Arsip Bulanan: Desember 2007

Tumbilotohe

Suara bunggo** seakan menambah semarak malam
Diantara kepulan asap hitam dari lampu botol
Nyanda parduli minya’ tanah so mahal
Yang penting tradisi tetap ta piara
Ini bukan soal pemborosan
Ini soal kepercayaan
Jangan ganti deng lampu listrik
Nanti depe makna mo ta piaro
Kita ulang lagi e…
Ini bukan soal boros
Karna bulum tantu lampu listrik mo ba ganti makna dari lampu botol
Karna so disitu juga depe estetika
So disitu tampa orang ba lia akang depe sejarah
Kase biar bunggo tetap ba bunyi
Janga ganti lampu botol deng lampu listrik
Karna ini, malam Tumbilotohe

Tumbilotohe : malam pasang lampu di Gorontalo biasanya dilaksanakan tiga hari sebelum hari raya Idul Fitri
Bunggo : biasa juga dikenal dengan nama Lantaka atau lentaka, meriam bambu/bulu

24 – 09 – 2007

Kabar Duka Citaku

*
kutulis apa yang tak ingin kusebut
sebagai puisi ini, karena kutahu
bahwa mungkin tak bisa denganmu
kurasakan untuk bersama
*
menelusur langkah dalam kesendirian
semuanya tiba-tiba seperti bicara
mengajak hampa perlahan berbentuk
tentang jejak-jejak tangis dan tawa
sambil meraba nada-nada masa depan
di tiap-tiap tepi jalan
pada debu beterbangan, bunga yang menari,
lagu bocah-bocah dan pulas para angsa
hari ini cerita hamil oleh kenangan
*
kenangan bersijingkat di atas genangan air
ataukah fatamorgana dibias silau
ada wajah yang rinaikan tawa
berceloteh tentang kepodang terbang sepasang
memahat cakrawala jadi ukiran kasmaran
wajah siapa
di langit awan cemerlang pantulkan cahaya
membuat bayang-ayang genit menari
menggelitik dengan sisa hujan
di sudut bibir
aku berpaling
ada kelopak mawar lagi tersipu
hingga desau angin luruhkan daun mahoni
antarkan kembali sadarku
pada jalan tempat tengah melangkah
menapaki sunyi yang satu-satu terawang
*
terawang menyata
telah begitu jauh kugandeng tiadamu
dalam hari-hari yang dirajut
jadi sehelai angan
adalah wajahku
sebagai catatan kelahiran yang duka
dan perlahan bersijingkat di atas genangan air
aku tiba di seberang ketak-pastian
*
pasti kebodohan, itu jadi nyata
yang telah mencampakkan waktu
ke enggan untuk temui lelap
ke enggan untuk berterus terang
ke enggan dalam suasana yang takut
adakah perpisahan andai terjadi
akan tetap berasa nikmat?
sebagai bahagia pamit dari rahim ibu
sebagai bahagia di masa kanak-kanak
akankah tetap berasa nikmat?
bukan penyesalan berkepanjangan
usai alami kenyataan
taklah semulus tangis bayi
usai mencatat di separuh sejarah
tak sehangat dalam rahim bunda
dan hadirmu
taklah pasti kapan segera tiba
*
tiba dari detik bergulir jadikan hari
mengapa harus menyeret serta gelisah
suara-suara yang terpendam mencari jalan
tentang adam dan hawa yang terlempar
pada porak-porandanya dunia
haruskah tertuang sendiri ke dalam puisi?
di mana di dinding pelapiasan yang lain?
yang kini jadi benih-benih rindu
dalam kesemestaannya rasa yang agung
sebagai pengakuan
betapa takutnya untuk sendiri
*
jangan cari pengertiannya
jika memang itu dapat dibentuk
jika memang sedia berikan jalan buatnya
ia akan mengalir sebening embun
tinggal bagimana
untuk berterus terang pada diri sendiri
*
“black of probabilities
in all of mistery”
sendiri pandangi telanjang tubuh
di terawang langit-langit
ada noktah-noktah biru pucat
di bekas air mata
dukaku telah menangis
di laju langkah terseret jatuh
dan bangun lagi
sebagai roba yang terikat di tungkai kaki
tiba di garis perbatasan
akan terjawab semua tugas yang belum usai
*
kutulis apa yang tak ingin kusebut
sebagai puisi ini, karena kutahu
bahwa mungkin tak bisa denganmu
kurasakan untuk bersama
*
pada siapa duka dapat berbagi
kalau canda tak dapat tawarkan tawa
kalau garis takdir memang tak dapat dielak
pada siapa duka dapat dibagi
kalau tawa hanya tawarkan hampa
kalau masing-masing tak ingin terus terang
tentang kedukaannya
*
terpujilah keagungan cinta
yang ditebarkan Tuhan lewat firman-Nya
namun siapakah yang akan menuai
jika ia hinggap begitu tinggi
dan tergantung di bintang
tak ada sayap
buat antarkan ke sana
tak ada angin
buat hempaskan ia ke sini
maka terlukislah dalam angan
cinta ternyata
kelip api di kejauhan
di bentang jarak yang panjang
antara kedinginan
yang lamur menatap
namun sangat ingin menggapai
*
sejenak kubuka catatan harian
hari apa ini?
(rabu dia menjawab)
seperti tanpa ingin tahu
hari ini
adalah hari aku jatuh cinta padanya
pada goresan tinta
yang dirujukkan pada hatiku
dengan kecemburuan
tertanam menyerta tak percaya jadi rasa
dengan keinginan
tertuang menyerta tak mungkin akankah jadi pasti
kutelusuri sebaris kata-kata
yang kuberikan garis bawah
dan semoga aku tak berbohong
maka kugapailah bulan
kusandarkan ke dinding
biar kudekap
biar kukecup
ia pun mengalir sebening embun
tidakkah?
mengapa hujatan kuberikan pada diri ini
dia tertinggal di puncak mega berarak
dan singgah di genangan air
sebelum bersijingkat
itu adalah bayangan bulan tapi bukan bulan
*
bulan yang hilang kuketuk pintu malam
biar pun enggan
aku telah dipenuhi ingin
mencari sebentuk cerita
hilang dalam mimpi yang terlupa
direnggut keterasingan yang jadi rasa
padahal
biarku berteman dalam lelap yang ogah
menunggu benih subuh berkecambah
sambil bersandar di embun yang turun
tapi tak lagi mengalir
adalah jendela timbangan batas waktu,
engkau malam
aku berdiri menatap bintang jatuh
dari ufuk purbakala yang senja
mengusung aubade
jadikan serenata berita kelahiranku
malam, oh malam
ruang yang kosong
apa yang harus kuisikan
jika matahari datang mengganti
kuketuk pintumu
jika luka selalu mengantarkan padamu
*
inilah catatanku
kusimpan sebagai prasasti tawa yang gagal
:
“kau biarkan air itu membeku
di teriknya matahari
dikala arusnya ingin mengalir
mengalir ke lembah yang menyejukkan”1
*
inilah ia mengalir
ke kamar bilik sepi pengap
lentera yang padam luluh di prahara
bersama nyanyian duka bocah yang lapar
bersama genderang perang atas nama damai
di neraca keadilan tak lagi imbang
aku hidup di kamar itu
di emperan malam kamar tanpa dinding
di atas koran tentang kemunafikan
kusimak hanya jadi gelisah
dan ingin kubagi
karena duka semesta adalah aku
dan pada siapa dapat terbagi?
*
kutulis apa yang tak ingin kusebut
sebagai puisi ini, karena kutahu
bahwa mungkin tak bisa denganmu
kurasakan untuk bersama
*
inilah lentera yang kunyalakan
hanya jadi tegaskan waktu
semakin mempercepat kelam
dalam bayangan masa depan di kertas buram
maka
pipit dan kepodang bernyanyilah
tabahkan hausmu
karena nurani yang kemarau
sabarkan dirimu
karena pohon rebah di pertiwi yang luka
kita bersatu
dalam dunia yang bundar
bersegi banyak dan terlalu pintar
bagi satu kebodohan
yang dikhianati keagungan
yang jadi sekedar angan dalam tiap puisi
jauh
begitu jauh
untuk kuraih menggapainya
*
menggapaimu adalah menggapai bulan
walau terampas hanya bayangan
dapatkah jadi tempat untuk berbagi?
*
oh, cinta yang agung
berikan jalan yang lempang
pada semua kecemburuan mereka
pada semua keinginan mereka
berikan cerita
tentang kepodang terbang sepasang
memahat cakrawala jadi ukiran kasmaran
jangan biarkan aku sendiri
menuangkanya dalam puisi
berikan dinding pelapiasan yang lain
sebagai benih-benih rindu
dalam kesemestaan yang agung
*
haruskah tengadahkan tangan
meminta padamu
jika yang kubawa adalah seorang perempuan tua
buta dituntun gadis kecil
yang merah matanya
terusir satu-satu di pintu yang didatangi
atau lelaki menghela gerobak dorong
telusuri lorong-lorong yang lapar
mereka mengemis hidup
mereka wajah-wajah tabu untuk dibicarakan
di atas meja makan
mereka adalah aku
yang datang padamu
ingin lelap dalam hatimu
karena lelah dalam hatiku
bersama kesemestaan cinta yang agung
*
suara-suara terpendam dalam perjalanan
kini jadi pernyataan tentang rindu
terawang telah begitu jauh
kugandeng tiadamu
*
hari-hari dirajut jadi sehelai angan
adalah wajah-wajah
sebagai catatan kelahiran yang duka
dan perlahan bersijingkat
di atas genangan air
aku tiba di seberang ketak-pastian
adalah kau
sebagai pengakuan adanya luka
maka padamu kuingin berbagi
karena duka berkepanjangan
tak lebih
biar hadirku bukan masa depan
dan entah seberapa yang kudapat
aku tak peduli
jika memang buatku itu pasti
kutinggalkan kenangan akhir dukaku
jika memang harapku harus menguap
semoga perpisahan andai terjadi
akan tetap berasa nikmat
*
kutulis apa yang tak ingin kusebut
sebagai puisi ini, karena kutahu
bahwa mungkin tak bisa denganmu
kurasakan untuk bersama
*
inilah kabar duka citaku
sabtu 2 – senin 18 juli 1994

Puisi-Puisi Emong Soewandi

MOSAIK SEBUAH JEMBATAN KEDUKAAN

kedukaan kini mesti diseberangi
dengan berat yang mungkin tak terimbangkan
antara aku dan keinginan, serta hati yang telah
tertatih membimbing imajinasi ke puisi romantik
tentang laut dan pelangi. maka jadilah bentuk
dan garis bersinggungan tak-beraturan
tanpa pangkal
tanpa akhir
tanpa isi
tanpa tubuh
adalah kegelisahan sebagai sandi-sandi rahasia
yang memerlukan kunci pembuka diikat dengan
rantai-rantai matahari ambang fajar. namun selalu
saja lupa dimana ditaruh sebelumnya
atau, mungkin telah lolos dari kantung
untuk ingkari kesetiaan janji
tentang bertanam benih di lahan yang baik

ah, tentu butuh waktu untuk menemukannya
sementara galau telah sampai di puncak
tanpa purna-kepastian

bengkulu, oktober 2005

LALU KEMARAU DI BULAN KEEMPAT

belum ‘kan ada bunga kopi mekar, yang tegak di atas
cadas. di antara daunan yang terkulai ditampar kering
bumi. yang memang sulit tepati janji berikan mata air. maka jadilah pagi hari kita cukupkan saja dengan selembar surat kabar, dan sepotong kisah kering yang jadi dahaga.
aku, apalagi kau tak ‘kan ingin memikul gerigik* tua,
mengunjal air dari sungai yang pun telah pelit
dan miskin seperti urat-urat yang terlihat di lenganku
yang lelah meremas matahari jadi sepiring cita-cita

lalu kini hanya ada matahari.
telah terlalu banyak cita-cita.
telah terlalu banyak mimpi kita.
lalu tak ada piring kita yang cukup untuk itu

hingga kemarau berlalu di lima bulan.
peluh kita masihlah juga membandangkan mimpi.
entah yang keberapa di usia yang mulai berangan

kepahiang, 07 oktober 2006

*gerigik : alat pengangkut air tradisional rejang,
biasanya dari batangan bambu atau labu air yang
dikeringkan

RUMAH BERPILAR 5

rumah ditopang 5 tiang adalah titik-temu
di sebuah gurun tanpa lekukan dan lembah
tempat kasmaran para musafir lelah
yang singgah usai di separuh perjalanan
yang besok akan berjalan lagi lewati onak terik

pelayan-pelayan berdiri di masing-masing pilar
siap tuangkan teh manis ke gelas-gelas yang beragam
ukuran, sambil lantunkan syair-syair keniscayaan
agungkan cinta dan pesonanya dalam mabuk ke
perjalanan ribuan tahun cahaya

rehatlah di rumah berpilar 5 ini, wahai musafir
dengan penuh kecemburuan, dalam ketenangan
ombak yang mengintai dinding karang dengan sabar.
tanpa pernah ada putus asa
untuk kelak kirimkan badai

pejam dan lelaplah jagamu. simpan saja dulu kilat
matamu yang telah penuh dengan perhitungan itu

kepahiang, 17 oktober 2005

MAKA BERLABUHLAH RINDUKU

buat anakku: nayya

kudekap kau menyambut malam
bergerak lewati tiga usiamu sudah
sebagai jutaan puisi dalam antologi rindu
dan mimpi-mimpiku

maka berlabuhlah rinduku
saat matamu menikam-tuntaskan lelah

bernyanyilah, anakku
dalam komposisi tanpa nada minor
dan tanpa keriangan yang nyata
menangislah engkau, anakku
agar semesta tahu
gersang ‘lah sudah hatimu untuk kenestapaan
karena terus kau sirami
jadikan subur lahan jiwamu
dengan senyum yang memata-air

bernyanyilah, anakku
maka berlabuhlah rinduku

bengkulu, 01 nopember 2005

KETIKA TATA SURYA MULAI TERBENTUK

gugusan galaksi ada tanpa peristiwa big bang.
tapi karena gasing kulemparkan di masa kecil
dulu masih terus berpusing, pada hamparan debuan
tanah keras. jadi siklus dan mewaktu sebelum sejarah
dimulai, lalu menuju sebuah lubang hitam, yang
mengisap puisi-puisi kita ke dimensi rahim cinta dan
fana. lahirkan jajaran planet dan bumi-muda,
yang lalu dicabik-cabik elang.
dan menyebarkannya di angkasa.
jadi aku dan kau

tapi kenapa kau coba ganggu pohon pertama
di ladang?

awas, dilarang mati!
ingat, bumi takkan pernah mapan gravitasinya
paradoksal tak pernah temukan pasangannya
namun, jangan keburu menuju gerbang hidup!
andai tak ingin punah seperti kekasih kita yang purba.
hilang entah di mana
ketika tata surya mulai dibentuk

kepahiang, nopember 2005

TAK MERAH SENJA DI MUSIM HUJAN INI

tak merah senja di musim hujan ini
punggung bukit dijala mendung yang sepi
sedang matahari tanpa jawaban lagi
masihkah tergantung di ilalang para punai
atau telah tiba di lain belahan bumi
tapi yang pasti semakin jauhlah buat kita tunaikan janji
bahwa hujan tak akan pernah jadi jeruji
untuk bertemu dan bernyanyi
di sini, di bangkai petang yang tertambat di tepi langit

tak merah senja di musim hujan ini,
bahkan kelam telah datang
walau belum waktunya sampai
sia-sia romantisme matahari terbenam untuk dinanti

lihat,
suit-suit angin mulai menyapu suasana kita
dengan dingin dan hampa
lalu menggelar gulungan gerimis di hamparan lembab
dan menulis cerita bahwa semua telah usai
tak akan datang lagi seperti waktu lalu

pasti

nah, kembangkanlah payung
kemudian pulang

kini
kau harus percaya
tak merah senja di musim hujan ini

kepahiang, 07 nopember 2005

KINI KAU MASIH TETAP TAK DI SINI

pergilah
pergilah terbang burung-burung semusim
sampaikan salamku kepada matahari
di mana saja bertemu, lalu katakan:
“aku – penyair yang dulu sepi dan mati,
kini tak akan lagi tunduk pada pagi”

kini, di pintu pagar yang terkunci aku coba ulangi lagu
kita lagi, walau aku masih ingat tak sekalipun
pernah mau kau nyanyikannya dulu.
entah ‘kan siapa tahu, kau telah berubah
dan berkenan jadi pesan-pesan pasti.
karena aku sangat mengerti kalau kau pernah
berkata, bahwa kau adalah serpihan benih yang
berputar-balik dalam omong kosong evolusi lalu
saatnya kelak harus punya kepastian.
itu katamu. dulu

tapi entah ‘kan
siapa tahu

kepahiang, 12 nopember 2005

PASTI ADA KEPASTIAN

barisan pohon pinus menggagalkan aku untuk
menatap langit.
padahal aku harus menembusnya, karena panggilan
rindu yang bisa saja menghempaskanku seperti talas
yang diikat tiga-tiga tak berdaya.
lihat, daunannya menusuk-nusuk tirai pertahanan dari
segala sepi, lalu robek,
untuk menayangkan gambaran
di seberang benak kanan kita yang menyimpan
sembilu, ranting, alamat
dan nomor telepon kawan-kawan
serta cerita pendek tentang akrobat pramugari
peragakan cara hindari mati

belum, belum aku ‘kan pulang esok.
puisi yang kau pesan belum pula kutemukan
jadi?
ya,
jadi kau masih harus teruskan sabarmu
sampai pasti aku tiba di keengganan
bahwa aku benar-benar tak akan pulang

bogor, 23 november 2005

PENYELESAIAN

kau akan kubawa serta
tapi ingat!
kau
tak
boleh
ikut

jakarta, 27 november 2005

CERMINMU

sebuah cermin tak mampu lagi menangkap
bayang ketika berbincang dengan waktu,
yang tak akan pernah berikan batas pasti
antara masa lalu, hari ini dan masa depan.
semua jadi tiba-tiba.
semua bahkan jadi tak terasakan. tak beralasan
jadi!

bukankah telah dilakoni begitu lama pura-pura ini?
ataukah memang kita tak pernah beranjak dari
prasejarahnya, untuk terus hidup di zaman membatu
yang hanya dapat mengumpulkan dedaunan.
tanpa mampu bertanam.
tanpa mau menyusun rencana peralihan.
dan beranjak dari persembunyian yang panjang

bengkulu, 07 mei 2006

SUATU MALAM DI TAMAN BUNGAMU

well, tak ada yang menitipkan gelap pada daun,
karena sekarang menjumput awan t’lah begitu mudah.
pukul jatuh saja dengan galah bersembilu.
tapi ingat, aku tak mau kau berdiri di atas bahuku.
lalu, tangkap dengan keranjang seorang peri yang
berkhianat. yang hancurkan keinginan mawar untuk
mekar. taruhlah di dalam pot dan beri air,
maka tak lama kita bisa memetik sepi.
sedangkan daun bukan lagi milikmu.
atau bukan hanya milikmu lagi.
seribu ulat berjalan melengkung akan menjadikannya
selimut, untuk siap jadi kepompong,
untuk mungkin ‘kan lahiri bayi peri lagi.
tapi, yang tak mungkin ‘kan lanjuti inginnya kita lagi,
mengarang kemulukan jadi lagu yang sederhana.

oh, taman bunga macam apa ini?

ah, ah, jangan menitipkan gelap pada daun!
please, daun yang tersisa,
kupakai jadi alas mimpiku malam ini!
dan besok akan kupersembahkan padamu
tapi, barangkali juga bukan padamu
bukan padamu

kepahiang, 19 juli 2006

KEMUDIAN LEMBAYUNG PUN JADI BIRU

napas malam yang lukiskan lembayung telah jadi
birunya cintamu.
menggelegakkan sungai-sungai mendidih ke muara
dan melombakan seribu kasmaran berlari menuju
puncak, untuk menangkap kemenangan di lelah yang
tergantung di pinggang matahari.
tapi tetap waktu sempatkan untuk berteduh
lalu bertanam bunga yang akan selalu melayu
karena memang tak kita bolehkan buat mekarkarena memang kita hanya ingin bertanam
karena memang kita panen tak pernah ingin

menarilah,
lukisan lembayung telah jadi birunya cintamu,
hingga kita mereguk fajar untuk lalui jurang pagi.
ketika tiba usai pulang kelana

lembayung telah jadi biru
hingga fajar ketika kita pulang kelana

lembayung jadi biru
ketika kita pulang kelana

kepahiang, 24 september 2006

PEREMPUAN YANG MENCARI MALAM

perempuan itu kembali mencari malam
yang telah disembunyikan seorang lelaki pada
sebuah pohon, yang direbahkan badai nantinya.
dalam rimba tanpa angkasa buat lekatkan bintang,
hanya menampal pada jeritan akhir matahari.
pohon itu bersama sarang-sarang pipit kemudian mati
dan membusuk jadi kasut cerita baru di setiap lembar
humusnya. ratusan tahun yang lalu, bahkan ribuan tahun yang lalu.
pun malam yang lalu hilang

ia ingat.
dan ia sangat ingat.
malam t’lah menyimpan catatannya, tentang rindu,
nyanyian, puisi, kunci pintu rumah yang tertutup,
rumput-rumputan kering, dunia muram yang abstrak,
sisir, sapu tangan dan pemerah bibir,
serta seloki racun sepi yang merah jambu
untuk selesaikan hidup
dan akhiri pencariannya yang panjang

ia
pun
mati

kepahiang, 28 september 2006

MASIH MERAH DARAH

itu putih dinding, kanvas bercak darah seekor nyamuk.
tadi telah dipisahkan jiwa dan raganya dengan
sebuah buku puisi yang tebal.
aku telah begitu terganggu dengan dengingnya yang
menyakitkan hati. sementara kita habiskan banyak
waktu menata keheningan untuk perenungan.
itu darahnya yang memancar dari semua nadi
kini menyergap siang jadikan jalan, daunan
dan bunga bergelimang merah tua.
bahkan lalu membasahi puisi-puisi.
kata demi kata, bait demi bait.
sebelum diriku pun terkulai dalam lautan darah para
penyair yang telah gagal menggapai benua imajinasi.
mereka memang berhak terkubur,
dengan tenang di pusara putih.
kini jadi dinding,
tempat seekor nyamuk gagal elakkan kematiannya.
di bawah serpihan buku yang menghimpun huruf,
tanda baca dan kata;
bangkai sebuah puisi yang telah bunuh diri,
dengan menikamkan pena yang tumpul pada
jantungnya sendiri

kepahiang, 17 oktober 2006

JALAN

sebagai peta yang ditera, untuk arungi lautan suasana
garis tangan selalu ada persimpangan.
walau tanpa ada petunjuk kepastian arah.
maka langkah akan menuju sukanya membawa
paradoksal kehendak, tanpa waktu yang diberikan
untuk mengheningkan cipta.
memilih antara lima jari,
yang dapat mengayunkan tarian atau berubah
jadi kepalan lunglai untuk menggenggam

kepahiang, 19 oktober 2006

KETIKA PERJALANAN MEMANG HARUS DIUJUNGKAN
(surat untuk seorang penyair)

karang kini membisu tak suarakan gaung.
padahal nyanyi telah sepi lewati panjang tempuhan,
tanpa perhentian antara musim menukarkan kemarau
jadi berita tentang benih menggeliat.
hanya angin mengayun bersuit menahan jatuh sehelai
daun yang telah lama melayang dari masa lalu.
dia melukisi langit dengan garisan panjang, kemudian
tenggelam di ufuk cakrawala

lalu kemana lagu-lagumu tentang kepastian terbentur
agar kutangkap, walau jadi gema.
walau terserak, seperti rasi lampu-lampu malam
yang menggambarkan janji

aku terus menunggunya di bibir ngarai yang puas
menjarakkan keinginan ini. sementara penantian
melarangku untuk lelah di tepi karang ini.
dan di seberangnya kau berdiri

tinggallah aku, dengan kerinduan yang menutupi
persimpangan temuimu.
dan tidak akan pernah kuserahkan waktu pada dia.
biar malam datang, walau siang pun pergi.
biar diam tiba, walau suara pun berangkat.
tempuhan ini telah begitu panjang
kita lewati dengan nyanyi yang kini jadi sepi

karang itu selalu membisu
tak pernah lagi suarakan gaungmu

kepahiang, 23 november 2006

KEPAHIANG RENAH NAN LASAK

musi mengiris deras jadi luka di bawah petak-
petak lada. dan bukankah harus ada jembatan
antara kita. agar bertemu pada renah yang
menggeliat bangun, dari duduk yang bosan
waktu mengail di airmu.
saatnya kemudian menangguk asmara yang ratusan
tahun lalu telah dikawal gunung kelam dengan tiga
pintu mata air terjun.
kau tak boleh diam, jika berang adalah pilihan
buat hancurkan mimpi tak berbingkai.
lasaklah darahmu
memekat di langkah orang-orangmu.
lasak langkahmu
menerbang tari geloranya kencang.
telah kita miliki segalanya, bukan?
sungai yang tak pernah menangiskan
dan tanah yang tumbuhkan tawa
semaikan tatanan yang jangkaukan
ingin dan angan kita.
kotaku, kepahiang, rindu harum kembang kopi
lalu hancur batu gundah
kotaku, kepahiang, cinta tiap lalang yang subur
lalu hancur batu gundah
kotaku, kepahiang, kasih dibentang angkuh bukit barisan
lalu hancur batu gundah
lalu pecah karang bimbang

dan aku akan sangat berang, jika kau diam

kepahiang, 13 desember 2006

KEPADA ORANG-ORANG YANG MERENUNG LALU MENARUH HARAPNYA PADA MIMPI

orang-orang kalah.
tersisi dari gempuran ombak yang mempias-piaskan
cahaya bulan. kota-kota memperpendek malam.
matahari mereka yang dulu setia telah terikat di
tengah jalan yang selalu sibuk. peradaban ribut
telah memerangi lelap-tidur hingga gugur. mimpi
lalu mati, mimpi terserak.
seperti kembang dihancurkan kumbang lalu terkubur
di waktu.
padahal mimpi adalah tempat terakhir untuk bercinta
maka di kotaku tak ada saat lagi untuk mencipta puisi,
kala sudah membunuh segala sepi dengan terang
dan suara. hening jadi puing kenangan yang
kemudian dimonumenkan
tapi bukan sebagai pahlawan
hanya pecundang yang terelakkan dalam semua
kesempatan cerita

mari
lantaran luka jadi bersama
kita yang tersisa melangkah menuju hutan
sebelum senja. kita cari telaga yang dulu selalu
dikabarkan berpagar bunga bakung.
bawa sisa keinginan untuk menang atas nama
pencarian yang panjang. lalu bergegas membangun
gubuk perlindungan dari jurang dan lelah.
lalu tidur dan merebut lelap. agar mimpi tak lari lagi
yang masih sedikit tersedia di lembar-lembar daun

kepahiang, 15 desember 2006

PELAYAR YANG MEMBENCI PELABUHAN
(buat seorang yang menolak kubur karena tak ingin mati)

berlayarlah, berlayarlah
tinggalkan pulau anjing-anjing waktu
telah kukemaskan rindu untuk kau santap
kalau gelombang yang menangisi teka-teki
memukul dinding perahumu

jangan temui pantai yang membenci kenangan!
jangan singgahi dia yang tawarkan masa depan!

bukankah kita sepakat:
“tak ada persimpangan di lautan?”

kepahiang, 27 desember 2006

Padang Gerimis Burung-Burung

di padang gerimis
pecahan kabut kian tipis
di selak angkasa
gumpalan gabak kian sempurna

di mataku
burung-burung berkawin dengan angin
menuju semesta penuh tanda

dengan paruh kuncup
dan bianglala yang susup
ditelannya sebuah pesan
tentang hutan dan udara perawan

tahun pun seiring bulan tua
seperti lingkar buta
yang terpanah cahaya

ia pun berumah, di ujung tahun
dalam mimpi yang terbangun
memungut rumput di padang keriput
menanam isyarat saat musim berangkat

rumah itu,
dalam wujud daun berajut
tempat ia dan sepi berpaut
menghadiahi sepasang kepak baru:
sepasang rindu masa lalu

hingga, pelan-pelan
sebentang ingatan
menggerus tubuhnya,
sebentuk tanda di balik gebuk awan,
tempat ia menajamkan mata
mencurigai segala

juga kerisauan yang
terhampar serupa padang
ketika ia dilepas dalam lengang

tapi, tentang pulang
ia hanya kenal setumpuk maksud yang jauh
yang tanggal di tiap bulunya yang janggal

mengenai sebuah kembara
ke tahun yang samar, tempat hidup
dituang lebih pijar
membuatnya sadar sebab kelompok terpencar:
kawanan lama
yang melepas sebentuk tanda
kegaiban

lalu, hari itu
dalam bilik cuaca,
dalam sekat tanpa rongga
antara celah persentuhan api dan bara
berangkatlah ia,
menuju apa yang dimaksud
sebagai raga

sebab sekian sakit berlepasan,
telah berjumput hening bertikaman,
seakan angin pada gerimis
yang datang bagai berlupa

mengeja duga, juga tiada

gerimis pun lerai
dan langit pecah rampai

mulailah ia meneruka padang
menghadapi perburuan yang usang

seteguk kabut, musim bertumbuh gaduh

ketika samar-samar
gerusan kuku langit itu memudar
ada geliat terlempar,
benda bulat padat dan bergetar

dan terbesit kisah perjumpaan
dari pertanda yang luka
dikenalinya diri,
rajut-rajut usia

maka, kepak itu
yang disisipkan pada seciap malu
membentang serupa dulu
serupa perkawinan angin dan tubuhnya
menuju cakrawala penuh terka

musim meregang
cahaya merah memanjang
membatas tepi langit petang

telah ditembusnya
segala yang berhembus
telah ditelanya
segala yang sesat dan tiba-tiba

dari hening ia berpaling,
dari satu dahan ke lain ranting

sayup-sayup
menelan senja yang mulai keping
dan angin padang sehabis ditumpul gerimis
sebilah cahaya menghunus:
sisik air yang mengakar
dan sekejap kering
memerah saga

menggelinjangi urat
geletarkan hasrat,
menghela diri menuju lipatan angkasa

angin bertiup ringan
menyapu ujung petang
melempar sebekas tanda
serupa bulu di awang-awang

burung itu, yang lepas
dari sekawanan penempuh hujan
yang bertahun kupungut
saat siang habis dipukul gerimis
apakah ia telah terbang,
meninggalkan untai daun
yang kurajutkan di tubuhmu sebagai sarang?

mungkin saat ini ia telah dewasa

sebab di tubuhku:
tubuh padang yang terus mengunyah sepi
menyisakan ia dalam sebatuk angin
bau cakar dan sayap mimpi

Kandangpadati, 2007

Tebaran Mega

stayz8.jpgKumpulan sajak ini ditulis oleh Sutan Takdir Alisjahbana dalam masa dua tahun : 1935-1936. Bisa dikatakan pada kurun itu, ia berada dalam suasana berkabung, karena wafatnya istri tercinta. Namun sikap optimisnya, nalarnya yang luas, mampu menghapus pilu, menghalau duka yang melandanya. Sutan Takdir Alisjahbana yang akrab dengan panggilan STA merupakan penyair angkatan pujangga baru. Beliau lahir di Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908 dan tutup usia di Jakarta, 17 Juli 1994.

Tebaran Mega
Sutan Takdir Alisjahbana
Penerbit Dian Rakyat – Jakarta
Cetakan I, 1935
47 Halaman

Beberapa puisi dari Antologi Puisi “Tebaran Mega”

I. Kepada Anakku

Tiada tahukah engkau sayang,
Bunda pergi melawat negeri,
Belum seorang pulang kembali,
Ninggalkan kita sepi berempat?

Mengapa engkau gelak selalu,
Mengapa brgurau tiada ingat?
Pada muka tiada berkesan,
Pada bicara tiada bergetar.

Tiada tahukah engkau sayang,
Tiada insaf tiada ‘ngerti
Bunda pergi tiada kembali?

Mengapa bicara sebijak itu,
mengapa tertawa gelak selalu?
Air mata pilu kutelan.

23 April 1935

II. Kepada Anakku

Aku meninjau kembang sepatu,
Larat berkembang di seberang jalan.
Bersorai-sorai kesuma memerah,
Dalam girang silau kemilau.

Daun kering gugur ke bawah,
Bunga kerisut menutup kuncup.
Siapakah yang melihat,
Siapakah yang teringat?

Sebab alam ialah hidup:
Bertempik sorak muda remaja,
Berseri bersinar tunas baru,
Sedihlah menyepi selara yang jatuh.

24 April 1935

Bertemu

Aku berdiri di tepi makam.
Suria pagi menyinari tanah,
merah muda terpandang di mata
Jiwaku mesra tunduk ke bawah
Dalam hasrat bertemu muka,
Melimpah mengalir kandungan rasa.

Dalam kami berhadap-hadapan
menembus tanah yang tebal
Kuangkat muka melihat sekitar:
Kuburan berjajar beratus-ratus,
Tanah memerah, rumput merimbun,
Pualam berjanji, kayu berlumut.

Sebagai kilat ‘nyinar di kalbu:
Sebanyak it curahan duka,
Sesering itu pilu menyayat,
Air mata cucur ke bumi.
Wahai adik, berbaju putih
Dalam tanah bukan sendiri!

Dan meniaraplah jiwaku papa
Di kaki Chalik yang esa:
Di depanMu dukaku duka dunia,
Sedih kalbukuku sedih semesta.
Beta hanya duli di udara
Hanyut mengikut dalam pawana.

Sejuk embun turun ke jiwa
Dan di mata menerang sinar.

26 April 1935

Tiada Tertahan

Tanah dipijak serasa air,
Dahan dipegang menjadi awang,
Pandangan ke depan megabut tebal,
Menoleh belakang gulita semata

Terbang diri ditiup angin,
Tiada berarah tiada tertuju,
Terhempas ke bumi tertepuk ke batu,
Kejam didera ganas disiksa.

Ya Allah, ya Tuhanku,
Benamkan beta ke laut dalam,
Bakar beta di api nyala.

Sangsi begini tidak tertanggung:
Di laut tidak di darat tidak,
Segala penjuru kabut mengepung.

Awan Berkuak

Duduk beta merenung awan,
Bercerai menipis di langit biru.
Sayu sendu alun di kalbu,
Menurut mega berkuak menjauh

Wahai Chalik, mengapa kejam
Seganas ini hidup di dunia?
Mengapa gerang dicerai pisah
Segala yang asik bercinta?

Menangislah jiwa tersedu-sedu.

Mengalirlah air mata berduyun-duyun.

Dalam jiwa sedang meratap,
Dalam sukma pilu mengeluh,
Menyerbu sinar ke dalam kabut,
Menjelma kembali awan menjauh.

Beta melihat kilau bergurau,
Beta menyambut suria bersinar.
Segar gembira sukma menggetar
Menunda melanda pergi berjuang.

14 Mei 1935

Sajak Arif Rizki

PELABUHAN

hari ini matahari terlambat bangun tidur, katamu
dan keabadian sajak telah kau pahat dalam ranjang-ranjang
yang mengekang lenguh-lenguh perawan
kalender-kalender telah botak. bila kau bosan mengangkat panggilan dari kesunyian,
di hatiku ada cermin retak. masuklah. angin terlalu kencang untuk berjalan
akan kita nyalakan tungku-tungku yang patahkan waktu setelah kau jemu pecahkan tampuk rindu
dinding-dinding yang sabar. kertas-kertas yang lapar.
adalah pelabuhan yang menampar tahun-tahun penantian para penggali sumur air mata
yang jenuh berkeluh kesah. catatlah! catatlah!
kegelisahanpun menahun
lahirkan tinta-tinta yang racun

padang, desember 2007

SAKIT RUMAH

ternyata masih kudengar sedu mu ketika ku tertatih menjerang kantuk.
hai. di suatu pagi, pernah pula ku dengar sedu yang sama
diantara kardus yang bisu, dan diantara selimut berbulu
menyerapahi gegedung yang menggunung
negri ini terlanjur konyol,
tempat disenandungkan sumpahsumpah yang klise
jadi kita tak perlu lagi memakai wajah ini mulai besok pagi
karena di bilangan pasirpasir, wajahwajah dapat digantiganti setiap hari
air mata tak lagi setajam pedang, dan kau tahu itu!
maka ini terlalu parak siang untuk mengelap peti kematian meski peradaban bukan lagi kawan sepermainan
aku tahu. kita serupa pencatat musim-musim yang singgah
dan di tepian pelabuhan kita terlanjur sakit rumah.

padang, desember 2007

BACALAH RAMBU

setiap pedang yang kau titip dalam hujan air liur. mengantar jabat tangan
yang sangat ku hafal dalam semata angin. lalu ribuan bertenggang pun ku habiskan membaca jejak
perjalanan yang kuraba dengan suluh redup.
kala ku tiba membawa kaba yang tak sudah. kau masih saja buta akan aksara pengembaraan. Oh, bukankah aku pernah mencabut sebatang rambu-rambu yang bertulis rindu dan memampang nya di depan pintu mu
yang tiap ku ketuk semakin ku terkutuk

jam dinding masih berlari, mandan.
mengerjaiku dengan bisik laut yang tak tentu masa yang dulu teringkari.
mungkin aku akan pulang pada dermaga yang kau bangun dari sisa kayu pagar itu suatu nanti.
ku harap kau tak lagi membaca terbalik rambu-rambu itu

padang, desember 2007

HALTE

Disini kita tak saling menemu diri. Sebab tak ada yang mesti dipertemukan
Diantara kepergian dan kepulangan.
Kau yang merajut payung; bilamana hatimu hujan saja tak peduli musim
Dan akulah yang selalu menolak pemberianmu
“bawalah, mendung sudah memberat.”
Aku tak perlu akannya. Bahagialah aku pada kekuyupanku

Seseorang telah membangun halte ini. tapi tiada yang menemu diri
Karena tak ada yang patut dipertemukan
Antara kepergian dan kepulangan

Padang, desember 2007

Ketika Sastra dan Budaya Luhur Terpinggirkan

Suatu saat, suatu saat, dan suatu saat lagi saya dihantui oleh kecemasan. Kecemasan saya itu bukan tanpa alasan.Hampir tiap hari saya menyaksikan kenyataan bahwa kehidupan semakin dikuasai oleh pertimbangan-pertimbangan yang mendudukkan uang di singgasana kekaisaran. Uang jadi raja segala-galanya.

Pertimbangan-pertimbangan serba uang telah mempengaruhi pola pikir dan pola rasa manusia. Manusia yang pada mulanya berperikemanusiaan berubah menjadi berperikeuangan. Manusia yang semula bermata nurani berubah menjadi bermata uang. Pikir dan rasa yang ada dalam diri manusia yang semula merupakan satu sinergi harmonis, kini keduanya menjadi musuh bebuyutan dalam perang terbuka.

Dulu ketika bapak saya sering nembang atau “ura-ura” yang tembangnya dicuplik dari pustaka luhur karya para pujangga, kangmas dan mbakyu saya pun sering menjelaskan ulang bahwa tembang-tembang itu berisi ajaran luhur untuk selalu menjalin rasa kemanusiaan yang selalu didasari oleh rasa keilahian. Tembang itu adalah juga puisi kehidupan yang menjunjung tinggi martabat dan derajat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Waktu itu saya belum mudeng. Ajaran itu merupakan bagian dari sastra dan sekaligus sebagai budaya luhur nenek moyang bangsa ini.

Ibu saya pun dulu sering mendongengi saya dengan dongeng-dongeng yang waktu itu selalu membuat saya membayangkan hidup di dunia yang aman dan damai. Setelah mendongeng, ibu saya selalu berpesan tentang budi pekerti luhur, tata krama, tepa selira, gotong royong, aja adigang-adigung-adiguna, melu andarbeni, ngundhuh wohing pakarti, dan pesan-pesan luhur lainnya. Intinya pesan-pesan itu adalah berbagai norma atau ajaran luhur yang penerapannya menghasilkan sebuah bentuk kehidupan bermasyarakat atau berkeluarga yang bahagia, damai, aman, sejahtera lahir dan batin berlandaskan agama.

Pada zaman sekarang terlalu jarang saya dapati seorang bapak nembang atau “ura-ura” ataupun seorang ibu mendongeng untuk anak-anaknya. Seorang bapak atau seorang ibu pada zaman sekarang banyak yang terlalu disibukkan oleh upaya mencari uang atau tambahan uang untuk mempertahankan hidup atau untuk meningkatkan taraf hidup secara material. Mereka (yang begitu tadi) sama sekali tidak paham akan makna yang mendalam dari sastra tembang dan sastra dongeng bagi pembangungan kehidupan yang aman, damai, dan sejahtera lahir batin. Mereka lupa bahwa kehidupan ini perlu dibangun dengan lanskap-lanskap puisi nurani.

Lebih tragis lagi ketika mereka sering “ngoprak-oprak” anak-anaknya untuk berbuat baik, sementara mereka sendiri sering melupakan petuah-petuah luhur dari orang tua mereka dan kehidupan mereka terbelenggu oleh pertimbangan-pertimbangan material keuangan. Sedangkan anak-anak sangat jarang melihat keteladanan dari para pendahulu (orang tua) mereka. Akibatnya sangat tragis, anak-anak menjadi cuek, masa bodoh, tidak peduli terhadap keteladanan dan keluhuran. Kepedulian terhadap nasib orang lainpun semakin tipis. Egoisme semakin merajai. Sikap dan tingkah laku “sak penak udele dhewe” semakin mencengkeram jiwa anak-anak. Bahkan sikap perusuh dan perusak telah demikian menguasai.

Dengan demikian, budaya berbudi pekerti luhur dan bertata krama baik yang seharusnya terwariskan turun-temurun, mengalami keterpenggalan di tengah jalan. Budaya budi pekerti luhur dan tata krama baik menjadi hal yang langka. Saya berpendapat bahwa hal itu terjadi karena sastra dan budaya luhur terpinggirkan dari sistem kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Sudah saatnya kini, semuanya kembali menyentuh sastra dan budaya luhur warisan para leluhur pendahulu kita. Sudah saatnya kini, semuanya kembali ke puisi kehidupan yang begitu lekat dengan kebeningan embun nurani. Semoga berhasil dan kehidupan di bumi ini semakin baik, aman, damai, sejahtera lahir dan batin. Amin.

(Ustadji Pantja Wibiarsa, Ketua Sanggar Kalimasada Kutoarjo, sebuah sanggar kepenulisan sastra di Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah)

Sajak-sajak Rio SY

DI TELAGA LABUHAN

;senasib puisi

ketika telaga basah, kembang diundang
untuk membelukar dalam muatan yang ia kenali
sebagai sepi. juga lumut yang bertabir di sesisa kenangan

mereka senasib puisi
mereka senasib mimpi

yang basah, meski tak bermuara menakar dermaga
nafas mereka menumpuk dan beranak pada riak
memanggil sepotong nama yang belum terjumpa

terlalu dibukanya tahuntahun ngiang
meraut kepulan yang mulai menyuruk

serupa puisi yang tiada ditinta

;biduk hanyut

ada yang menyerupai biduk bertolak dari seberang
samar. tapi unggun. melingkari gugusan senja
yang tak kunjung terbenam. maka benarlah
arah arus membusuk dan terurai menjadi
serat yang merawat ikanikan
dan biduk masih mencari labuhan yang sempat hanyut
oleh puisi. pun air menghanyutkannya

seumpama layar membuka-menutup

;sebilah dayung

telaga hampir reda, irama alir makin bening
betapa pun beningnya, ikanikan terhantuk bebatuan
sebab mereka buta arus surut yang mengerut
ke dalam puisi, dan mereka lupa membuat perahu kertas
guna bersurat merintang labuhan hanyut

lalu kubayangkan mereka adalah sebilah dayung
mengapung menyimpan senja di tangkainya

umpama hujan yang tak reda

(2007)

SYAIR SUNGAILIKU

Daun Sirih mula kabar dibuka dituturkan
permulaan sajak jalan kepada tolan di kampung Sungailiku
lama berjalan bersama tahun dan zaman tanpa karangan surat pengganti badan
terbuka hati tak hendak mengirim zaman, hanya sembah dari hayat perjalanan
salam sembah kebawah kaki amak akan ganjil langkah sepanjang tahun yang genap
kasih sayang itu tak hilang rupa dalam pejam atupun nyalang
tidak orang bertemu bermula dan berpisah berakhir
jika sakit, yang di sungailiku yang merasa dan aku teringat pula
di ujung akhirat itu kulihat abak menanti
di ujung lain amak mengharapkan pulang anak sibiran tulang seumpama bambu

Juni 2007

SECANGKIR KOPI UNTUK SETAN

Setan, kemarilah duduk. jangan berdiri di pintu
seingatku, aku tak pernah berhutang padamu
kau datang tentu bukan sebagai penagih hutang, bukan ?
duduklah disini
mungkin kita bisa ngobrol sebentar
adakah kau mau kopi ?
oh, kau tak minum kopi ternyata
akibat gagal ginjal beberapa waktu lalu
baiklah, mungkin kita bisa lebih saling mengenal

” aku tak pernah apa-apa dengan siapa pun !” Katamu
” aku banyak urusan yang lebih penting dari menemanimu mengopi !”
kau membanting pintu dan pergi

Juni 2007

SEORANG YANG LUPA PADA KETUKAN

daun pintu mengetuk di luar, lihatlah !

tapi tidak. biarlah ia mengetuk
serupa aku membiarkan kau mengaduk gula dalam cangkir tehku

kenapa?

tentu iya. apalagi yang dapat diketuk selain pintu yang tertutup ?
tidur, sambil memintal kisah seraya lupa
kalau perlu berjudi di urat leherku
dan tertawa pada pucuk pertemuan

ah ! cepat, buka santung pintu itu
ia mulai mengetuk di ubun-ubunku
jangan sampai ia mengetuk di dadaku

Ruang Liku, 2 Juli 2007

Kebahagiaan Hermann Hesse (renungan akhir tahun 2007)

*Sebuah Catatan Akhir Tahun SUTRISNO BUDIHARTO

Dunia memang makin hiruk pikuk. Itulah yang tercatat dalam memori saya menjelang tutup tahun 2007 dan menjelang datangnya tahun baru 2008 ini. Tengok saja lembaran berita surat kabar atau dokumen faktual lainnya: Indonesia memang makin hiruk pikuk semenjak reformasi digelindingkan 1998 lalu. Makna hiruk pikuk yang saya maksud tentu sangat beragam; ada yang postif, tapi ada juga yang negatif.

Makna hiruk pikuk yang postif dapat dilihat dari keadaan masyarakat Indonesia yang sementara ini (sejak 1998-menjelang tutup tahun 2007) tidak terkurung dalam cengkeraman penguasa represif yang suka main tangkap dan menghilangkan orang.

Makna hiruk pikuk yang negatif, masa transisi Indonesia pasca reformasi 1998 sampai kini masih belum memiliki arah yang jelas. Masyarakat memang memiliki kebebasan berorganisasi dan mengeluarkan pendapat, tapi proses reformasi dan demokratisasi yang sudah dilaksanakan belum benar-benar bisa menjamin pemenuhan hak-hak ekonomi, sosial, budaya (Ecosob) maupun hak-hak sipil dan politik (sipol). Buktinya, anggaran negara masih banyak dipakai untuk kepentingan elit, sedang pemerataan ekonomi belum merata hingga ke tingkat akar rumput. Di sisi lain, beberapa RUU yang diharapkan bisa memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat tetap masih menjadi draft yang ditarik ke kanan-kiri (seperti RUU Pelaynan Publik maupun RUU Transparansi Informasi).

Yang menyedihkan, Indonesia selalu dinobatkan dalam kelompok negara-negara yang paling korup di dunia. Hal itu diperparah dengan makin banyaknya pengangguran dan kemiskinan. Karena itu, wajar saja jika di tengah masyarakat kini banyak bingung dan bimbang. Padahal, zaman makin menuntut suatu perubahan nilai.

Rumitnya persoalan itu, kadang membuat waktu dan ruang terasa makin sempit karena orang-orang makin banyak yang kejar target dan dead-line. Celakanya, terkadang orang-orang juga jadi lupa akan dirinya sendiri, lupa akan tujuan akhir dari pentas di dunia ini. Bahkan, ada juga yang lupa dalam memaknai arti kebahagiaan dalam hidup ini sendiri.

Tapi, di tengah hiruk pikuk dunia ini, semoga saja segenap elemen bangsa ini tetap masih banyak yang mampu bersikap eling lan waspada. Untuk membangun Indinesia menjadi baik, memang masih perjuang ekstra keras karena masih banyak memerlukan penataan lembaga di tingkat pemerintahan dan politik, penataan hukum maupun pembaharuan budaya masyarakatnya. Dan untuk melakukan perubahan menjadi baik itu, tentunya Indonseia memerlukan orang-orang yang eling lan waspada, yakni orang yang berani tidak keliru dalam memaknai suatu ujian baik dan buruk. Paling tidak, ujian dalam memaknai kebahagiaan seperti yang dipaparkan penyair Jerman — Hermann Hesse (2 Juli 1877 – 9 Agustus 1962) — dalam puisi di bawah ini:

Selama engkau mengejar kebahagiaan/
engkau belum matang untuk berbahagia/
biarpun milikmu segala kesayangan.//

Selama engkau ngeluh karena ada yang hilang/
dan punya tujuan serta tiada tenang,/
kau belum tahu apa arti kedamaian.//

Baru setelah engkau lepaskan segala keinginan/
tak kenal lagi hasrat dan tujuan/
tak lagi nyebut nama kebahagiaan/
maka banjir segala kejadian tak lagi nyentuh hatimu/
dan jiwamu akan tenang.

Kutipan puisi itu barangkali bisa menjadi pengantar untuk berkontemplasi di tengah realitas dunia yang semakin padat dengan persoalan ini. Diakui atau tidak, kebahagian memang sangat beragam takarannya dan relatif nilainya. Ukuran kebahagian seorang petani desa misalnya, tentu sangat lain dengan ukuran kebahagiaan seorang diplomat yang sering terbang ke berbagai negara. Dengan kata lain, seorang petani desa yang miskin belum tentu tidak bisa bahagia. Sebaliknya, seorang diplomat yang kaya raya belum tentu tidak akan pernah menemukan kesedihan atau ketidakbahagiaan. Pendek kata, setiap pribadi memiliki kemampuan yang berbeda dalam menerjemahkan kebahagian dan ketidakbahagiaannya.

Lantas, kalau kita sudah bisa meraih kebahagiaan atau kesenangan yang diinginkan, masih ada pertanyaan lagi; Apa yang bisa kita dapat dari kebahagiaan itu sendiri? Kadang-kadang saya malah tidak tahu apa yang saya dapat dari kebahagiaan yang pernah saya rasakan sendiri. Tapi kadang, saya malah mendapatkan sesuatu yang berharga dari sebuah kesedihan yang pernah menyergapkan batin.

Akhirnya, semoga saja para politisi, birokrat, akademisi, aktivis LSM, maupun pengusahanya, makin tercerahkan dan mampu memaknai kebahagiannya seperti ini puisi karya Hermann Hesse di atas.

Demikian saja, dan selamat menyongsong tahun baru 2008.

dari SUTRISNO BUDIHARTO (pecinta seni, yang juga pegiat COMMITMENT for Democratic Governance and Social Justice)

Sepucuk Pesan Ungu

pesanungukecilea2.jpgSepucuk Pesan Ungu adalah rindu yang mendayu-dayu lelaki pada kekasihnya.Sedemikian rindu sehingga tidak menyisakan ruang lain selain cinta, kau, dan aku. Kisah kasih yang sendu, harapan-harapan yang tumbuh silih berganti meresap di setiap puisi yang tertulis.Kumpulan Puisi ini ditulis oleh Ready Susanto, penyair kelahiran 40 tahun silam di Palembang (yang tentunya tidak lagi muda), mungkin tidak menawarkan sesuatu yang baru tetapi tetap pantas jika anda ingin menikmati kembali puisi percintaan yang lembut dan bernuansa ungu.

Sepucuk Pesan Ungu
Dua Kumpulan Sajak

Ready Susanto
Penerbit Semenanjung, Bandung
80 Halaman

3 Puisi dari Antologi Puisi “Sepucuk Pesan Ungu”

Profil Penyair

Ready Susanto kelahiran Palembang, 25 Desember 1967. Lulus dari Departemen Jurnalistik Fikom Universitas Padjadjarasn pada 1992. Bekerja sebagai editor di beberapa penerbit di Jakarta dan Bandung sejak 1993. Menulis karya fiksi dan nonfiksi di pelbagai media massa sejak masih duduk di bangku SMA. Sajak-sajaknya dimuat antara lain di Suara pembaruan, jayakarta, Bandung Pos, Pikiran Rakyat, Puisinet , serta dalam antologi Potret Pariwisata Dalam Puisi (1990) dan Cerita dari Hutan Bakau (1994). Kumpulan sajaknya Surat-Surat dari Kota terbit pada Juni 2006. Bukunya antara lain Emotikon : Kamus Gaul Internet (2002) , 100 Tokoh Abad ke-20 ; Paling Berpengaruh (2004), dan 250 Wanita Abad ke-20 : Paling Berpengaruh (2007). Sajak-sajak barunya dapat diakses di www.kata2bersahaja.blogspot.com

Sepucuk Pesan Ungu

ini pagi yang sungguh rindu
seperti langit mendung yang kugulung
jadi sepucuk pesan ungu
yang entah apakah selalu kau tunggu

Engkaukah

engkaukah laut,
deburmu merindu
kelip lampu

engkauhkah angin,
bersiut rawan
pada dahan

engkauhkah sampan,
terkenang rindu
pelabuhan

Album : Cisangkuy

Siapakah yang kau nanti di sudut itu? Bangku cokelat, petang
menjelang. Langit sebentar jadi buram, cuaca suka-suka.
“Mungkin tak banyak lagi waktu,’ katamu. dan jika pesan itu terkirim sudah, saatnya pun akan tiba. Dia akan terbang, sayap waktu di pundaknya berkepak tanpa ragu.

(dan aku pun bersicepat, mengejar saat yang sekelebat.
Mungkin tak banyak waktu lagi,”bunyi pesan diponselku.)

Menguyah pedas kehidupan, matamu rerimbun daun di taman seberang. Betapa rindu telah kau lewati kini? Menanti pesan dalam sendiri, memamah takfir pelan-pelan. Sesayup apa duka yang menggantung di dahan-dahan? Payung nasib begitu rindang.

(Dan aku mengemudikan angin, sahabat lama. Ia pun berharap
menemuimu di bangku cokelat, saat petang mulai menjelang.”

Siapa yang menggelepar di sampingmu? Mengelus pundak selembut karib lama: angin.. Diakah yang datang dari masa lalu itu. Lengannya melipat tahun-tahun, tatapannya menggulung jalan-jalan, pesannya secemerlang kristal hujan. Siapakah gerangan mengundangnya ke pesta diam? “Akukah?” katamu. Engkau lupa pernah mengundang bahaya..

(Dan aku pun duduk begitu saja di bangku cokelat. Petang jadi
kristal, tahun-tahun menjadi bungkah es. Akukah yang kau nanti di sudut itu; tawa? berderai-derailah aku di dahan waktu.)

“Pasti sudah tak tersisa lagi waktu,” katamu. Tentu saja, sekian zaman kita duduk di bangku cokelat itu. menanti getar yang menjulur di ponsel kita. saling menunggu.
Mau temani aku?

(2007)