Tag Archives: Sumatera

Akar budaya asli Indonesia menjadi perhatian puitika.net. Ruang ini menyediakan tempat bagi anggota situs yang peduli dengan bentuk-bentuk puisi berbahasa daerah dari pulau Sumatera.

Pantun Nasihat

 

pohon mangga ditebang orang
akarnya putus melepas tanah
kayu terlanjur  menjadi arang
tak mampu lagi menghapus fitnah

akarnya putus melepas tanah
beruk terjepit di dua dahan
tak mampu lagi menghapus fitnah
baik dan buruk kini buktikan

beruk terjepit didua dahan
rajawali menangkap ikan
baik dan buruk kini buktikan
seisi negeri memperhatikan

rajawali menangkap ikan
hinggap dulu dipohon jeruk
Seisi negeri memperhatikan
mana yang benar, baik dan buruk.

 

PutNus 30-07-2006

 

 

Pantun Jenaka

telah tinggi matahari
pertanda pagi menjelang pergi
terengah-engah si anak babi
mencoba tuk gigit buntut sendiri

 
kala gelap langit mendung
pasti kan hujan  datang menyerta
gemuruh langit bergoyang gunung
melihat beruk belajar membaca

 
teratai di atas kolam begoyang rapi
disentuh ikan bergumul riang
terbahak tersungkur keluarga kelinci
kala kura belajar terbang

 

 
*PI 250406  15:10

Pantun Jenaka

Putik cempaka empat sebaris,
Dihirup pagi petang tak hilang,
Bila berudu coba berdendang,
Telaga kan keruh langit menangis.

 
Memuncak aur berumpun-rumpun
Menjalar sirih pada batangnya
Menangis beruk  memohon ampun
Menolak pinangan si jantan buaya.

 
 

Pi 190406 15:24

Pantun Nasehat : Hikayat si Bijak

alkisah suatu kurun
pada negeri di sebelah gurun
 
tersebutlah kisah si bijak kekasih-NYA
ringankan langkah pada kelana

satu hari  nan penuh peluh
kelana si bijak dihempang musuh

syaithan laknat mencoba memikat
melalui fikir untuk khianat

si bijak faham ini siasat
ajak dirinya pada yang bejat

berkelahi lah mereka sebenar kelahi
pungkang dan piting bersulih ganti

jamak jumlah si bijak jaya
sebab ikhlaskan diri pada sang Kuasa

syahdan di ujung hari kelahi menjadi
siasat syaithan sebarkan api

amarah si bijak membuncah tak kendali
lenyapkan ikhlas pada nafsu sendiri

syaithan pun kibarkan gelak pada si bijak
sekali ni dia jaya siasatnya telak

si bijak terkulai kalah jasad dan jiwa
asbab niat berubah pada yang fana

kisah ini hikayat nasehat
ada termaktub pada sebuah ayat

hendaklah diri menjaga niat
jangan nafsu meraja pada laku yang dibuat

 
 

*PI / JKT    180506  10:33

Pantun Nasihat : Hikayat Si Belang

——-sebuah pantun nasihat…

 

Sungguh indah istana sultan
Dindingnya pualam lantainya kaca
Inilah hikayat si belang jantan
Iktibar hati petuah jiwa

 
Syahdan di masa dahulu kala,
Di hutan teduh di hulu kuala
Si belang hidup layaknya raja
Berkedip mata rakyat tak kuasa.

 
Pelanduk berkisah belang yang kejam
Menjual hutan pada serigala jahanam
Rimbunan hijau pun jadi silam
Berpuluh puak hidup terancam

 
Kerap belang berjalan lagak,
Turut di sisi si culas gagak
Hutan dibagi petak sepetak
agar sejahtera anak beranak

Kala si belang bertitah pandir
Seluruh khalayak haruslah hadir
Dengar, patuhi, jangan berfikir
Jika tak ingin hidup berakhir

Di hujung kisah meradanglah Sultan
Amar hukum pun menggelegar bersahutan
Mantra bersenandung menghentikan awan
Akhirnya gemuruh bumi pun menjangkau hutan

 

Musim itu musim penghujan
Seluruh rakyat berteduh badan,
Si belang rungsing sekujur badan
Sebab gagak bisikkan amarah Sultan

 
Seketika air kuala seakan terbang
Arusnya menghantam seberang menyebrang
Mahoni, jati pun menjadi alang-alang
Tercerabut, terangkat, terjerembang silang menyilang.

 

Angin hitam membuai pelan
Menerbangkan lalat laknat berkaki kuman
Hilang lah satu persatu karib dan kawan
Membujur kaku bersisi sisian

 

Di balik bukit khalayak bertikai
Bunuh membunuh bantai membantai
Terserak jasad menjadi bangkai
Ikatan kerabat pun jadi terburai

 

Di hujung kisah belang termangu
Rakyat dan kerabat musnah satu persatu
Riuhnya hutan pun berubah kelu
Karena amanah tersingkir nafsu

 

“Hai belang raja durjana,
Wakil hamba pengkhianat amanah,
Betapa matamu buta melihat tanda,
Tiada kuasamu bagi-Ku, walau sebiji zarah”

 

“Hai belang raja durjana,
Munafik handal perompak wahid,
Sebelum ini kuhadiahkan kau surga,
Namun fikir bijakmu bekerja pelit.”

 

“Hai belang, makhluk gagah tanpa kuasa,
Kau paksa Aku mengurai amarah,
Kutiupkan sedikit berangku bak sangkakala,
Semoga ini tercatat dalam sejarah.”

 

Dihujung kisah, di akhir cerita,
Amarah Sultan masih tersisa,
Belang terjerembab disisi singgasana,
Terkurung jeruji berpagar mantra .

 

Biarlah iktibar ini berwarna lara,
Semoga semuanya dijadikan ilmu,
Kelak nanti tak kan ada bencana,
Hanya karena penguasa bertuhankan nafsu.

 

Semoga sang-bijak kelak jadi penguasa,
Bila kata diucap, hati pun serta,
Peluhnya manis amalan taqwa,
Kepada rakyat berhutang bahagia.

 

Inilah pantun berkisah nasihat,
Dari celoteh kosong, si pakcik ahmad,
Maaf diminta ampun disemat,
Bila kata-kata hamba menuai umpat.

 

Semoga Allah jadikan kita hamba berfikir,
Dan jauhkan kita dari hati yang fakir.

 
Cptt/ 22-26-maret-06  : 00:36