Monthly Archives: September 2006

Puisi pendek Iggoy el Fitra

Sajak-sajak Iggoy el Fitra

Lovapalooza
Aku ingin menciummu berulang-ulang
Setelah badai tidak lagi mampu menerobos derasnya air mata
Setelah petir tidak lagi mungkin menggelegarkan rimbun tawamu
Selalu ingin menciummu berulang-ulang
Hingga warna-warna menjadi biru

Plot Abadi

Perjalanan ini lekat di punggungku, Neng
Kaupandang dan kaukerok
    Menjejakkan rindu yang berkelok

Masih Terlalu Awal untuk Tidur
Masih terlalu awal untuk tidur
Bila bantal yang kan kautiduri belum bersarung
Juga seprai yang kautenun belum juga rampung
Di sini aku menyiapkan tubuh sebagai ranjang

Kepada Perempuan
Keluarkan aku dari perutmu, sebagaimana aku melahirkanmu dari pinggangku

Bintang yang Jatuh Tengah Malam Buta
Aku seperti perumpamaan
Hidup yang direka-reka sebagai kunang-kunang
Bernapas pada malam
Hilang bersama siraman matahari paling ganas
Keringat dan aku
Sama-sama mesti dihancurkan
Diperas, lebur, dan disekap pasir-pasir

Malioboro
Cangkir kopiku terguncang di Malioboro
Sepeninggalan subuh ketika aku mengendap menyalakan pagi di pelataran fajar
Mangkuk bubur ayamku terombang-ambing di getar tanah
Pecah, kesemuanya runtuh dan tumpah seperti darah

Malioboro (2)
Kota yang bergelombang
Gedung-rumah terlipat kacau bersimbah luka
Aku baru saja berniat menelan merdunya ketipak delman di tepi jalan
Tetapi kian senyap lalu lenyap

Malioboro (3)
Setelah gemuruh, kopiku terhampar lekat pada darah, debu, reruntuhan dan kepalaku
Kabut pagi itu sungguhlah anyir dan perih
Tak ada gempita atau sorai tawa
Selain gerimis air mata lirih

Malioboro (4)
Dan orang-orang segera tahu ritual minum kopiku lebur pagi itu
Di antara kanopi patah dan plang yang pecah, malaikat ajal berkepak-kepak
Menantiku tengah merangkak di atas Malioboro yang retak

(Iggoy el Fitra bergiat di komunitas Ilalangsenja, padang)

Sehabis Hujan Semalam

Sehabis Hujan Semalam

 

tak kutemukan bulir-bulir senyum disini

mungkin ia terhapus oleh basah semalam

tawa renyah pun membusuk sudah

diantara patahan hati dan beku darah

kurindu belai dan genggam tangan

pagi inikah kau akan bangunkan kutidur

bawakan secangkir teh manis

dan sepiring nasi goreng

 

di kota ini bayangmu

kembali memenuhi pelataran

pucuk-pucuk wangian teh

hingga katup bola mata enggan kerja

tak kutemukan wajah bulat itu disini

bahkan kabut tipis kegirangan

selimuti tubuh dempo

     : pagi ini ada dan atau tanpa kau

       aku tetap kelelahan

 

Pagaralam, 16/09/2006

 

Aku Datang Ke Kota

Aku Datang ke Kota

 

aku datang ke kota

bukan untuk temukan

siapa yang datang untuk siapa

atau siapa yang pergi untuk datang

atau sekedar setor wajah

pada lidah-lidah basah itu

 

aku datang ke kota

tidak juga untuk nantikan jawaban

siapa menunggu siapa

dan siapa yang paling setia

bukan juga sepotong cake coklat

untuk mulut-mulut kelaparan itu

 

aku datang ke kota

bukan tidak mungkin untuk merampas

dongeng yang dulu tercatat di pinggiran Cikini

 

aku datang ke kota

bukan untukmu -  bukan untukku pula

tapi untuk kita

   : besok – esok – esok

     dan esok begitu punya nilai

 

Pintu A4, 20/09/2006

 

Putus Asa

Ada hati tertancap di tanah merah
Tegak menantang nasib
yang membunuh waktu demi detik lalu
meninggalkan bau anyir kepalsuan pd setetes hujan
di dalam kaleng kelambu hidupku
Hati ini bukan milikku lagi
Sudah dirampas melalui tontonan tirani yang gamblang
dan darah yang berceceran di jalan jalan

Aku cuma ingin pulang
Masuk lagi dalam rahim ibuku
dan minta terlahir kembali
tidak di jaman ini !
tidak di negeri ini !!

Di Ambang Senja

Di titik ini aku bersimpuh
Luruh mengaduh batin pada Mu
Menanti senja yg segera menjelang
Merindukan fajar yg entah kapan datang

Kepada rintik embun yg menyisir bebatuan itu
Kutitipkan sejumput asa yg masih tergenggam
Mencoba menabur harap
Mengais sisa-sisa nurani
Masih adakah terselip di sudut hati…?

Kepada sang wibawa di singgasana istana
Kutitipkan cita cita rakyat merdeka

Kami ini cuma debu bagi kalian
Jadi dasar ribuan alasan sang tuan
Kami tak lebih dari hitungan angka angka
Bahan rapat utk mencari utangan

Tuan tuan sekalian
Sudilah tuan sejenak bersamadi
Selami hati renungi diri

Mentari sedang pergi
Tinggalkan kita sendiri
Akankah ia kembali?