Puisi Bulan Ini

Koleksi Puisi-puisi terpilih di bulan ini.

Jika Lelah

/

Jika kau telah lelah disakiti

Menangislah sejenak

Kau sedang disayangi

Jika kau telah lelah menyakiti

Bernafaslah sejenak

Kau sedang menyayangi

Heninglah dalam damai

Diamlah

Lalu belajarlah mencinta yang dicipta

Atas nama Penciptanya

Bukankah terkadang

Orang yang sering membuat kita tersakiti

Justru yang paling menyayangi

Bukankah bukan rahasia lagi

Orang yang ingin kita sakiti

Kadang juga yang paling kita sayangi

(My Empty Boarding School, 2003).

Kabar Terkubur

/

;rindu kemenakan

jauh sebelum rumput liar ditimbuni tanah merah di kepalamu
telah aku eja serumpun makna walau tak bersua
kita pernah berdua mengekori apa maunya abad, pun jua tersesat
saat mengejar kilat air yang coba beramah tamah di padang pasir

jauh sebelum rumput liar ditimbuni tanah merah di kepalamu
telah kau pahat sendiri
rupa nisan sehabis mengkhatamkan sunyi

‘jadilah superman.” katamu
ketika kumenangis pulang sekolah. dan kau menyanyi lagu lawas
aku terlalu kepompong untuk meraba makna yang tak bersua

Edisi Juli 2006

/

  
  Kembali Pulang

  suatu malam yang gerah
  aku menempatkanmu di sisi luka yang merah
  tetapi lantas ada kidung di subuh tsani
  kupertanyakan pada matahari
  dan sejuk embun di daun
  memberiku sajak-sajak mengalun
   
  aku memindahkanmu ke sisi ingatan yang lelah
  dan kemarahan yang hilang ke entah
   
  sepanjang apa kita ukur perbedaan?
   
  dan episode-apisode yang lalu lalang
  hanyalah menegaskan kebersamaan yang hilang
   
  pulanglah ke rumah kita
  dan maafkanlah segenap cerita
  yang keliru kita rangkai bersama

Edisi Juni 2006

/

  SETELAH 61 TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN  
   
  Ini bukanlah sebuah cerita, buncah api atau bara
  atau bunyi senapan sesekali letup di dada.
   
  Ini hanyalah deru,
  entah mengapa mengabut di mata
  bersama luka senja yang terlanjur luruh
  setelah seharian matahari garang menghajar
  kepala tua penuh uban
  dan jari-jemari keriput
  menenteng koyak sepasang sepatu usang
  telah torehkan jejak langkah

Edisi Mei 2006

/

SEPASANG MAUT

kami dikejar kejar bayangan laut yang menyimpan maut
setiap sudut ruang dan kegelapan
menyisakan takut dan rasa kalut

di mana peristirahatan paling nyaman
jika kamar begitu menakutkan?

kami yang suatu pagi dibangunkan gemetar bumi
tak hendak menjadi saksi
karena inci demi inci tubuh kami mulai mati
oleh haru dan rasa nyeri
waktu beringsut
menyeret kami pada putaran yang itu-itu juga
;bau mayat dan barisan panjang pusara

Edisi April 2006

/

 
   Kanak-Kanak Di Hati Kita


  
  Adakah pernah terlintas dalam benakmu
  untuk membuat sebuah percakapan dengan anak-anak,
  tentang apa yang mereka inginkan;  
  membuat perahu dari sebilah bambu
  untuk kemudian dilayarkan ke laut lepas
  atau merangkai sebuah layang-layang dari kertas
  untuk kemudian diterbangkan ke langit luas?
  Karena anak-anak bukan sekedar milik sang ibu,
  bukan pula sekedar milik sang ayah,
  mereka terlebih adalah milik diri mereka sendiri.
  Gemerlap cahaya berwarna-warni
  yang memenuhi taman di hati kita
  yang melambungkan harapan di benak kita.
  Karena bagi mereka hanya ada satu keceriaan
  yang tak lain adalah surga, gemericik mata air
  yang tiada henti menguyurkan kesegaran,
  kepolosan salju yang putih metah
  memenuhi lanskap di dalam penglihatan kita.
  Mereka adalah detak yang berpacu
  di dalam jantung, deru di dada kita
  karena mereka adalah anak panah
  yang terentang kencang di dalam busur sang waktu. 

Edisi Maret 2006

/

Hanya Sebuah Refleksi Sejarah

  Adakah telah kau tafsir sejarah sejak bertahun silam? Sunyi yang menyusun dirinya dari gema lonceng gereja, suara bedug Masjid, tajam perih kerikil, bulu-bulu yang gugur dari sayap burung gagak dan bau sampah yang membusuk? Siapakah manusia yang masih sanggup mengingat warna kelabu dari wajah sejarah negerinya yang tercabik? Selain pantulan kaca retak yang menempel di pintu-pintu hati rakyat, gerbang istana presiden yang masih megah berdiri, batu-batu berlumut di gedung perwakilan rakyat, serta darah merah yang mengalir dari sebutir peluru? Rangkaian kisah reformasi, masih serupa rahasia. Sebab sejarah telah lama menutup dirinya di dalam kepalan tangan dan sebatang palu besi. Siapa sesungguhnya manusia yang mampu mengurai kebekuannya?