Sastra Multikultural? Bagaimanakah?

/

Kini, wacana yang paling santer dalam berbagai diskusi dan kajian ialah adanya konsep 'multikultural'. Konsep ini telah merambah ke dalam bidang keilmuan. Konon, konsep ini hadir di Amerika akibat kondisi di negara tersebut yang memang, sangat pluralis. Dan melalui pendidikanlah konsep ini akhirnya diterapkan di negeri Paman Sam tersebut. Sangat sederhana memang konsep yang ditawarkan, namun tidak juga mudah untuk diterapkan. Yakni, pendidikan dilakukan dengan melihat latar belakang peserta didik. Contoh konkret misalnya jika dalam konteks Indonesia, seorang guru tidak dapat dikatakan profesional jika memberikan contoh suatu hal kepada peserta didiknya yang berlatar belakang daerah pesisir dengan contoh-contoh kata yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat kota; PS, KFC, McDonal, misalnya. Hal ini bukan dimaksudkan sebagai sikap superior anak-anak kota, namun lebih ditekankan kepada pemahaman yang lebih dekat dengan warna lokal.Hal inilah yang sebenarnya ingin dilakukan oleh pendekatanmultikultural.
Tampaknya, konsep tersebut telah menjalar ke dalam dunia sastra. Pertanyaan yang kemudian muncul ialah, bagaimanakah sebuah karya sastra disebut sebagai sastra multikultural? dan konsep-konsep apakah yang dapat dimasukkan sebagai konsep sastra multikultural?

mau nulis kok bingung

ah, kau ini, mau nulis kok bingung. tulis-tulis-aja dulu (menulis itu pakai perasaan) jangan dulu memikirkan persoalan bahasa/atau apa lah yang bikin ruwet. setelah novel (katamu mau bikin novel, bukn? atawa cuma mimpi mau bikin novel?)-nya selesai, kan bisa dibaca ulang, diedit di sana-sini, atau mungkin ada beberapa hal yang ingin ditambahkan. kan semuanya selesai.
kini, aku menantangmu, sebab aku juga sedang menggarap sebuah novel, kapan punya kau kelar???

multikultural? piye nek ngene....

sastra multikultural? well, well, well, aku sih iso-iso ae take it so easily bahkan for granted (hehehe... skrg saya pake bahasa dari berbagai kultur kan? hehehe...)

oke, sastra multikultural... hmmm... menurut saya sih, kalau penulis mau jujur dalam berbahasa, mau mengungkapkan dengan jujur apa yang ada di sekitarnya, sastra sudah jadi 'multikultural' dengan sendirinya, tanpa orang amerika menyuarakannya dulu.

anyway, sebelum jauh-jauh berdiskusi, saya coba lontarkan satu "impian" saya soal sastra (yang mungkin menurut sampean bisa multikultural). check it out (peh, MTV banget boooo')! diambil dari http://berbagi-mimpi.blogspot.com

Posisi Bahasa Daerah dalam Prosa Berbahasa Indonesia Karya Penulis Lokal (hahaha... makalah banget judulnya!!!)

Jumpa lagi.... dengan Pemimpi di sini... (ini bacanya harus kayak Maisy Chikita. Hahaha...) Senang sekali rasanya bisa kembali bermimpi dengan wajah sumrigah dan melupakan segala kemarahan.

Kali ini ada satu tema yang akan saya angkat (aduh, klise ya, makalah abis!!!): Kedudukan Bahasa Daerah dalam Prosa Berbahasa Indonesia Karya Penulis Lokal. Nah, judulnya sudah cukup mbulet kan untuk diakui sebagai makalah. Hehehe...

Kalau ngomong soal puisi, kita mungkin akan sepakat kalau puisi--dalam ukuran standarnya--adalah kata-kata yang INDAH dan BERTUAH. INDAHnya mungkin bisa dipenuhi dengan cara menggunakan kata-kata yang berasosiasi bunyi antara satu sama lain (berrima, beraliterasi), atau bunyi-bunyi yang berasosiasi dengan tema (kakofoni, eufoni), atau kata-kata yang langka namun indah (kalau kata teman saya, mungkin bisa disebut "kata-kata yang KOLOM-PUISI-KOMPAS-MINGGU banget", semisal: lindap, berkelindan, sangsai etc, dll, so on, dsb). Pendeknya, bahasa puisi adalah bahasa yang dibuat-bikin, bukan bahasa standar. Atau, ekstrimnya, menurut para formalis Rusia, bahasa puisi adalah bahasa yang sejauh mungkin dengan bahasa sehari-hari. Kalau soal BERTUAHnya, ya pastilah itu mengacu ke isinya, ajarannya, renungannya, permasalahannya. Pendeknya lagi, dalam puisi, di mana yang ingin "diceritakan" adalah hasil renungan, hasil kriya, bukan kehidupan di "lapangan", bahasa adalah satu hal yang bisa dipermain-plintirkan

Nah, itu kalau puisi. Tapi kalau prosa, ada sesuatu yang beda: karena dia berpijak pada dan "bercerita" tentang HIDUP DI LAPANGAN, maka SEYOGYANYA (ini menurut saya lho ya) dia lebih mendekati bahasa yang dipakai orang-orang di LAPANGAN. Kalau yang disebut lapangan itu adalah kehidupan di Jakarta, ya akan lebih baik kalau prosa tersebut memakai bahasa yang Njakarta (saya masih loading... cari contoh), kalau di Irlandia, ya seyogyanya pakai bahasa sehari-hari orang Irlandia (ingat karya-karya James Joyce dalam Dubliners dan Ulysses kan?), kalau di New York, ya bahasanya harus New York abis (ingat J.D. Salinger dalam The Cather in the Rye, Nine Stories, dan Franny and Zooey, kan?).

Oh ya, mungkin ada karya-karya fiksi yang memilih untuk memperberat sisi plot-bin-tema-al-keasyikan-pembaca dan memandang bahasa secara sambil lalu, macam karya-karya Sidney Sheldon, James Patterson, Mira W., N.H. Dini, Pramoedya Ananta Toer. Well, sayangnya mereka tidak bisa ikut dalam pembahasan kita kali ini.

Begitulah hasil penerawangan saya.

Tapi, ada satu fenomena yang unik di negara macam Indonesia, yang terdiri dari beratus-ratus suku bangsa, beratus-ratus bahasa, dan satu bahasa nasional yang belum sempurna (hehehe...), yakni cara ucap para sastrawan yang bukan berlidah asli bahasa Indonesia. Menurut pengalaman saya (alah, sok berpengalaman, rek!), ada beberapa cara yang dipakai para sastrawan macam itu, yakni 1) menulis dalam bahasa Indonesia EYD (mungkin macam cerpen2 awalnya Si Pemimpi ini, hahaha..., atau mungkin sebagian AGAK besar karya-karya Budi Darma--selain Olenka yang dengan santainya memakai "sampean" meskipun settingnya Amrik itu--dan Danarto, atau Hubbu-nya Cak Huri) 2) menulis dalam bahasa Indonesia yang beraroma bahasa lokal (misalnya Ahmad Tohari, Umar Kayam, Kuntowijoyo), dalam artian (ciyeeeh, ini makalah pol bahasanya!!!) bahasa Indonesia tapi diselingi kata-ungkapan bahasa Jawa dan kadang-kadang konstruksi kalimat yang Njawani, atau 3) nulis dalam bahasa daerah sekalian.

Nah, secara pribadi saya sendiri pernah mengalami suatu "keterbelahan" (alah!) dalam hal pemilihan bahasa. Di satu sisi, kenarsisan saya menginginkan agar tulisan saya bisa diakses oleh lebih banyak orang, dan segera memutuskan menulis dalam bahasa Indonesia. Sayangnya, karena saya sendiri kurang "lanyah" atau menginternalisasi bahasa Indonesia (dan dalam pergaulan pun saya memilih berbahasa Jawa dan sebisa mungkin berbahasa Jawa kalau berbicara dengan teman non-native-speaker-bahasa-jawa yang agak ngerti bahasa Jawa dan selalu canggung jika berbicara bahasa Indonesia, :D), akhirnya saya tanpa sadar memilih bahasa Indonesia yang "aman-aman saja". Nah, dampaknya apa, cerpen-cerpen saya kata seorang kritikus Jawa Timur terlalu "EYD" dan, "kurang spontan". Nah, betul itu! Saya merasakan ke-EYD-an cerpen-cerpen saya itu sejak awal, tapi baru sadar kalau dampaknya malah bikin cerpen menjadi "kurang spontan". Well, thanks a zillion, Mas Kritikus, it means a lot to me. Ya, betul, terlalu EYD!

Saya meraba-raba akhirnya, bahasa macam apakah yang idealnya dipakai oleh sastrawan Jatim? Apa kayak Pak Kunto-Kayam-Tohari? Mungkin. Apa menulis dalam bahasa Jawa sekalian? Wah, itu dia sulitnya, lha wong bahasa Jawa kita sekarang gak karuan kasarnya. hehehe...

Makanya, saya iriiiii sekali kalau melihat bagaimana Joyce bisa menulis bahasa Inggris dengan dialek yang sangat Dublin di Ulysses, atau J.D. Salinger yang dialeknya sangat New York dalam cerita-cerita Nine Stories. Kenapa iri? Soalnya mereka bisa menulis dengan bahasa "lapangan" tapi tetap berpotensi dimengerti banyak orang. Sementara saya, saya setengah mati ingin menulis dengan bahasa saya sendiri, tapi saya merasa terlalu repot kalau harus menerjemahkannya lagi jika saya ingin saudara saya di Aceh, Makassar, Papua, bisa membacanya. Di satu sisi, saya ingin berbagi pengalaman dengan para saudara yang tak terlalu jauh itu. Tapi di sisi lain, saya ingin menjaga orisinalitas ungkap alias kesastraan karya sastra saya (alah!!!). Saya kok masih belum sreg akan harus seperti apa? Seperti bapak-bapak yang berkompromi seperti pak Kayam-Kunto-Tohari? Ataukah sekalian ekstrim ke Sitok Srengene? Ah, sementara saya lebih condong ke Pak Tohari. Tapi saya masih bimbang (ah, ini milih bahasa kok kayak milih agama ya? hahaha...).

Sudahlah, let's stop talking about me, let's start talking about works. Sekira dua bulan yang lalu, saat berangkat Jumatan, terlintaslah di pikiran saya sebuah penyelesaian atas kegamangan saya soal berbahasa itu. Caranya: saya akan menulis dalam bahasa Indonesia, tapi dengan kesadaran bahwa bahasa Indonesia saya hanya sebatas agar bisa dimengerti oleh sesama orang Indonesia (jangan pakai Indon lho ya, kurang asyik!!!), dan kesadaran bahwa bahasa yang berjalan di pikiran saya adalah bahasa Jawa. Dan kongkritnya, saya akan mengawali novel pertama saya nanti seperti ini (tolong jangan dijiplak dulu yaaaaa...):

"Akhirnya, kalau sudah jadi seperti ini, terbaring di kasur selama hampir seminggu karena kecapekan, barulah saya berkesempatan bercerita kepada Anda bagaimana hidup saya telah terjungkir balik hingga 180 derajat (bukan 360 derajat lho ya, saya kemarin baru diingatkan teman saya).

Wah, agak janggal juga ya ngomong bahasa Indonesia. Wagu juga rasanya. Tapi ya gimana lagi, kalau saya ngomong bahasa Jawa, bahasa asli saya, pasti Anda-anda sekalian nggak akan mengerti. Dan lagi, saya takut dianggap tidak cinta persatuan dan kesatuan Indonesia. Saya takut kehilangan saudara karena itu. Padahal, alasannya cuman karena saya agak kagok bicara bahasa Indonesia. Yah, sudahlah, biar saya lah yang berkorban, pakai bahasa Indonesia saja.

Balik lagi ya ke cerita saya:

Ya, akhirnya saya baru tahu rasanya diaduk-aduk oleh perasaan dan ketakutan. Ya, kejadian yang dimulai dua minggu yang lalu itu sungguh tak ketulungan dampaknya bagi saya. Semoga saya bisa membaginya dengan Anda sekalian.

Ceritanya dimulai di pertigaan Porong, titik pertemuan jalur dari arah Surabaya-Krembung-Malang. Waktu itu puanaaas sekali, ya standar panasnya Sidoarjo lah..."

Yah, begitulah paragraf-paragraf pembuka novel pertama saya. Pokoknya, untuk lebih lengkapnya, tunggu lah barang beberapa tahun, siapa tahu selesainya bisa lebih cepat ketimbang A Portrait of the Artist (yang butuh 10 tahun itu!!!!!).

Sampai ketemu lagi dalam mimpi-mimpi selanjutnya. Senang rasanya ada Anda-anda yang menyudikan diri membaca mimpi-mimpi saya. Salam sayang.

label: bahasa, sastra

oleh... Si Pemimpi jam 08:17