Dalam Amuk Musim (1)

/

dilema gerimis

hanyalah dilema yang berlipat-lipat di setiap tetes gerimis pagi ini
ketika semua telah lewat semalam suntuk
perdebatan tak kunjung klimaks
orang-orang menjadikan diri dan diri dalam kelicikan atau keangkuhan
sebagaimana tanah-tanah yang tergusur,mimpi manusia yang terbakar dalam ratap

:berjalan pada kepedihan-kepedihan
sebagai manusia kecil yang meraba-raba nasib atau kematian

muara kalaban,28 3 09

sajak hujan

akulah yang termenung di balik serenade hujan
memeram gelisah,mengapa hujan tak kunjung turun seutuhnya
saat itu aku teringat kanak-kanak lampau
menyaksikan bocah-bocah stasiun yang asyik bermain bola dengan saling rebut menendangnya.seperti menendang mimpi dan juga menghibur seorang tua di remuk beranda

:aku pun hanyut dalam getir yang silam
berlumpur di sela-sela ilalang musim hujan

muara kalaban,23 3 09

stasiun senja

inilah stasiun senja dari kebiasaan-kebiasaan masa lampau
stasiun tempat gerbong-gerbong berlalu membawa kisah manusia
sebagaimana terpampang jelas
senja selalu menulis fragmen-fragmen kehidupan

di tepi rel ini adalah tempat bocah-bocah berlarian,sekelompok tua yang bercakap-cakap tentang hari atau orang-orang yang menggiring anjing peliharaan menuju utara atau selatan

:fragmen senja yang selalu mengapung pada denyut stasiun tua

muara kalaban,29 3 09