Arsip Bulanan: September 2007

Rumah Kabut

1
aku sampirkan malaikat
pada belah dadamu

kabut menggantung
rumah rumah tumbuh dewasa
angsa putih dengan iringan
kafan berahi

persis kebangkitan
potret yang kugantung
pada ujung golgota

2
bapakku tumbuh
dengan insang bernanah
perjalannku mencatat kota
kota kanibal tanpa peradaban

di mana tanah tak bernyawa
bukit kering
darah penyair mengalir
menyerupa Isa dengan batu
batu terbang
menjura planet di
pinggulmu

3
aku gambar
sajak yang kau kira kau
gambarkan
jendela tanpa wajah kau pandang
kampung layar mirip kau rindukan

aku kutuki
segenap pesona halilintar
bocah bersisik kerang
kau lempar
kehamilanmu
membiak di udara
mengelupas
dan perputaran pecah
patung, katedral kepercayaan
di mana hantu hantu
memekik
kelaminmu mengasingkan
bara

4
kau tahu
bagaimana pecahan bulan
membentuk raung
sebuah episoda, pohon pohon
di mana jalan harus dilempar
dan kepingan laut
tak harus bernama

5
sajakmu membahasakan ragu
ketika seluruh anak kecil memahat
jalan laut
pipa pipa menggambar bahasa
yang kau penjara
sebagaimana bayi menjelma
musang
dan sajakmu lebih pejalan
tanpa lukisannya

ada hujan yang musti
kau lewatkan
keindahan terkekal
dan gerimis membentuk
rasa ngeri
sebagai kemungkinan
lembu lembu terbakar

Juni 2007

Seleksi Buku Penyair dan Cerpen Mutakhir Jawa Timur 2008

Diadakan seleksi karya cerpen dan puisi untuk dimuat dalam Buku Cerpen dan Buku Penyair Mutakhir jawa Timur 2008. Syarat-syarat : 10 Cerpen, 20 Puisi, rentang penulisan 3 tahun. Paling lambat dikirimkan Desember 2007 ke email : w_ngagel@yahoo.com

Workshop Penulisan dan Baca Puisi

Lintas Masyarakat Teater Jawa Timur akan mengadakan kegiatan:

1.Workshop Penulisan esei, artikel, networking via internet
Sabtu, Wage, 29 September2007 pukul 12.00-16.00 wib
di Galeri Surabaya
Jl. Gubernur Suryo 15, Kompleks Balai Pemuda,
Surabaya

Narasumber:
-Ribut Wijoto (jurnalis, sastrawan, Surabaya)
-Abdul Malik (networker kebudayaan, anggota Banyumili, Jaringan Informasi dan Kajian Budaya, Mojokerto)

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari acara “Sembilan sutradara teater baca puisi” keliling Surabaya, Malang, Gresik, Lamongan Agustus 2007.

2. Tadarus Budaya
Sabtu Wage, 29 September 2007 pukul 21.00 wib
di Galeri Surabaya
Jl.Gubernur Suryo 15 Kompleks Balai Pemuda
Surabaya

Acara:
-Baca puisi oleh sutradara teater kampus di Surabaya
-Diskusi kebudayaan bersama Nuro’in (sutradara Teater Cepak, Gresik)
-Didik Wahyudi (aktorTeater Institut UNESA Surabaya)
-Fathahul Anjab (sutradara teater Q Surabaya)

Terbuka untuk umum.

Informasi:
Luhur Kayungga
Lintas Masyarakat Teater Jawa Timur
Jl.Gubernur Suryo 15 Komplek Balai Pemuda
Surabaya
0888 49 09 9 85, 081 133 1469791
email:masyarakatteaterjawatimur@gmail. com

Biru Abu

tak perlu lagi ingat
sebab rindu telah berkarat
di batas lelah
mengakrab patah
(mungkinkah aku yang membuatmu enggan merekah ?)

…hujan menjadi deru, mengubah bara jadi biru abu…

Pertanyaan

Bulan menindih atap langit
Ketika ayat-ayat tumpah di atas sajadah
Peluh membasah tubuh
Menumpuk kesah…resah

Tak ada kata dalam benak
Ketika alun takbir menyibak fajar
Tapi, tubuh ini tak mampu beranjak
Hanya diam, membentang jarak

Aku lukis saja subuh yang lusuh itu
Hingga mentari tak terbit esok pagi

Bulan tak lagi menindih atap langit
Ayat-ayat pun tak tumpah di atas sajadah

Ke mana tangis itu?
Ke mana peluh itu?

Telaga Langit

Seperti arakan awan
Melayari telaga langit
Seperti satu sabit bulan
Menyapu pelataran malam

Aku tanggalkan waktu
Tertinggal sajak separuh
Aku tak ragu walau terjatuh
Terebah diri selami kalbu

Kisah-kisah menyerpih
Antara aku dan kamu
Hilang bersama tipis embun

Langkahku sisiri waktu
Sekejap mengendap, untuk kemudian larut
dalam benak surut

Menindik

tanganku diborgol. ingin mendekam
dalam sampul kaset

aku mulai dihimpit jeritan pingsan
dan suaramu diendapkan dalam botol

kota-kota sedang kubobol
untuk dimasukkan ke dalam resep

seperti menabur penyedap di bibirnya

lalu diseduh bersama gelombang politik
yang sedang menindik lidahnya

2007

Senja Terakhir

:LiC benarkah sungguh?

“Barangkali senja adalah gapura, tempat kita
mengucapkan selamat tinggal”, kata lelaki itu,
seperti mengucap begitu saja kepada perempuan
disampingnya.

“Barangkali mengucap selamat tinggal seperti
mengemasi serak kenangan”, sambil berbicara,
ia memandang jauh di sudut jingga langit itu,
seakan ia akan menempuh perjalanan jauh.

“Barangkali mengemasi serak kenangan adalah
melupakan bagaimana cara kita harus bersedih”,
wajahnya kemudian berkeringat seperti ada pesan
yang menyumbat di kerongkongannya.

“Barangkali melupakan cara bersedih seperti
membujuk rasa cemas dan pertanyaan yang
kerap lewat: apakah senja adalah kawan lelaki tua
dengan jubah terjulai sampai ke lantai dengan celurit
yang menghadang di angkasa?”, ia kini semakin letih,
hanya terdengar suara camar yang pelan-pelan
merambat ke tempat itu.

Agustus, 2007

Malaikat Sunyi

-kau mengaduk desir getar dalam jiwa-
-seruput kopi susu di gerbang lalu-

-menemani puisi yang hendak bermain ramai-
-menari-nari di atas pena yang bermain di atas igauan para sufi-

-lain pula jika desiran angin berhenti bergerak-
-oleh mantra si muasal kata-

—katanya—

-kata penyair yang terbuat dari kata dan renung-
-malaikat dan iblis pun berkecipak dalam kolam kata-katanya-

-di balik malaikat sepi yang tak pernah alpa-

[2.0.0.]

Sujud-Sujud Malam

Sujud-sujud malam menjaring firman Tuhan
dan puasa ini membasuh seluruh khilaf
lebur dari urat-urat nafas yang gemetar
demikian khidmat dan kudus
tak ada nafsu dan kesombongan
selain benih ruh yang disucikan cahaya fitri

dan usiaku jadi luluh. tak ada yang begitu maha
menimpakan sejatinya hidayah
hanya sang Esa

081553979xxx