Author Archives: agusharpe

Hujan (Sapardi)

Hurufhuruf yang tumpah jatuh dari langit
diguyurkan mendung tambun yang menghimpit dan gemetar
dalam  gelap pekat yang menyandera waktu, satu persatu
limpah membasuh muka-muka
menyihirkan basah kata-kata

 
Hujan (sapardi) turun sepanjang tahun, tak
pernah lagi di bulan Juni
luap dan banjir melampau selokan
ke sungaisungai—rubuhkan pepohonan
dibunuhkan badai

 
Kini kata-kata menjadi janji sederas bah
tak sempat lagi membuat kita teraduh damba
hanya luap, megap, diare dan demam berdarah
rakyat pinggir yang mengungsi berpayah-payah

 
Tetapi, masih kucari-cari kemana hilangnya
komposisi hujan yang dulu jatuh
yang bawakan rindu ritmis dari talang atap
lalu menjejak ke akar bunga-bunga
sajak damai seusai hujan tiba

 
Jakarta, 12 April 2006

Kepada Robert Hutchings Goddard

—penemu roket

Adakah makna atas hidup kita ini, kawanku,
agar bukan sebatas replika: dan lahir lalu tua dan mati?
Hari-hari telah kita cari dan kecewa tak bertemu
hingga desah nafas denyutan nadi terasa sia-sia

Tapi itu dulu. Sebelum kau memanjat pohon
yang tertinggi di desa, mencari Mars.
Seperti dongeng.

Kali ini, bukan karena lagi-lagi kau gagal sampai ke langit,
melainkan justru ketika turun dan tersentak, maka
tersingkaplah rahasia penciptaan atasmu:
Bahwa untuk capai ke atas sanalah
perjanjian hidupmu

Kukira, seperti kau, telah kutemukan juga kini yang kucari
rahasia yang ternyata terbungkus dalam senyum kecil anakku
pada genggaman erat yang mungil, derai celoteh lucu
yang sejuk mengalir nyusupi nadiku

(Dan pada jutaan tatap yang luka; hati-hati yang lasak dilantak nasib. Pada tubuh-tubuh terpinggirkan, yang terenggut dari kepatutannya
tersebab dicacah burung-burung nasar kehidupan)

Apakah betul rahasia atasku, kawan, juga agar
ke atas sana, yang entah pada saatnya nanti
Sepertimu, jadi abadi

Jakarta, Feb – 2000

Sajak Milenium Ketiga

—milenium tiga puluh tiga

Dalam lekuk abad yang berganti
Pohon hidupku masih teguh mengurai waktu: sesak nafas
simbah air mata, kemerut pelepah muka
daun-daun usia yang berguguran jatuh

Telah setengah pohonku berteguh
akar-akar diri yang merecap pada gersang bumi
melacak jejak tetes air nasib
yang setetes saja pun berpayah-payah,
dilunta-lunta

Tapi aku memang selamanya tak akan takluk
walau digulung badai pasir puyuh, diracun
polusi kota yang penuh luka
Jangan kira pohonku akan berubah plastik

Sebab dalam peralihan waktu ini pun
tatkala sejarah semakin panjang
toh telah kulewat setengah perjanjian atasku
yang kini tinggal setengahnya lagi
sampai akhirnya waktu berhenti

Jakarta, 1999-2000

Pledoi Anak Desa

        —Kepada Sumaryo, katanya ia seorang intelektual

Benar, tuan, aku dilahirkan di desa. Desa tanah leluhurku yang agung
Meskipun katamu itu sekedar pelosok, padanya
kebanggaanku menugu sosok
Aku pun besar di tanah yang jauh—tak perduli aku kau bilang apa
tapi aku dididik alam sekeras batu, kepribadianku
dan aku beruntung sempat mengenal ilalang, tak hanya tulip
yang di kala berbunga, seputih kapas terbang melayang
saat terik dan angin berlenggang pulang
Di desalah aku mengaji, menyemai pekerti, belajar sembahyang
menikmati nyanyian cengkerik menyecap manis batang tebu
di halaman belakang
Sementara kau mungkin bahkan tak pernah menjamah tanah
padahal aku beruntung sempat menimangnya dalam kepalan
dan menciumnya dengan kebahagiaan memiliki
dan menghirup harum alam saat padi-padi tumbuh hijau
menjadi saksi petani-petani yang senyum saat panen menghimbau
Benar, tuan, aku mengenal desa, tak cuma kehidupan plastik
Di saat kanak aku bermain bebas menjejak bumi dengan kaki telanjang
berkejaran mandi berpongah dada di hujan deras dengan sebaya
Dan bahwa masa kecilku penuh dengan pohon dan bunga-bunga,
dengan burung-burung yang terbang bebas dan hamparan sawah,
ilalang dan ikan-ikan. Dan aku dulu suka memancing
di rawa-rawa terbentang. Dan kalau tidur malam
dibuaikan gemulai senandung pohon kelapa yang berindu dendam
Aku memang datang dari desa—lantas mengapa?
Sebab aku utuh tak kurang manusia sedikit pun daripadamu
bahkan aku beruntung , karena hidup telah mengajarku salih
(bukan sebatas plastik, yang lalu mengorak, berpongah kepada Tuhan)
menjadikan sebabku mempunyai makna dan hakiki
sedang padamu, cukuplah kau 
simpan dengkimu sendiri

Jakarta, 1994-95

Kesaksian Generasi

 
      —kepada Aldian Aripin

 

 
Betapa rabun aku, lengah

 
meraba gemuruh darah arus nadimu

 
Padahal galibnya hidup, degup gairah

 
harus disimpan sedalam jantung

 

 
: Aku memang lahir dari rahim zaman

 
di saat muak mencapai ubun

 

 
di mana lelaki melulu banci

 
kemunafikan diberi penghargaan

 
lalu iman pun, perjanjian dalam buku suci,

 
disisakan sekadarnya buat politik

 
dan basa basi

 

 
: Aku memang tumbuh di kerak generasi

 
di mana rasa kasih, ketulusan dan keadilan

 
sebegitu janggal di mata kalbu

 

 
hingga rindu membuat terpaksa

 
menyurai hilangnya seperti gila

 
dari suruk rimba kepalsuan yang rimbun

 
rumpun demi rumpun

 

 
: Aku memang remuk di lasak zaman ini—luluh lantak

 
tapi hidup bagiku berpantng kalah

 
sebab aku bukan terlahir banci

 

 
Bahwa kau ulurkan degup jantung itu

 
penuh kuterima gelisahmu—yang

 
olehnya aku semakin pasti

 
bahwa dalam luka pun

 
kita tak sendiri-sendiri

 

 

 
Senopati, 20 Juli 1994