Monthly Archives: Januari 2008

Koleksi Alex R. Nainggolan 2007

Berikut adalah koleksi puisi Alex Robert Nainggolan yang ditulis dalam rentang tahun 2007. Format berkas kami konversi menjadi Portable Document Format (.pdf) yang dapat dibuka menggunakan aplikasi Adobe Acrobat Reader atau aplikasi yang sejenis. Selamat membaca!

Nominasi Sayembara Puisi Bulan Ini Edisi Februari 2008

Ada beberapa hal yang membuat kami hanya memilih 4 diantara sekian naskah yang terkirim dalam basis data kami. Diantaranya adalah tema naskah yang belum dapat kami masukkan ke dalam kategori “Kemenangan Cinta” dimana tentunya puisi dengan tema ini juga akan memasukkan diksi puisi cinta di dalamnya. Namun bagaimanapun, inilah 4 puisi yang masuk ke dalam nominasi Puisi Bulan Februari 2008 versi Puitika.Net. Batas waktu voting akan ditutup pada tanggal 13 Februari 2008.

Kematian dan Puisi

Pembaca yang budiman, segenap kru Puitika.net mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya H.M. Soeharto , penguasa Orde Baru yang berkuasa selama kurang lebih 32 tahun. Tokoh yang penuh kontroversi atas semua tindak tanduk perilaku dan anak cucunya. Semoga Beliau mendapat tempat yang selayaknya sesuai dengan amal perbuatan Beliau di di dunia.

Selama tujuh hari masa berkabung Puitika.net membuka ruang seluas-luasnya untuk pembaca yang budiman yang berani menuliskan kata-kata untuk mantan Presiden RI ke dua. Jika kematian membuat anda berani menuliskan puisi, kenapa tidak berbagi dengan semua.

Tentang Perempuan di Sebuah Kebun

pada remang cahaya kunang-kunang
di sebuah kebun
ada perempuan berambut panjang
dengan mata serupa bulan

perempuan itu
telah memberiku sebilah pedang

”aku hanya menunggu kau bunuh diri
dan menjadi hantu”
ujar perempuan
serupa dengung kawanan lebah
dari dasar lembah

ada debar yang menggetarkan tanah kebun
ketika perempuan bergegas ke arah malam
meninggalkan kebun
meninggalkan aku
pohon yang sebentar lagi memberinya buah

”aku ingin menua bersamamu
dan melahirkan benih baru
dari rencana cuaca di pepohonan lain”

“aku hanya singgah
agar tunai dendam pedang
di masa kecilku”

November 2007
sajak Fitri Yani