Author Archives: AGIT YOGI SUBANDI

Di Semenanjung

Di Semenanjung

arah kedatanganmu
yang tak pernah kau beritahu kepadaku

nasib berlarian, mengitari semesta
semesta, meringkus nasib durjana

engkau, kalimat puisi tertinggal.
engkau, kesan yang tak dapat kutuliskan

betapa cahaya terasa mengepung, melempar
tombak-tombaknya ke punggungku, ke mataku.

camar memanggil dari rentangan cahaya
paruhnya mengais sejuta kengerian ikan

“beri aku tanda, tentang arah kedatanganmu.
kutunggu! meski tanggal gugur, satu-satu.”

meski bulan-bulan menjadi basi
dan tahun membusuk di dadaku

datanglah! datanglah! akan kumaknai penantian
sebagai kutub yang mengangan matahari

peluh yang mengalir adalah pujian
yang tak sampai kepadamu

gelisahku, gemetar daun-daun
datanglah! datanglah!

tunjukan padaku,
bahwa kaubenar ada,

(2008)

Sajak Agit Yogi Subandi – Gerimis Pagi

Gerimis pagi

1
semalam, jalan basah
kertap hujan mendesah
percakapan melunak
khayal nakal berpinak

2
ada yang enggan memintas di jalan
memintal gelisah di sudut gedung
tak lama, ditentramkan oleh derai daun
yang jatuh melayang
dan ngungun

di sisi lain
kuntum bunga mekar,
puisi membentuk diri, lagu mengambang—
bergelombang dan
berkelindan di angin
ke tebing-tebing curam
menuju rumah-rumah padam

mendekatlah ke sisi jendela
renyai mengirim jas hujan,
payung dan perempuan di tepi jalan

“ayo, kita berlayar di genangan air
mengalir menuju muara yang memasa lalu”

3
gerimis pagi ini, membesut burai ingatan
meski serejang lari kuda

maka akan kucatat tanda-tanda di kertas
yang tak mengenang apa-apa

4
sejak semalam, jalan basah
hujan mengertap
dalam interval kalimat puisi dan ingatan

mendekatlah ke sisi jendela di pagi hari
akan kau lihat sajakku pada angin
dan sisa gerimis di daun-daun
yang menceritakan tanda
dan kesunyian

(2008)

Puisi Agit Yogi Subandi – Anxiety Of Goose

Anxiety of Goose

MIMPI LAMA

I
seperti lanskap yang merunut silsilah,
kusaksikan samar hijau dedaunan
dari bukit rendah

yang akan melenyapkan tubuhku
dari serentang tetirah

musim gugur abadi
rangkaian ranting mulai melunas janji
pada tanah berbatu

kunanti musim semi
seperti penantian seorang kekasih di sebuah taman
di mana angin bersiul mengibas gugusan rambut, dan
mengayun tiga pohon akasia

penggembala kerbau bersuling bambu
berteduh di semak perdu
memandang penuh hayat
pada anak-anak yang bersenda gurau
di rerumputan setengah kering

kakinya terluka

berdarah

kemudian, orang di dusun bergegas ke kota
satu-persatu di sengau dangau kenangan dibenam

lalu pergi

aku pun turut pergi

II
di kota ini, ketika matahari gogrok di gedung-gedung tua, suara riuh membentur tubuhku. ada raung pilu di pasar.

di bawah pohon ara, aku termangu. mencari diri yang hilang di balik percakapan dan klakson kendaraan lalu lalang.

sesekali jalanan itu mengisahkan sesuatu. entah tentang apa. mungkin tentang dirinya yang sabar.

mobil membisu. angin memberi sesayup ilustrasi. kemudian mengayun-ayunkan pepohonan.

waktu seolah berhenti. ada yang berdenging di telingaku.

tapi, lelaki dan perempuan remaja yang berjalan, merubah nama menjadi angka-angka. menyumbat telinga dengan lagu pop.

asih dari telepon genggam dan benda-benda.

ada pula yang mengatakan luka.

tubuh limbung lantaran asmara.

pada malam, mereka bentuk wajah dari lampu merkuri. tanpa percakapan. kemudian meliuk-liuklah tubuh di bawah tebaran warna-warni lampu. begitu juga besok dan seterusnya.

menjelang subuh, segala sesak dan riuh sembunyi di dalam rumah gelap, mematung mereka di ranjang.

orang yang bergegas dari dusun, membenamkan kenangan di sengau dangau bersama segala risau

III
aku kembali ke bukit rendah
yang sebentar lagi akan melenyapkan tubuhku
dari tetirah panjang

kepala mulai dingin,
pelan-pelan mengupas hikayat
tentang kenangan yang mereka kubur di dangau

di situlah seekor angsa menghanyutkan ingatan
kepada perempuan mandi dan mencuci di tepian

ah, seekor angsa yang gelisah
ia terus berenang menuju tempat nun jauh

SESUATU YANG MENGENDAP

ternyata aku mimpi. di dusun ini orang tak bergegas. mereka tetap menanam padi yang diusik angin bertubi.

para penggembala meniup seruling. anak-anak menari di depanya. tanpa terluka.

angsa yang di dalam mimpiku pergi menuju kanal, ternyata bersimpuh dekat penggembala itu.

dengan wajah duka.

lantas ia menyapa. minta ditulis dalam puisi. aku terhenyak. katanya:

“tak ada yang melihatku lagi di sungai. manusia berdesakan di televisi.

dulu, sepasang kekasih duduk di pinggir sungai. mencari gigil asmara. mengenang malka dan jazirah. tapi, kini asmaraloka di dalam telepon genggam. aku kehilangan diri di tiap jam.

tolong, katakan pada mereka…

jika kota sesak oleh benda, maka datanglah ke mari. aku akan bernyanyi. laiknya angsa pada manusia. jika asmara terlunta, datanglah ke pinggir sungai. akan kuajak bicara tentang pohon, daun, reranting jatuh dan diriku. bentuklah sesukamu.

tolong katakan pada mereka..

katakan…”

EPILOG

tahun-tahun berlalu
kutulis pesan angsa
lewat tiga fragmen soneta
di atas kertas warna sepia

sejak itu,
musim semi
menyapa pohon ranggas

mungkin sebagian kata menguar
menyentuh daun yang mulai hijau
sebagian lagi menyentuh dada memar

kau tak kan mengenal angsa itu lagi
ia telah lindap di balik rumput basah
maka izinkan aku perkenalkan padamu
lewat sajak di tanganmu

(Tanjungkarang, April 2008)

Sebatang Akasia Di Sebuah Taman

Kenapa kaubiarkan sebatang pohon itu, menantang langit sendirian? Angin-angin gemar meruntuhkan hijau daun dari tangkai, hingga setiap hari, tubuhnya harus merasakan kepergian dan ditinggalkan.

Tetapi, setiap ada yang gugur dari dahan-dahannya yang tak seberapa, ada saja yang menunas kemudian tumbuh. Daun-daun muda bersemi, berdesiran dan berayun-ayun. Apabila langit sedang berbaik budi, maka ia akan menurunkan hujan. Butir-butir air akan menetas di tubuh daun itu, menguncup, jatuh ke tanah.

Setelah usai, langit akan cerah, maka akan kaulihat dari kejauhan, betapa sisa hujan di daun-daun itu berkilauan, seperti intan pada mahkota raja. Seperti samudera dengan bayang-bayang matahari senja.

Ada baiknya kautanam kembang hias di sekitar pohon itu. Agar ada yang menemaninya setiap kali kesakitan melepas demaun. Rapatkan pula sebuah bangku panjang, agar ada yang singgah; mungkin kawanan angsa atau gereja, berbagi perih dan rayuan, sambil menyimak cuaca yang berubah-ubah.

(Desember, 2008)

Zahwa

Zahwa

Kupikir, aku tak kan singgah di rumahmu, di awal kedatanganku…

Dulu, acap kuterjemahkan wajah-wajah perempuan. Seperti peramal-peramal yang pandai menebak takdir dari garis tangan. Tapi ketika bersamamu, aku hanya menjelma air sumur yang meluap menuju siring. Memuntahkan gelisah yang terlunta.

Akan ke mana kita sore ini, Zahwa?
Kau tersenyum…

Disitulah aku mulai bisa menentramkan pertanyaan-pertanyaan kaku untukmu— kebun-kebun yang gaduh oleh angin, perlahan berhenti. Mungkin sempat terlintas di benakmu, yang mana kauisyaratkan dengan sekilas tatap. Ada keheningan di binar wajahmu: seperti hutan-hutan di pagi hari yang lembab oleh embun.

Di dalam matamu, kaugantungkan tanda-tanda yang bebas untuk kutafsirkan. Menggugus, membentuk pusaran di dada.

hal apa yang bisa mempertemukan kau dan aku kembali, sayang? Sementara itu, angka-angka pada jam tangan, membesitkan sebuah janji. Betapa kauakan hilang setelah tikungan pertama, dan akan lebih hilang lagi setelah kutemui bukit-bukit rendah.

Barangkali, tak kaukenal lagi wajahku yang penuh bercak debu, meski pernah matamu dan mataku, saling bertemu. Mungkin juga tak kauingat tanganku yang terjaga dari semburat matahari, walau pernah mengelus wajah dan rambutmu sebelum kautidur.

Huh, diam-diam kaumengendap di dalam dadaku: laiknya kembang gula yang kaukunyah-kunyah semalam, melebur di dalam lambung.

Kupikir, aku tak kan berlama-lama di rumahmu…

Nyatanya, senja kulewati bersamamu. Ini adalah senja pertama bagi kita berdua, bukan? Ah, kaumasih terlalu hijau untuk tersentuh cahaya bulan. Tapi kaumemaksa ke pelataran dan minta diambilkan bulan. Supaya tak ada yang memiliki bulan selain kau. Padahal, tak pernah kauabadikan gambar bulan di langit-langit kamarmu.

Nanti, kalau bulan kita ambil, bagaimana dengan yang lain? Tentu mereka akan bersidekap dalam gelap. Lihatlah beranda di seberang jalan, ada sepasang kekasih sedang menggegaskan hampa malam. Mungkin tak dapat ia lihat lesung pipi perempuannya itu. Biarkan bulan pada tempatnya, Zahwa, biarkan ada yang bahagia dalam remangnya. Biarkan pula bulan tidur di matamu.

Kaungungun dengan bias cahaya di wajah. Ada yang pecah di lingkar matamu, menyerpih dan berkilau. Kemudian, kaukugoda dengan ribuan sentuhan ujung telunjuk. Ih, Om nakal…

dan akhirnya, kaumelupakan soal bulan.

Kupikir, aku tak kan pergi dari rumahmu…

Ternyata, segalanya usai, setelah kutemui tikungan dan perbukitan pertama.

(Way Jepara-Bandarlampung, Desember 2007)