PUTIH ( 12 Januari 1999)
Kerudung putih yang halus
menyulam malam kelam
menusuk pori-pori purbakala
di ujung siang yang usang
Dari putih ke putih
hanya putih melambung warna
hanya kerudung di setiap jantung
hanya halus membagi tulus
kepada putih yang putih
Malam yang putih
halus menyapa bersih
menyapa kasih rindu
dalam benak kerudung bisu
diantara malam batu
dan di siang piatu
Tergerailah suara semesta
pada angin prahara cinta
di sini…
ada ungkapan lelah
pada putih
pada halus
pada selaksa luapan airmata
Kau, dia dan mereka (07 Okt. 2001)
sejuk keabadian
melempar pusara sejarah purba
kau, dia dan mereka
berselimut di muara mimpi
debu-debu mulai memutih
di tubuh malam keabiadaban
wajah yang mulai dekat dengan salera
menyisakan sebait senyum keserakahan
dan menghitung waktu dengan tubuh telanjang
kau, dia dan mereka
bertutur sapa dalam riak gelombang
membiarkan selaksa busa lautan
tumbuh jadi malaikat, ulama dan kyai
lalu berdiskusi tentang kesucian
tentang kesabaran dan kebenaran
padahal kau, dia dan mereka
tidak mengerti arti kemanusiaan
di atas rerumbutan hijau tanpa warna
angka perselisihan kematian jadi tawa
perdebatan hukum berubah barang eceran
pastur, pemerintah dan penguasa impoten
termasuk kau, dia dan mereke
yang pura-pura angkuh di bawah ketiaknya
suara laknat apa lagi yang belum tersaji
meliaran rupiah hidangan pagi
ayat tuhan dijual seharga gorengan
hukum agama hiasan tanpa rumah
perawan cantik dan molek taat setiap saat
perdebatan hanya agar dipandang intelek
lalu bersila menanti lawan dan di buka 24 jam
perut bumi terasa sakit tercekik
terinjak-injak kaki-kaki tubuh telanjang
kau, dia dan mereka yang menjadi pemuka agama
kepadanya…
innalillahi wainna ilaihi rojiun