Arsip Bulanan: November 2006

Menjadi Matahari

Seperti menjadi langit

Aku membiru

Lalu cerah dan memucat

 

Aku menjelma menjadi

Matahari

Menutup gelap dengan cahaya

Lalu kubakar

Air menguap

 

Kaukah sahabat?

Air yang menguap

Kesejukan pupus

Dan menjadi angin

Yang panas

Udara yang meniupkan

Kegelisahan

 

Seperti langit yang kuterangi

Dan cahaya

Adalah bagian

Dari kepingan zat

Yang menghembus

Dari seluruh

 

Nafsuku

 

2 Ramadhan 1427 H

Ketika : Bidadari Penyelamat

ah
kalo memang takdirku
ketika kau datangpun aku merindu
ketika lonceng pun aku merayu
ah
aku bukan takdir mu
ketika kau sapa aku
ketika kau minta aku
ah
kau adalah
antara ketika dan
takdir

pangalengan, 2004

Pigura Kosong

: Fifi Martini (Manis)

Aku ingin punya fotomu
Buat apa, katamu

Katakan, bagaimana aku bisa bertahan tanpa melihatmu
Aku memikirkanmu seharian
Apa kau sudah makan
Kau takut kelebihan berat badan
Padahal mungkin kau kelaparan

Katakan, bagaimana aku bisa bertahan tanpa melihatmu
Aku memikirkanmu semalaman
Apa kau kesepian
Kangen ayah bunda di Pasuruan
Ingin pulang melepas kerinduan

Katakan, bagaimana aku bisa bertahan tanpa melihatmu
Senyummu adalah candu
Penyejuk hati di siang hari
Obat tidur di malam hari
Ya, senyummu adalah candu

Ingin kubingkai senyum itu
Dalam pigura kosong di kamarku
Tuk menahan rasa ingin bertemu
Karena ingin selalu melihat senyummu, senyummu!

Malang, 30 Nopember 2006, pukul 5 pagi. .

Acara Peluncuran CD Musikalisasi Jazz Puisi Karya Sitok Srengenge

Acara Peluncuran CD Musikalisasi Jazz Puisi Karya Sitok Srengenge (On Nothing) oleh Jan Cornall (Australia) di Bandung, Jumat 20 Oktober 2006 pukul 19.30-21.30 bertempat di Opulence Lounge-Prima taste, Jl. Ir. H. Juanda 145. Acara dimeriahkan oleh Imel Rosalin Band, Baca/dramatisasi Puisi oleh Iman Soleh/CCL/STSI Bandung dan Evi Sri Rezeki/STUBA Unisba. MC. Wawan S. Husin, Kurator Jazz: Mas Niman, Commonsense Jazz Bandung. Event Organizer: Erwan Juhara/Jendela Seni Bandung.

Hadiah Esastera.com 2006 (HESCOM 06)

Anjuran bersama Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP)

Seminar Sastera Siber  dan Akademi Sastera Siber.
Majlis Makan  Malam dan Baca Puisi Penganugerahan.

Tarikh: Ahad 24 Disember 2006.
Tempat: Menara DBP (Kuala Lumpur).
Lebih Lengkap klik www.esastera.com

Rinduku Memuncak

Awan gelap tak mau pergi
Seperti rinduku malam ini
Dan hujan enggan berhenti
Seolah mengamini

Ingin kuusir rindu yang memuncak
Dadaku sesak; terisak

Malang, 25 Nopember 2006

Sajak Penyair Amatir

Akulah penyair amatir
Suka bersajak suka bersyair
Tentang ego, cinta dan fiksi
Juga kehidupan sehari-hari

Ah
Pikirkan diksi puisiku tak jadi
Sajakku mengalir dari hati
Biar kunikmati sendiri

Malang, Nopember 2006

Renungan Ambang Petang

Sepulang dari tempat berburu nasib, lelah fisik, capek hati, penat jiwa…lantas terciptalah puisi ini

Malam ini hatiku beku sendiri
Lalu ke toko buku aku pergi
Membeli buku buku puisi
Kiranya jadi obat tawar hati
Ada Sapardi,Pinurbo, Hasyim Wahid serta Calzoum Bachri
Sayangnya Rendra tak kujumpai

Walau sudah habis seluruh rak diselidiki
Separuh pramuniaga ditanyai
Tentu saja bukan yg laki laki

Ya sudah, aku lelah, ingin pulang
Tak lupa buku dibayar kontan
Agar jangan sampai dikira penjahat perang
Penjahat perang tidak bayar buku dengan uang
Tapi dengan senjata dan nyawa orang

Kata banyak cowok berjanggut dan bercelana komprang
Bush itu penjahatnya penjahat perang

Aku sudah pulang diantar mobil hitam
Masuk kamar nyalakan laptop aku terdiam
Bukankah hidup ini adalah perjalanan ?
Lintasi waktu juga ruang ?
Lalu apakah artinya kehidupan
Jika semua ingin diseragamkan

Untukku kehidupan adalah perenungan
agar kita mampu mengambil keputusan keputusan
yg berujung pd kesejahteraan sebanyak banyak insan
demikian kita menyembah Tuhan

 

Renungan Pagi Pagi

Suatu pagi di rembang senja
Kala hati mengaduh dengan setumpuk tanya
Sambil berharap berjuta asa
Ratusan purnama telah usai ditempuh
Tetapi perjalanan masih saja jauh

Kemarin aku sudah berlari
Hari ini masih terus berlari
Esok masih akan tetap berlari
Mengejar nasib yang tak kunjung pasti

Kehidupan memang demikian
Selalu tersedia ribuan alasan
Untuk kemunafikan, kesewenang wenangan
dan berjuta penindasan

Ramai berita di koran pagi
Kedatangan Bush menuai kontroversi
Petinggi negeri sibuk sendiri
Rakyat kecil mati berdiri
Demonstran hanya hirau kepentingan pribadi
Paling kepentingan secuil partai

Lautan lumpur masih panjang cerita
Hutan hijau kian meranggas
Semak belukar makin kerontang
Ibu kota gerah dan panas

Gedung yg dibangun tidak jadi anggun
Jembatan yg dibikin selesai juga tak ingin
Jalan yg dibuat cepat sekali berkarat
Moral yg tersisa tinggal ampas dosa

Hari ini aku bertanya lagi
Apakah kehidupan memang seperti ini
Berlari dan terus berlari tanpa kenal berhenti
Mengejar nasib yg entah kemana pergi ?
Sementara detik detik waktu tetap lalu tak perduli

Pada sebuah kitab lusuh di sudut kamar mungil itu
Yang hampir hampir tak pernah kusentuh kecuali di hari minggu
Pandanganku nanar menjelalah cakrawala
Mencari hadirat Nya
Menyusuri hadirku di alam fana
Menanti terang cahaya

Atasku
Entah kapan kan tiba….

Entah Berapa Lama Lagi?

    : gadis pengemis kecil dan adiknya di KRL 

    panas siang ini tak seterik dadanya    kusam kaca kereta ini tak semuram hatinya

    punggungnya mulai terasa letih    menggendong adik kecilnya sebagai penjala hiba 

    "permisi om, permisi tante!" lemah suaramu mengharap belas    dengan raut muka lebih kuyu dari daun meranggas

    pembungkus permen yang jadi penadah uang itu    berpindah dari satu tatapan ke tatapan yang lain

    entah sudah berapa banyak gerbong hari ini    di pojok gerbong adiknya    merintih       "kak...lapar"    batinnya tambah berkeringat     "sabar ya dik, satu stasiun lagi kita makan"    irama lapar perut adiknya sebenarnya sudah sejak tadi     terdengar sampai kedadanya 

    kalau bukan karena dirampas preman tanggung di Manggarai    mestinya mereka sudah bisa rehat siang ini    mengganjal perut sambil menghitung uang setoran

    hari ini masih akan panjang perjalanan    entah berapa panjang lagi esok hari    entah berapa lama lagi seperti ini    ia bertanya dalam hati kepada langit    sambil menyeka ingusnya yang bercampur debu

    entahlah ...    langitpun tertunduk tak berani menatap