Sebatang Akasia Di Sebuah Taman

Kenapa kaubiarkan sebatang pohon itu, menantang langit sendirian? Angin-angin gemar meruntuhkan hijau daun dari tangkai, hingga setiap hari, tubuhnya harus merasakan kepergian dan ditinggalkan.

Tetapi, setiap ada yang gugur dari dahan-dahannya yang tak seberapa, ada saja yang menunas kemudian tumbuh. Daun-daun muda bersemi, berdesiran dan berayun-ayun. Apabila langit sedang berbaik budi, maka ia akan menurunkan hujan. Butir-butir air akan menetas di tubuh daun itu, menguncup, jatuh ke tanah.

Setelah usai, langit akan cerah, maka akan kaulihat dari kejauhan, betapa sisa hujan di daun-daun itu berkilauan, seperti intan pada mahkota raja. Seperti samudera dengan bayang-bayang matahari senja.

Ada baiknya kautanam kembang hias di sekitar pohon itu. Agar ada yang menemaninya setiap kali kesakitan melepas demaun. Rapatkan pula sebuah bangku panjang, agar ada yang singgah; mungkin kawanan angsa atau gereja, berbagi perih dan rayuan, sambil menyimak cuaca yang berubah-ubah.

(Desember, 2008)

  1. Hmmmm……. kalau saya perhatikan, karya ini mirip seperti Kahlil Gibran….. anda terinspirasi dari karya-karya Kahlil Gibran, mungkin?

    However, it’s so nice…… ^_^

  2. cuaca memang berubah-ubah, ya..

Tinggalkan komentar


CATATAN - Anda bisa menggunakan HTML Label dan atribut:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>