Antologi puisi "Patung Matahari" karya S Yoga ini bermuatan 50 puisi dimana 25 diantaranya pernah dimuat di media cetak. Membaca puisinya akan memberikan kesan pada anda bahwa penyair memang memiliki kecintaan pada puisi dan budaya dimanapun ia menjejakkan kakinya. Penyair yang berlatar belakang pendidikan Sosiologi Unair ini akan memberikan anda petunjuk kepada anda tentang sejumlah peristiwa dan nama yang lekat dengan Jawa Timur khususnya Madura. Nikmati puisinya dan temukan sendiri nafas Jawa Timur di dalamnya.
Patung Matahari
Sajak-Sajak
(2002-2006)
S Yoga
Cetakan Pertama, Juni 2006
Penerbit Akar Kata
ISBN: 979-25-9960-6
126 Halaman
Salah satu puisi dalam antologi " Patung Matahari"
OJUNG
yang tinggal di atas
dekat langit dekat matahari
dan yang di gunung mari main Ojung
yang di bawah dan di lembah
mari ke atas mengentaskan diri
yang tak mau naik silahkan menyingkir
tinggallah di bawah dan jangan menyesal
karena tak akan pernah menyaksikan
panasnya matahari, pedihnya derita
sembunyilah di kegelapan bumi
diiringi tari perang
dengan musik gambang
dhuk-dhuk, tambur bercela
rotan di tangan dan ikat kepala merah
agar tabah menjalani hidup
sarung di balutan tangan kiri
tepat selasa sore di musim kemarau
saat bumi terluka oleh musim
kau bisikkan doa pada setiap gerak
di pinggang dan selangkangan
terajam huruf arab guna pegangan
baju zirah kau lekatkan di pinggang
agar lawan menyerah pada Allah.
Kau yang ada di atas
Adalah wasitnya
Berkeliling mengawasi
Setiap gerak pemain'
Bla terluka segera diobati
Dengan ludah kehidupan
Yang akan memberi pelajaran pahit
Pengalaman pada derita serta rasa sakit
Sebelum bertanding
Kau berjalan berhadapan
Dan berbalik punggung
Untuk memberi hormat pada hidup
Agar tidak ada yang main dari belakang
Agar diri jujur dan bersih
mulutmu monyong, matamu melotot
pinggulmu berjoget, mengejek
hidup yang tak bernyali adalah
rasa takut pada perjalanan takdir
di punggung telah tertoreh mantra
tanah merah dan lumpur sumur
agar tepuk tangan riuh menyambut
kemenangan hidup
yang paling prematur
musik hanyalah pengiring
keberangkatan
sebelum penderitaan
atau kematian
yang datang menjemput
dari atas kau tiupkan peluit
tanda permainan makna dimulai
kau bergoyang pada diri yang gamang
menari berkeliling
mencari saat yang tepat
untuk masuk ke dalam bilik sunyi
hujamkan rotan dan doa doa
pada tubuh ampunan
kau tangkis dengan tameng diri
derita yang pertama
kau semayamkan di dalam duka
hingga berbulan bulan
kau kenakan luka yang terindah
di atas bahu di dalam kalbu
agar air hidup segera turun
sebelum pintu kubur di tutup
Sumenep, 2005
*upacara ritual minta hujan di Sumenep, bertarung dengan rotan sehingga terluka