Pilihan Editor

Puisi-puisi yang dipilih khusus oleh editor. Bagian ini terintegrasi dengan bagian jejak penyair. Editor berusaha menampilkan puisi-puisi penyair yang telah di wawancarai langsung oleh kru puitika.net . Jika tidak memungkinkan maka Editor melakukan kebijaksanaan khusus menentukan puisi-puisi yang layak untuk ditampilkan kepada pembaca.

Dari Jalanan

/

Dari jalanan ketika kau bekerja cuma
dibayar dengan berita dan terpaksa
pulang dengan persiapan berkelai dengan istri

dari jalanan pula aku mainkan yang bisa
dan sesekali menghitung siapa yang telah
menembak tubuhku lewat balik jendela

lalu aku pun mati dan bangkit lagi
bangkit dan mati lagi, mati dan bangkit lagi lagi
tanpa tahu siapa berkuasa atas kejadian itu

sebab ketika tepat di depan pintu rumah
istriku pun telah menyiapkan selembar
kafan putih bertulis :

"Kami telah putuskan untuk memotong
alat kelamin suami-suami kami, yang telah

Bapakku Telah Pergi

/

Bapakku telah pergi
menemui pembakaran
ruang suci tempat selesaian

tapi ekor-ekor yang ditinggalnya membelit tubuhku
menciptakan jarak, yang diujungnya

masih dipegangnya
batasnya tak teraba
maka jadilah itu hantu

Bapakku telah pergi, memang
tapi hantunyanya itu demikian kuat
demikian mendesak

sampai bagian dalam tubuhku
bergetar, berpusar, seperti
tubir, seperti gerigir

si sayap-sayap tembikar
yang selalu melipatiku
seperti melipati ladang-ladang itu

tanah harapan, dimana
aku telah menyerahkan kesetiaan
bangkit dan runtuh, runtuh dan bangkit

Penganten Pesisir

/

Aku datang dalam seragam penganten pesisir
seperti arak-arakan masa silam
jidor, kenong, terbang, lampu karbit mengiring

di depan para pesilat bertopeng monyet,
celeng, macan dan juga kancil berjumplitan
mercon sreng sesekali mewarnai langit

aku datang dalam muasal bercinta
seperti dulu ketika sama-sama punya pagi
sama-sama mengumpulkan telur-telur sembilang

lalu dikeringkan kemudian digoreng
ketika senja menyelinap di jajaran
macapat-macapatmu yang kini tinggal bisik

dan tahukah kau paling aku benci?
adalah ketika kita sama-sama ke sekolah

Ziarah Ke Reruntuhan Makammu

/

"Apa yang bisa aku baca dari reruntuhan makammu
yang kini tinggal lubang kakusnya itu, "
negitu akhir puisi yang aku tulis persis ketika
waktu sampai titik dan tubuhku meleleh demikian cepat

ziarah itu, ya, ziarah ke reruntuhan makammu itu
ternyata tak aku gerayangi sejak mula. Yang aku bayangkan:

"Seorang lelaki tua, berbaju terusan, berterompah
kulit semakan, dan selalu memintal tasbih antara
atas antara bawah,"

seperti asap yang digertak angin, kesaput
batu-batuan berlumut, undak-undakan kelabu, yang
aku rasa; lebih mirip gergaji daripada sesaji

Kerajaan Pemabuk

/

Meja persegi berpelitur separoh, tuak dan tambul
berdetak. Sambil ngelindur, kita lihat bulan
lorotkan engselnya:
"Ini malam kerajaan pemabuk!"
setelah itu, kau terus terbang ke sorga
atau justru aku yang terkapar di kolong-kolong
ini memang sudah amsalnya
seperti amsal bumi yang ringsek. Sebab,
terlalu lama menanggung beban keberanak-pinakan
yang tak terduga:
"Tapi, mengapa selalu saja kau ilusikan
kebun-kebun bening di ubun-ubunku. Padahal, itu
kau tahu cuma batok berkarat?"
mungkin, ya, mungkin saja, kau kelewat akrab dengan
pil-pil, sampai lupa pada apa yang kau lihat :

Teras

/

: pakcik ahmad

teras
kata seorang teman yang penyair
adalah tempat menghisap rokok
menyapa malam

dari teras
langit diam menantang
kita berkaca
seberapa luas kita memandang
seberapa keras kita berjuang
seberapa tegar kita menghadang

teras
begitu katanya lagi
sambil menyambar gelas kopi
tak ubahnya telaga sunyi
kita berbicara dengan diri sendiri
entah merenungi hari demi hari
entah menyesali kepedihan hati

dari teras
kita juga menggali diri sendiri

Tentang Mimpi

/

mimpi, tak berkedip memandangmu,
dihujamkannya angan dalam tidurmu,
ditusukkan kata dalam risau,
menjelma menjadi gelisah karat pisau.

mimpiku bukanlah mimpi,
tapi bisa juga mimpi kita tak beda,
tak perlu dirisalahkan,
mimpi biarlah hiasi kegelisahan.

mimpi, tak enggan berbisik,
jadi dorongan jiwa untuk tetap tak goyah,
di tengah banyak tanya,
dan badai yang tak pernah reda.

sebuah mimpi yang menghampiri,
janganlah dihindari,
gapailah karena itu sangat berarti
bagi diri sendiri

Ada Kanak-Kanak

/

ada kanak-kanak dalam diriku
yang sering menghampirimu
dalam kata manja
lalu engkau tertawa
: sebel…..,katamu dengan senyum
ketika yang dewasa datang
hanya ada heran saja
kenapa muncul kanak-kanak itu
lalu dia diam saja
mencoba mencari jawabnya
ada ibu dalam dirimu
yang membuatku selalu rindu
sapa, omelan dan juga godaanmu
:kangenku tak pernah tandas
ada kanak-kanak
ada orang dewasa
menghampirimu
: lalu kau rengkuh
dalam pelukanmu

priok,juli 06

Halaman 1/11