Kategori Arsip: Antologi Puisi

Kata

bakdisoemantoad8.jpgApa yang anda harapkan ketika membeli antologi puisi penyair Bakdi Soemanto yang sekaligus Profesor di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada? Tentunya sebuah keniscayaan, keniscayaan akan kata -kata yang menggeliat bebas di ruang-ruang kontemplatif yang akan mengajak anda berfikir jauh dibaliknya. Kumpulan puisi yang ditulis periode 1976-2006 sebanyak 101 puisi mengajak anda mengenal sosok penyair lewat kompleksitas dirinya sebagai seorang budayawan, penyair, sekaligus akademisi. Nikmati “KATA”!


Kata
Bakdi Soemanto

Penerbit Bentang
Cetakan Pertama, Oktober 2007
136 Halaman
ISBN 978-979-1227-14-8

Beberapa puisi dari antologi “KATA” :

Penyair

Bersama sebatang rokok
yang saya nikmati
dengan minum kopi
saya telah berubah
menjadi asap
dan terbang
membubung tinggi
ke langit mimpi
di mana hidup
tak dibagi malam dan hari.

“Penyair,
kembali ke bumi!”
Saya tersentak
dan sadar
akan tubuh
yang badani.
“Penyair,
kembali ke bumi!”
Suara keras
mengguncang diri.

Saya melihat ke kiri
dan ke kanan
lalu menatap tangan saya sendiri.
Astaga
di tangan saya hanya
sebatang pena
dan secarik kertas
di atas meja.

Benarkah
saya ingin mengubah
dunia?

[Oberlin, 1987]

Ulang Tahun

Hari ini ulang tahunmu
kata lelaki itu
kepada sebuah foto.
Lalu,
lelaki itu mengubah dirinya
menjadi sebuah foto pula.
Di jagad foto itu,
mereka bercintaan,
tanpa mengenal siang dan malam.
Mereka merasa tanpa batas
dan memang berada di luar ukuran kita.

Hari ini ulang tahunmu,
kata lelaki itu kepada sebuah foto.
Lalu hari berubah menjadi biru,
hidup seperti fatamorgana,
dan musik walsa terdengar perlahan

Sejarah memang begitu:
setengah fakta
setengah fiksi.
Maka perlu ada koreksi,
perlu ada reinterpretasi.

Gitar

Gitar itu membuka mulutnya
ke dalamnya seorang anak
memasukkan kepalanya
tepat pukul dua belas siang hari,
pada hari Minggu.

lalu dari pantatnya
terdengar bunyi aneh,
dan disusul bau busuk.
Orang-orang mencoba menebak
masukkan apa yang tersedia
dalam lubang mulut gitar itu?
Ataukah hari dimasukkannya
kepala berpengaruh besar?

Bunyi aneh terus terdengar sepanjang hari
dan bau busuk bervariasi
memenuhi ruangan itu
Dunia dalam gitar
tetap sebagai teka-teki.

[1984]

Ledek Munyuk

Terlintas, kita adalah ledek munyuk itu
menari diiringi tabuhan
Membawa payung dan jumpalitas
Menarik gerobak tanpa tujuan.
Jika si munyuk bosan dan tak hiraukan

irama gendang
Lari mencolek tangan perawan tengah nonton
cemeti memukul punggung sebagai hukuman
Seiring irama gendang kehidupan
Kita pun menari
Hingga batas waktu
Tatkala tirai panggung turun
Dan pertunjukan usai
Lenyaplah kita tanpa catatan.

[MINGGU PAGI, Juni 1995]

Kota

Kota tertidur
di dalam hatiku
Hatiku tertidur
di dalam kotaku

Angin bersembunyi di rumahnya
Dan sepi menjelajahi seluruh kota.
Tak ada bunyi, tak ada suara
Pengertian muncul bukan karena makna kata.

Kota tertidur
di dalam hatiku
Setelah lelah berteriak
menyatakan adanya.

Dan engkau?
Engkau menggeliat di sisiku
Karena inilah saatnya
Kita berdekapan kembali;
Dengan diam-diam
tanpa bahasa kata

Kota yang tertidur
tempat kita diam-diam
membangunkan kembali gairah saling percaya
yang lesu, karena hingar-bingar kota:
di mana penghianatan
terbuka kemungkinannya.

Kota tertidur di dalam hatiku
Menggeliatlah engkau!
Mendesahlah engkau!
Ini saatnya!

[1982]

Nyanyi Sunyi

nyanyisunyimp7.jpgNyanyi Sunyi dituliskan oleh Tengku Amir Hamzah tahun 1937 di Jakarta pada saat Beliau berumur 26 tahun. Dalam antologi ini terdapat 24 puisi termasuk diantaranya pula puisi “Padamu Jua” yang populer bacakan pada peringatan keagamaan (Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj) di sekolah dasar. Generasi kelahiran tahun 50 hingga 60 -an mungkin masih hapal sajak-sajaknya dari antologi ini. Amir Hamzah yang dijuluki oleh HB. Jassin sebagai Raja penyair Pujangga Baru meninggal di Kuala Begumit , 20 Maret 1946 sebagai korban Revolusi Sosial di Sumatera Timur.
Beliau dimakamkan di pemakaman mesjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat.

Nyanyi Sunyi
Amir Hamzah

Penerbit Dian Rakyat – Jakarta
cetakan Keempatbelas 2004
30 Halaman
ISBN 979-523-047-6

Beberapa puisi dalam antologi puisi “Nyanyi Sunyi”

Insyaf

Segala kupinta tiada kauberi
Segala kutanya tiada kau sahuti
Butalah aku terdiri sendiri
Penuntun tiada memimpin jari

Maju mundur tiada berdaya
Sempit bumi dunia maya
Runtuh ripuk astana cuaca
Kureka gembira di lapangan dad

Buta tuli bisu kelu
Tertahan aku dimuka dewala
Tertegun aku di jalan buntu
Tertebas putus sutera sempana

Besar benar salah arahku
Hampir tertahan tumpah berkahmu
Hampir tertutup pintu restu
Gapura rahasia jalan bertemu

Insyaf diriku dera durhaka
Gugur tersungkur merenang mata:
Samar terdengar suwara suwarni
Sapur melipur merindu temu

Subuh

Kalau subuh kedengaran subuh
Semua sepi sunyi sekali
Bulan seorang tertawa terang
Bintang mutiara bermain cahaya

Terjaga aku tersentak duduk
terdengar irama panggilan jaya
Naik gembira meremang roma
Terlihat panji terkibar dimuka

Seketika teralpa,
Masuk bisik hembusan setan
Meredakan darah debur gemuruh
Menjatuhkan kelopak mata terbuka

Terbaring badanku tiada berkuasa

Tertutup mataku berat semata
Terbuka layar gelanggang angan
Terulik hatiku di dalam kelam

Tetapi hatiku kecil
Tiada terlayang di awang dendang
Menangis ia bersuara seni
Ibakan panji tiada terdiri

Astana rela

Tiada bersua dalam dunia
Tiada mengapa hatiku sayang
Tiada dunia tempat selama
Layangkan angan meninggi awan

Jangan percaya hembusan dnia
Tilikan tajam mata kepala
Sungkumkan sujud hati sanubari

Mula segala tiada ada
Pertengahan masa kita bersua
Ketika cinta tiga bercerai ramai
Di waktu tertentu berpandang terang

Kalau kekasihmu hasratkan dikau
Restu sempana memangku daku
Tiba masa kita berdua
Berkaca bahagia di aiar mengalir

Bersama kita mematah buah
Sempana kerja dimuka dunia
Bunga cerca melayu lipu
Hanya bahagia tersenyum harum

Disitu baru kita berdua
Sama merasa, sama membaca
Tulisan cuaca rangkaian mutiara
Di Mahkota gapura astana rela.

Didalam kelam

Kembali lagi marak-sumarak
Jilat melonjak api penyuci
Dalam hatiku tumbuh jahanam
Terbuka neraka di lapangan swarga

Api melambai melengkung lurus
Merunta ria melidah belah
Menghangus debu mengitam belam
Buah tenaga bunga swarga

Hati firdusi segera sentosa
Murtad merentak melaut topan
Naik kabut mengarang awan
Menghalang cuaca nokta utama

berjalan aku didalam kelam
Terus lurus modal berhenti
Jantung dilebur dalam jahanam
Kerongkong hangus kering peteri

meminta aku kekasihku sayang:
Turunkan hujan embun rahmatmu
Biar padam api pembelian
Semoga pulih pokok percayaku

Ibuku Dehulu

Ibuku dehulu marah padaku
Dia ia tiada berkata
Akupun lalu merajuk pilu
Tiada perduli apa terjadi

Matanya terus mengawas daku
Walaupun bibirnya tiada berdera
Mukanya masam menahan sedan
Hatinya pedih karena lakuku

Terus aku berkesal hati
menurutkan setan mengacau-balau
Jurang celaka terpandang dimuka
Kusongsong juga-biar cedera

Bangkit ibu dipegangnya aku
Dirangkumnya serta dikuncupnya serta
Dahiku berapi pancaran neraka
Sejak sentosa turun ke kalbu

Demikian engkau : Ibu, bapa, kekasih pula
Berpadu dalam dirimu
Mengawas daku dalam dunia

Panji di Hadapanku

Kau kibarkan panji di hadapanku
HIjau jernih di ampu tongkat mutu

mutiara.
Dikananku berjalan, mengiring perlahan,

ridlamu rata, dua sebaya, putih, puitih,

penuh melimpah, kasih persih.
Gelap-gelap kami berempat, menunggu-

nunggu, mendengar-dengar
suara sayang, panggilan-panjang, jatuh-

terjatuh,
melayang-layang.
Gelap-gelap kami berempat, meminta-minta,

memohon-mohon,
moga terbuka selimut kabut, pembungkus

halus
nokta utama
Jika nokta terbuk-raya
Jika kabut tersingkap semua
Cahaya ridla mengilau kedalam
Nur rindu memancar keluar.

Jam-Jam Gelisah

jamjamgelisah1uc2.jpgOrang lebih banyak mengenal Todung Mulya Lubis sebagai pengacara yang sukses ketimbang penyair. Padahal puisi-puisinya telah muncul di media massa pada dekade 70-an, jauh sebelum publik mengenalnya sebagai praktisi hukum. Antologi puisi pertamanya, Pada Suatu Lorong, terbit pada tahun 1968. Ia pun kerap muncul dalam pembacaan puisi dan forum sastra pada masa itu. Aktivitasnya sempat berhenti ketika ia masuk dalam daftar cegah-tangkal (cekal) di era Orde Baru. Kini Todung MUlya Lubis kembali membukukan puisi-puisinya dengan juduk Jam-Jam Gelisah. Refleksi Penulis terhadap kesendirian, politik, kritik sosial, dan perjuangan hidup, tertera pada 52 puisi dalam buku ini.

Jam-Jam Gelisah
Todung MUlya Lubis

Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I, Desember 2006
60 Halaman
ISBN 979-22-1347-3

Jam-Jam Gelisah

langit yang murung
bagai ibu tua mau menangis
sementara kokok ayam melangit
kenapa lupa dan penuh senyap
- jam sembilan pagi
lalu bisu melintas dalam
harap yang hampa
satu-satu bintang jatuh
semakin murung langit
-jam sebelas siang
matahari belum datang
kenapa lupa?

1968

Ranjang

Sebuah dermaga
di mana rindu
dilabuhkan

Sesudah itu
perahu berlayar
beberapa bulan

1971

Oslo

angin kencang memukul-mukul jas
dan dasiku. aku kedinginan.
langkahku cepat bergegas menuju
tempat pertemuan. aku berpacu dengan
bis dan kereta api kota, taksi, sepeda, dan
pejalan kaki. tidak ada tabrakan. tidak ada
klakso. tidak ada hiruk pikuk
kenapa semua bisa berdamai?
kenapa bis, taksi, dan sepeda bisa
berdampingan dan bersahabat
di jalan yang sama?

dari Storgatan ke Karl Johans Gate
aku termangu-mangu memandang rumah
dan toko. cat yang mengelopak seperti
menjelaskan usia dan derita
betapa angin dan hujan mendera mereka
sepanjang jaman. Betapa dingin, ah
aku pun ingin segera sampai ke tujuan
aku ingin segera sampai ke tujuan
aku ingin segera bertamu ke kamar
yang bertuliskan “Gentleman”

1995

Engkaukah yang Membisikiku?

Sedetik barangkali Engkau mencuri tidurku
sekitar jam empat siang kala kumenyerah
pada lelah. Perjalanan pikiran yang mencari
pegangan dan kebearan terus tak pernah padam.
Aku bingung dengan semua kejadian
yang menakjubkan yang aku tak bisa bayangkan.
Aku bingung dengan langkah waktu yang melompati jaman.
Orang tak lagi bernama. Orang tak lagi membaca kitab.
Orang tak lagi memelihara kiblat.
Orang kembali memuja berhala dan dirinya.
Tapi ajaran agama diumbar di mana-mana, dan
orang berlomba ke gereja dan mushola.
Tapi berhala ada di hati mereka.
Tanah-tanah rakyat tak diakui meski nenek moyangnya
yang merambah hutan dan rawa jaman dulu kala.
Laut Jawa juga semakin sempit bagi orang-orang Madura
karena ada kapal-kapal besar bersenjata.
Kaki lima juga diseret ke sana keamari
oleh Kamtib berseragam putih.
Manusia semakin tak bertanah dan berumah.
Ada apa dan kenapa orang jadi lupa.
Angin siang yang kering lewat begitu saja.
Jawaban tak terdengar sampai aku malas bertanya.
Itu
tak
tak
tak
tak mulia,
bisik suara seketika
Aku mencari suara itu, aku rindu suara itu.
Engkaukah itu?

1997

Senggama

rindumu rinduku bersekutu mengejar waktu
birahimu birahiku menggapai menyatu
nafasmu nafasku jatuh satu-satu
berserakan dalam kelambu

tertahan kata di tenggorokan
bersapaan kita lewat mata
bersebelahan berdekapan
bertaut dalam gelap malam

2003

Tebaran Mega

stayz8.jpgKumpulan sajak ini ditulis oleh Sutan Takdir Alisjahbana dalam masa dua tahun : 1935-1936. Bisa dikatakan pada kurun itu, ia berada dalam suasana berkabung, karena wafatnya istri tercinta. Namun sikap optimisnya, nalarnya yang luas, mampu menghapus pilu, menghalau duka yang melandanya. Sutan Takdir Alisjahbana yang akrab dengan panggilan STA merupakan penyair angkatan pujangga baru. Beliau lahir di Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908 dan tutup usia di Jakarta, 17 Juli 1994.

Tebaran Mega
Sutan Takdir Alisjahbana
Penerbit Dian Rakyat – Jakarta
Cetakan I, 1935
47 Halaman

Beberapa puisi dari Antologi Puisi “Tebaran Mega”

I. Kepada Anakku

Tiada tahukah engkau sayang,
Bunda pergi melawat negeri,
Belum seorang pulang kembali,
Ninggalkan kita sepi berempat?

Mengapa engkau gelak selalu,
Mengapa brgurau tiada ingat?
Pada muka tiada berkesan,
Pada bicara tiada bergetar.

Tiada tahukah engkau sayang,
Tiada insaf tiada ‘ngerti
Bunda pergi tiada kembali?

Mengapa bicara sebijak itu,
mengapa tertawa gelak selalu?
Air mata pilu kutelan.

23 April 1935

II. Kepada Anakku

Aku meninjau kembang sepatu,
Larat berkembang di seberang jalan.
Bersorai-sorai kesuma memerah,
Dalam girang silau kemilau.

Daun kering gugur ke bawah,
Bunga kerisut menutup kuncup.
Siapakah yang melihat,
Siapakah yang teringat?

Sebab alam ialah hidup:
Bertempik sorak muda remaja,
Berseri bersinar tunas baru,
Sedihlah menyepi selara yang jatuh.

24 April 1935

Bertemu

Aku berdiri di tepi makam.
Suria pagi menyinari tanah,
merah muda terpandang di mata
Jiwaku mesra tunduk ke bawah
Dalam hasrat bertemu muka,
Melimpah mengalir kandungan rasa.

Dalam kami berhadap-hadapan
menembus tanah yang tebal
Kuangkat muka melihat sekitar:
Kuburan berjajar beratus-ratus,
Tanah memerah, rumput merimbun,
Pualam berjanji, kayu berlumut.

Sebagai kilat ‘nyinar di kalbu:
Sebanyak it curahan duka,
Sesering itu pilu menyayat,
Air mata cucur ke bumi.
Wahai adik, berbaju putih
Dalam tanah bukan sendiri!

Dan meniaraplah jiwaku papa
Di kaki Chalik yang esa:
Di depanMu dukaku duka dunia,
Sedih kalbukuku sedih semesta.
Beta hanya duli di udara
Hanyut mengikut dalam pawana.

Sejuk embun turun ke jiwa
Dan di mata menerang sinar.

26 April 1935

Tiada Tertahan

Tanah dipijak serasa air,
Dahan dipegang menjadi awang,
Pandangan ke depan megabut tebal,
Menoleh belakang gulita semata

Terbang diri ditiup angin,
Tiada berarah tiada tertuju,
Terhempas ke bumi tertepuk ke batu,
Kejam didera ganas disiksa.

Ya Allah, ya Tuhanku,
Benamkan beta ke laut dalam,
Bakar beta di api nyala.

Sangsi begini tidak tertanggung:
Di laut tidak di darat tidak,
Segala penjuru kabut mengepung.

Awan Berkuak

Duduk beta merenung awan,
Bercerai menipis di langit biru.
Sayu sendu alun di kalbu,
Menurut mega berkuak menjauh

Wahai Chalik, mengapa kejam
Seganas ini hidup di dunia?
Mengapa gerang dicerai pisah
Segala yang asik bercinta?

Menangislah jiwa tersedu-sedu.

Mengalirlah air mata berduyun-duyun.

Dalam jiwa sedang meratap,
Dalam sukma pilu mengeluh,
Menyerbu sinar ke dalam kabut,
Menjelma kembali awan menjauh.

Beta melihat kilau bergurau,
Beta menyambut suria bersinar.
Segar gembira sukma menggetar
Menunda melanda pergi berjuang.

14 Mei 1935

Sepucuk Pesan Ungu

pesanungukecilea2.jpgSepucuk Pesan Ungu adalah rindu yang mendayu-dayu lelaki pada kekasihnya.Sedemikian rindu sehingga tidak menyisakan ruang lain selain cinta, kau, dan aku. Kisah kasih yang sendu, harapan-harapan yang tumbuh silih berganti meresap di setiap puisi yang tertulis.Kumpulan Puisi ini ditulis oleh Ready Susanto, penyair kelahiran 40 tahun silam di Palembang (yang tentunya tidak lagi muda), mungkin tidak menawarkan sesuatu yang baru tetapi tetap pantas jika anda ingin menikmati kembali puisi percintaan yang lembut dan bernuansa ungu.

Sepucuk Pesan Ungu
Dua Kumpulan Sajak

Ready Susanto
Penerbit Semenanjung, Bandung
80 Halaman

3 Puisi dari Antologi Puisi “Sepucuk Pesan Ungu”

Profil Penyair

Ready Susanto kelahiran Palembang, 25 Desember 1967. Lulus dari Departemen Jurnalistik Fikom Universitas Padjadjarasn pada 1992. Bekerja sebagai editor di beberapa penerbit di Jakarta dan Bandung sejak 1993. Menulis karya fiksi dan nonfiksi di pelbagai media massa sejak masih duduk di bangku SMA. Sajak-sajaknya dimuat antara lain di Suara pembaruan, jayakarta, Bandung Pos, Pikiran Rakyat, Puisinet , serta dalam antologi Potret Pariwisata Dalam Puisi (1990) dan Cerita dari Hutan Bakau (1994). Kumpulan sajaknya Surat-Surat dari Kota terbit pada Juni 2006. Bukunya antara lain Emotikon : Kamus Gaul Internet (2002) , 100 Tokoh Abad ke-20 ; Paling Berpengaruh (2004), dan 250 Wanita Abad ke-20 : Paling Berpengaruh (2007). Sajak-sajak barunya dapat diakses di www.kata2bersahaja.blogspot.com

Sepucuk Pesan Ungu

ini pagi yang sungguh rindu
seperti langit mendung yang kugulung
jadi sepucuk pesan ungu
yang entah apakah selalu kau tunggu

Engkaukah

engkaukah laut,
deburmu merindu
kelip lampu

engkauhkah angin,
bersiut rawan
pada dahan

engkauhkah sampan,
terkenang rindu
pelabuhan

Album : Cisangkuy

Siapakah yang kau nanti di sudut itu? Bangku cokelat, petang
menjelang. Langit sebentar jadi buram, cuaca suka-suka.
“Mungkin tak banyak lagi waktu,’ katamu. dan jika pesan itu terkirim sudah, saatnya pun akan tiba. Dia akan terbang, sayap waktu di pundaknya berkepak tanpa ragu.

(dan aku pun bersicepat, mengejar saat yang sekelebat.
Mungkin tak banyak waktu lagi,”bunyi pesan diponselku.)

Menguyah pedas kehidupan, matamu rerimbun daun di taman seberang. Betapa rindu telah kau lewati kini? Menanti pesan dalam sendiri, memamah takfir pelan-pelan. Sesayup apa duka yang menggantung di dahan-dahan? Payung nasib begitu rindang.

(Dan aku mengemudikan angin, sahabat lama. Ia pun berharap
menemuimu di bangku cokelat, saat petang mulai menjelang.”

Siapa yang menggelepar di sampingmu? Mengelus pundak selembut karib lama: angin.. Diakah yang datang dari masa lalu itu. Lengannya melipat tahun-tahun, tatapannya menggulung jalan-jalan, pesannya secemerlang kristal hujan. Siapakah gerangan mengundangnya ke pesta diam? “Akukah?” katamu. Engkau lupa pernah mengundang bahaya..

(Dan aku pun duduk begitu saja di bangku cokelat. Petang jadi
kristal, tahun-tahun menjadi bungkah es. Akukah yang kau nanti di sudut itu; tawa? berderai-derailah aku di dahan waktu.)

“Pasti sudah tak tersisa lagi waktu,” katamu. Tentu saja, sekian zaman kita duduk di bangku cokelat itu. menanti getar yang menjulur di ponsel kita. saling menunggu.
Mau temani aku?

(2007)

Herbarium

herbariumdq4.jpgSebagaimana antologi bersama lainnya, ini adalah buku gado-gado dengan beragam tema yang diangkat. Membawa nama empat kota (Bandung, Padang, Denpasar, Yogyakarta) memberi harapan akan munculnya puisi-puisi yang bersifat kelokalan yang kuat atau setidaknya mampu menangkap semangat empat kota dengan karakteristik yang berbeda. Sayangnya puisi-puisi di dalamnya tidak menyentuh kekhususan tersebut, meski demikian hal yang patut di acungi jempol, buku ini di sokong oleh penyair muda yang rata-rata lahir di atas tahun 80-an dan beberapa diantaranya berhasil menembus beberapa koran ibukota dengan puisinya.

Herbarium
Antologi Puisi 4 Kota

Bandung*Padang*Denpasar*Yogyakarta

Cetakan Pertama, Februari 2007
Penerbit PUstaka puJangga, Lamongan.
100 Halaman
ISBN : 979-25-8242-3

 

Dua puisi dalam antologi :

Gadisku

karya Iman Romanshah

Kau pun kukenal musim hujan lalu
Gadis periang bertudung matahari pagi
Kuseru engkau, ketika orang sibuk mencatat hati
Malam terjaga dalam mimpi
Kemelut pun lindap karena wajahmu
mengendap dalam keterasinganku

Gadisku, pilihan Tuhan yang turun membawa setangkup senyum
Anggur malam dituangkan di sloki-sloki sepi
Di bawah lengkung hujan dan malaikat sunyi
Aku mabuk dalam nafasmu memburu
Setiap desah yang kau tularkan di jantungku

gadisku, mimpi ibu yang lahir karena anak-anaknya
menimang malam dalam dongeng anak gembala
para nabi dan sahabat-sahabatnya
Juga lahir dari kuncup rahimmu yang terluka
Saksi sejarah kelahiran peradaban manusia

Gadisku, kukawini hatimu dalam sajak-sajakku
Sebab kau terlibat kemelut kata-kataku.

Jogja, 2006

Kisah Perjalanan
karya Fahmi Amrulloh

Harian sore (2/10)

        air mata perempuan itu pecah di peron stasiun. tersebab kekasihnya lupa memesan tiket kereta yang akan berangkat lima belas lalu untuknya, padahal mereka telah merencanakan perjalanan yang indah, menuju suatu tempat entah. kini kekasihnya telah pergi. bersama deru kereta, masinis, dan bau amis toilet. menyusuri rel yang membujur. dan perempuan itu masih terpaku. sendiri. menyusuri segala kenangan dan rencana. bagai kereta yang berjalan ke belakang. melewati terowongan panjang dan gelap.

        “jika kekasihku tak kembali, aku akan menjemputnya pada arah yang berlawana. barangkali ia akan datang dari belakang.”katanya. “bukankah menuju ke depan pada akhirnya sama saja berada di belakang?” sambungnya.

Surabaya 2006

Kupilih Sepi

kupilihsepifl0.jpgMaman Imanulhaq Faqieh acap dikenal sebagai Kang Maman memang lekat dengan dunia pesantren. Pendiri Pondok Pesantren Al-Mizan ini dikenal juga sebagai mubaligh. Jadi jika puisi-puisi yang dituliskan bergelut masalah kereligiusan adalah hal yang lumrah. Hal yang tidak lumrah mungkin usahanya membawa masuk seni,sastra, dan budaya ke dalam pesantrennya di Majalengka yang dalam konteks Majalengka masih sedikit dilakukan. Mengusung tema yang besar yaitu keimanan tentunya tidaklah mudah, beberapa puisinya terkesan standar, tetapi ada juga yang menyentuh hati.

Dengan sekitar 148 puisi yang kebanyakan ditulis tahun 2006 akan memberi anda kesan pribadi sang penulis dan juga mungkin akan membuat anda berminat untuk belajar ilmu agama dengan mubaligh muda ini.

Kupilih Sepi :
Sebuah antologi puisi pesantren

Maman Imanulhaq Faqieh

Penerbit Nuansa, Bandung
cetakan I, Maret 2007
231 Halaman
ISBN : 979-24-5654-6

Dua puisi dalam antologi :
Jalan Tuhan

: untuk Kang Acep Zamzam Noor

zarrah cinta
melalui jalan misteri
terseret kesunyian ilahi
: ke arah mana hendak dilalui?

debu rindu
mengepul ke langit jiwa
terjerat cahaya fajar
:bagaimana merubah batu jadi mutiara

di jalan-Nya kupacu kereta asmara
berlari cepat di jalan tak rata
hendak memeluk bayangan
sebelum duka menghuni
keranda

Air Mata

:untuk mas Alwy

air mata Ema
bagai laut kasih sayang
tapi bejana jiwa kita
terlalu kecil untuk menampungnya

air mata Ema
bagai embun salju
untuk basuh pori nurani
yang tertutup wewangi dupa

air mata Ema
bagai kasidah cinta
yang menerbangkan camar
harapan Abah yang tertunda

Santa Rosa

santarosahh2.jpgSiapakah Santa Rosa? Apa maksud sang penyair menjadikannya sebagai judul dari antologinya kali ini? Apakah yang dicari dari sang penyair yang juga berbagi nama yang sama, (Dorothea) Rosa (Herlany)? Penerima Khatulistiwa Award tahun 2005-2006 kategori puisi ini akan menggulung anda dalam tahapan yang lebih kompleks dengan puisinya yang berbasis ekstrimitas penderitaan manusia seperti yang dituturkan oleh Harry Aveling sebagai penterjemah buku puisi dua bahasa ini.

 

Santa Rosa
Dorothea Rosa Herliany

Cetakan Kedua, November 2006
Penerbit Indonesiatera, Yogyakarta
127 Halaman
ISBN : 979-775-001-x

Dua puisi dalam antologi :

Santa Rosa, 1

Kepada suami masa silamku, tak kutuliskan silsilah
Kitab tua di perpustakaan hatiku hanya mencatat
Sejumput kisah kekalahan yang menyedihkan.
Segerombolan serdadu berbaris bagai kanakkanak.
Pulang menuju rumahrumah siput di punggung kerang.
Menghabiskan sisa harapan yang remang, di antara
Gigigigi hiu retak.

Kepada para kekasihku, aku mencari tubuh yang cemas
dalam ruang kembara para pembakar. Mereka berikan
onggokanonggokan benda daur ulang. Dengan mesin
pengatur suhu yang sempurna. Kunikmati kehangatan
sunyi dalam sedetik puncak hausku yang panjang.
Menuju kesiasiaan yang gila. Aku tinggal teramat lama!

Aku ingin mendaki dan tinggal di puncak himalaya.
Agar dingin dan beku nafasku, lalu meledak dan
Mengalirkan bencana.

Tapi aku lelah bermimpi.
Rumah ini sempit dan kotor.
Jikapun harapan itu tiba,
Ia hanyalah segumpal waktu yang siasia.

Ninomaru Shogun palace, 2001.

Christ Elegi

Daun tubuhmu digelar di jalan raya
Lilin dan cemara tengadah ke langit
Api memandang matahari di sisi lautan
Cahaya menunjuk segala arah mataangin
Nujumnya menjulangkan gunungberapi
Sembarang benua

Hatiku disalib luka menyantap kematian
Jam demi jam
Ribuan jubah dan kerudung hitam penziarah
Mwngubah cuaca setiap detik setiap jejak
Pulangkah Engkau, di tiap rumah?

Maria, dekaplah aku dalam kebekuan
Kuminta setetes anggur dan darah wangi
Agar kenangnya membangunkan waktu
Dari kematian abadi.

San Fransisco, 2004

Love Poems

Anda mencari puisi-puisi cinta dari berbagai belahan dunia? Buku kecil yang berisi sekitar 61 puisi ini akan membuai anda dengan kata-kata cinta sederhana sampai yang rumit sekalipun tetapi tetap saja indah. Mungkin akan anda temukan kata-kata cinta yang cocok untuk anda persembahkan pada kekasih anda. Mari berbagi cinta untuk semuanya dalam Love Poems.

Love Poems: Aku Dan Kamu
Sapardi Djoko Darmono

Cetakan Pertama, Februari 2007
Penerbit Indonesiatera, Yogyakarta
80 Halaman
ISBN : 979-775-008-4

 

Dua puisi dalam antologi :

Sesaat Setelah Mengalami

Rumi (Parsi, 1207-1273)

Sesaat setelah mengalami kisah cinta
Pertamaku
Aku pun mencarimu
Tanpa tahu
Bahwa itu tak perlu

Sepasang kekasih tidak perlu bertemu di
Tempat tertentu
Sebab yang satu ada dalam yang lain
Sepanjang waktu

Akankah Kubandingkan Kau Dengan Musim Panas
William Shakespeare (Inggris, 1546-1616)

Akankah kubandingkan kau dengan musim panas?
Kau lebih lembut dan lebih jelita
Angin kasar yang menggugurkan mei dan tunas-tunas,
Dan yang hari-harinya berlangsung sebentar saja

Kadang begitu panas bola mata yang di angkasa
Dan kadang pula sinar emasnya meredup
Dan keindahan demi keindahan pun sirna
Begitu saja atau karena alam berhenti berdegup

Namun musim semimu yang kekal tak akan layu
Dan takkan pernah lenyap keelokanmu
Maut pun tak akan mampu menyeretmu ke kubur sebab
Kau tumbuh dalam keabadian waktu

Melati Di Pahaku

melaticr3.jpgBuku kecil tipis mengumbar paha sebagai sampulnya tentu akan mengundang perhatian anda (para lelaki). Antologi yang memuat 70 puisi ini seolah-olah tidak ingin kalah bersaing dengan gambar sampul, beberapa puisi berkutat sekitar tema cinta, ranjang dan tentunya perempuan. Tema ini menjadi menarik karena sang penyair adalah perempuan beranak satu yang kerap dipanggil Yeka selain aktif di pentas teater dan tercatat sebagai anggota Women Playwright International. Penasaran dengan puisinya? Nikmati melati di antara paha Yunis Kartika.

Melati Di Pahaku
Yunis Kartika

Cetakan I Februari 2007
Penerbit Chibi, Bandung
xvii+74 Halaman
ISBN : 979-25-4850-6

Dua puisi dalam antologi :

Vrigid

Telah habis hasrat gairah
dimakan waktu tahuntahun belakang
peluhku terkunci malam panjang

maaf,
jika tak bisa lagi mengangkang

2006

Tuntut Saja Tuhan!

jika karena kelamin
dan payudara mengembang
kita dinistakan

kenapa tak kita tuntut saja tuhan!

2006