Arsip Bulanan: April 2007

Di Penantian

dan kulepaskan fatihah mencari jalan tujuan
kulepaskan ayat – ayat Tuhan mencari Tuhan
berkali ku melihatnya masih di kaki awan
hingga kilat membuangnya ke lautan
terusir ombak ke tepian

ia menangis melihat Tuhan begitu jauh disana
ia menangis mengenang lahirnya di dekapan luka
ia kian menangis mendengar aku berkata
“Tuhan…. aku masih menunggunya….”

Langgam Orang Buangan

kepada desa sidokepung

bersama sebuah kesepian
ngengat ngengat mengalirkan
rumput hijau di lenganku
kusaksikan tubuh tinggal tubuh
dan berjuta jasad malaikat gagal
membumbung jadi cuaca

seketika aku mematung
karena keserakahan bisu, rumah rumah buangan
tepi pantai berubah mitos peradaban
yang tak lagi kukenal

aku kenang seribu sajak buangan
dengan wajah burung burung
seperti kuburan masa kecilku

“barangkali tubuhku memang terbunuh
oleh ratusan sejarah”

april 2007

sebuah kesepian hijau

-untuk Kriapur

sebuah kesepian hijau kulahirkan dari rahimmu yang sekarat
adalah narasi tanpa kupu kupu yang gagal jadi bayangan pecah,
serupa sajak-sajakku yang gelap

april 2007

Kuau Kecil

Terik menusuk hari di hampar rerumputan.
Air mengalir perlahan, bersembunyi di tubuh bebatuan.
Burung kuau kecil menanti awan peneduh.

2007, Leonowens SP

Di Selembar Subuh

hatiku terbaring di sajadah
tanganku yang menua merapat
kusampirkan di mata-Mu
yang mengandung bianglala
bisikan doaku

saat angin menyusupi dinding
bilikku yang sempit dan koyak
aku bersujud di pintu telinga-Mu
karena bukankah doa itu
adalah harapan dan impian

apakah Engkau akan tertawa lucu?
manusia bodoh merangkak
menggapai kaki-Mu
dengan wajah tak berdaya
dan bertanya-tanya dengan lemah

Allah dengan saku di jubah-Mu
biarkan kutaruh pecahan gelas
yang telah menoreh goresan panas
biarkan sejenak kucicipi sejuk
yang mengalir di kepalaku

ya, Allah
saat kurasakan embun di wajahku
gemetarlah aku dalam pasrah

pagi, april 07

Desember

dingin menggila di penyusupan kehangatan pada penjuru-penjuru hati gamang. tidak pamrih itu kemana bepergian menjelang penyembelihan hewan kurban. ternak-ternak berpesta menikami kuasa-kuasa terbatas kantung kecemasan berekor pengharapan-pengharapan semu tak terejawantahkan, nirwana terjanjikan.

dingin menggila di darjah dua puluh tujuh koma lima lintang utara, tercipta keraguan berteguh menginjaki jalan-jalan tikus. menerus berteduh dalam apartemen-apartemen dan kadang kerasukan ujaran-ujaran kuno tak terlumpuhkan di depan tungku-tungku hangat menjilat langit menyapa kabut tak lelap. tersengal berpeluh menyiangi jendela-jendela ratapan menangis menyesali keteledoran yang terus terulang.

dingin menggila di penjelajahan takluki mimpi tak berujung selesa, pengharapan tak kunjung datang. bertengki api disuguhkan sebagai sesajen kebudayaan jangan terlupakan. dihadirkan itu pencair gunung es oleh kerumunan penantian datang berganti berkelompok-kelompok pasang surut mengisi apa saja yang kosong melahap apa saja yang lunak. tapi segunung kemenyan kiranya luluh berlutut, sejuta do’a lumpuh tercecer berserakan. karena takdir hanya akan bergetar oleh kuasa sesuatu yang maha menguasai.

dingin menggila di kaki-kaki petani mencangkuli ladang-ladang lapuk mengetami letih tanpa keringat. sebenar-benar mencari pangan untuk menjadi energi kembali bertanam tanaman mungkin sayur-mayur buah-buahan itu yang kita rasakan legit di ucap, bersinergi kembali mengaisi laba dan upah. entah mengingat atau tidak ketika lentera-lentera kegundahan dinyalakan tentang serbuk-serbuk obat penawar keserakahan dikumpulkan dalam gubug-gubug kesabaran dan kesyukuran yang menepikan cambukan-cambukan setan untuk berjingkrakan bertepuk menari riang.

dingin menggila di kerumunan pesta-pora seakan tak akan pernah melahap kematian. bersenda-gurau meneriaki kebahagiaan yang tak kunjung datang walau lumbung penuh berjejal padi-padi. pelarian-pelarian busuk terpilih, itu bukan pilihan. bergumul dengan kilatan-kilatan nestapa mungkin pengakhiran yang seharusnya mematangkan urat-urat nadi dan bukan lagi-lagi meneguk pangkal-pangkal di mana nestapa itu menjamur.

dingin menggila di tiang kokoh tanpa getar.

dingin menggila di gradasi-gradasi tanpa peduli.

Des ’06

Hijrah

tersengal di antara petani-petani tidak mengenal lagi kebersamaan, nagari kepribadian datang-pergi injaki kaki lantas bersenggama dengan keberlarian masing-masing membentuk adat-istiadat baru yang entah dari mana datangnya itu. anggap sajalah memang belukar adalah rumah-rumah ular dan biawak, namun bidak-bidak tanah berhamparan sebelum belukar itu bertumbuhan adalah cinta tersemai di sana-sini. kiranya jeda-jeda waktu terlewati tak mampu menyiangi pagar-pagar keegoisan bersambutan hingga kita masih terkurung dalam bentuk-bentuk hari tersekati tiada kuasa menyulap ular menjadi cacing atau biawak menjadi cecak. ini jalan dikecami sebagai jalan pintas, namun perlu keberanian seperti itu supaya kita bisa mengerti arti bentuk dinamika. jika enggan untuk berkomunikasi dengan benar, belajarlah untuk berdialog dan jika dialog dianggap sebagai angin datang hilang berlalu, jadilah mayat hidup terus bergelantungan di antara setengah keberanian. ini memang jalan pintas, bukankah rindu itu hanya akan hadir setelah kita berpisah mengisi fashal-fashal bersendirian dan menangisi saat-saat kebersamaan itu terlewati begitu saja.

Nov ’06

Kurban

berkerumun itu kita bergandengan di atas aliran-aliran darah terpetak-petakan pada kumpulan masing-masing. sebenarnya perorangan meluas digarap berdasarkan kesukaan berkumpul mencari keberimbangan keserasian. siapa beruntung elastis memihak tambak-tambak keberanian di antara pematang-pematang berseliweran berundak naik-naik. air irigasi direguk pesawahan bermuara di tengkulak-tengkulak.

berkerudung panjang berkerudung pendek berjalan beriringan, indah itu bukan hanya di hari-hari ketika hewan-hewan dipenggal bukan hanya di hari-hari ketika tangan-tangan berjabatan. berpeci hitam berpeci putih menyatu indah itu bukan hanya di hari-hari ketika kulit-kulit berbulu tipis itu dicetak bedug-bedug dan di gantung di tempat-tempat ritual.

dulu berjalan ismail berpasrah kepada mimpi ibrahim, siapa kira ismail-ismail bertanduk disaksikan pelupuk kepasrahan secuil berat untuk diberikan. diganyang melintang meliuk melepuh dalam wajan-wajan perdebatan sunyi persengketaan nurani menciduki ramuan sepetak-sepetak dihagaz itu sorga pada ombang-ambing keraguan dan keberanian untuk menoleh jamur jerami, sarang capung, lubang melata. coba tercarut golok jagal hingga setengah nafas yang tuhan berikan pada saripati makanan terkunyah, minuman terseruput lalui temulang lembut gerak statis meliuk-liuk seratus delapan puluh darjah, kadang beritma beirama ketika pelatihan peperangan dipersiapkan. coba terpancang samurai tembusi tonjol kelaki-lakian pada anak taat mimpi yanda itu.

Des ’06

Tentang Daun Keladi

kalau
di
tuang cat
ke
dasarnya
terlihat kah
wajah
Tuhan
!

soepomo 28, tebet 0407

Pertikaian

pelan sekali di antara jeruji waktu sukma ku mengendus-endus bagai pesakitan dan pelan pelan bertanya :

” kalau dulu simbok nggak ikut-ikut
kalau dulu simbok nggak ngaku
kalau dulu simbok nggak niru niru
pasti aku nggak mesti nyebut nyebut kalau
simbok sudah meninggal sebelum tahun 65
dan ijazah smp ku mestilah nama bapak bukan
nama si mas dan bea siswa supersemar pastilah
ku dapat ”

itulah kenapa sepanjang hari hari tak pernah berhenti menyair
tak lah karena sepi atau rendah hati
tak pula berharap harap terobati
tapi
syair adalah dorongan ingin mengakhiri pertikaian
antara simbok dan aku

soepomo 28, jkt April 2007