Sebagaimana antologi bersama lainnya, ini adalah buku gado-gado dengan beragam tema yang diangkat. Membawa nama empat kota (Bandung, Padang, Denpasar, Yogyakarta) memberi harapan akan munculnya puisi-puisi yang bersifat kelokalan yang kuat atau setidaknya mampu menangkap semangat empat kota dengan karakteristik yang berbeda. Sayangnya puisi-puisi di dalamnya tidak menyentuh kekhususan tersebut, meski demikian hal yang patut di acungi jempol, buku ini di sokong oleh penyair muda yang rata-rata lahir di atas tahun 80-an dan beberapa diantaranya berhasil menembus beberapa koran ibukota dengan puisinya.
Buku kumpulan puisi "Maharaja Disastra" merupakan jalan pintas mengenal penyair-penyair dari tanah Bumi Rafflesia. Selain penyair, puisi-puisi juga disumbangkan dari para petinggi provinsi Bengkulu. Strategi melibatkan pemerintah daerah dalam proyek sastra seringkali dicurigai sebagai usaha kepentingan politis sesaat. Akan tetapi mengingat rendahnya terbitan-terbitan penyair di daerah maka mekanisme semacam ini menjadi jalan keluar yang cukup baik dengan syarat kualitas yang baik dari puisi-puisi yang ada di dalamnya.
Perempuan selalu saja menjadi tema yang menarik untuk dibicarakan terlebih jika yang berbicara adalah perempuan itu sendiri. Buku kumpulan puisi yang ditulis oleh lima perempuan dengan latar belakang yang berbeda memberikan rasa beragam namun tetap dalam koridor tema yang diisyaratkan. Jika anda belum membaca buku ini dan hanya mendengar bahwa buku ini adalah kumpulan "ibu-ibu arisan" tentunya perlu membaca teks-teks puisinya secara langsung. Siapakah yang bernama perempuan? Baca dan nikmati langsung antologi ini.
Masih saja sosok Munir (seorang pejuang HAM di Indonesia yang wafat dalam perjalanan menuju Belanda) mengalirkan simpati dan rasa kagum dari mereka yang ditinggalkan. Buku yang diterbitkan setelah setahun lebih wafatnya sang pejuang kemanusiaan ini merangkum puisi-puisi dari berbagai penulis dan penyair Indonesia yang tersebar di pelosok nusantara dan bahkan melewati batas geografis negara. Tidak ada kata selain semoga puisi-puisi ini bisa menjadi kenangan yang manis sekaligus melecut nurani pembaca bahwa keadilan sampai kapanpun akan terus diperjuangkan meski sang tokoh telah lama berpulang.
Antologi yang melibatkan 18 orang penyair dari berbagai daerah di Jawa Timur ini memberikan harapan yang cukup besar pada berjalannya proses regenerasi kepenyairan di provinsi ini. Enam diantaranya bahkan masih berumur di bawah 30 tahun, sebut saja Deny Tri Aryanti, Dheny Jatmiko, Puput Amiranti N, R. Timur Budi Raja, Widi Asyari, dan Mashuri . Dengan pengantar yang diberikan oleh W. Haryanto cukup jelas bahwa penerbitan antologi ini merupakan satu cara untuk memberi ruang terbuka pada perjalanan sastra Jawa Timur, dimana generasi sastra terkini ditempatkan sekaligus menempatkan dirinya.
Antologi bersama ini merupakan penutup dari dua antologi sebelumnya dengan judul yang sama Dian Sastro for President. Strategi menerbitkan buku ini dengan kemasan “gaul” patut diacungi jempol. Dengan mengambil nama ikon seorang selebriti yang sedang “in” memberikan rangsangan yang luar biasa bagi masyarakat awam lebih mengenal puisi. Namun seperti halnya antologi bersama lainnya, antologi ini memuat karya puluhan penyair dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi bahkan generasi.
Diskusi
22 pekan 10 jam lalu
22 pekan 10 jam lalu
24 pekan 6 hari lalu
24 pekan 6 hari lalu
30 pekan 6 hari lalu
34 pekan 1 hari lalu
34 pekan 6 hari lalu
36 pekan 4 hari lalu
38 pekan 1 hari lalu
40 pekan 3 hari lalu