I
the awaken sun
climbs into the sky’s white stairs
tons of hopes arise
II
golden summer heat
pond touched by shimmering wind
sunny sweet escape
III
twinkling of fireflies
underneath the blinking stars
wish to catch eden
dari senggama pasir dan debu
fatamorgana membias perak,
oase mungkin sebuah lubang
begitu dingin
begitu dalam
di luas gurun,
di jauh gurun.
mungkin kau telah menutup matamu,
mengukur dahaga di lehermu ketika
seseorang tiba di puncak sunyi piramida
dan berkata:
“sphinx yang buta adalah bidak
yang jatuh dari luas langit
seperti usia hanya ingin kembali
jadi gurun abadi dari rahasia.”
dari senggama pasir dan debu,
seseorang mengirim tanda
dengan panji di tangannya,
ketika yang maya segaris
dengan gradasi bianglala:
debu pun beterbangan,
dan cinta ingin menjemputmu,
siang itu.
“sebenarnya aku tak ingin menjerit
siang itu.” gumammu perlahan.
dari senggama pasir dan debu
Tuhan pun telah mencipta tanda.
(2009)
aku pekat
aku gelap
aku malam
dan kamu adalah adzan maghrib yang menuntaskan senja dengan matahari jingga, yang menjanjikan rembulan pada tiap tertutupnya pintu dan jendela, yang mengantar kepulangan sekawanan kepodang menuju sarang-sarangnya
aku lembab
ditengah awan
siap menjelma hujan
dan kamu seumpama sungai, seumpama danau, seumpama laut yang membisikan kata-kata penyejuk bagi batu, rumput, pasir yang kamu sentuh dengan teramat lembut, teramat halus, teramat aku tak akan sanggup
aku berujar
dari sebuah ingatan
hingga tenggelam kata-kata
menghalau segala argumen logis pada dialekta bintang dan cahaya lampu, sebab kamu membawa aku ke bilik rindu di ujung bulu mata dan sela-sela pikiranku
* judul diubah oleh editor
Manusia bebas
menjelang tengah malam,apakah kita masih mampu menyambung bait demi bait puisi kegelisahan,kegelisahan akhir tahun pada lelaki rantau atau perempuan bunting yang lama ditinggal suaminya..bahwasanya lama sudah hidup yang lalu lalang di raut wajahmu,dan betapa terkapar jua sebagai letih kupu-kupu dalam hari yang terus memanjang selepas cita-cita bocahmu
sebenarnya aku hanya ingin mengajakmu sedikit berfikir tentang perih manusia
sebagaimana kita selalu berpindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya
begitu pun akhirnya sekolah Ebon jadi terbengkalai, seperti anak jalanan yang hampir tiap hari kita tatap dari ruangan sempit di sesak ibu kota
namun lepas dari itu, setidaknya kita masih dapat berfikir jauh sebagai manusia yang di merdekakan oleh sedikit keberuntungan..bagaimana pula aku menjadi pahlawan di tengah kegelisahan ini..atau sedikit bertawa canda,atau melankolia dalam bahasa gemuruh hutan-hutan beton.aku hanya laki-laki yang berjalan dalam cita-cita lama sambil mengukur perih,di mana aku telah terbiasa menjadi manusia bebas.tidak lagi kutatap foto pernikahan dengan nanap atau membatu di bawah pohon jambu itu
tapi yang ingin sekali kuhadirkan padamu yaitu bagaimana cara berwujud syukur,bagaimana tangan hitamku mengais kemungkinan hari depan dan hasratku untuk selalu menulis hidup dalam deburan puisi.
maka carikanlah aku sebuah ideologi yang patut kita perbincangkan bersama bocahmu
yang menegaskan bahwa hidup itu bagai mitologi abadi dan beribu-ribu bait puisi
sebab dengan puisi manusia itu bebas
—
Di pedalaman musim 1
di pedalaman musim dan mimpi-mimpi yang punah berserakan sebagai tangis dan sesal sebagai darah dan tanah.disitu teramat banyak manusia lewat mengusung diri sebagai pemimpi peradaban.mereka yang terlahir bersama takdir dan hidup bersama pendamping gaib
O’begitu maha luasnya kehidupan
aku saksikan berjuta manusia merangkak di tengah-tengah reruntuhan sejarah
menjelma seperti burung-burung yang hijrah disetiap pergantian musim
berterbangan selepas luka dan peristiwa ,selepas upacara-upacara mati dan realita yang rumit
lalu terus menuju negeri abadi bersama doa-doa musim dan rakaat penuh raut tangis
muara kalaban,21 Maret 2009
—
Di pedalaman musim 2
hanyalah ajal yang berkejaran dalam kubangan mimpi manusia
sebagaimana sejarah yang berlumuran darah dan dendam demi dendam terus ditanam membentuk sandiwara yang seolah-olah telah ditakdirkan untuk tertindas dan mati
di pedalaman musim,jerit-jerit takdir begitu menggaung
serupa gerbong-gerbong abad yang merangkai peristiwa demi peristiwa lampau
lalu hilang ke kejauhan di mata pemimpi tersisa
begitulah seumpama kau terlahir sebagai terasing di dunia baru ini
dan di luar diri tuhan telah mencatat dan menetapkan nasib atau takdir manusia
:sebagaimana asal,disitulah akan bermuara segala yang pernah berjalan sebagai makhluk yang terlahir dari sulbi-sulbi rahim hawa
muara kalaban,22 Maret 2009
—
Di pedalaman musim 3
barangkali hanya bisa kutatap masa yang lama lewat
seperti menatap senja di retak mata,yang mana pada karam usia kita mencair dari kebekuan-kebekuan masa lalu yang berlumpur dan berdebu
dari situ kekanakan getir melangkah sebagai manusia kecil yang dihanyutkan di sungai peradaban.lalu hilang entah kemana,tersesat di beribu-ribu negeri dengan hikayat hidup yang telah mengabur
sebagaimana perawi mengungkapkan;yang paling jauh itu adalah masa lalu dan yang paling dekat adalah ajal
begitu pula di pedalaman musim,kejadian masa silam takkan jauh beda dengan hari-hari depan.dan kita hanya tinggal melangkah saja pada garis-garis nasib yang telah ditetapkan oleh Tuhan
muara kalaban,23 Maret 2009
di sepanjang musim yang tak utuh
akulah yang berlari di sepanjang musim yang tak utuh
ketika lagu sendu bercampur kebimbangan
yang semakin menjerit di tepi-tepi garis nasib
disitu juga aku diamkan remuk hati
dan menjelma menjadi pesakitan yang dihinggapi bangkai kenangan
teringat ritus-ritus perjalanan hayat bersama kematian manusia yang tertinggalkan
begitulah aku sadari,arah hidup tentu menyusuri arah barzah
dan musim yang tak utuh aku jadikan harapan untuk menyiram impian di kemarau jiwa
batam,30 1 09
kemarau 3
kemarau yang pergi di mata bocah
masih mengabarkan ribut angin,kekuning dedaunan
dan patahan suara senja yang begitu menggaung dalam hilir mudik orang-orang di jendelamu
bila waktunya usai,semua akan berganti dengan benih-benih baru
menasbihkan perjalanan musim di setiap jengkal tanah-tanah retak
yaitu tempat semua cerita di kekalkan
bahkan di dalamnya sekalipun
batam,30 12 08
melukis sisa malam
melukis sisa malam,tuangkanlah segenap dari segala yang tersisa di mimpimu
teruskanlah sajak-sajak terbengkalai,ruang-ruang imaji rahasia yang mengendap di benakmu.mungkin sunyi memang terasa teramat perih.tak sudah-sudah
seperti badai masa lalu yang kau kutuk sebagai anomali yang sangat disayangkan
kini tersisa kesendirian yang baqa
yang memagut hempasan musim dari berbagai arah
dan itupun bukan main letihnya,yang menjalari retak tulang dan pembuluh nadi
maka selagi pagi masih mau singgah
berjalanlah terus seperti hidup
seperti arakan awan yang melintasi pecahan-pecahan bumi
tempat dimana para makhluk tuhan bernafas dan mati
melukis sisa malam,wajahmu kian buram dalam amuk waktu dan musim-musim yang meninggi
muara kalaban,18 2 09
dilema gerimis
hanyalah dilema yang berlipat-lipat di setiap tetes gerimis pagi ini
ketika semua telah lewat semalam suntuk
perdebatan tak kunjung klimaks
orang-orang menjadikan diri dan diri dalam kelicikan atau keangkuhan
sebagaimana tanah-tanah yang tergusur,mimpi manusia yang terbakar dalam ratap
:berjalan pada kepedihan-kepedihan
sebagai manusia kecil yang meraba-raba nasib atau kematian
muara kalaban,28 3 09
sajak hujan
akulah yang termenung di balik serenade hujan
memeram gelisah,mengapa hujan tak kunjung turun seutuhnya
saat itu aku teringat kanak-kanak lampau
menyaksikan bocah-bocah stasiun yang asyik bermain bola dengan saling rebut menendangnya.seperti menendang mimpi dan juga menghibur seorang tua di remuk beranda
:aku pun hanyut dalam getir yang silam
berlumpur di sela-sela ilalang musim hujan
muara kalaban,23 3 09
stasiun senja
inilah stasiun senja dari kebiasaan-kebiasaan masa lampau
stasiun tempat gerbong-gerbong berlalu membawa kisah manusia
sebagaimana terpampang jelas
senja selalu menulis fragmen-fragmen kehidupan
di tepi rel ini adalah tempat bocah-bocah berlarian,sekelompok tua yang bercakap-cakap tentang hari atau orang-orang yang menggiring anjing peliharaan menuju utara atau selatan
:fragmen senja yang selalu mengapung pada denyut stasiun tua
muara kalaban,29 3 09