Arsip Bulanan: Juni 2007

Udo Z Karzi : Aku Bayangkan Got yang Kau Pajang

ketika hujan aku tak pernah membayangkan
bagaimana keajaiban tercipta
tapi tidak melalui got yang kau angankan
betapa sajakmu membuat hantu hantu bangkit tidur
persis tanah Surabaya dengan keinginan lembab Samun

betapa aku inginkan melukis sajakmu sebagai bukit dan kau arung melebihi bayangan kota bodoh dengan anjing menyalak
tapi aku tak ingin lahir serupa puisimu
aku ingin meledakkan rumah rumah utara
yang kau kira berubah hitam sejak sungai tak lagi kau alirkan di lenganmu
seperti barisan tanah yang lebih sakit hati dari elang elang hujan

gerimis yang kupajang melebihi bentang gaun pelacur
selebihnya sungai dengan hantu hantumu yang
tak perawan

inilah keinginan kota kota selatan
bagaimana sajakku membaca sejarah sebagai dunia tanpa ketololan
sebab kau lebih layak
terpotong sebagai penyair simbolis
yang sudah terbantai sejak
patung patung bermimpi mengelupas di kulitmu

Surabaya, Juni 2007

Dody Kristianto
lahir 3 april 1986. mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Penikmat Kajian Sastra, Seni dan Budaya. Bergiat pada kelompok Jeda Interlude dan Komunitas Penulis lepas (www.penulislepas.com). Beberapa sajaknya pernah muncul di beberapa media.

Herbarium

herbariumdq4.jpgSebagaimana antologi bersama lainnya, ini adalah buku gado-gado dengan beragam tema yang diangkat. Membawa nama empat kota (Bandung, Padang, Denpasar, Yogyakarta) memberi harapan akan munculnya puisi-puisi yang bersifat kelokalan yang kuat atau setidaknya mampu menangkap semangat empat kota dengan karakteristik yang berbeda. Sayangnya puisi-puisi di dalamnya tidak menyentuh kekhususan tersebut, meski demikian hal yang patut di acungi jempol, buku ini di sokong oleh penyair muda yang rata-rata lahir di atas tahun 80-an dan beberapa diantaranya berhasil menembus beberapa koran ibukota dengan puisinya.

Herbarium
Antologi Puisi 4 Kota

Bandung*Padang*Denpasar*Yogyakarta

Cetakan Pertama, Februari 2007
Penerbit PUstaka puJangga, Lamongan.
100 Halaman
ISBN : 979-25-8242-3

 

Dua puisi dalam antologi :

Gadisku

karya Iman Romanshah

Kau pun kukenal musim hujan lalu
Gadis periang bertudung matahari pagi
Kuseru engkau, ketika orang sibuk mencatat hati
Malam terjaga dalam mimpi
Kemelut pun lindap karena wajahmu
mengendap dalam keterasinganku

Gadisku, pilihan Tuhan yang turun membawa setangkup senyum
Anggur malam dituangkan di sloki-sloki sepi
Di bawah lengkung hujan dan malaikat sunyi
Aku mabuk dalam nafasmu memburu
Setiap desah yang kau tularkan di jantungku

gadisku, mimpi ibu yang lahir karena anak-anaknya
menimang malam dalam dongeng anak gembala
para nabi dan sahabat-sahabatnya
Juga lahir dari kuncup rahimmu yang terluka
Saksi sejarah kelahiran peradaban manusia

Gadisku, kukawini hatimu dalam sajak-sajakku
Sebab kau terlibat kemelut kata-kataku.

Jogja, 2006

Kisah Perjalanan
karya Fahmi Amrulloh

Harian sore (2/10)

        air mata perempuan itu pecah di peron stasiun. tersebab kekasihnya lupa memesan tiket kereta yang akan berangkat lima belas lalu untuknya, padahal mereka telah merencanakan perjalanan yang indah, menuju suatu tempat entah. kini kekasihnya telah pergi. bersama deru kereta, masinis, dan bau amis toilet. menyusuri rel yang membujur. dan perempuan itu masih terpaku. sendiri. menyusuri segala kenangan dan rencana. bagai kereta yang berjalan ke belakang. melewati terowongan panjang dan gelap.

        “jika kekasihku tak kembali, aku akan menjemputnya pada arah yang berlawana. barangkali ia akan datang dari belakang.”katanya. “bukankah menuju ke depan pada akhirnya sama saja berada di belakang?” sambungnya.

Surabaya 2006

Kupilih Sepi

kupilihsepifl0.jpgMaman Imanulhaq Faqieh acap dikenal sebagai Kang Maman memang lekat dengan dunia pesantren. Pendiri Pondok Pesantren Al-Mizan ini dikenal juga sebagai mubaligh. Jadi jika puisi-puisi yang dituliskan bergelut masalah kereligiusan adalah hal yang lumrah. Hal yang tidak lumrah mungkin usahanya membawa masuk seni,sastra, dan budaya ke dalam pesantrennya di Majalengka yang dalam konteks Majalengka masih sedikit dilakukan. Mengusung tema yang besar yaitu keimanan tentunya tidaklah mudah, beberapa puisinya terkesan standar, tetapi ada juga yang menyentuh hati.

Dengan sekitar 148 puisi yang kebanyakan ditulis tahun 2006 akan memberi anda kesan pribadi sang penulis dan juga mungkin akan membuat anda berminat untuk belajar ilmu agama dengan mubaligh muda ini.

Kupilih Sepi :
Sebuah antologi puisi pesantren

Maman Imanulhaq Faqieh

Penerbit Nuansa, Bandung
cetakan I, Maret 2007
231 Halaman
ISBN : 979-24-5654-6

Dua puisi dalam antologi :
Jalan Tuhan

: untuk Kang Acep Zamzam Noor

zarrah cinta
melalui jalan misteri
terseret kesunyian ilahi
: ke arah mana hendak dilalui?

debu rindu
mengepul ke langit jiwa
terjerat cahaya fajar
:bagaimana merubah batu jadi mutiara

di jalan-Nya kupacu kereta asmara
berlari cepat di jalan tak rata
hendak memeluk bayangan
sebelum duka menghuni
keranda

Air Mata

:untuk mas Alwy

air mata Ema
bagai laut kasih sayang
tapi bejana jiwa kita
terlalu kecil untuk menampungnya

air mata Ema
bagai embun salju
untuk basuh pori nurani
yang tertutup wewangi dupa

air mata Ema
bagai kasidah cinta
yang menerbangkan camar
harapan Abah yang tertunda

Antologi Sastra RING SATU DUA

SATUBUMI mengundang para sastrawan di Indonesia untuk merespon rencana pembangunan PLTN Muria, dalam bentuk puisi dan cerpen. PLTN Muria akan lebih membuat kehidupan masyarakat Indonesia , terutama di Ring I (Jepara) dan Ring II (Demak, Kudus, Pati) semakin tidak nyaman. Hal ini lebih dikuatkan lagi dengan belum adanya ahli PLTN yang dimiliki oleh Indonesia .

Gagasan pendirian PLTN di Semenanjung Muria lebih banyak dipengaruhi oleh faktor ‘gagah-gagahan’ . Secara ekonomis, pada akhirnya tidak memihak rakyat. Juga tanpa mempertimbangkan analisis kondisi lingkungan serta kemungkinan terburuk terjadinya kebocoran yang radiasinya tidak akan hilang hingga 800 tahun.

Pembangunan PLTN di Semenanjung Muria juga akan berdampak sosial, di antaranya terancamnya kenyamanan masyarakat dalam bekerja, juga terancamnya kenyamanan perusahaan-perusaha an melakukan roda industrinya. Pemikiran ini akan sampai kepada kemungkinan relokasi pabrik demi kenyamanan dan keamanan para karyawannya. Singkatnya, dampak negatif lebih banyak ketimbang dampak positif. Tidak usah terlalu muluk dengan pengelolaan nuklir, mengatasi Lumpur Lapindo saja kita belum beres.
Oleh karena itu, SATUBUMI berencana mendokumentasikan karya-karya sastra yang menyuarakan penolakan PLTN Muria ke dalam sebuah antologi sastra RING SATU DUA.

Masyarakat luas telah mulai bergerak menolak PLTN Muria. Bagaimana dengan para sastrawan? Kirimkan naskah puisi atau cerpen maksimal dua buah karya untuk masing-masing sastrawan/penulis, disertai biodata lengkap. Ke alamat: Sekretariat Panitia Antologi Sastra RING SATU DUA, Jl. Kelapa Sawit V/6, Megawon Indah, Jati, Kudus. Atau email ke: su_woko@yahoo. com, atau email ke: asajatmiko@gmail. com. Ditunggu selambat-lambatnya tgl. 5 Juli 2007 (cap pos). Buku tersebut menurut rencana akan dibagi secara cuma-cuma ke lembaga-lembaga, komunitas-komunitas seni budaya, dan di lingkungan dunia pendidikan, seperti perpustakaan sekolah/universitas .

Demikian, terimakasih. Salam.

Kiriman; Asa Jatmiko

Biar Kuterjemahkan

biarkan kuterjemahkan matamu sebab tak ada yang lebih jingga dari segala kata di situ kugubah sebaris puisi kuletakkan di pinggir jendela tua saat fajar akan kau baca bumi berangkat tidur duka berangkat hancur leleh dalam pelukanmu tergenggam tangan rindu seperti matamu puisiku juga jingga kata dan baitnya memahat rindu yang datang bergemuruh akankah kau terjemahkan juga rindu dari puisiku? priok, 22juni07

Rumah Kabut 6

kenyataanya

bumi melontarkan

semua bahasa yang kau anggap sebagai

sajak

aku terlahir dengan

semua patung mengelupas

 

membagi gerimis di hatimu

di hatiku

 

juni 2007

Menunggu Di Rumah

kemari
kutunggu kau dengan segelas soda
mengaduk rindu
yang makin
berbusa

tak perlu lagi kau
bertanya
sesuatu yang
indah selain
berjumpa

datanglah ke rumah
beri salam yang rekah

2007

081931536xxx

Dan Bumiku

dan bumiku, sejuta lahat yang paling caci
memendam genang dosa
: telah tiada berkah
tergerus dalam liang nadi
ah, demikian pencil!

081553979xxx

Ve Melankolia

Bias senyummu
menampar
beringas
ke nafas waktu

Sumenep, 2005
081803149xxx

Udara Cinta

di mana kelak kejahatan kelak kuabadikan

dari ziarah, jejak jejak utara makar dengan

                ledakan pesonanya

                                  
melebihi dua juta haru

                                                
perasaanku mengitari kampung kampung tepi

buangan

langkah! anyelir

                                  
cintaku melulu menjelma kura kura

sementara menara selatan kuberi nyawa

                                     
kalender usang serta fantasi yang berusaha

                                                           
mengutuki kebanalanku

                                                                                                      
di bibir

cintaku mundur seperempat abad

                                       
membuka jalan jalan

                                                            
rawa yang kau tawarkan lewat ubun

ubunmu

                         
sebagaimana bahasa matahari

               kugemuruhkan laut

                                                               
di mana elang tinggal samudra

dan kau letupkan

                                    
daging tumbuh di taringku

cintaku terbang

                       
melintasi kota yang cemburu

                                                       
pada kehamilan sajak sajakmu

                                                                              
pada anak anak hujanmu

menghiasi jeda percumbuanku

                  yang tertunda

                                               
kau arungkan niatan

                                                                                        
maknamu kian bimbang

                                                                  
dan sajakmu

                                                            
merasa terdampar

                                                                      
mengakhiri kesementaraan bulan

 

juni 2007

Dody Kriswaloejo (Dody Kristianto)

lahir 3 april 1986 di Surabaya. Mahasiswa Sastra Indonesia
Universitas Negeri Surabaya. Bergiat dpada Kelompok Jeda Interlude.
Saat ini berdomisili di Sidoarjo.