Arsip Bulanan: Oktober 2007

Percakapan Suatu Malam

sambil memasang wajah prihatin seorang lelaki bercerita
ada teman baru operasi jantung dan ginjal
‘lusa aku akan menengok, sepulang kantor,’ katanya

sambil menggerus camilan sang isteri menjawab
“bukankah perutmu belakangan sering kumat
ketika banyak sajak menggeliat?”

lelaki itu beranjak dari duduknya sambil memungut sajak
yang lupa dikantonginya
takut dijadikan camilan isterinya yang juga ketakutan
suaminya harus dioperasi karena kanker sajak

siang,25Okt07

Koleksi Puisi Fachruddin Basyar

Ini puisi-puisi yang pernah saya tulis selama di Banda Aceh. Mohon komentar, kritikan dari semua pihak. Terima kasih. Saleum din saja

Catatan dari Editor
Berkas yang dikirimkan (dan judul materi ini) mengalami sedikit proses editing. Mohon dimaklumi.

Ranggalaweku Mabok

- tuk sebuah kota asal -

duduk melingkar di tepitepi jalan,
di tepitepi persimpangan dan di banyak sudut-sudut jalanan
dalam dzikir sumpah serapah
dengan bonjorbonjor sebagai kubah
setelah ongkek berdiri menepi

”satu centhak lagi, Kang” pinta mereka dalam tawar tawa
ya, satu centhak lagi akan mengantarmu pergi
setelah berjam-jam dilingkaran sumpah serapah
memasuki dunia mimpimimpi
terbang tinggi dari bumi Ronggolawe
tempat berpijak dan beranak-pinak

lupakan,
sepi penumpang sulitnya setoran
lupakan saja,
gagal panen musim kemarin
dan kencang angin laut tepiskan tangkapan
ya lupakan sejenak
tunggakan beberapa bulan biaya pendidikan kanak-kanak
juga lupakan
centang perentang kekuasaan kemarin hari
menghancurkan gedung-gedung kekuasaan, simbol-simbol kebusukan
menyisakan nyeri di balik jeruji besi

mari, mari pergi ke lain dunia penuh euforia
dengan kuasa ada ditangan kita
kita bangun rumah-rumah megah bermarmer mengkilat bertaman indah
yang disampingnya garasi luas dengan jaguar dan mercy dan beberapa model mewah parkir dengan gagah

ayo, ayo pergi ke lain dunia penuh euforia
dengan kuasa ada ditangan kita
kita bagi-bagi kue kekuasaan di segala bidang
yang membentuk robot-robot setia tanpa idealisme demi sebuah jabatan

kita putuskan sejanak
alir deras darah Ronggolawe di urat –urat kita
berperang menyerang ketidakadilan tatanan
menggenggam nurani sampai tetes penghabisan

bercengkerama di dunia penuh euforia
membangun kastil mimpi di siang hari
berdinding batubatu igauan dan pokok-pokok jati ilusi
membentuk wilayah utopia bagian dari negeri terluka

Notes:
Centhak : adalah suatu tempat (dibuat sebagai Gelas) untuk minum tuak terbuat dari bambu
Bonjor: adalah tempat persediaan tuak sebelum dituang ke dalam centhak untuk diminum.
Ongkek: keseluruhan kumpulan bonjor-bonjor dan centhak-centhak yang di pikul oleh penjual tuak
Tuak: sejenis minuman keras khas daerah Tuban terbuat dari air dahan pohon siwalan yang telah difermentasi. Buah Siwalan juga merupakan buah tangan khas Kabupaten Tuban. Sepanjang Jalan masuk menuju Kota Tuban dari arah Babat (atau jalan keluar Kota Tuban) akan dijumpai penjual Tuak, Legen, Siwalan di kanan dan kiri sepanjang jalan sebagai buah tangan.
Ranggalawe: Adipati Tuban, salah satu pejuang dan pendiri kerajaan Majapahit yang tersingkir dari kekuasaan Kerajaan Majapahit karena ulah pungawa lain yang akhirnya membangkang dan memberontak kerajaan Majapahit.

Tentang Kami

Puitika.Net adalah situs yang berfokus pada puisi. Situs ini merupakan media resmi dari komunitas Masyarakat Puisi. Tujuan utama dihidupkannya Puitika.Net semata-mata untuk memberikan ruang yang luas bagi semua orang yang percaya bahwa puisi merupakan kekuatan yang nyata, lebih dari hanya sekedar kata-kata. Pada gilirannya situs ini mengakomodasi bentukan-bentukan yang kiranya dapat memperluas usaha-usaha memperkenalkan puisi ke seluruh strata masyarakat.

KOMUNITAS DI BELAKANG PUITIKA.NET

Masyarakat Puisi adalah komunitas yang didirikan oleh sejumlah anak muda yang percaya bahwa teks-teks puisi adalah sumber pengetahuan yang berharga. Organisasi ini bekerja dalam bidang penelitian, dokumentasi, pengembangan jaringan, penerbitan, dan publikasi kebudayaan.

PENGEMBANGAN

Di masa depan Komunitas Masyarakat Puisi akan lebih berperan aktif dalam mengorganisasi anggotanya [khususnya anggota Puitika.Net] untuk bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat secara luas dalam bentuk pertemuan-pertemuan berkala yang akan membahas agenda penting organisasi.

Markas Besar Masyarakat Puisi

Jl. Menanggal Indah VIII/28 Surabaya Jawa Timur 60234 J

Kontak :
Oktarano Sazano +62 813 346 80805
Heru Kuncahyono +62 811 352 4988

Surat-E Puitika
Puitika@Gmail.Com

Milis Puitika
Puitika@YahooGroups.Com

TIM PENYUSUN

Editor Kepala
[1] Oktarano Sazano — zano_saja@yahoo.com
[2] Heru Kuncahyono — cahy0@yahoo.com

Creative Director
Heru Kuncahyono — cahy0@yahoo.com

Dinantinya Hujan

bahkan sering ia ingin sekali menangis
sambil menahan kantuk yang masih menyergap
meski kering yang berbulan gerahka jiwanya
tapi ia malah tak inginkan hujan bergegas tiba

baginya berbulan ini hujan yang lain diterimanya
yang sering menampar wajahnya
kadang tanpa dia tahu dimana salah
tahu-tahu melintang banyak luka

tapi entah kenapa pagi ini diharapkannya hujan turun
karena di balik tamparan itu kadang dinikmatinya
semilir di wajahnya seperti saat kanak-kanak
dengan usapan lembut bunda di rambutnya

pagi, 24Okt07

Di Ruang Itu Ada Boneka Berbulu

di ruang rutin ini kita dikutuk serupa si malin. hanya bedanya, ia di atas
gelombang dan angin. kita berada dalam dirinya. air mata itu jatuh
ke dalam seperti petangpetang itu juga. di kala anakanak sibuk
menatap bebek pulang. kapan kita pernah tersangkut dan berkabut ?
kita telah menanam hujan di belakang rumah dan lenyap bersama
sejumlah mimpi yang terbuhul oleh cuaca. di ruang itu, terserak
beberapa boneka berbulu. wajahnya kian rebah pada papan yang mesti
ditekannya setiap hari. lihatlah, ada bekas ciuman bibir ibu
detikdetik berlari menguaknya. anakanak beralih menatap boneka berbulu
sesekali mereka menyengir pada si malin yang berseru dalam batu

Ruangliku, 2007

Memakai Nasib

kita makin tua memakai nasib dan memasangnya di rumahrumah
masih perlukah meminang, sedangkan kita melenguh saja
serupa kerbaukerbau. diamdiam aku menjumpaimu dan kau bertanya
tentang roda pedati. ternyata kita samasama taragak akan sebuah kerinduan
O betapa tuanya kita memakai nasib dan menggambarnya
pada kanvaskanvas pelukis. lalu bersitatap di balik tonggak
tapi tak mau menjenguk satu sama lain. padahal kita samasama rupa
dari kerinduan. dalam matamu tanduk itu kuraih untuk kampungkampung
berlari, kemudian tersungkur di kaki rabab sejuta dawai sejuta nada
dan jenjang yang kita keping berdendang mengikuti raba sejuta dawai

Ruangliku, Juli 2007

Sajak-Sajak Rio SY

Dengan Si Telunjuk Lurus

serupa kereta susu kutinggalkan ajal dan kukirim punggung tidurku
ke batang air pemandianmu. jabat tanganku, bersama-sama kita
kepucuk pagar menghardik belantara yang menyamakkan halaman hingga ke salang
bawah rumah. tidakkah kau lihat telunjukmu lurus tak berkait ?
oh, sudah tua benar telunjuk tak berkait ini rupanya. iyakah kau punya
dongeng untuk kami salawatkan saat terkepung hujan ?
kau adalah pohon menurutku. tempat bertanya dan berkabar. tapi hari ini
hujan saja dari pagi. karena sesobek rindu perlu dan hendak kita
perbincangkan. lalu kau tersenyum dalam sekerat kopi panas
” kita tak boleh menghodupkan lilin semalam ini, pulanglah ! orang rumahmu
berkelam-kelam sendiri di rumah ” katamu

Ruangliku, 22 Juli 2007

Untung

kemana untungku ini akan kularikan ?
” ke timur saja ” teriak bunga kapas.
aku berlari ke sana menghitung hari esok yang ada di belakangku
dan membaca lamapu di hadapanku. janganjangan ia datuak maringgih
yang mengawini bunga kapas untuk ke sekian kalinya. tidak. aku takkan
mengangkat bedil samsul itu lagi. akan kuguratkan dengan kukuku
lalu bermimpi tak jadi tidur, berjaga tak jadi nyalang. tenanglah, aku takkan
meludah. sudah kering benar kerongkonganku. tapi apakah aku bisa
menemukan untung di timur yang kau sebut tadi ?

Ruangliku, 22 Juli 2007

Memakai Nasib

kita makin tua memakai nasib dan memasangnya di rumahrumah
masih perlukah meminang, sedangkan kita melenguh saja
serupa kerbau kerbau. diamdiam aku menjumpaimu dan kau bertanya
tentang roda pedati. ternyata kita samasama taragakakan sebuah kerinduan
O betapa tuanya kita memakai nasib dan menggambarnya
pada kanvaskanvas pelukis. lalu bersitatap di balik tonggak
tapi tak mau menjenguk satu sama lain. padahal kita samasama rupa
dari kerinduan. dalam matamu tanduk itu kuraih untuk kampungkampung
berlari, kemudian tersungkur di kaki rabab sejuta dawai sejuta nada
dan jenjang yang kita keping berdendang mengikuti raba sejuta dawai

Ruangliku, Juli 2007

Aku kan Segera Pulang

Mungkin aku harus pulang,

menata pagi membenahi senja yang kutinggalkan

dikelopak kamboja dinisan kecemasanku

Mungkin aku harus pulang,

rinduku bercengkerama dengan hujan

hujan yang menuntunku mencari segala sunyi keresahanku

Aku tetap akan pulang,

mengisi lembayung dikamar-kamar kerinduanmu

Aku akan pulang seorang diri

saat senja itu datang lagi

saat kelopak kamboja itu mekar

dan ketika hujan mengajakku bercanda dengan sunyi

dipangkuan cemas dan resah sesungguhnya

Hidup adalah kepulangan

dan aku kan segera pulang

Koto Alam, Januari 2007

Suatu Senja Hingga Malam

Senja menggelar mentari ketempat terakhir
disertai sambutan kecil hujan-hujan pelangi
aku dibawanya berlarian bersama angin sepoi
kedunia yang tiada kutemui seekor kupu-kupu pun,
sesuatu yang senyap
Dipanghantar malam redup bulan menguntit
dalam bayangan kelam penabuh air ditepi danau
aku teriaki sunyiku bersama lampu teplok sebuah
menyisakan termaram tak berkesudahan,
sesuatu yang terasing
Sesaat kuingati dirimu
teronggok sepi-sepi dibejana hatiku
berbentuk kerinduan

Padang,Desember 2006