Namanya Sri Setyowati, biasa dipanggil Trinil. Lahir di Surabaya tanggal 27 Juli 1965. Bekerja sebagai dosen di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya sejak tahun 2000. Mulai menulis sejak kecil tetapi mulai dipublikasikan sejak tahun 1998, melalui puisi Jawa (guritan) Marang Panggurit Ole Olang, di Majalah Jayabaya. Pernah mengisi Tabloid Seni dan Wisata Bromo dan Majalah Kidung terbitan Dewan Kesenian Jatim. Selain menulis, juga aktif dalam kegiatan tari. Pernah jadi peran utama dalam lakon Rumah Tak Beratap Karya, wakil Jawa Timur dalam Pekan teater Nasional di Jakarta tahun 1986.
Pendidikan Diploma di ST Kesenian Wilwatikta Surabaya, S1 di Seni Tari Fakultas Bahasa Dan Seni Unesa. S2 di Unesa jurusan Manajemen Pendidikan. Sekarang menempuh pendidikan Doktoral Manajemen Pendidikan di UM. Karya tari yang menonjol yaitu Musim Hujan (untuk anak-anak) dan Kembang Temon ( untuk remaja/dewasa). Karya sastranya berupa puluhan cerkak (cerita cekak), novel Sarunge Jagung dan kumpulan wacan bocah Timbil dan Kumpulan cerita untuk anak Kasih Sayang yang Tak Padam. Antologi geguritan tunggalnya Donga Kembang Waru diterbitkan tahun 2004.
Aktif di Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya ( PPSJS) sebagai ketua I (2005-2009). Sekarang sedang mempersiapkan antologi cerkak dengan judul Bathik Trada. Ibu tiga anak ini dengan putra dan putri bernama Randhu, Unin dan Badai menikah dengan Edhy Brodjowaskito bertempat tinggal di Jl. Abdulrahman No. 85 Rt. 6 Rw. 3 Bonosari Pabean, Sedati Sidoarjo.
Kru Puitika.Net mewawancarai sang peggurit di kantornya di bilangan jalan Teratai yang asri dan disambut dengan keramahan. Berikut cuplikannya.
Sejak kapan anda mulai menulis puisi?
Saya mulai menulis sejak kecil tentunya, sejak SD itu guru saya sudah melihat pelajaran bahasa Jawa saya itu bagus. Kalau saya disuruh mengarang itu sekelas cuma saya saja yang mendapat perhatian, teman-teman lain jangankan mengarang bahasa Jawa saja sudah kebingungan. Mulai SD juga saya ikut lomba dan sejak SMP sudah mulai menang lomba . Saat di SMPN 3 Surabaya dulu se Kotamadya tahun 1979 Lomba menulis Pahlawan. Menginjak SMU saya menulis-nulis saja tapi tak saya publikasikan hanya untuk dokumentasi saya sendiri. Mulai masuk STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya) aktif di majalah dinding , majalah kampus baik puisi berbahasa Indonesia maupun bahasa Jawa.
Momen penting saat puisi anda mulai dimuat di media cetak?
Geguritan saya yang pertama dimuat sekitar tahun 2004 dengan judul Marang Panggurit Ole Olang, di Majalah Jayabaya.
Mungkin anda bisa merasakan perbedaan menulis puisi saat masih remaja dan dengan sekarang?
Ketika usia muda itu kebanyakan bingung, musim bercinta. Cinta terlarang kemudian bingung memilih, dan lainnnya. Rasa kangen dan kelihatan masih emosional da nterombang ambing. Saat tahun 2000 itu saya sudah menikah , saya merasakan kemantapan.
Sumber inspirasi menulis saat mulai mantap?
Dari suami. Keunikan suami saya, pribadinya yang aneh. Latar belakang kehidupannya itu, kan orang Magetan sedang saya Surabaya asli. Saya melihat fenomena-fenomena lain. Kalau cerita-cerita itu bisa menjadi inspirasi saya. Ketika saya marah-marah pada suami bisa menjadi guritan.
Kehidupan sosialisasi di PGTK Unesa juga memberikan pengaruh dalam menulis puisi?
Pada saat suami saya sakit. Terus disini juga pada saat ada mahasiswa yang meninggal. Pada saat murid saya tidak mau masuk di TK. Kan karena saya mengajar disini karena saya sudah terjun di dunia perTK-an jadi pengalaman saya berpengaruh sekali. Misalnya ketika saya tidak masuk ada anak murid yang tidak masuk , ketertarikan murid ternyata anak-anak itu bagaimana guru itu menarik perhatian anak. Yang disukai anak-anak itu seperti ini dan lainnya.
Pengenalan seni sedari dini kepada anak tentu penting, bagi anda sendiri metode yang biasa untuk memperkenalkan puisi?
Kalau mengajar di Tk salya langsung yang menjadi pemateri untuk deklamasi di Surabaya. Karena dulu anak-anak dulu sering paksakan. Jadi materi yang cocok untuk anak-anak itu misalnya Indahnya alam mereka juga dari puisi itu karena anak belum bisa menulis dan membaca lancar jadi cukup dideklamasikan. Gurunya mendeklamasikan anak menirukan. Jadi dengan puisi itu banyak pesan yang bisa diberikan pada anak, misalnya patriotisme, mencintai alam dan seterusnya.
Anda juga menulis cerita pendek, novel dan puisi. Profesi mana yang paling sulit di sandang?
Saya kira sama saja.. Menulis dalam bentuk apa saja itu ada resikonya masing-masing. Misalnya saya menulis novel kan tanggung jawabnya waktu, sosok, perilaku dan lain sebagainya harus menjadi profil yang bertanggungjawab. Ketika ditanya ada pertanggungjawabannya. Ada juga yang tidak memberikan jawaban ketika karya sastra mereka dipertanyakan.
Oh ya pembelajaran seni sejak dini saya selalu lontarkan yang pertama. Supaya anak-anak tidak menjadi robot. Sejak kecil sejak memberikan pendidikan agama, matematika, selalu dengan seni. Menunjukkan Tuhan pun tidak langsung misalnya dnegan menyanyikan lagu Pelangi-pelangi. Jadi perlunya seni itu diberikan sejak dini.
Anda menulis banyak puisi berbahasa Jawa?
Sebenarnya menulis puisi bahasa Indonesia ada juga tapi saya tidak tertarik untuk mempublikasikannya. Untuk saya sendiri saya saja. Tapi saya lebih tertantang di bahasa Jawa karena tidak sembarang orang bisa. Apalagi Suroboyoan.
Kalau anda bisa melihat perkembangan satu-satunya. Tahun 2004 menuliskan antologi geguritan apakah ini usaha menimbulkan kecintaan atau ambisi pribadi?
Usaha menimbulkan kecintaan. Iya itu kan pertanyaan saya pada Surabaya yang sekarang ini di obok-obok oleh banyak pihak lain. Dijadikan tempatbisnis atau apa jadi kehilangan jati dirinya. Ini Donga Kembang Waru jadi kalau kamu emang arek Suroboyo, Suroboyo itu gagah beneran sejak dulu bukannya Surabaya itu di gae gagah-gagahan, merono-merono ngaku arek Suroboyo tapi dia tidak mngerti apa-apa tentang Surabaya sing dibanggakan ya Singapura di Surabaya dan sebagainya. Surabaya dulunya sudah segagah itu. Justru yang sekarang-sekarang ini gaya-gaya saja. Jangan membangun di Surabaya tapi bangunlah Surabaya.
Mohon maaf saya yang satu-satunya itu maksudnya kental dengan Suroboyan yang diakui di komunitas sastra Jawa. Ada juga yang menulis ke arah ini seperti Budi Palopo tapi ini masih untuk Jombang dan dia sendiri masih mengakui masih belum seperti Trinil. Pak Parto pun senior kita mengakui bahwa saya belum sekental mbak Trinil. Misalnya yang saya lakukan di novel ini.
Energi anda menulis kedepan masih banyak tentunya. Bagaimana perempuan menulis guritan apakah anda berjalan sendiri-sendiri atau saling memberikan dukungan pada yang lainnya?
Seringkali saya memotivasi siapapun . Seperti Endang Ramli misalnya, ada beberapa wanita yang suka menulis guritan dan saya senang sekali. Kalau senior-senior saya yang tercebur dalam kesibukannya bukan mandeg sekali jauh berkurang energinya menulis. Kalau saya menulis adalah teman berbagi jadi sampai akhir pun saya akan menulis. Ada juga anak muda perempuan yang menulis sastra Jawa walaupun belum sastra Suroboyoan.
Ada beberapa wacana identitas sastra Jawa Timur. Prihal salah satu stasiun TV Jawa Timur (JTV) yang mengusung bahasa Jawa di siarannya, apakah sudah merupakan identitas sastra Jawa Timur atau Suroboyan khususnya?
Itu sudah sering dibicarakan. Di JTV pun sudah saya bicara, misalnya di Pojok Kampung. Pada saat saya menerbitkan Donga Kembang Waru ini ada pelurusan tentang penggunaan sastra Suroboyoan saya diwawancarai di sana. Saya menunjukkan iki loh bahasa suroboyoan yang bisa komunikatif karena bahasa di JTV terlalu saru menurut saya. Meskipun mereka mengatakan ada alasan khusus utuk menggunakan bahasa itu. Setelah itu mulai ada revisi, karena disana teman-teman saya juga jadi mulai diperbaiki misalnya beberapa kata, saya mengambil acuannya dari ludruk karena telinga saya ini sudha terbiasa dengan Ludruk RRI. Saya tidak ingin sastra Suroboyoan itu tidak hanya menjadi sastra Ludruk di panggung saja tapi juga sastra tulis juga. Sosok Trinil itu paling menarik pada saat membaca.
Bacaan Favorit anda?
Apa ya kalau untuk kekaryaan ini murni dari gejolak saya sendiri. Saya merasa , misalnya membaca karya teman-teman misalnya mereka begini saya begitu. Untuk kedepan saya membaca khusus untuk sastra Jawa FT Pamuji. Yang berbau feminis. Saya juga membaca karya Sirikit. Literatur saya kalau untuk sejarah ya buku Sejarah.
Penyair favorit anda?
Rendra, padahal ketika ketemu Rendra malahan saya tidak dekat-dekat saya motret saja (tertawa kecil)
Anak-anak mendukung karir menulis anda?
Anak-anak senang melihat saya, khususnya perempuan ingin bercita-cita seperti ibunya. Kalau yang laki-laki lebih ke musik seperti Bapaknya.
Rencana anda kedepan?
Rencana yang sedang dilaksanakan ini menerbitkan lagi kumpulan antologi Cerkak (Cerita pendek berbhaasa jawa) campur bahasa Suroboyoan dan Mataraman.
Bagaimana dengan terjemahan anda lebih senang diterjmahkan sendiri atau oleh orang lain?
Kalau dengan orang lain saya kurang rela lebih baik saya sendiri, atau setidaknya bertanya dengan saya. Karena karya saya itu mengembalikan ke akar budaya supaya tidak keblinger, ekstrim. Modern boleh juga tapi jangan hilang dari akar budaya sendiri.
Menurut anda usaha atau cara menanamkan kecintaan puisi pada anak-anak?
Seperti yang saya lakukan untuk anak saya itu. Medianya dengan model rima, saat SD dulu ia kan dapat tugas membuat pantun. Jadi dengan metode pembiasaan dan contoh-contoh misalnya dengan bermain rima.
Bagaimana buku Donga Kembang Waru apakah semuanya berbicara tentang Surabaya?
Tidak satu buku ini penuh tentang Surabaya, yang lainnya saya kembalikan kepada diri saya. Hakiki kebutuhan manusia jawa itu terkikis habis jadi saya ingin mengingatkan kembali. Ke depannya nanti tentunya isu isu feminis akan saya usung. Saya mendidik kaum saya untuk memberikan kontribusi pada dunia ini tidak hanya berpangku tangan saja.
Kalau boleh tahu, penyanyi dan makanan favorit anda?
Vina Vanduwinata, entah Vina atau pengarangnya, semuanya lagu Vina itu masuk semua ke telinga saya.
Kalau masakan saya suka masakanJawa Timur yang kecut dan pedes.
Bagaimana dengan nama Trinil, darimana asalnya?
Sebenarnya Trinil itu nama burung rawa yang mematuk ikan dengan kecepatan yang cepat dibanding burung lain. Filsafatnya liar, nakal, centil. Saat STKW , saya tak bisa diam maka dijulukilah Trinil.
Jika ingin berterima kasih sehingga konsistensi menulis berbahasa Jawa ini sampai saat ini diberikan pada siapa?
Pertama kepada majalah Jayabaya yang memperkenalkan. Kalau guru-guru saya seperti Pak Suharmono itu yang memotivasi saya menulis bahasa Suroboyoan. Pak Widodo Basuki itu , Pak Priyono, editornya sastra di Jaya Baya, mas Bonari dan teman-teman lainnya. Mereka welcome dan mau berkeringat (bekerja keras) sama seperti saya.
Cara membangkitkan kecintaan generasi muda untuk berbahasa Jawa?
Saya sering menjadi ketuanya langsung. Saya mengadakan lomba membaca guritan. Ternyata banyak anak Sidoarjo, Santa Maria SMA 2 Surabaya. Ternyata di kota Surabaya ini ada yang bebrakat dan bahkan memilih geguritan saya juga (tertawa kecil) . Mendidik anak-anak berbudi luhur tentunya dengan bahasa terlebih dahulu. Dia mampu memilih mana yang santun dan mana yang tidak. Dari Suroboyoan nanti mereka bisa melihat sastra Mataraman. Terutama Surabaya yang kesannya kasar padahal tidak semuanya.
Pengalaman membaca puisi paling berkesan dan dimana?
Semuanya berkesan tapi mungkin paling berkesan kemah Budaya Jawa Timur. Karena yang melihat orang sedunia. Saya pakai tiga bahasa. Saya dituli sedikit oleh Romo Yunani, dia menulis untungnya ada Trinil yang membuat Kemah Budaya menjadi berbeda dengan membaca puisi berbahasa Jawa, Indonesia dan Inggris.
Puisi menurut anda secara pribadi?
Puisi itu isi ungkapan jiwa manusia yang diekspresikan dengan media tulisan yang indah.
Terimakasih Ibu atas waktunya
Sama-sama
0 Komentar