Arsip Bulanan: Mei 2007

Surealita Kelahiran

bayanganku yang sangat aneh
1000 appolinaire tumbuh di otakku
daging daging perlahan jadi kubah dengan jubah kebesarannya
seakan kutemui hari mayat bersama
pohon patah esok hari
jutaan matahari memecut
elegi di mataku, abad abad kunang
kunang lahir membanjiri kota
yang kutahu pernah hidup
dari beratus penguburan

mei 2007

Surabaya, Cintaku

aroma kesepian tropis membatu
memayungi kampung kampung
tepian yang ku tahu telah runtuh
jadi dedaun
serupa kilatan hari yang padat
pipa pipa kesepian menyerakkan
jalan
dengan bebunyian gasang
tapi aku menuju kesakitan
1000 nyanyi sunyi sudah mati
tinggal puing yang enggan
kuarung di balik gudang gudang kota
kenanganku memurba
persis percintaan dengan mayat
tak pernah kuingkar bagaimana
tubuhmu pernah memasung detik
detik di mataku
serupa tubuhku yang gagal
membiru

akhir mei 2007

Segelas Kopi Hitam

Benarkah kau baik-baik saja
jika gelas pecah dan kopi tumpah
Sebab masih terlihat bening matamu
berkilatan saat mengeja kata
aku cuma mencari mimpi
dari aroma tubuhmu

Benarkah rasa itu terlarang
jika masih lekat dalam ingatan
waktu bersimpuh dan bertanya ragu
adakah kau mempunya salah
dari rinai gerakmu

Barangkali kau baik-baik saja
dan aku cuma mencari mimpi
Dan jika semua ini salah
ijinkan aku tetap menunggu
saat duduk di warung jalan depan

1:11, Mampang, 070407

Pulang

Ku lihat kau pulang
melayang pelan
masuk ke hutan
berhembus lembut di antara dedaunan

Dan kau pun pulang padaku
kembali memenuhi rongga paru
memerdekakanku dari rindu
Kau adalah aku

Pulanglah,
karena selalu ku sisakan peluh
untukmu membasuh
segala luka perjalanan yg tergores di tubuh
hingga kembali kau rasa teduh.

Pulanglah kemari
dalam belai jemari
tidurlah dengan damai
hingga sunyi ku ubah jadi pagi

Senin, 28 Mei 05

Setelah Hujan

masih diruang yang sama,
mendahului waktu mengisi pesan.

sabar saja penulis mimpi,
setelah hujan, langit biru datang lagi.

diatas rangkaian kolasemu
aku menyingkat kabar.

Tersundut Pagi

Menguap
Dengan rembesan liur di sela bibir
Dua cangkir arabica
Sudah tak sanggup lagi
Menikam inderaku

Harusnya 24 jam
Itu cukup
Bagi tukang nganggur
Yang selalu mencoba
Mencari kesibukan
Di sela-sela selangkangan

Punya Perek

Lekat kulihat
Siap menantang
Dengan gincu merah menohok
Setebal kulit muka sampeyan
Terlalu garang atau girang
Tapi entah kenapa
Tak kuasa aku
Melumat sebongkah rasa

Puisi Cinta yang Terjaga

sayang, aku cintai kamu seperti pagi dan rasa berat di mataku ini.
aku dambai kamu seperti kopi di gelas butut yang temaniku begadang semalaman ini

dan atas alasan ini pulalah kenapa mataku tak pejam,
menolak mimpi lurusnya pematang perjalanan
di saat malaikat di jiwa sendiri tak berkenan

sayang, cerahnya pagi dan mata yang menuntut jedah panjang peristirahatan
adalah kejelasan tuntutan lenyapnya matahari pagi.
akan aku lewatkan kicau burung dan orang orang yang bergegas ke tempat kerja.

kopi di gelas ini selalu terbagi dalam sari yang mengendap, terpisah dengan airnya.
meski mereka telah menyatu, tapi sari tak pernah menjadikannya benar benar air.
ia adalah bagian dari kopi di gelas ini pula

lalu bagaimana aku mampu biarkan diri mencintai
jika aku sendiri tegak di ujung terjalan sebelum membuatmu mengerti,
bahwa aku masih belum menerima kewajaran yang selalu tak pernah kuanggap wajar dan pasti.

bunga tak pernah tumbuh di tanah yang tak menumbuhkan bunga.
cinta terbit di atas kesepadanan rasa dan keseimbangan pernyataannya atas ruas jalan yang mungkin ia dedah.

dan seperti pagi ini juga, berat mata dan segelas kopi jangan jadikan puisi tak lagi terjaga.
kitapun musti merdeka.

Linh

linh,
kaupuja aku karena puisi puisi ini.
karena masih lekatku dengan dengan baju zirah dan sepasang sayap perak di punggungku.
yah, aku sedemikian gagahnya berdiri, memanggul busur kencana, kutopang dengan lengan berbalut besi warna saga

kauimpi aku yang berkibaran dengan kain bianglala,
berbuka dada dan berwajah tengadah.
kauisi relung keterasinganmu dengan anggur imaginasi
tentang pangeran yang menerobos kerumunan
dan membelah karang dengan keberanian gelombang laut selatan

linh,
aku disini. dengan semua gegap gempita di sumbu diri yang masih gelisah.
merahku menjadi inspirasi matahari, sementara malam menelanku berkali kali

linh
jika kukata merdeka dan jantungmu bergetar, kirimkan bunga pada malam dan ceritakanlah semua kisahmu kepadanya:
adakah setiap buncah di jiwamu
sudah cukup seimbang dengan seuntai saja dari bait bait puisi ini
serta debutan kuat yang mendesak dari bentangan lanskap hidup penyairnya

linh

Tanpa Dayung

cinta itu seperti perahu kecil
tanpa dayung
dan kau adalah kemudinya

mencari cinta itu seperti berlayar
tanpa dayung
dan aku adalah labuhanmu