Monthly Archives: Maret 2007

Astagina

di tepi danau lelaki itu terdiam

dia tahu Tuhan bukan tempat tawar
menawar, karena itu dia tidak menangis

tak ada kecipak ikan, juga perahu yang
siap mengantarnya menyeberang
tapi dia tetap berdiri
sebab ada sesuatu yang ditunggunya
sebutir debu surga yang mengganggu
matanya: Windardi, ibu tiga lutung
yang kecewa

namun wanita itu telah beku
tercenung di tubir jurang
menanti waktu untuk kembali
mencumbu matahari

dan lelaki itu, tua dan rapuh
tetap saja diam
seperti saat pertama kali
danau itu tercipta
dari denting cupu sang surya

:persetubuhan basi setetes embun
walaupun dia tahu
apa artinya pagi

 

Pacet, Januari 2007

Bunga Matahari

Pranala-BuMa.jpgSitus resmi dari komunitas milis Bunga Matahari. Milis yang mengkhususkan pada puisi Indonesia. Situs ini mengusung tema besar "Semua bisa berpuisi."

http://bungamatahari.org

Elegi

saat malam menjemput gelap
inikah yang kau namakan kehampaan?
yang mengantarkan pada sepotong cerita
dan membakar setiap air mata
dari pandangan semua mata yang mulai lelah.

aku disini, sendiri…
bersama waktu yang bisu
diatas segala nisan-nisan yang selalu bungkam
dalam sebuah persemayaman yang terasingkan
hingga meruntuhkan harapan yang dulu tak sekedar hayalan.

wahai embun yang bercerita kepada semesta
padamu aku bertanya tentang misteri hidup
tapi kau jawab dengan kata yang tak seluruhnya mampu terucap,
kini hidup itu membawaku pada suatu masa
dari sisi waktuku yang sesungguhnya
lalu aku hanya bisa bertanya “mengapa?”

HYMNE atas MARS

Sebegitu dalamnya resah ini, hingga menenggelamkan. Rusuh terasa batin dalam bening kesadaran. Aku berarak dengan jalan jalan, dengan ngarai, sungi kecil sejuk dan lautan. Aku nyanyikan di sepanjang jalan mars tentang kasidah keberanian, meski di sini terdengar seperti hymne yang penuh sayatan. Aku pastikan cita cita tentang hari depan, hari depan yang kapan, katanya. Aku berjanji tentang harapan. Harapan serupa apa, cibirnya.

Sebegitu dalamnya kegembiraan ini, hingga memabukkan. Orang orang hadir dalam pesta perjamuan, dihidangi berbagai minuman dan makanan. Gadis gadis pelayannya molek dengan kain baju berrenda sulaman bunga warna ungu, mengerling setiap saat dengan palsu. Aku duduk di tonjolan tanah berbatu, tak jauh dari situ. Dengan jalan jalan, ngarai, sungai sejuk dan lautan. Memandang dengan hening, dengan resahku yang sedalam ilusi mereka akan pesta dan kemenangan.

: Hidup dan kehidupan betapa sungguh tak sepadan.