Air dan Tanah yang Dijumpainya

kau selalu memintaku diam
setiap kali kau kujumpai

”menggenanglah, barangkali di tubuhku
kau telah lama ada”

tapi aku ingin mengalir
sambil menafsir liukan luka di tubuhmu

menjadi tamu
meski kita tak kunjung merasa bertemu

mencari alamat
meski tak pernah pasti setiap isyarat

“tanpa kau, aku akan menyerpih
menjadi debu”

tak akan pernah cukup bagiku
bila sekedar lesap ke tubuhmu

”apalah beda sebuah dunia bagimu
bila hulu dan hilir terlahir sebagai dirimu sendiri”

awal dan akhir
bagiku ada pada matahari

(ketika dua matahari
jatuh di batas samudera

ketika ombak membuka diri
memanggil para penunggang pagi)

aku mendengar dzikir musafir
aku melihat daun-daun menguning

“berulangkali kau terlahir
dan kita selalu bertemu”

bukankah aku menumbuhkan
segala yang kau kandung?

Tanjungkarang, Agustus 2009

Tinggalkan komentar


CATATAN - Anda bisa menggunakan HTML Label dan atribut:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>