanya good writing and bad writing.

Bagaimana menurut anda penyair perempuan sekarang?

Usaha-usaha apa kiranya untuk membangkitkan perempuan menulis puisi dan berani mempublikasikan pengalamannya sebagai perempuan?

~ Tampaknya tidak ada alternatif lain, selain kita – penyair – tidak pernah kehilangan harapan pada kata, juga tidak pernah punya niat untuk membebaskan kata dari makna. Dan saatnya pula, perempuan lebih fokus meningkatkan potensi yang di miliki, dengan keunggulan di berbagai aspek kemanusiaan, termasuk di dalam sastra, di dalam kepenyairannya. Saya optimis, meskipun harus di ihktiarkan terus menerus bahwa perempuan mempunyai warna yang hangat, dan berkarakter kuat dalam meramu imajinasi dan realitas pada karya-karya puisinya. Asalkan, kita mau menyadari bahwa kata tidak bisa di murnikan, kecuali dengan memurnikan kalbu kita sendiri. Menurut saya, kata-kata yang muncul dari kemurnian kalbu akan punya kharisma sehingga bisa me-ruang dan me-waktu, lepas dari kamus, lepas dari sejarah, lepas dari daya korupsi manusia.

~ Perempuan harus menulis! Puisi adalah hal yan paling dekat dengan kehidupan perempuan. Hanya saja, perempuan seringkali tidak menyadari kehadirannya, dan tidak menghendaki untuk lebih jauh mengenalnya. Mari kita telusuri bersama-sama. Perempuan adalah makhluk yang memiliki tingkat kepekaan tertinggi dalam menggunakan panca inderanya, untuk menjangkau alam sekitar, dengan pandangan dan rasa secara detail, dengan cinta. Sementara cinta itu sendiri ialah motorik sempurna untuk menulis. Melalui “Kata-katanya sendiri” (in her own words), perempuan dapat memulai membentuk sebuah kalimat, sebagai penterjemahan bahasa nuraninya. Sedangkan kita sama-sama tahu, bahwa akurasi dalam karya seni/karya sastra terletak pada kejujuran. Bukankah cinta dan kejujuran itu tak berjarak? Sekali lagi, perempuan harus menulis. Menulis adalah ungkapa kultural yang kuat utuk mengubah nasib perempuan. Oleh karenanya, perempuan diwajibkan memproduksi dan mengkonsumsi teks (menulis dan membaca). Hanya itulah, usaha satu-satunya yang dapat merubah perempuan untuk menjadi lebih berani mengakrabi suara hatinya, mengenal dirinya bahwa ia – perempuan – adalah subyek yang melakoni sesuatu, dan yag mempengaruhi sesuatu. Dengan menulis, perempuan akan mengkomunikasikan kekuatan ide-idenya: di baca, di suarakan dan di akuhi, sehingga ia berdaya untuk memberdayakan daya manusia di sekitarnya. Seumpama perempuan adalah pohon, generasi daun-daun yang menguning, runtuh, dan pupus adalah puisi-puisi. Pohon-pohon adalah rimba. Rimbunan daun-daun adalah kelahiran kolosal. Siapakah yang menandai musim semi? Jawabnya, adalah perempuan yang menjadi a good fighter dalam hidupnya. So, why don’t you write?

Tiga kata yang mendeskripsikan diri anda?

Bacalah! Cintailah! Dan, tulislah!

Apa hal yang paling membahagiakan sebagai penyair menurut anda? Sifat terburuk dalam diri anda?

~ Barangkali kebahagiaan para penyair adalah kebahagiaan seperti yang saya rasakan: ketika saya berhasil menjadi “Engkau” di dalam sebuah puisi. Seandainya toh ada yang berbeda, tentu tak bergeser lebih jauh. Itupun, karena saya tak pandai menelusuri apa yang dapat membahagiakan penyair secara umum. Bukankah setiap penyair memiliki orentasi dan semesta yang berbeda-beda?
~ Saya sudah berusaha memeranginya, tetapi saya tetap mudah jatuh dengan rasa iba, menangis dan tidak tegas

Apa yang menjadi ketakutan terbesar dalam diri anda?

Saya takut tak lagi bisa membaca. Saya juga takut tak dapat lagi menulis. Tetapi, saya lebih takut jika saya tidak bisa lagi mencintai.

Makan untuk jiwa anda?

Selain membaca, saya memiliki jadwal atau hari yang sudah ditentukan untuk melakukan kegiatan observasi fisik, tanpa harus dengan sebuah rencana. Saat itu, hati saya berkuasa penuh untuk menentukan arah. Satu-satunya bekal yang saya bawa, hanyalah cinta dan siap berbagai. Sepertinya ini terdengar dramatis, klise, dan tampak terlalu dibesar-besarkan. Tetapi, dalam kenyataannya, bagi saya, semua itu terjadi senormal bernapas. Sebuah bagian yang rutin saya hadir di rumah sakit, di penjara, di pinggiran Jakarta yang kumuh, di kota-kota tertentu atau tempat ibadah. Tubuh saya seperti anak panah yang melesat, dan ketika saya menancap tepat di tengah-tengah mereka, saya telah menjadi bagian dari mereka. Yang saya tahu, tak ada yang membedakan di antara kami, selalin kami sama-sama mempunyai mimpi yang indah sebagai manusia. Sama-sama ingin sembuh dari penyakit yang ganas. Sama-sama ingin bebas. Sama-sama ingin berubah menjadi baik. Sama-sama ingin mendapat keadilian. Sama-sama ingin hidup yang layak. Anda tahu, dalam kebersamaan itu, kami saling memancarkan frekuensi tertingg, yaitu saling memberi cinta. Semakin besar rasa cinta saya kepada mereka, semakin besar pula kekuatan cinta yang mereka berika kepada saya. Adakah makanan lain bagi jiwa yang dapat memberikan kekuatan dinamis, yang mampu memberikan vitalitas bagi kebeningan pikiran, selain cinta? Tentu, anda mempunyai pendapat yang berbeda. Tapi, bagi saya, tanpa itu semua, saya seperti orang-orang di sawah. Hampa.

Dan apa yang menjadi resolusi anda di tahun 2008 ini?

Di tahun ini, saya harus merasa lebih bahagia dengan kumpulan naskah cerpen, kumpulan puisi, juga sebuah naskah novel, yang akan diterbitkan serentak, meskipun tidak pada satu penerbit yang sama.

Terakhir, puisi menurut anda?
Puisi itu bahasa jiwa. Sebuah bahasa yang lahir dari kejujuran, kemurnian dan ketulusan. Sebuah bahasa yang jauh dari rekayasa, dan tak dapat terkontaminasi dengan kepentingan-kepentingan. Ia, adalah bahasa yang menerjemahkan bahasa nurani penyairnya. Bukan lahir dari kamus, atau dari katalog. Saya selalu katakan kepada setiap orang, bahwa saya memimpikan bahasa jiwa dapat menjadi bahasa Nasional, atau Internasional. Sehingga tak akan ada perang, tak ada penindasan, ataupun ketidakadilan. Semua bicara tentang cinta, dan berbahasa cinta.

Beberapa Puisi Lintang Sugianto

Amnesia

Daun daun tua
Hutan yang merah
Adalah negeriku

Pagi itu…
Matahari duduk bersila
Ia mendongengkan kekuasaan
Orang orang besar berdatangan mengoles gincu
Mukanya cantik
Mereka memakai dasi
Mereka berebut naik panggung
Mereka berebut bicara

Daun daun kemanusiaan
Daun daun moral
Berjatuhan
Adalah negeriku

Siang itu…
Matahari tertawa sambil membaca mantra
Amnesia…amnesia…amnesia…amnesia…

Orang orang kecil mengencangkan sarung
Mereka menari mengeliling panggung
Mukanya pucat
Mereka lupa sejarah
Lupa lapar
Lupa siapa dan siapa
Lupa…

Daun daun terkulai
Daun daun terluka
Daun daun kumal
Adalah negeriku

Malam itu…
Burung hantu mencatat buku harian
Ratusan tangan berkuku panjang
Berlumuran darah
Sedang berpesta di Hotel mewah
Seusai mencuci tangan

Daun daun busuk
Hutan yang kumuh
Matahari berkunjung setiap pagi
Amnesia…amnesia…amnesia…amnesia…
Orang orang besar berdatangan lagi
Amnesia…amnesia…amnesia…amnesia…
Kemanusiaan lagi
Amnesia…amnesia…amnesia…amnesia…
Moral lagi
Amnesia…amnesia…amnesia…amnesia…
Orang orang kecil lagi
Amnesia…amnesia…amnesia…amnesia…
Daun daun lagi
Amnesia…amnesia…amnesia…amnesia…
Kuku kuku panjang lagi
Amnesia…amnesia…amnesia…amnesia…
Negeriku
Negeriku
Negeriku
Negeriku

Amnesia…

Lintang Sugianto
Pondok Pesantren Darussalam ~ Banyuwangi
28 June 2007 at 03.03

Api Kecil

Biarlah aku menjadi api
pada damar yang menempel di dindingMu
Meski tak layak cahayaku menyamai matahariMu
Api yang tak benderang
Api yang selalu dipermainkan angin
Tetapi aku ialah api yang ingin menyala
selama-lamanya untukMu
Meski minyak telah kering pada sumbu

–Lintang Sugianto

* Api Kecil adalah puisi yang di tulis oleh tokoh Suhada, di Novel Matahari Di atas Gilli

Bicaralah, Mak

Sudah jauh aku berlari, Mak
Tetapi debu-debu masa kecilku terus mengejar dan menggulungku
Maafkan aku, Mak
Aku telah membuka almari tua kita
Tetapi mengapa semua catatanku hilang
Mengapa tak kutemukan nama seorang lelaki disana
Apakah benar burung-burung berwarna merah itu terlalu jauh membawanya berlalu sehingga ia lupa
Melupakanmu
Juga tentang aku
Lalu, baju hangat siapa yang kau pintal dengan airmatamu setiap malam itu, Mak
Dan mengapa bunga-bunga bungur di kebun belakang rumah kita selalu bersemi
Siapa yang menyebarkan biji-biji itu untuk kita, Mak
Siapakah pula yang mencangkul ladang kita setiap pagi
Bicaralah, Mak
Karena lelaki berbau tembakau itu benar-benar kurindukan sebagai ayahku
Dan hari ini aku tak kuat lagi berlari karena luka di kakiku semakin parah

Lintang Sugianto
Bekasi, 29 Desember 2006 (dini hari, 3:27)

Ketika Sastra dan Budaya Luhur Terpinggirkan

Suatu saat, suatu saat, dan suatu saat lagi saya dihantui oleh kecemasan. Kecemasan saya itu bukan tanpa alasan.Hampir tiap hari saya menyaksikan kenyataan bahwa kehidupan semakin dikuasai oleh pertimbangan-pertimbangan yang mendudukkan uang di singgasana kekaisaran. Uang jadi raja segala-galanya.

Pertimbangan-pertimbangan serba uang telah mempengaruhi pola pikir dan pola rasa manusia. Manusia yang pada mulanya berperikemanusiaan berubah menjadi berperikeuangan. Manusia yang semula bermata nurani berubah menjadi bermata uang. Pikir dan rasa yang ada dalam diri manusia yang semula merupakan satu sinergi harmonis, kini keduanya menjadi musuh bebuyutan dalam perang terbuka.

Dulu ketika bapak saya sering nembang atau “ura-ura” yang tembangnya dicuplik dari pustaka luhur karya para pujangga, kangmas dan mbakyu saya pun sering menjelaskan ulang bahwa tembang-tembang itu berisi ajaran luhur untuk selalu menjalin rasa kemanusiaan yang selalu didasari oleh rasa keilahian. Tembang itu adalah juga puisi kehidupan yang menjunjung tinggi martabat dan derajat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Waktu itu saya belum mudeng. Ajaran itu merupakan bagian dari sastra dan sekaligus sebagai budaya luhur nenek moyang bangsa ini.

Ibu saya pun dulu sering mendongengi saya dengan dongeng-dongeng yang waktu itu selalu membuat saya membayangkan hidup di dunia yang aman dan damai. Setelah mendongeng, ibu saya selalu berpesan tentang budi pekerti luhur, tata krama, tepa selira, gotong royong, aja adigang-adigung-adiguna, melu andarbeni, ngundhuh wohing pakarti, dan pesan-pesan luhur lainnya. Intinya pesan-pesan itu adalah berbagai norma atau ajaran luhur yang penerapannya menghasilkan sebuah bentuk kehidupan bermasyarakat atau berkeluarga yang bahagia, damai, aman, sejahtera lahir dan batin berlandaskan agama.

Pada zaman sekarang terlalu jarang saya dapati seorang bapak nembang atau “ura-ura” ataupun seorang ibu mendongeng untuk anak-anaknya. Seorang bapak atau seorang ibu pada zaman sekarang banyak yang terlalu disibukkan oleh upaya mencari uang atau tambahan uang untuk mempertahankan hidup atau untuk meningkatkan taraf hidup secara material. Mereka (yang begitu tadi) sama sekali tidak paham akan makna yang mendalam dari sastra tembang dan sastra dongeng bagi pembangungan kehidupan yang aman, damai, dan sejahtera lahir batin. Mereka lupa bahwa kehidupan ini perlu dibangun dengan lanskap-lanskap puisi nurani.

Lebih tragis lagi ketika mereka sering “ngoprak-oprak” anak-anaknya untuk berbuat baik, sementara mereka sendiri sering melupakan petuah-petuah luhur dari orang tua mereka dan kehidupan mereka terbelenggu oleh pertimbangan-pertimbangan material keuangan. Sedangkan anak-anak sangat jarang melihat keteladanan dari para pendahulu (orang tua) mereka. Akibatnya sangat tragis, anak-anak menjadi cuek, masa bodoh, tidak peduli terhadap keteladanan dan keluhuran. Kepedulian terhadap nasib orang lainpun semakin tipis. Egoisme semakin merajai. Sikap dan tingkah laku “sak penak udele dhewe” semakin mencengkeram jiwa anak-anak. Bahkan sikap perusuh dan perusak telah demikian menguasai.

Dengan demikian, budaya berbudi pekerti luhur dan bertata krama baik yang seharusnya terwariskan turun-temurun, mengalami keterpenggalan di tengah jalan. Budaya budi pekerti luhur dan tata krama baik menjadi hal yang langka. Saya berpendapat bahwa hal itu terjadi karena sastra dan budaya luhur terpinggirkan dari sistem kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Sudah saatnya kini, semuanya kembali menyentuh sastra dan budaya luhur warisan para leluhur pendahulu kita. Sudah saatnya kini, semuanya kembali ke puisi kehidupan yang begitu lekat dengan kebeningan embun nurani. Semoga berhasil dan kehidupan di bumi ini semakin baik, aman, damai, sejahtera lahir dan batin. Amin.

(Ustadji Pantja Wibiarsa, Ketua Sanggar Kalimasada Kutoarjo, sebuah sanggar kepenulisan sastra di Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah)

Kebahagiaan Hermann Hesse (renungan akhir tahun 2007)

*Sebuah Catatan Akhir Tahun SUTRISNO BUDIHARTO

Dunia memang makin hiruk pikuk. Itulah yang tercatat dalam memori saya menjelang tutup tahun 2007 dan menjelang datangnya tahun baru 2008 ini. Tengok saja lembaran berita surat kabar atau dokumen faktual lainnya: Indonesia memang makin hiruk pikuk semenjak reformasi digelindingkan 1998 lalu. Makna hiruk pikuk yang saya maksud tentu sangat beragam; ada yang postif, tapi ada juga yang negatif.

Makna hiruk pikuk yang postif dapat dilihat dari keadaan masyarakat Indonesia yang sementara ini (sejak 1998-menjelang tutup tahun 2007) tidak terkurung dalam cengkeraman penguasa represif yang suka main tangkap dan menghilangkan orang.

Makna hiruk pikuk yang negatif, masa transisi Indonesia pasca reformasi 1998 sampai kini masih belum memiliki arah yang jelas. Masyarakat memang memiliki kebebasan berorganisasi dan mengeluarkan pendapat, tapi proses reformasi dan demokratisasi yang sudah dilaksanakan belum benar-benar bisa menjamin pemenuhan hak-hak ekonomi, sosial, budaya (Ecosob) maupun hak-hak sipil dan politik (sipol). Buktinya, anggaran negara masih banyak dipakai untuk kepentingan elit, sedang pemerataan ekonomi belum merata hingga ke tingkat akar rumput. Di sisi lain, beberapa RUU yang diharapkan bisa memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat tetap masih menjadi draft yang ditarik ke kanan-kiri (seperti RUU Pelaynan Publik maupun RUU Transparansi Informasi).

Yang menyedihkan, Indonesia selalu dinobatkan dalam kelompok negara-negara yang paling korup di dunia. Hal itu diperparah dengan makin banyaknya pengangguran dan kemiskinan. Karena itu, wajar saja jika di tengah masyarakat kini banyak bingung dan bimbang. Padahal, zaman makin menuntut suatu perubahan nilai.

Rumitnya persoalan itu, kadang membuat waktu dan ruang terasa makin sempit karena orang-orang makin banyak yang kejar target dan dead-line. Celakanya, terkadang orang-orang juga jadi lupa akan dirinya sendiri, lupa akan tujuan akhir dari pentas di dunia ini. Bahkan, ada juga yang lupa dalam memaknai arti kebahagiaan dalam hidup ini sendiri.

Tapi, di tengah hiruk pikuk dunia ini, semoga saja segenap elemen bangsa ini tetap masih banyak yang mampu bersikap eling lan waspada. Untuk membangun Indinesia menjadi baik, memang masih perjuang ekstra keras karena masih banyak memerlukan penataan lembaga di tingkat pemerintahan dan politik, penataan hukum maupun pembaharuan budaya masyarakatnya. Dan untuk melakukan perubahan menjadi baik itu, tentunya Indonseia memerlukan orang-orang yang eling lan waspada, yakni orang yang berani tidak keliru dalam memaknai suatu ujian baik dan buruk. Paling tidak, ujian dalam memaknai kebahagiaan seperti yang dipaparkan penyair Jerman — Hermann Hesse (2 Juli 1877 – 9 Agustus 1962) — dalam puisi di bawah ini:

Selama engkau mengejar kebahagiaan/
engkau belum matang untuk berbahagia/
biarpun milikmu segala kesayangan.//

Selama engkau ngeluh karena ada yang hilang/
dan punya tujuan serta tiada tenang,/
kau belum tahu apa arti kedamaian.//

Baru setelah engkau lepaskan segala keinginan/
tak kenal lagi hasrat dan tujuan/
tak lagi nyebut nama kebahagiaan/
maka banjir segala kejadian tak lagi nyentuh hatimu/
dan jiwamu akan tenang.

Kutipan puisi itu barangkali bisa menjadi pengantar untuk berkontemplasi di tengah realitas dunia yang semakin padat dengan persoalan ini. Diakui atau tidak, kebahagian memang sangat beragam takarannya dan relatif nilainya. Ukuran kebahagian seorang petani desa misalnya, tentu sangat lain dengan ukuran kebahagiaan seorang diplomat yang sering terbang ke berbagai negara. Dengan kata lain, seorang petani desa yang miskin belum tentu tidak bisa bahagia. Sebaliknya, seorang diplomat yang kaya raya belum tentu tidak akan pernah menemukan kesedihan atau ketidakbahagiaan. Pendek kata, setiap pribadi memiliki kemampuan yang berbeda dalam menerjemahkan kebahagian dan ketidakbahagiaannya.

Lantas, kalau kita sudah bisa meraih kebahagiaan atau kesenangan yang diinginkan, masih ada pertanyaan lagi; Apa yang bisa kita dapat dari kebahagiaan itu sendiri? Kadang-kadang saya malah tidak tahu apa yang saya dapat dari kebahagiaan yang pernah saya rasakan sendiri. Tapi kadang, saya malah mendapatkan sesuatu yang berharga dari sebuah kesedihan yang pernah menyergapkan batin.

Akhirnya, semoga saja para politisi, birokrat, akademisi, aktivis LSM, maupun pengusahanya, makin tercerahkan dan mampu memaknai kebahagiannya seperti ini puisi karya Hermann Hesse di atas.

Demikian saja, dan selamat menyongsong tahun baru 2008.

dari SUTRISNO BUDIHARTO (pecinta seni, yang juga pegiat COMMITMENT for Democratic Governance and Social Justice)

8 PENYAIR MUDA BACA KARYA Di TUK

Publikasi acara dengan tajuk `8 Penyair Muda Baca Karya’ yang berlangsung selama dua hari (9-10 November 2007) di Teater Utan Kayu (TUK) cukup gencar. Tak hanya di milis-milis sastra tapi juga di media cetak. Mengundang rasa penasaran, apalagi nama Hasan Aspahani (Batam), Inggit Putria Marga dan Lupita Lukman (Lampung), Fadjroel Rachman dan Binhad Nurrohmat (Jakarta), Dina Oktaviani (Yogyakarta), S. Yoga (Nganjuk), dan Pranita Dewi (Bali) sudah tak asing lagi, karena karya mereka bertebaran di media cetak dan dunia cyber.

Barangkali istilah `Penyair Muda’ bisa diperdebatkan, apakah dari segi usia atau pada jam terbang di dunia perpuisian yang baru sekian tahun lamanya. Toh jika dari segi umur, Fadjroel Rachman sendiri merasa dan mengakui bukan masuk di situ, seperti dikatakannya sebelum tampil di hari pertama `Seharusnya disebut 7 Penyair Muda dan 1 Penyair Setengah Tua’.

Tapi Sitok Srengenge sebagai wakil tuan rumah punya alasan tentang itu. “Tampilan para penyair pada November 2007 ini merupakan upaya TUK untuk melihat wajah perpuisian dengan tidak sekedar penampilan ramai-ramai dalam satu dua puisi masing-masing penyair, tapi adanya gambaran sejauh mana perkembangan mereka dalam tampilan selama 30 menit. Karena itu, lebih cepat jika disebut sebagai pengajian puisi.”

Dan acara dimulai usai pidato singkat Sitok. Jumat malam yang dingin diisi dengan gelegar suara Hasan Aspahani, lembutnya suara Lupita Lukman, gaya orasi Fadjroel Rachaman dan cuek-nya Dina Octaviani. Sedang esoknya, saat sorenya air menggenang hampir selutut di depan TUK, tampil secara berurutan Pranita Dewi, S.Yoga, Inggit Putria Marga dan Binhad Nurohmat.

Penonton juga menyimak, sejauh mana perkembangan dari tampilan selama 30 menit bagi masing-masing penyair itu. Dan Pranita Dewi dengan cerdiknya menyajikan 7 puisinya, yang empat merupakan puisi baru dan tiga dari bukunya `Pelacur Para Dewa’. Kesengajaan ini memberikan gambaran telah berkembangnya, dalam kedalaman isi dan kata, penyair Bali yang bernama lengkap Ni Wayan Eka Pranita Dewi ini.

Hasan Aspahani yang konon Desember depan akan meluncurkan bukunya di Jakarta, membawakan beberapa sajaknya yang pernah dimuat di Kompas dan sering dibawakan dalam aksinya seperti `Bibirku Bersujud Di Bibirmu’ dan `Kamus Empat Kata Berawal I’. Penampilannya dengan suara ngerock ini sebagai pembuka langsung menghangatkan suasana. Tak beda dengan Fadjroel yang sempat meledek Binhad soal peluang mereka sebagai 10 besar finalis Khatulistiwa Literary Award 2007.

Sedang Lupita dan Dina memberi nuansa baru yang tak menggebu. Lupita tampil begitu kalem, Dina dengan gaya cuek tapi mampu menghadirkan sajaknya dengan emosi penuh. Hal serupa juga dari Pranita dan Inggit yang mampu menghadirkan ciri mereka masing-masing, meski Inggit seperti `keliru’ memilih puisi terakhirnya yang terasa kurang bertenaga dibanding beberapa puisi yang telah dibawakannya.

Lain lagi dengan Binhad yang tampil paling akhir, dan banyak yang sudah menunggu puisi-puisi birahi dan orgasmenya. Gayanya yang jenaka dan sesekali meledek, membuat suasana meriah. Tapi terasa kurang maksimal pada pemilihan puisi-puisinya, setidaknya seperti yang pernah dimuat di Kompas atau media lainnya. Bisa jadi karena sakit perut yang mendadak mendatanginya beberapa menit sebelum acara dimulai.

S. Yoga sendiri, seperti penampilannya yang kalem tampil memukau dengan penguasaannya pada larik puisi-puisinya dengan nyaris tanpa melihat lembaran yang dibawanya. Warna budaya Jawa, terutama Jawa Timur dan Madura, terasa kental dalam setiap puisinya.

Sayangnya gambaran `sejauh mana perkembangan mereka’ seperti kurang tampak dalam tampilan selama 30 menit bagi masing-masing penyair. Bisa jadi, tidak semua yang hadir punya pengenalan yang lengkap dengan para penyair itu, sehingga terasa sulit mencerna sejauh mana perkembangannya. Selain para penyair, yang larut dalam pertunjukan dua hari ini juga ada penggemar puisi, cerpenis dan lainnya. Mungkin akan lengkap referensinya jika disiapkan satu atau dua lembar foto kopi tentang perjalanan karier plus foto biar hitam putih saja dari 8 penyair muda yang tampil.

Setidaknya bisa mengurangi ketidaktahuan penonton, seperti dibisikkan oleh Donni Anggoro `Siapa dia’, ketika para penyair di Sabtu kemarin satu per satu maju ke panggung. (Yo)

Aurelia Tiara Widjanarko

Aurelia Tiara Widjanarko atau akrab dipanggil dengan Tiara lahir di Jakarta, 18 Juni 1983. Saat ini Tiara bekerja sebagai dosen di Universitas Pelita Harapan. Perempuan muda yang baru saja meluncurkan buku puisi dengan judul "Sub Rosa". Dalam buku yang bertemakan cinta, Tiara mengelompokkan puisinya dalam 6 bagian. Penemuan rasa, penjajakan, rindu, klimaks, ingkar, dan ikhlas. Semuanya menggambarkan pembabakan dalam kisah cinta. Masing-masing bagian ini ditandai dengan hadirnya foto-foto yang artistik, dengan Tiara sebagai modelnya. Berikut lebih jauh tentang Tiara bersama Johannes Sugianto, sebuah percakapan:

1. Sejak kapan kamu mulai menulis puisi dan memutuskan menjadi Penyair?

Suka menulis puisi semenjak jatuh cinta pada dunia blogging, akhir 2003 saat saya masih bekerja sebagai reporter di salah satu stasiun TV swasta. Biasanya tiap malam sebelum pulang, teman-teman pasti sibuk ngeblog dan dari sana saya ’tertular’ virus yang sangat adiktif itu. Jadi penyairnya seiring sejalan, karena mulai merambah karya-karya sastra lain dan berkenalan dengan para senior tentunya.

2. Setelah menggeluti puisi, apa yang bisa didapatkan dari puisi ini? Apakah memberi pengaruh besar bagi perkembangan pribadi?

Yang bisa didapatkan adalah proses pembelajaran terhadap diri sendiri. Menulis dengan referensi alam sekitar sangat berbeda dengan menulis setelah ‘melihat’ karya orang lain. Tiap orang tentu mempunyai gayanya sendiri. Sehingga pelajaran yang saya dapat dari puisi-puisi saya adalah tetap menjadi diri saya sendiri, dengan pembentukan pribadi sampai gaya menulis yang lebih baik lagi.

3. Sumber-sumber inspirasi menulis puisi?

Semua hal di sekitar saya, dari pergerakan awan di langit, embun di pagi hari, sendja hari yang mencengangkan indahnya, keluarga, karya-karya orang lain yang tadinya titik lalu kemudian diteruskan menjadi belasan paragraf di benak saya, dan tentunya rasa sakit yang pernah mampir di tiap fase hidup.

4. Bagaimana masa kecil dan remaja kamu, pernah terbersit untuk menjadi seorang penyair?

Tidak, menjadi guru pernah seperti sekarang saya sudah menjadi dosen. Keinginan menjadi penyair terbersit saat perjalanan menulis puisi yang sedemikian banyaknya. Walau mempunyai kakek dan tante seorang penulis juga secara tidak langsung ‘mengenalkan’ saya terhadap dunia sastra.

5. Menurut kamu, puisi banyak berkembang di dunia maya dengan adanya berbagai komunitas. Kamu ikut juga, dimana saja dan menurut kamu sejauh komunitas ini memberi dorongan kemajuan bagi seorang penyair?

Saya ikut milis Bunga Matahari dan Apresiasi Sastra. Menurut saya komunitas seperti keduanya sangat memberi dorongan kemajuan bagi seorang penyair, karena itulah tempat dimana dia bisa menerima-memberi masukan, tidak hanya dari orang awam. Tidak hanya itu, bahkan interaksi di antara beberapa orang yang tengah belajar mengenal puisi, yang gemar menulis puisi, hingga yang sudah handal membuat puisi, membentuk suatu hal yang sangat menarik dan produktif bagi masing-masing pribadi.

6. Dalam waktu dekat ini antologi puisi tunggal kamu akan segera terbit, bagaimana benang merah antologi kamu dan hal menarik di dalamnya?

Benang merahnya terletak pada kisah cinta antara sepasang kekasih yang tidak bisa bersama. Puisi-puisi yang terdapat di dalamnya menggambarkan beberapa pembabakan, yaitu; penemuan rasa, penjajakan, rindu, klimaks, ingkar, dan ikhlas. Pembabakan juga digambarkan melalui foto-foto. Yang menarik adalah kenyataan bahwa hampir semua orang pernah mengalaminya, dan akhir yang tidak indah bukan berarti kita harus melupakan bahwa kita pernah bahagia.

7. Blog pribadi kamu memuat puisi kamu dan hal lainnya, seberapa penting situs pribadi untuk kamu?

Sangat-sangat penting. Seperti halnya sebuah agenda dan kotak suara. Dimana saya setiap kali membuka menjadi teringat puisi yang tertinggal di secarik kertas tissue yang belum diupload, menjadi tahu bagaimana produktivitas saya akhir-akhir ini, dan tentunya menerima banyak sekali kritik membangun melalui shoutbox interaktif di dalamnya.

8. Kamu demikian produktif menulis puisi, bagaimana teknik kamu menyampaikan ide gagasan ke puisi?

Tekniknya sederhana, mencurahkan total kerja neuron otak, hati dan waktu ke dalamnya. Menulis acak apa yang ada di pikiran, dan menyelesaikannya dengan mengedit kata-kata yang tidak efisien. Walau terkadang yang membuai adalah kata yang diulang-ulang. Asalkan tidak memberi efek membosankan.

9. Tentang puisi-puisi kamu, adakah tema besar yang kamu bawa?

Tema besarnya mungkin adalah rasa cinta yang begitu besar, yang bisa mengubah manusia biasa menjadi luar biasa. Tinggal arahnya saja ditentukan dan dengan cara yang bagaimana. Karena cinta yang tak pernah salah mungkin buta, tapi kita manusia punya mata (hati).

10. Bagaimana dukungan keluarga dengan karir kepenyairan kamu?

Keluarga sangat mendukung, apalagi saat melakukan promo awal Sub Rosa, saya tengah menyelesaikan thesis saya. Mereka terus mengingatkan untuk menjaga kesehatan walau tidak bisa setiap saat mendampingi saya.

11. Penyair favorit dan antologi kesukaan kamu?

Terlalu banyak untuk disebutkan kalau antologinya. Sedangkan untuk penyair, saya suka Joko Pinurbo untuk kesederhanaan tutur kata yang memberi efek mendalam.

12. Makanan dan hobby kamu?

Sebagai perempuan berdarah setengah Menado, tentu saya menyukai makanan yang pedas. Sama halnya dengan masakan Padang dan Thai. Hobi saya selain menulis adalah olahraga; dari renang, atletik hingga menembak. Kemudian bermain musik, menyanyi dan akting.

13. Penyair lekat dengan lawan jenisnya dan sesuatu hal yang misterius, kamu pernah punya cerita menarik tentang hal ini, dan pengaruhnya pada diri kamu sendiri?

Penyair selalu dihubungkan dengan kelihaiannya bermain dan menggunakan kata-kata. Penyair seakan-akan mudah untuk selalu berkata-kata manis dan hal ini menjadi stereotype bahwa semua penyair adalah seorang yang gombal. Saya pernah dianggap seperti itu, akan tetapi setiap pribadi, terlepas dari dirinya suka disanjung dengan dituliskan puisi atau tidak, pasti bisa merasa ketulusan dari sebuah kata-kata. Mungkin sekilas kata-kata memang manis, sebagaimana semua yang tertulis adalah abadi, tidak hilang oleh waktu. Tetapi kita diberi mata hati kok untuk bisa membedakan yang mana datang dari hati secara tulus. Kata-kata kan hanya media, sedangkan pembuktian rasa adalah suatu hal yang lain.

14. Sandainya kamu dilahirkan kembali dan bisa memilih lahir menjadi orang lain, siapa yang akan kamu pilih, dan kenapa?

Saya sendiri. Tidak pernah ingin dilahirkan kembali dan menjadi orang lain. Asalkan di kehidupan berikutnya bisa menjadi pribadi yang lebih bijak dan menghindari kesalahan-kesalahan yang tidak ada obatnya.

15. Apa prinsip hidup kamu?

Melakukan yang terbaik, dengan demikian tidak ada penyesalan kalaupun target yang diinginkan tidak berhasil dicapai.

16. Apa rencana kamu selanjutnya?

Tetap mengajar dan menulis, dua hal yang akan dilakukan seumur hidup, semampunya saya. Saat ini saya sedang membuat draft buku kedua dan tengah mencari sekolah untuk meneruskan S3 saya.

17. Membaca puisi paling berkesan?

Di acara seni yang diadakan bagi korban banjir, untuk menghibur mereka. Tempatnya di Lebak Bulus dan salah satu yang menjadi pengisi acara sekaligus panitia adalah Johannes Sugianto. Atmosfernya benar-benar nyaman dan suasana hati sangat mendukung saat itu.

18. Dengan kata-kata kamu sendiri, apa itu puisi?

Puisi itu seperti pohon. Bisa kokoh akarnya dan ringkih di ujung cabangnya. Mempunyai begitu banyak makna (cabang), yang bisa dipilih oleh masing-masing mata yang membacanya. Puisi adalah kebebasan individu dalam memilih makna.

19. .Selain berpuisi, kamu juga ingin menekuni bidang lain apa?

Bidang seni seperti akting dan menyanyi. Ingin bergabung dalam teater tapi belum punya waktu yang khusus. Yang jelas bidang pendidikan, seni dan budaya adalah hal yang sangat menarik minat saya.

Bilik Jumpa Sastra: Ari Pahala Baca Puisi

PENYAIR Ari Pahala Hutabarat membacakan sejumlah puisinya di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Lampung (Unila), Jumat, 9 Februari 2007) malam. Penyair yang pernah tampil di Ubud Writers and Readers Festival 2006 itu membacakan tak kurang 10 puisi, sebelum dilanjutkan pembedahan karya dengan pembicara Iswadi Pratama.

Pembacaan dan diskusi sastra yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Univesitas Lampung bertajuk Bilik Jumpa Sastra tersebut, kini sudah memasuki bulan ketujuh. Sebelumnya para penyair Lampung yang tampil: Udo Z Karzi, Isbedy Stiawan ZS, Budi P. Hutasuhut, Edy Samudra Kertagama. "Ini merupakan kegiatan bedah dan baca karya sastra, digelar setiap bulan," jelas Lupita Lukman, penyair yang juga ketua UKMBS Unila.

Selain itu, Bilik Jumpa Sastra merupakan sebuah forum silaturahmi Sastrawan Lampung berkumpul sebagai satu keluarga, sekadar memberikan sedikit dari sehimpun pengalaman yang (tentu saja) didapat dari pergulatan hidup. "Tak berlebihan kiranya UKMBS Unila menjadi sebuah ruang alternatif bagi pembelajaran, juga sebagai persinggahan konkrit berbagai sudut pandang sastrawan yang beranega ragam," ujar Lupita.

Ari Pahala Hutabarat, alumnus FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Unila, merupakan penyair Lampung potensial saat ini. Ia mempublikasikan karya-karya puisinya di media lokal dan nasional seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Kalam, Lampung Post, dan lain-lain.

Ia pernah diundang pada Panggung Puisi Indonesia Mutakhir di TUK Jakarta, Pesta Sastra Internasional di TUK Juga (2003), Cakrawala Sastra Indonesia di DKJ/TIM Jakarta (2005), Festival Mei Bandung, dan lain-lain.

Ari tengah menyiapkan kumpulan puisi tunggal pertamanya. Rencananya akan diluncurkan tahun ini juga. Penyair ini juga adalah sutradara dan Direktur Artistik Komunitas Berkat yakin (KoBER) Lampung.

'Saya' Lebih Melankolis Dibanding 'Aku'

Membicarakan suatu karya, ternyata tak lepas juga dari sang penulis. Setidaknya, dari karya itu tercermin bagaimana sebenarnya sosok penulisnya. Hal ini bisa diperdebatkan, tapi yang jelas memang berkaitan erat.

Seperti saat berlangsung Bedah Buku Kumpulan Cerpen "Kincir Api" karya Kurnia Effendi, yang setebal 164 halaman di Galeri Gudeg Kota Seni, Citra Raya, Tangerang, 10 Desember 2006 lalu. Acara yang merupakan kerjasama Galeri Gudeg dengan Komunitas Sastra indonesia ini menampilkan Zen Hae (Ketua Komita Sastra, Dewan Kesenian Jakarta) dan Mustafa Ismail (wartawan budaya Koran Tempo) sebagai pembicara. Acara yang dibuka oleh Wowok Hesti ini dipandu oleh Binhad Nurohman. Rara Gendis tampil apik membacakan "Lagu Jauh", yang oleh Zen Hae dikomentari sebagai cerpen yang berhasil mengaduk-aduk perasaan seorang gadis yang juga narator cerita ini.

Selain keterkaitan karya dengan penulisnya, dalam diskusi ini kedua pembahas juga menyoroti dimana kekuatan Kef, panggilan akrabKurnia Effendi. dalam cerita pendek yang telah melambungkan namanya sebagai salah satu cerpenis papan atas saat ini? Keduanya berpendapat serupa tentang hal ini.

Menurut Zen Hae, Kef bisa dengan efektif mempermainkan psikologi tokoh-tokohnya, meski ceritanya sendiri biasa-biasa saja. Ia membiarakna tokoh-tokohnya terperangkap para persoalan masing-masing, yang tidak selesai. Tidak ada kepastian masa depan untuk tokoh-tokohnya–dan memang tidak perlu ada.

Tidak jauh berbeda, Mustafa juga menilai, dalam "Kinci Api, Kef mampu mendiskripsikan adegan demi adegan dengan manis, termasuk perihak seks yang digambarkan sangat simbolik namun langsung tergambar di kepala pembaca, ia juga menyuguhkan kejutan. Tba-tiba, ketika si aku sedang berdua dengan si penari (cerpen Sang Penari), sang penari lalu menelpon isterinya.

Semula, lanjut Mustafa, orang mengira penari menelpon untuk mengatakan bahwa si aku bersamanya, rupanya tidak. Sang penari mengajak isteri aku untuk makan malam. "Kurnia menyajikan sebuah adegan yang mendebarkan," ujar Mustafa yang juga cerpenis.

Kef sendiri, yang seperti biasa tampil sederhana dan penuh senyum, menjawab pertanyaan dari peminat sastra dalam diskusi ini mengatakan, saya ini penulis yang tak bisa menulis dengan vulgar. 'Betapa miskinnya saya jika menulis dengan kata-kata vulgar. Karena itu, saya mencari padanan, ang mungkin multi tafsir. Dan saya selalu ingat, cerpen saat dimuat di koran, dibaca juga oleh banyak kalangan, termasuk anak-anak'.

Lalu apa sisi lain dari Kef? Adri Darmadji Woko, yang pernah menjadi redaktur sebuah majalah remaja dan juri saat Kef masih remaja dan cerpennya menjadi juara pertama, bertutur bahwa Kef sejak kecil memang dekat dengan ibunya. Kedekatan ini juga banyak tercermin dari cerpen-cerpen Kef.

Tak terasa bedah buku ini berjalan lebih dari dua jam. Di penghunung acara, Kef membacakan 'Kincir Api".

Senja telah menepi, saat Kef bersama beberapa rekannya kembali ke Jakarta. Malam yang masih mentah, tampak menguning oleh "Kincir Api" Kurnia Effendi, yang menganggap bahwa 'Saya" lebih melankolis dibandingkan "Aku".

Kef, tentu bukan hanya itu. Guliran cerita pendekmu toh juga melankolis, meski ada ada yang kau biarkan menggantung, juga keperihan yang diam.(Yo)

Joko Pinurbo : Puisi Memperbaiki Salah Cetak Hidup dan Nasib Kita

Berikut ini saya ingin sajikan sambutan Joko Pinurbo dalam peluncuran buku puisi 'Di Lengkung Alis Matamu', 25 November 2005 lalu di MP Book Point, Cipete, Jakarta Selatan. Bukan karena ini disampaikan pada acara saya, terutama juga banyak menyebut nama saya, tapi menurut saya apa yang dikemukakan oleh Jokpin menarik untuk disimak, karena di situ beliau juga berbicara tentang komunitas sastra. Semoga bermanfaat.

Saya sangat senang atas terbitnya buku ini, terutama antara lain karena covernya yang sangat indah. Saya mengatakan pada Yo, bahwa inilah buku puisi Indonesia dengan cover yang bagus, termsuk yang salah satu yang terbaik dari segi cetak.

Lalu yang kedua, editingnya yang nyaris sempurna. Nyaris tak ada ralat. Satu-satunya kesalahan cetak adalah menyangkut nama saya.Dan itu saya anggap tidak penting.

Coba Yo bandingkan dengan buku puisi saya yang pertama "Celana", itu sangat penuh dengan salah cetak. Sehingga saya harus membuat daftar khusus yang berisi ralat. Saya kira salah cetak dalam buku puisi itu adalah sesuatu yang wajar.

Jangankan puisi, jangankan buku, hidup dan nasib kita sendiri sering banyak salah cetak.

Saya ingin mengatakan bahwa menulis puisi sebetulnya adalah merefleksikan berbagai kesalahan salah cetak dalam hidup dan nasih kita. Dan itulah yang saya baca dari puisi-puisi Yo, yaitu bagaimana dia merenungi berbagai "salah cetak", yang mungkin banyak terjadi dalam perjalanan hidupnya.

Saya kira ini yang menarik bahwa menulis puisi menjadi sesuatu yang merangkan menggairahkan. Karena kita selalu dihadapkan dengan berbagai salah cetak, seakan-akan kita selalu dalam suasana ingin meralat. Ingin meralat nasib kita, ingin meralat hidup kita. Dan ini sangat terefleksikan dalam puisi-puisi Yo.

itu yang pertama. Editingnya nyaris sempurna,kecuali itu menyangkut nama saya, dan itu tidak penting.

Kemudian yang kedua, Yo memilih tanggal 25 November sebagai tanggal atau hari peluncuran karya perdananya. Saya tanya pada Yo, kenapa memilih tanggal 25 November? Dia punya satu rahasia, itu adalah tanggal ulangtahun ibundanya.

Semula saya menyangka bahwa ini suatu kebetulan saja. Tapi setelah saya membaca ulang puisi-puisi Yo, saya mempunyai kesadaran, interpretasi nampaknya memang sosok ibu menempati posisi yang begitu penting di dalam hidup Yo. Saya dapat mengatakan, bahwa puisi-puisi Yo adalah satu rangkaian pendekatan keibuan terhadap berbagai persoalan hidup.

Saya sepkat dengan yang dikatakan TS Pinang, yang tadi mengaku sebagai Marjuki itu, bahwa sajak-sajak Yo adalah semacam refleksi dari seorang lelaki yang resah, yang gelisah.

Lha yang menarik bagi saya, meskipun kita berhadapan dengan subyek lelaki yang resah, yang gelisah, tapi pendekatan si lelaki terhadap kegelisahannya itu dilakukan dengan karakter keibuan. dan inilah ciri khas puisi-puisi Yo : penuh ketenangan, penuh dengan kesabaran,penuh dengan ketabahan menghadapi nasih, menghadapi hidup yang penuh salah cetak itu.

Sehingga menurut saya, memang warna utama dari puisi-puisi Yo adalah adanya spritualitas keibuan di dalam menghadapi hidup ini. Inilah yang bermakna bagi Yo,yang saya kira bisa dikembangkan lebih lanjut dalam karya-karya berikutnya.

Sangat lain dengan Chairil Anwar, yang selalu penuh dengan pemberontakan, seakan-akan hidup ini adalah neraka. yo menghadapi neraka ini dengan kesadaran bahwa itu adalah nasib yang harus dijalani dengan penuh ketabahan, dengan penuh derita dan harus kuat menanggung derita itu.Itulah mengapa Yo melakukan peluncuran buku pertamanya tanggal 25 November, menurut penangkapan saya sebagai seorang pembaca.

Nah, saya menemukan 2 puisi yang secara khusus bicara tentang sosok ibu. Salah satunya ingin saya baca, karena itu termasuk salah satu sajak Yo yang sangat saya sukai. Dan terus terang, puisi yang akan saya bacakan ini endingnya begitu menghentak, menggigit. Saya anggap ini suatu ending yang luar biasa.

Dan catatan saya yang ketiga. Saya senang bahwa belakangan ini dunia sastra jadi tampak meriah dan menggairahkan, terutama karena hidup dan berkembangnya komunitas-komunitas sastra di dunia maya lewat milis-milis misalnya.

Saya kira, peranan terbesar dari komunitas-komunitas sastra adalah menjadikan sastra menjadi sesuatu yang terbuka bagi siapa saja. Bukan produk kelompok sastra elite tertentu. Nah lalu lintas komunikasi dan dialog di dalam dunia maya itu berlangsung sangat cepat, sehingga ini juga jadi tantangan bagi para pengarang, bagi para penyair untuk mempunyai intensitas mental yang lebih dalam supaya semuanya bisa diendapkan dengan lebih baik.

(Joko Pinurbo membacakan puisi "Mengantar Bunda")

Saya pada akhirnya mengucapkan selamat kepada Yo atas buku perdananya yang telah dikerjakan dengan begitu bagus. Saya yakin pada tahap berikutnya, Yo akan memasuki pergulatan yang lain. Kalau dalam buku pertamanya begulat bagaimana menjadikan puisi sebagai media koreksi bagi pengalaman hidupnya, dalam pergulatan berikutnya pergulatannya akan lebih internal yaitu bagaimana menjadikan puisi sebagai media pergulatan bahasa. Saya kira Yo akan memasuki tahap itu.

Dan sekali lagi selamat atas keberanian dan kenekadannya menjadi penyair. Jadi Yo sekarang benar-benar seorang penyair.
Dan dia akan tetap jadi penyair, paling tidak bagi dirinya sendiri. Sekali sudah diluncurkan tak bisa dicabut lagi kepenyairannya. ***