Membaca Identitas Sastra Jawa Timur : Launching "Dialog-Dialog Sumbang" Karya ARS Ilalang

Tanggal 31 Juli yang lalu di Galeri Surabaya Gedung Balai Pemuda Surabaya dilangsungkan hajatan launching buku " Dialog-Dialog Sumbang" karya ARS Ilalang. Launching di Surabaya ini merupakan rangkaian tur antar kota dalam rangka memperkenalkan karya ARS ilalang kepada pembaca Jawa Timur. Acara ini dimulai sekitar pukul 19.30 WIB sampai dengan selesai. Jika anda sebelumnya diajak untuk melihat tanggapan para pemberi materi ketika launching buku yang sama di Malang berbasis wartawan dan akademisi maka kali ini tidak kalah menariknya. Kali ini W Haryanto di daulat menjadi pembahas karya ARS Ilalang.

Acara dibuka dengan beberapa pembacaan puisi dari rekan-rekan muda dari Malang. Berturut-turut yang membacakan puisi, Habib, Windy, Mega dan Trisna sebelum akhirnya dipamungkasi oleh sang penyair yang kerap dipanggil cak Rego. Secara keseluruhan acara berlangsung lancar meskipun di awal saya sempat kaget karena ada sejumlah anak-anak kecil yang duduk manis lesehan menunggu acara di mulai. Usut punya usut ternyata mereka diberi tugas untuk mendengarkan launching buku malam itu. Sayangnya pembacaan puisi yang cukup melelahkan (bagi anak-anak) membuat mereka meninggalkan acara setengah jam kemudian. Tapi setidaknya hal ini patut diberikan dorongan, mengajak anak-anak untuk mencintai seni khususnya puisi sedari dini. Ketidaknyamanan lainnya mungkin sound system yang seringkali amburadul dengan masuknya siaran radio berbahasa mandarin dan lainnya yang sangat mengganggu pembacaan puisi. Alhasil di pertengahan acara yang menyimak tinggal beberapa orang saja termasuk para pembaca puisi, penata musik dan lighting beserta pembahas dan sang penulis. Meskipun demikian lontaran dari sang pembahas bisa memberikan wawasan bagi mereka yang rata-rata adalah mahasiswa yang mencintai puisi baik datang sendiri ataupun berpasangan.

Berikut pengantar dan tanggapan W Haryanto atas karya Agus Rego

"Pada hari sabtu di Kompas Jawa Timur ada tulisan menarik tentang Sastra Surabaya. Sesungguhnya pandangan itu berawal dari sebuah diskusi di DKJT satu bulan yang lalu tentang mengapa banyaknya sastrawan Surabaya pergi keluar kota. Misalnya Imam Mutarom, Sihar keduanya pergi ke Jakarta. Kemudian hari minggu kemaren ada tulisan yang cukup menarik dari Jim Supangkat tentang ideologi seni. Jadi saya mencoba memberikan satu pengantar Seni dan masyarakat. Jadi di sini dalam perdebatan itu ada preposisi. Seni adalah sebuah karakter pewalian dari ketuhanan jadi dia satu tingkat di atas masyarakat. Disini muncul pandangan dari seniman sendiri, bahwa masyarakat mewakili kebobrokan sebuah kerancuan sebuah penyakit sosial sehingga seni itu sendiri harus menjadi suatu sistem moral di atas. Waktu kuliah saya sering mengutip seorang Sosiolog sebuah piramida. Di dalam bangun piramida itu masyarakat menjadi penopang dari seluruh penyakit dari segitiga masyarakat itu sendiri. Di sisi paling atas ada kelompok borjuasi , kelompok ini terdiri dari begitu banyak aspek dan komponen termasuk di dalamnya seniman. Seniman kita dalam konsep itu adalah penindas. Kemudian ia mencoba membangun sebuah pengertian yang diambil dari sejumlah perkembangan filsafat, sesungguhnya seniman itu tidak berdiri di atas pola moral, jika berdiri di atas pola moral maka ia menjadi penindas sama halnya dengan raja. Jadi seniman harus berada fase dimana ia mengalami apa yang dia alami masyarakat. Dari beberapa bacaan saya dan teman-teman ada catatan yang cukup menarik, Brewok misalnya, di satu sisi bagi orang akademis brewok itu kelas dua dalam seni. Tapi dua tahun setelah kematian Brewok dimana saya memberikan pengantar bukunya, saya menemukan sebuah gaya yang cukup menarik dari seorang seniman. Dimana seniman itu pesatnya daya jelajahnya sehingga ia tidak sekedar diposisikan dalam ukuran yang akademis. Puisi harus bersimbol dan berlambang, masalahnya simbol itu harus harus merujuk pada satu kekuatan maknawi dia tidak berhenti pada aspek bunyi, musikal. Seseorang mungkin mendapat sentuhan dari puisi Sapardi. Masalahnya apakah sentuhan itu bisa memberikan stimulan sebuah tradisi masyrakat untuk menyadari dirinya. Sekali lagi saya mengutip seorang realis Amerika, Kita tidak pernah menyadari ketika maut seperkian detik menjemput. Kenapa konsep ini dipakai untuk standar kesenian karena kita terlalu berabstrak-abstrak dan terlalu tinggi untuk memahami dunia. Jadi untuk masuk dalam karya mas Rego ini saya membuka pengalaman membaca. Sampai sekarang kita tidak bisa lepas 32 tahun rezim Soeharto, bahkan sampai sekarang rezimnya berbuah menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang tidak lagi represif. Dimana mereka bergerak di lembaga kebudayaan besar. Di zaman Soeharto kita risih dengan kuningisasi sekarang kita mengenal Goenawanisasi, kalau mau pengen bisa dimuat di media cetak Jakarta maka menulis puisilah seperti Goenawan Mohammad dan pasti dimuat dan itu ancaman kreativitas kita. Jadi sesungguhnya kita tidak lagi berbicara dalam konteks akademis, sehingga saya tidak bisa menjawab puisi ini baik atau buruk, waktu yang akan menjawab. Saya percaya bahwa masyarakat kita bergerak pada satu tahap dari tahap-tahap proses pembelajaran dari masyarakat nol di zaman Soekarno, kita mengenal seribu slogan nol puisi, ini proses awal . Kemudian proses ini berkembang terus dari slogan nol puisi menjadi satu puisi seribu sembilan ratus sembilan puluh slogan Itu berlaku hingga sekarang. Jadi saya optimis masyarakat kita sudah mengalami pembelajaran sejarah. Justru yang terjadi sikap inferior dari sastrawan sendiri.Mereka merasa terkungkung dalam sebuah terminologi apapun yang kita tulis toh masyarakat tidak paham . Dan pandangan ini sesungguhnya menjadi suatu resiko secara konsep bagi kaum avant garde. Mereka bergerak pada suatu kecendrungan eksplorasi yang total tapi sesungguhnnya mereka tidak memiliki sebuah pertanggungjawaban. Saya pikir kelompok garda depan ini perlu memberikan feedback, atas eksplorasi yang mereka capai dan memang semua itu memunculkan sikap narsisme seniman yang memberikan kesan bahwa seniman merupakan pembawa wahyu Ruhan. Sekalipun konsep ini ditutup logika dnegan lambang-lambang teknikal dan bahasa yang luarbiasa toh sekalipun demikian kita bisa menengok pemikir bahasa kita lugu. Ketika kasus pembakaran wajah, istilah face off, rang-orang kita gagap menghadapi kompleksitas filsafat bahasa ini, Face off adalah konsep, jadi disini kita menghadapi kegagapan. Ahli Liguistik kita tidak mencapai proses ini sedangkan masyarakat proses kekinian bergerak begitu cepat. Sedangkan orang-orang bahasa kita cenderung dibelakang berfikir bagaimana mengganti kata face off . Jadi saat ini sebuah kondisi-kondisi yang sifatnya politis. Seperti kembali kepada persoalan bahwa sesungguhnya kita memang kembali pada satu penyeragaman dan saya pikir itu bahaya budaya dan sekarang menjadi sebuah style, sirkulasi kesadaran. Begitu banyaknya sastrawan kita berproses dalam kesadaran ini. Saya seringkali bersosialisasi dengan kawan-kawan di Jakarta dan hampir di Indonesia mereka tidak punya ini (menunjuk kepala) karena mereka hanya bisa menulis puisi, mereka hanya mampu menulis bahasa-bahasa indah dan mereka kalau ditanyakan puisi kamu kayak apa , wah puisi saya mirip Goenawan Mohammad, puisi saya mirip Sitok, hanya itu. Jadi tidak ada pergulatan kultur barangkali sesungguhnya di Jakarta sendiri kalau kita bandingkan kasus problematika hibrida bahasa, ada beberapa kawan di Surabaya yang kuatir bila anak-anaknya menonton bahasa suroboyoan di JTV. Ini sebuah proses budaya. Masyarakat sendiri sudah mengalami inkulturasi di dalam dirinya. Masyarakat ini dicoba dipecah dalam perkembangannya kedalam berbagai fase akademis. Konsep yang kemudian diterjemahkan dalam sebuah produk. Produk yang kemudian menjadi sebuah image Surabaya, tetapi secara teknis secara kesadaran begitu banyak sastrawan Surabaya atau Jawa Timur ternyata tidak mempunyai keasadaran spesifikasi sast
rawan Jawa Timur.Apakah Jawa timur merdeka secara identitas sastra, saya tanyakan pada Budi Dharma mengenai identitas penyair Jawa Timur, dia tidak menjawab. Jadi ini juga pertanyaan buat Rego perihal identitas sastra. Sebenarnya ini adalah penelitian saya. Saya membuat buku 10 penyair Jatim dan saya memasukkan Rego dalam salah satu sub bab. Jadi saya meminta teman-teman disini untuk melengkapi."

Agus Rego tidak memberikan banyak komentar pada intinya ia menyetujui apa yang disampaikan oleh W Haryanto.

Lanjutan tanggapan pembahas atas karya ARS Ilalang.

"Sepintas tadi ada satu ungkapan kesunyian, bisa menjadi sebuah pengalaman kita. Sesungguhnya penyair yang cenderung mempunyai daya cerna yang luar biasa adalah seorang pejalan. Mereka melihat begitu banyak tempat, jadi kalau kita kenal seorang penyair Prancis, Arthur Rimbaud dengan perjalanannya ke Afrika. Kalau bersentuhan dengan Surabaya : Seorang Belanda dan juga seorang penyair yang mempengaruhi Chairil Anwar juga seorang pekerja keras dan petualang, dia pernah bekerja sebagai seorang dokter di kapal Belanda dan sempat berlabuh di Tanjung Perak dan dia menuliskan aspek hidup perjalanan dari seorang pejalan. Dalam konteks ini akan muncul dua hal yaitu, proyeksi dan efek bahasa. Yang disebut proyeksi adalah bagaimana seseorang melintasi batas dari dunia asalnya, dunia mulanya, rumahnya dan kemudian ia pergi dan menghadapi sebuah tempat dimana ia tidak mengenal apapun, simbol-simbol di luar dirinya. Saya juga mengalami hal ini, dimana titik awal perjalanan saya tahun 1994 ketika saya ikut teater tapi belum begitu intens kemudian saya KKN di sebuah daerah minus di Pasuruan tahun 1998. Di sana tidak angkutan kecuali ojek. Sebagai seorang mahasiswa yang terbiasa dengan konsep, tahu-tahu saya berada di daerah minus Madura yang kasar saya dihadapi masyarakat stigma dimana masyarakat Madura yang keras. Saya keluar dari bahasa saya dan lainnya, dimana wilayah total Madura ini jadi persoalan karena saya dibesarkan dalam tradisi teori. Disana ada masalah paling sepele saja bisa menimbulkan masalah. Waktu saya sempat liburan cuti KKN, pulang dari Surabaya, bapak kos di tempat saya menginap itu Carok, adiknya melewati orang tua di sebuah jalan raya tanpa permisi dan pulangnya tanpa kepala. Ini sebuah kondisi dimana seorang seniman menghadapi sebuah masalah benturan budaya, budaya asal, dimana ia dilindungi dimana ia mendapatkan fasilitas bahasa, ia akan menghadapi problematika perjalanan. Konsep yang kedua adalah konsep bahasa, Jika seorang seniman melintasi tapal batas begini akan menghadapi masalah bahasa, bahasa dalam psikologi, dimana bahasa ini mengandung konsep. Teman saya jurusan antropologi di Kalimantan daerah Bontang . Jika mengeluarkan alat Mandau berarti bertanda perkenalan. Mandau tersebut diletakkan di atas meja. Jika anda tidak tanggap maka bisa terjadi pertengkaran. Ini adalah sebuah proses sebuah konsep bahasa bukan cuma sekedar komunikasi tapi ini juga menjadi psikis dimana kita harus cepat mengadaptasi bahasa kita dengan tempat kita terlibat. Seorang seniman akan menghadapi problem seperti ini dimana dia akan menghadapi masalah yang asing. Dimana seseorang yang sudah menghadapi bahasa dia mengembangkan imajinasinya yang membentuk kosmos, pengertian tentang dimensi dunia. Jika yang pertama adalah pengalaman yang kedua adalah tahap seniman.
{mosimage}Saya kenal banyak penyair dan mereka tidak senang jalan-jalan biasanya karya mereka hanya bertahan dua tahun saja. Saya punya teman bernama Ismet Saupala yang sering kali berpergian. Tapi sempat membaca sepintas karya puisi dia, ada pergulatan bahasa dimana Ismet mampu dengan karakter Bugisnya yang kasar mampu menghadapi persoalan konsep imaji bahasa. Ada tokoh Bugis lain juga yang membuat buku berjudul Sepatu buat Tuan. Dia bekas wartawan kemudian sempat ke Sampit, dia ada pengalaman di Sampit yang mengerikan ketika ia dan istrinya melihat langsung bagaimana seorang Madura di bunuh hidup-hidup oleh seorang Dayak dan membuat trauma mendalam bagi sang istri. Jadi proses ini saya pikir perlu juga. Jika seorang penyair hanya bangga menulis puisi di kampus membaca puisi di kampus atau mengirim puisi di media cetak. Memang tipe tipe ini bisa saya hitung ketika mereka selesai kuliah maka mereka habis. Ini sudah sering. Tahun 90-an karya beberapa teman sekitar 20 karya sempat kami bacakan di UGM dari 20 pengarang itu hanya 3 yang tersisa dan yang ketiga itu adalah petualang semua, satunya Sihar Ramses Simatupang yang menjadi novelis. Pengalaman bertualang inilah yang memperkaya imajinasi dia untuk menulis. Imam Mutarom sama seperti saya dari Blitar kemudian melakukan perjalanan dan sekarang dia bekerja di Jakarta . Sesungguhnya fakta-fakta seperti ini memperkuat seorang dalam konsep diri dan konsep kreatif . mereka yang terkungkung di dunia kampus mereka berhenti menulis setelah menyelesaikan kuliah. Contohnya teman saya yang menjadi rekan kantor saya yang menjadi PNS , sekarang ia hanya bisa pasrah menjadi PNS . kalau ingat tahun 1995 dia begitu bersemangat membaca puisi di UGM, karena dia bukan seorang petualang maka enerjinya habis, ini sebuah pengalaman juga . Saya memiliki komunitas saya bisa melihat perkembangan , kecenderungan ini. Mereka yang terlibat petualangan keluar dan juuga sastrawan besar dunia, Hemingway, dan lainnya. Jadi bagi teman-teman selayaknya juga untuk berjalan-jalan, mencari simbol, konsep-konsep bahasa, proses transisi mengadaptasi proses berbahasa."

Diskusi muncul seputar pendalaman penyair dalam perjalanan yang begitu cepat. Nampak penyair muda Ragil Sukriwul dan teman-teman DKS lainnya.

Selamat pada Cak Rego. Tetaplah produktif!

Tinggalkan komentar


CATATAN - Anda bisa menggunakan HTML Label dan atribut:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>