Publikasi acara dengan tajuk `8 Penyair Muda Baca Karya' yang berlangsung selama dua hari (9-10 November 2007) di Teater Utan Kayu (TUK) cukup gencar. Tak hanya di milis-milis sastra tapi juga di media cetak. Mengundang rasa penasaran, apalagi nama Hasan Aspahani (Batam), Inggit Putria Marga dan Lupita Lukman (Lampung), Fadjroel Rachman dan Binhad Nurrohmat (Jakarta), Dina Oktaviani (Yogyakarta), S. Yoga (Nganjuk), dan Pranita Dewi (Bali) sudah tak asing lagi, karena karya mereka bertebaran di media cetak dan dunia cyber.
PENYAIR Ari Pahala Hutabarat membacakan sejumlah puisinya di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Lampung (Unila), Jumat, 9 Februari 2007) malam. Penyair yang pernah tampil di Ubud Writers and Readers Festival 2006 itu membacakan tak kurang 10 puisi, sebelum dilanjutkan pembedahan karya dengan pembicara Iswadi Pratama.
Membicarakan suatu karya, ternyata tak lepas juga dari sang penulis. Setidaknya, dari karya itu tercermin bagaimana sebenarnya sosok penulisnya. Hal ini bisa diperdebatkan, tapi yang jelas memang berkaitan erat.
Seperti saat berlangsung Bedah Buku Kumpulan Cerpen "Kincir Api" karya Kurnia Effendi, yang setebal 164 halaman di Galeri Gudeg Kota Seni, Citra Raya, Tangerang, 10 Desember 2006 lalu. Acara yang merupakan kerjasama Galeri Gudeg dengan Komunitas Sastra indonesia ini menampilkan Zen Hae (Ketua Komita Sastra, Dewan Kesenian Jakarta) dan Mustafa Ismail (wartawan budaya Koran Tempo) sebagai pembicara. Acara yang dibuka oleh Wowok Hesti ini dipandu oleh Binhad Nurohman.
Berikut ini saya ingin sajikan sambutan Joko Pinurbo dalam peluncuran buku puisi 'Di Lengkung Alis Matamu', 25 November 2005 lalu di MP Book Point, Cipete, Jakarta Selatan. Bukan karena ini disampaikan pada acara saya, terutama juga banyak menyebut nama saya, tapi menurut saya apa yang dikemukakan oleh Jokpin menarik untuk disimak, karena di situ beliau juga berbicara tentang komunitas sastra. Semoga bermanfaat.
Entah ada hubungan apa antara sastra dengan ilmu ekologi, tetapi yang menjadi pikiran saat melakukan perjalanan ke kota Cilegon untuk bertemu dengan Pemimpin Redaksi Fordisastra : Nanang Suryadi, adalah bahwa ada kemiripan antara niche (relung ekologi) dengan komunitas puisi cyber. Keduanya berlaku sebagai unit-unit fungsional dengan peran yang sangat menonjol di dalam habitat yang luas.
Bertempat di Aula Perpustakaan Universitas Negeri Malang, Rabu, 11 Oktober 2006Pukul: 12.45 – 14.00 WIB, antologi puisi Abdul Mukhid yang pertama diluncurkan. Antologi yang berjudul "Tulislah Namaku Dengan Abu" adalah kumpulan puisi sepanjang tahun 1998-2003. Acara ini melibatkan Nanang Suryadi (pendiri Fordisastra.com) dan ARS Ilalang (penyair) sebagai pembicara tamu. Jumlah tamu yang hadir memang kebanyakan mahasiswa dan rekan-rekan teater dari kota Malang.
Hari Kamis , 21 September 2006 jam 14.00 WIB diadakan Diskusi Sastra Etnik di Dewan Kesenian Jawa Timur. Diskusi ini melibatkan sejumlah nama seperti Bonari Nabonenar, Widodo Basuki, W Haryanto, Aming Aminudin, Sugeng Wiyadi, Hadi Setyowati, Oktarano Sazano dan lainnya. Diskusi yang bertajuk Sastra Etnik ini merupakan langkah awal dari acara besar Festival Sastra Etnik yang semoga bisa diwujudkan dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Di rumah kediaman Eros Djarot di bilangan Deplu Bintaro, seminggu terakhir ini terdengar bising dengan deru instrumen musik yang beradu dengan timbre vokal berbeda-beda, menyanyikan lagu yang sempat berada diundakan teratas pada bebera dekade silam.Seolah dejavu mendengar lengkingan soprano seorang wanita menyanyikan :"musim berlalu masa berganti, matahari pagi bersinar gelisah kini....." Ah itu kan Berlian Hutauruk dari album fenomenal "Badai Pasti Berlalu".
Diskusi
22 pekan 10 jam lalu
22 pekan 10 jam lalu
24 pekan 6 hari lalu
24 pekan 6 hari lalu
30 pekan 6 hari lalu
34 pekan 1 hari lalu
34 pekan 6 hari lalu
36 pekan 4 hari lalu
38 pekan 1 hari lalu
40 pekan 3 hari lalu