Kabut Yang Memataiku
demi dingin yang menyertaiku pulang kampung,
aku memoles malam dengan gemetaran
hidup yang ditiupkan setiap jemari kuharap
tak berhenti hanya karena jalanan ini sepi dan pengap
tapi kerling itu, tak cukup menggangguku
tidak juga kabut itu, aku hanya perlu menciumnya
dan selebihnya kuhancurkan kugempur
dan kau pun tahu, diam-diam mereka menyertaiku
dan memataiku
Bunga Pustaka, Maret 2009
---
Pada Sebuah Kata
Di lorong-lorong hening
Tiap pasang mata menjelma matahari
Di Semenanjung
arah kedatanganmu
yang tak pernah kau beritahu kepadaku
nasib berlarian, mengitari semesta
semesta, meringkus nasib durjana
engkau, kalimat puisi tertinggal.
engkau, kesan yang tak dapat kutuliskan
betapa cahaya terasa mengepung, melempar
tombak-tombaknya ke punggungku, ke mataku.
camar memanggil dari rentangan cahaya
paruhnya mengais sejuta kengerian ikan
“beri aku tanda, tentang arah kedatanganmu.
kutunggu! meski tanggal gugur, satu-satu.”
meski bulan-bulan menjadi basi
dan tahun membusuk di dadaku
datanglah! datanglah! akan kumaknai penantian
MENDEKATI GERAI
:Yi
di telinga ini
secara kebetulan kita belai membelai
merapat cepat
dan terbang sejadi-jadi
desahmu perlahan berbunyi rindu
lucuti raut mimpiku
aku terpukau
hingga selengang bukit hijau kutimang
segala pohon menggelegar
semua burung jatuh terkesima
sebentar aku pergi melepaskan diri
lalu kembali
cuaca tiba-tiba berangin
udara begitu dingin
tubuhku terasa sengal
sebab udara nyaris anyir
aku berlaga, tapi tidak main-main
menghindari remang dan mencari temaram
sebab aku begitu yakin
kau adalah cahaya yang didera derita
TEMAN DAN TAMAN
teman dan taman
seperti buah ranum di dada perawan
mendekap dan teresap
diemban dan tergenggam kemanapun ia melayang
sampai dongeng sebelum tidur
teman dan taman
adalah rindu sungai pada ombak
aliri paritparit dalam buku harian
hingga celah-celah pada muara malam
tapi tak pernah ada yang mengerti
tentang ketenangan yang merobek-robek sunyi
dan keramaian yang lebih nikmat dari hujan
mengalir kencang dan penuh bahagia
Pare, 5 juli 2008
---
MEANG
seperti juga tubuh laut
ia bahkan tak tahu
PENIUP SERULING ILALANG
kepada: Seruling Ilalang
Dari rumah sunyi diperbukitan hening, tiba-tiba
kaudatang menyapa mengetuk pintu
dengan suara seruling dan tarian ilalang.
Membangunkanku dari lelap tanpa kutahu, apasiapa
rupa dan muka dirimu
mungkinkah,
dirimu peniup seruling ilalang
; rumah nada-nada dan gerak tari semesta
; racikan kemabukan beriburibu rindu
lalu kubertanya, tentang
perjalanan ruh adalah susur alir sungai, menyemai
kerinduan di tiap arusnya, serupa
angin yang tertiup lewat lobang jasad, seruling
Puisi: Hafney Maulana @ Lana esEs
Sepasang terompah yang kau pakai dulu
kini rapuh berdebu menunggu jejak kita
yang ditinggal peziarah mengusung deritanya
Sepasang terompah yang kau pakai dulu
bagai remaja yang merenung gadisnya
menemukan mimpi yang tak habis-habis
membangun kemegahan
yang tersengal dalam derita
Sepasang terompah yang kau pakai dulu
pucat bagai bibirmu - gelisah diusik dongeng
yang mencemburui warna
pada bingkai kaca. tempat kita berdarah
di dalamnya.
kau pun menjadi api
membayangkanmu aku terbakar
paramadina, 2009
tersimpuh pada halaman suratmu
lebur aku khusuk dalam tulisan cinta
bertebaran pada rerumputan bulumata
sampai tatapanmu, kekasih
aku ikuti jejak malam penuh tasbih
kausematkan purnama di langit sunyiku
tersentuh dalam alunan ayat-ayat
airmata berpendaran di celah-celah rakaat
menerangi mihrab hingga subuhku
kutanamkan doa-doa kuimpikan semerbaknya
kusirami dengan embun sujudku
terenyuh dalam kehangatan rumahmu
kaubisikkan kehadiranmu, ampunan dan keimanan
bersinaran lamat-lamat fajar jiwaku
bersinaran tak henti-henti
Diskusi
1 pekan 6 hari lalu
1 pekan 6 hari lalu
4 pekan 5 hari lalu
4 pekan 5 hari lalu
10 pekan 5 hari lalu
14 pekan 16 jam lalu
14 pekan 5 hari lalu
16 pekan 3 hari lalu
18 pekan 6 jam lalu
20 pekan 2 hari lalu