Mulut komat-kamit
Komat-kamit mulut umat
Komat-kamit satu kiblat
Berat
Continue reading
Mulut komat-kamit
Komat-kamit mulut umat
Komat-kamit satu kiblat
Berat
Continue reading
Gelap yang gagal,cambuk langit patah-patah dan jarang.
Dari jauh gemuruh tawa,dari oramg-orang tercinta sisakan satu halaman di jiwa,yaitu seikat kembang jingga dan putihnya do’a.
Gelap itu luntur,di pintu tempat aku memeluk mu,ya…,ada harum tubuhmu yang tersisa.
Ada cinta yang mengalir tertinggal di sini.
Tanpamu,jalan dan langit yang ku hampiri adalah tak bernyanyi dan,gelap yang mengendap di tiap tikungan,aku hanya pengelana.
Gelap itu hanya mata,putihmu sumber penerang masih tersisa.
Masih ada ,dan selalu sisa tinggal bekaskan disini.
Jika kau tanya, siapa aku:
Aku adalah ilalang kecil yang jauh dari maha-meru ,terinjak dan guncang di mainkan derasnya angin ,tak berarti tajam yang di pucuknya tapi goresnya sia-sia,dan bunganya bergelanyut di sapu angin entah.
Jika kau tanya ,alamatku: di bawah langit kesia-siaan kujepitkan nafas helai demi helai.suaraku kadang nyaris tak terdengar dan tanganpun meraih badai
Aku di lahirkan di bumi merah tempat penindasan membangun istana megah,dan ketimpangan merajai mimpi-mimpi putih anak negeri.pada waktu dimana jalan-jalan tiap tapak menjadi saksi jiwa-jiwa yang terlindas oleh derap rolling stone
Pagi kemarin aku menyapa mentari,kubacakan puisi ku satu-satu ,ya….puisi ilalang kering dari ladang tandusku ,dengan harapan langit mendengar,tapi sia-sia,hanya memeluk sia-sia.
Barangkali di senja ini di pelabuhan terakhir’ kubakar diktat yang lunglai setelah dibentu-benturkan dan di remuk-remuk dari lorong hampa ke lorong hampa lainya.di sinilah ku coba gadaikan jiwaku untuk menimang mimpi terbang bersama kebebasan.
Kah kau dengar elang lain dari benua kesedihan memekak langit,wahai kebebasan sudilah melintas di awan kepakan sayap terakhir elang yang rapuh dan terluka ini,atas nama kemacetan yang bersetubuh dengan bumi dan lautan.
Tapi aku hanya ilalang kering yang mengangguk dan bernyanyi jika ada angin meniup.
Maaf bumiku dan lautan,maaf tanah dan airmu yang biru ,kali ini aku hanya bisa.seperti yang ku bisa ini.
DIALOG KEADILAN
Tentunya kamu sudah tahu
Dengan mata yang tertempel pada badanmu
Bahwa di sekelilingmu
:adalah bagian dari kamu
Continue reading
Sajak Embun
rumput mengembun dingin mengapung
cahaya berkunjung embun berkabung
ambyar dalam regukan matahari
Kendari, 24 Agustus 2008
Continue reading
Pagi di Kampungmu
Serunai di halaman rumahmu
Masih menetaskan embun masa lampau
Dalam jejak kekanakan
Dalam timangan serumpun padi
Kita tumbuh seperti sejarah tertinggal
Continue reading
MAAF, AKU MEMBUAT PENGECUALIAN
aku tahu
kau begitu sangat dapat menutup rapatrapat
segenap pintu
yang termungkinkan menuju
ke rasa galau dan kesedihan mu
Continue reading
MIMPIMIMPI ORANG GILA
aku bukan orang gila saudara
setidaknya dalam mimpi
dan kami juga bermimpi
layaknya saudara
jangan pernah mengira kami tak punya mimpi
Continue reading
Apakah tuhan sudah gila?
Karena di dunia banyak orang gila. Dan aku,
tidak tahu;
bulan sudah gila dalam cahaya
Dia menyerap sepenuh
dan setitik.
Cumbuan kumbang: harapan si putik
dalam bintang dan samara meluruh.
Teriak aku bukanlah gila. Meski tanpa nama.
Aku berenangrenang, lunglai dan terjuntai
menerjun kolamkolam khayali. Tentang cinta.
Dan mahkota berhias teratai
Ternyata tuhan tidak gila,
dan aku memeluk pelangi surga
Semua tampak seperti yang aku
inginkan dan mungkin memang
pada tubuhmu tubuhku
memimpi ranjang
Desember
malaikat
cahaya pedang
untuk memenggal nafsu
dari kepalaku yang telanjang
mengingat hikayat abadi buku waktu.