Author Archives: Fitri Yani

jam dua malam

cukup lama kita tak berjumpa

aku patut bercuriga, bukan?
kepadamu
kepada waktu yang membuatku melangkah ragu
karena perjalanan yang kulalui adalah malam
amat tipis beda antara terjaga dan terpejam

aku tak sedang mengutukmu
aku hanya mengambil jarak agar tak tersesat
dari perkiraan tentangmu
sebuah rangkaian kekeliruan
yang tak sepenuhnya kupahami

jika kelak kita bersama lagi pada jam dua malam
padakulah kau tak perlu berdusta
tentang segala yang tidak kita mengerti
sebab hening telah merelakan dirinya
untuk dimaknai angin yang berhembus perlahan

cukup lama kita tak berjumpa

kau pun boleh berprasangka
kepadaku
yang tak pernah terpejam saat jam dua malam

Januari 2008
sajak Fitri Yani

sejenak di dermaga

ketika senja
sekawanan camar terbang dari dermaga
tempat bagi segala yang berlayar
berjumpa

di antara mereka
ada seekor camar yang matanya bercahaya

”kelak kan kukirimkan
gelisah tubuh kelana ini”
ujar camar yang matanya bercahaya
pada debur ombak

bulir-bulir hujan tiba-tiba berjatuhan
dari mata camar yang bercahaya
saat hendak meninggalkan dermaga

sesungguhnya
tak ada yang sepenuhnya singgah

di kejauhan
sekawanan camar menjadi noktah hitam

Januari 2008

sajak Fitri Yani

saat sekarat

malam ini
aku akan kembali pada diri
kepada sendiri

lalu, selain kau
apalagi yang harus kutunggu
bukankah kita
membawa mati di pundak sendiri
di jalan setapak di belukar semak

hujan turun
membasahi tubuh

tunjukkan aku sebuah tempat di mana aku bisa
berbaring tenang di sudut belantara

menjadi bayang
sekuntum kembang

Januari 2008

di sebuah pemakaman

akhirnya kau pun datang
menjumpaiku
membawa seikat bunga aneka warna

bukankah itu adalah bunga
yang dulu kutanam di matamu?
mata abu-abu yang di tumbuhi sebatang bambu

aku belum sempat memetik
dan menempatkannya di vas terbaru
seperti yang kita sepakati dulu
saat rindu membatu dalam waktu

“bunga itu amat mengganggu”
keluhmu ketika itu
nampaknya sebatang bambu
telah membuatmu jadi peragu

maka kubiarkan saja bunga itu layu
sebab kerling matamu umpama sembilu
menyayat
tepat di jantungku

kini tubuhku sehijau daun bambu

bunga aneka warna
vas terbaru:
yang bertuliskan namaku
dan tanggal terakhir kita bertemu
kau tanam di tubuhku

“beri aku jimat sebagai laknat pertamamu”
pintamu sambil mengingat-ingat
dosa besar di pangkal sesal

sebatang bambu masih tumbuh di matamu

aku begitu cemburu

september 2007

Kota Yang Dipenuhi Burung

Kota yang di penuhi burung

pelepah subuh terbelah
menyentak sunyi di pusar jantung
hingga ke palung-palung
bergaung
rajah nasib tanpa suara.
aku tak pernah tahu pasti, kapan
kota ini tak pernah perang
ribuan burung berkabung
menjadi gaung

September 2006

Kokok Sepasang Ayam

I/

Dengarkan suara kami;

suara pemakan biji-bijian dari ladang petani
mahluk bersayap yang tak bisa terbang tinggi

suami-istri yang menggemakan mantra pagi
bersama langit dan matahari

dengarkan suara kami

hai mahluk berkaki dua,
yang gemar berganti rupa

;musang berbulu domba
elang bermata manusia

jangan terkam kami
dengan cakar-cakar api

jangan santap kami
dengan lidah-lidah benci

biarkan kami menggemakan mantra pagi
sahut-menyahut dengan sesama pemilik taji

mengatakan mimpi kepada para petani

seperti kutu-kutu di ketiak kami;
sekutu bagi ulat-ulat di mata kami…

Bangunkan kami, mahluk yang lebih dulu melihat matahari

di geliat pagi, di ambang mimpi para petani
kami akan menerkammu; suami-istri penggema mantra pagi

merobek-robek dada dan kepalamu

hingga kamu, kutu-kutu di ketiakmu, dan ulat-ulat di matamu
tak akan sempat terkejut dan mengedipkan mata

II/

di tengah ladang petani
ada tetes-tetes darah melayang di udara

melewati berkas cahaya matahari
membiaskan warna merah cemerlang
lalu jatuh di daun jagung yang kering

seekor elang terbang jauh ke angkasa

Bandarlampung, November 2008

Yang Menjauh Perlahan

Yang Menjauh Perlahan

rumput-rumput menghijau karena hujan
gadis-gadis kecil berlarian di pekarangan
di depan pintu, perempuan menggigil kuyu
mendengar renyah percakapan di ruang tamu

di antara keinginan untuk pulang,
yang berulang-ulang,
ia menjauh perlahan:
meninggalkan sesuatu
yang amat ia rindukan.

Tanjungkarang, 07 Desember 2009

Suara-Suara Sebelum Terjaga

siapa yang tiba-tiba lesap ke tubuhku
beberapa saat sebelum fajar tiba

siapa yang begitu pelan membelai jantungku
beberapa saat sebelum aku terjaga

“dia, yang selalu mendengar
debar para bunga”

siapa yang mengajakku berjalan menyusuri taman
yang nampak ada sekaligus tak ada

siapa yang menyebut namaku berulangkali,
hingga aku seperti tenggelam di cakrawala

siapa yang telah membawaku
pada hidup yang penuh percikan mimpi.

“dia, yang paham pada nestapa
yang terkurung di sela-sela air mata”

Tanjungkarang, 08 Desember 2009

Di Restoran

suami-istri duduk di satu meja, mau memesan makanan
orang-orang bergumam di beberapa meja yang berbeda

sang istri menunduk saja, ketika pelayan bertanya;
mau memesan apa? apa di rumah anda berdua,
dapur sudah tak ada

pemain biola menghampiri meja mereka
sang suami tersenyum, sambil berkata;
mainkan love me tender* untuk kami berdua

lalu di tatapnya mata sang istri,
dilihatnya wanita yang terganggu kesunyiannya;
maafkan saya, dua puluh tahun menikahi anda
selalu memesan kenangan di satu meja

orang-orang tertawa di beberapa meja yang berbeda
suami juga tertawa menikmati suara biola
dikhayalkannya hangat secangkir kopi sang istri pagi hari

sang istri gundah-gulana,
saat pelayan hendak pergi

mohon menunggu dengan sabar, nyonya!
ujar pelayan pada kekasih lama

Desember 2008

*Judul lagu Elvis Presley

Lintasan Cahaya

mengapa lintasan cahaya begitu sulit ditatap
mengapa peta kota seperti tak memiliki tanda
mengapa tak pernah usai keramaian di pinggir pertokoan

mengapa ada kau:

lintasan cahaya sebuah kota
nampak sekilas terlihat di pinggir sungai
ada pula sebuah pertokoan
yang sering mengelak dari keramaian

aku cuma ingin memberimu pelukan
di depan pintu
aku cuma ingin kau hembuskan nafasmu
yang pernah kukenal dulu, di bahuku.

mengapa kau berpakaian laiknya pengantin
sementara kau berjalan di tengah kota, menatap pintu pertokoan
sambil memastikan setiap alamat yang tak pula lengkap

lihatlah aku,
sedang menyimpan hampa dalam tebal baju hangat
menunggu malam tiba di perbatasan
yang penuh umpat juga hujat.

aku ingin memberimu pelukan
di depan pintu
aku ingin kau hembuskan nafasmu di bahuku
seperti dulu.

kau, adalah rasa asing dalam lintasan cahaya
yang sulit kusimpan dalam lingkar mata.

Tanjungkarang, Desember 2009