Nominasi Sayembara

Nominasi puisi-puisi yang telah dipilih editor untuk berkompetisi dalam sayembara Puisi Bulan Ini

Surat Cinta Rudy Ramdani

/

aku tengah belajar lagi mencintaimu, Pur
menganggap pertemuan ke sekian ini sebagai perjodohan
mencoba lagi mengenal lekuk tubuh dan garis bibirmu
meski jejak usia di sepanjang jalan tak juga mengingatkanku
pada masa kanak dan riwayat bocah pencari tawa
ada yang memang seharusnya hilang
sebagai kenang di ruang lengang
lama tak jumpa, kulihat kau berhias dipulas cahaya kota
nyaris tak kukenali jika saja tak tercium aroma lembab
yang ruap seluas kulit tubuhmu itu
tak kubawakan apapun dari kota seberang
hanya bingkis puisi yang kuharap tak segera jadi basi

Inilah Mau Geranganku

/

ketenangan diatas laut
bersambut anak burung
sang pengembara lari
tak ada kusut
tak ada murung
tak ada sedu
berapa cinta?
kalis...
meneguk hasil
rasa yang tak terteguk
sorak sorai padi-padi
aku di mauku
aku di surau
bukan semut dengan bawaannya
jalur baru akan dilalui
tanpa ragu dan malu
ombak bertanya "ada apa gerangan?"
ikan-ikan berenang tak henti
dan jawabku "inilah cinta!"

Kabar Duka Citaku

/

*
kutulis apa yang tak ingin kusebut
sebagai puisi ini, karena kutahu
bahwa mungkin tak bisa denganmu
kurasakan untuk bersama
*
menelusur langkah dalam kesendirian
semuanya tiba-tiba seperti bicara
mengajak hampa perlahan berbentuk
tentang jejak-jejak tangis dan tawa
sambil meraba nada-nada masa depan
di tiap-tiap tepi jalan
pada debu beterbangan, bunga yang menari,
lagu bocah-bocah dan pulas para angsa
hari ini cerita hamil oleh kenangan
*
kenangan bersijingkat di atas genangan air
ataukah fatamorgana dibias silau
ada wajah yang rinaikan tawa

Sajakku

/

Kutulis lagi sajak-sajak baru pada batu-batu. Karena sajakku hanyalah sajak para batu.

Menulis impian serupa menulis lajunya semangat kepak sayap elang. Aku ingin membingkai hariku serupa deras alur sungai yang mengalir di tubuh pertiwiku.

Telah kutulis juga tentang cerita bocah-bocah kembara yang mengasi hidupnya di atas sisa-sisa ludah yang lain. Tanah-tanahmu yang kadang lembab, kadang tandus, kini penuh Lumpur. Tak cukup rumah-rumah, padi-padi kami melambai-lambaikan tangannya meminta penghibaanmu. Tapi banyak diantara kami mungkin terlalu sombong lama tak menegurmu.

Untuk Budhe

/

Hari ini aku melihat -
meski sebelumnya tidak merupakan kesengajaan – mata itu:
mata yang letih akan hidup dan kehidupan dan semua beban didalamnya. Dan hanyalah beban: beban yang sungguh yang nampak disana.
Memantul pada lensa mataku. Membekas menggoreskan
bermacam tandatanya yang mencekik leherku.

Hari ini aku melihat –
dengan sengaja yang kusengaja. Mata itu:
ketika dengan gemas dia remas pipiku. Aku telah merasainya,
aku menikmatinya: mata itu.
“Dan semua beban yang terendap di mata, dan membeku di mata
telah menimpaku kini.”

Hartati

/

- Tentang Dian

pintu rumah duka di hatimu
pernah kuketuk suatu kali,
saat hujan menderas di halaman
tapi, tak kudengar tanda jawaban
dan, doa adalah penawar luka
yang dulu pernah kujanjikan
sudah kutaruh di celah jendela
sebelum aku bergegas pergi
saat gerimis perlahan mulai habis

Kediri, Desember 2007

Di Pantai Paradoksal

/

di sepanjang pantai ini
tahun-tahun mana, sayang, yang luput dari tangkapan tatap sembab mata kita
perahu-perahu datang dan pergi, dilayarkan cuma membawa derita deraan berdarah
karena ladang-ladang pun dibakar dendam dan hasilnya dijarah-rayah
tak satu pun butir dapat diselamatkan bagi sebuah kebersamaan
seperti kakek-nenek kita dulu telah memperjuangkan mili demi mili
kibaran bendera menyibak angkasa bertuba dengan robek dada lepas nyawa
siapa pula itu nakhoda yang merampas ganas dan terjal karangnya samudra
melimburhancurkan rumah-rumah nelayan, apa yang masih tersisa

Kabar Terkubur

/

;rindu kemenakan
jauh sebelum rumput liar ditimbuni tanah merah di kepalamu
telah aku eja serumpun makna walau tak bersua
kita pernah berdua mengekori apa maunya abad, pun jua tersesat
saat mengejar kilat air yang coba beramah tamah di padang pasir

jauh sebelum rumput liar ditimbuni tanah merah di kepalamu
telah kau pahat sendiri
rupa nisan sehabis mengkhatamkan sunyi

‘jadilah superman.” katamu
ketika kumenangis pulang sekolah. dan kau menyanyi lagu lawas
aku terlalu kepompong untuk meraba makna yang tak bersua

kemenakan rindu kau jinjing, mak

Halaman 1/7