Kecemasan, Sunyi, Keterasingan, Ruang Kemurungan, Ritual-Ritual Kekerasan, dan Bahasa Yang Bergerak*

/

R Timur Budi Raja - Aksara Yang Meneteskan ApiPembaca yang budiman, tidak banyak penyair yang mau berbagi proses kreatif atas puisi-puisi yang mereka tuliskan. Kali ini seorang penyair muda Bangkalan R Timur Budi Raja memberikan sedikit solilokui proses kreatifnya dari antologi terbarunya "Aksara Yang Meneteskan Api" yang diluncurkan di Kafe Gama Malang, 15 Agustus 2006 yang lalu.

I
Seseorang pernah bertanya kepada saya, dimanakah tempat yang dapat membuat saya merasa bahagia? Saya jawab; kamar, kamar saya!
Kamar? Mengapa kamar?

Cuma sebuah kamar, tidak lain! Ukurannya sederhana sekali, yakni 9 meter persegi. Tak ada sesuatu yang istimewa, kecuali pintu dan jendelanya yang selalu terbuka. Kamar saya kerap ditempati tamu-tamu: para pejalan, penyair, pelukis, atau pun juga seniman dari berbagai disiplin seni yang lain, yang berasal dari jauh. Mereka tinggal dan bermalam di kamar saya, ngobrol tentang berbagai hal sampai larut malam. Dari cerita dan pengalaman-pengalaman mereka; saya seperti melihat layar televisi atau membaca berita koran harian. Banyak hal yang saya dapatkan.

Di kamar, saya berdiskusi dan bergesekan budaya dengan mereka. Seringkali dari pergesekan budaya itu terjadi benturan di dada saya, membuat saya gelisah berpikir dan tak jarang pula membuat saya sakit. Begitulah, saya seperti habis membaca sebuah buku.

Begitu pula dengan kawan-kawan di Lingkar Sastra Junok, komunitas saya di kampung. Mereka makan, mengetik puisi atau cerpen, tidur, menulis, membaca karya, beradu argumentasi, menyusun rencana-rencana kegiatan, dan membaca karya-karya sastra koleksi saya hingga letih kecapaian.

Kamar saya; sebuah ruang yang sangat bersifat privat dan personal, tiba-tiba menciptakan atmosfir yang lain. Pelan-pelan beranjak menjadi wilayah publik, atawa beralih tanpa disengaja menjadi ruang produksi aktivitas komunal.

II
Adalah saya punya rahasia? Aih, rahasia! Bahkan, saya pun lupa dan jadi berpikir keras: apakah saya masih punya rahasia?

Bukankah di kamar saya begitu banyak data tergelar? Bukankah di kamar saya begitu lengkap benda-benda yang saya kenali benar perangainya? Meja dengan tumpukan buku yang teracak carut-marut, asbak yang suka mengingatkan saya kepada seluruh pembantaian militer terhadap rakyat sipil-represivitas negara-civil disobedience dan pembungkaman terhadap suara kemerdekaan, celana dalam, mesin ketik, tempat tidur dengan sprei yang kerap kali kusut, sebuah gitar 12 string berwarna coklat tua-secoklat napas dan hidup orang-orang madura di pasar-di pelabuhan kamal-di terminal dan stasiun yang angkuh, sebuah sofa yang membuat catatan tentang sejarah feodalisme keraton, sebuah kursi plastik, gantungan baju, lukisan laut yang mengerikan, potret diri, dua buah harmonika yang berwarna muram dan suka mengerang ketika saya mainkan, dua buah kardus penuh buku dan kliping-kliping cerpen, rak arsip, sebuah almari berisi pakaian, buku-buku kenangan dan rahasia disimpan, lampu neon lima watt dengan cahaya murung dan langit-langit kamar penuh peta bekas genangan hujan.

Kamar terbuka yang selalu bersahabat dan menerima orang lain, kemudian seperti mengajari saya untuk menerima, menghormati dan bebas memilih pokok-pokok pikiran orang yang disodorkan, seperti saya terbiasa memilih buku-buku bacaan yang seharusnya saya baca dan kumpulkan ke dalam rak buku saya. Di kamar ini saya menikmati penyakit insomnia yang menjangkiti malam-malam saya, merenungkan banyak hal, menggelisahkan berbagai kesedihan dan kemurungan, hingga akhirnya berfikir dan menulis.

III
Saya sadar betul, bahwa perasaan cinta saya terhadap sastra -dunia imajinasi yang liar, riil, dan absurd, menyenangkan dan berbahaya ini-, membuat saya harus merelakan semuanya. Moral, materi, tenaga, kondisi psikis, waktu dan lain sebagainya. Penyerahan lahir batin saya terhadap sastra, sesungguhnya saya pahami adalah sebagai sebuah jalan untuk mengupayakan perubahan, meskipun sangat kecil, di dalam realitas sosial masyarakat yang buruk. Sampai kini, saya masih teguh meyakininya.

Dengan tetap mengkondisikan kegelisahan, berarti saya menjaga kelangsungan produktivitas berkarya saya. Cuma saja, kerap kali yang terjadi ketika kegelisahan sudah teramat dahsyat, imajinasi saya meliar, pikiran-pikiran saya beluapan tak tertampung, justru saya tak bisa menulis dan melakukan apa-apa. Sebagai dampak negatifnya, kondisi psikis saya memburuk, saya suka mencurigai orang lain dan insomnia yang sekali lagi mengganggu kesehatan saya. Tubuh saya.

Pada saat-saat seperti itu saya membutuhkan suasana baru, yang saya sebut sebagai proses pengendapan. Hal yang biasa saya lakukan adalah menikmati perjalanan jauh atau sesekali pergi ke pantai. Lebih sederhana lagi adalah jalan-jalan ke pasar atau ke terminal. Suara musik, pementasan teater dan pembacaan puisi pada fase seperti itu tidak memberi konstribusi apa-apa pada batin saya.

IV
Dalam kamar pemikiran saya, saya merasa dituntut untuk merenungi ruang hidup yang semakin pengap, sesak, gaduh dan riuh. Dari kamar pemikiran yang terbuka, berbagai persoalan tergeletak di atas meja minta dibaca, direnungi dan disikapi. Dengan berfikir, merasakan dan meresapi saya dapat membuka pintu, jendela dan atap kamar untuk menghadirkan dunia penyair. Dunia statement-metafor dan simbol-simbol yang memintal perguliran hidup yang bergolak.

Kamar bukan hanya ruangan yang dibatasi tembok, tapi merupakan ruang gagasan yang dibatasi oleh keterbatasan pemikiran dan imajinasi. Mengkonstruksi sebuah kamar, sebuah rumah, pekarangan, perkampungan, dusun, desa, negara, bahkan sebuah dunia yang lain sekalipun. Di sinilah saya menemukan gagasan menulis puisi: dari kesadaran kata menuju komunitas kata, untuk kemudian menjadi bahasa yang bergerak.

V
Betapa luas kamar terbuka tempat saya telanjang, membuka ide, gagasan dan imajinasi. Kita bersetubuh di dalamnya, bersentuhan, bercumbu, saling membelai atau saling berbisik diantara gemerisik yang merayap. Siapakah yang mengerang? Siapakah yang mendesah merangsang? Siapakah yang menunggu di ranjang duka kematian?

Rumah, rumah kita yang memiliki riwayat hidup dengan ratusan kisah kesedihan; saya mengingatnya, melupakannya dan mengingatnya kembali. Gerimis di halaman, suara hujan yang ditanam, jari-jemari pemilik riwayat yang coklat, bau amis ombak, persekongkolan, tatapan yang membawa aroma badik dan celurit, pohon-pohon asam tua yang terlalu tinggi dan coklat memandang nafasnya sendiri, seragam tentara yang tergeletak di depan pintu rumah sakit, demonstran yang tertembak, rencong yang menari membangun sudut-sudut ruangan, album kenangan dan kebun bunga yang tak mengenal musim, jarum tik-tok yang terpotong, lelaki pasir itu seperti kekasih setia yang menjamah tubuhnya pada hening dan mengasini seluruh rindu yang melukai wajahnya, lelaki-lelaki coklat yang pulang dihabis sore, jalan jalan bersimpang dan bergerak, wajah-wajah yang mirip maria atau ibunya, gaun yang melayang pada lembar-lembar partitur, jam dinding yang jatuh dan retak, lampu-lampu jalan sejajar pucat pasi, dan beranda...

Bukankah kita masih memiliki beranda, yang selalu menjadi saksi setiap pertemuan rindu dan percakapan mesra seperti dulu? Hingga suatu pagi sesobek Koran yang dibawa angin memuat berita perkosaan, pembunuhan dan peledakan bom, kenapa harus kita tinggalkan beranda? Kenapa kisah hidup harus dibuat dari senjata dan penjara?

Saya pun kembali sunyi menjadi lelaki pemberani, turun dan meraba jalan ketika malam dihidupkan.

VI
Dari kamar terbuka saya melihat orang-orang kampung saya Wing bertegur sapa. Saya juga merasakan, bahwa betapa budaya konsumerisme mewabah di kampung saya. Perempuan Indonesia memakai tanktop, istri tukang becak memakai parfum ke tubuh mereka sehabis mandi di kali, anak-anak tetangga memaksa orang tua mereka membelikan pakaian dari sebuah iklan di TV. Orang-orang berpenghasilan pas-pasan di kampung saya memaksakan diri membeli handphone, membeli beberapa bungkus tissue ke swalayan.

Kebudayaan asing itu merambah kampung saya, menyingkirkan lagu-lagu permainan anak-anak dan menggantinya dengan film biru. Lahirnya anak-anak Punk dengan rambut ala Indian dan pakaian norak, gadis-gadis ABG di sana berpakaian ala pemain sinetron dan telenovela. Anak-anak muda di ujung jalan dan tikungan mencandu pil koplo dan narkotika. Mereka minum minuman keras sambil berteriak-teriak menyanyikan lagu metallica kebanggaan mereka. Di depan masjid agung di kota saya, terdapat sebuah alun-alun yang bila matam hari mejadi tempat negosiasi pelacur dan pelanggan, termasuk pula bencong. Saya merasakan semua itu. Saya melihat semua itu. Segala persoalan meliar dan menjilati tubuh saya, beleleran di kamarterbuka.

Di sebuah koran harian dan TV: berita darah, pertikaian, kerusuhan, korek api telah terbakar, ketua DPC hilang, sebuah organisasi keagamaan tidak suci lagi, tentara menembaki aksi demo mahasiswa, guru-guru berdemo meminta kenaikan gaji.

Memasuki kamar birokrasi yang terkunci rapat, betapa banyak surat luka tersembunyi Pedih da terbungkam. Di atas meja tergeletak topeng-topeng berkacamata dan berdasi menyanyikan lagu pemujaan pada jabatan. Lidahnya menjulur dan menjilati pantat dan lantai. Tangan-tangan cekatan memanipulasi angka dan data, surat-surai gugatan tumpang-tindih menjadi fragmen-fragmen yang tak pernah usai di ruang sidang. Di sudut ruangan tergeletak seperangkat computer yang menyimpan data-data orang terlarang yang tak pernah diadili, yang KTP-nya tercantum kode eks-anggota partai terlarang. Sungguh benar-benar suasana kamar yang mengerikan.

Kamar terbuka; kegelisahan imajinasi pemikiran yang melompati ruang demi ruang, melampaui sekat demi sekat pembatas. Kalender terlepas dari kaitannya mengingatkan saya pada Aceh -sebuah kampung yang ramah dan marah-, tempat tinggal seorang sahabat di-anaktirikan dan dihancurkan. Dilecehkan dan diluluhlantakkan. Kaleder yag menimpa foto-foto dalam album kenangan. Tak ada tangis disitu. Semua dingin dan membeku. Dari sebuah tape recorder terdengar interogasi aparat keamanan dengan salah seorang pemberontak yang dianggap subversive dan direkayasa sedemikia rupa. Lalu, suara tembakan dan erangan!

Di atas meja, sebuah asbak lempung yang kusam menyimpan puluhan bahkan ratusan puntung yang apak mengabu. Mengingatkan saya pada ritual-ritual kekerasan, lalu lampu-lampu jalan yang pucat dan seekor laron yang terlihat dari kaca jendela ini, mengingatkan saya pada kesepian yag berlarut-larut seusai ditinggal seorang kekasih.

Tragis!

Sebuah revolusi meledak dalam kaca TV, darah berceceran dan beberapa korban digotong ke tempat aman. Ambulans dan petugas palang merah lalu lalang mengevakuasi mayat tak dikenal. Di seberang kelompok demonstran, terdengar lolongan moncong senapan. Ada kerit dan umpatan, bagai suara gemuruh musik metal yang kasar mengerang. Dari sebuah pemancar radio FM yang meliput kecusuhan, terdengar suara reporter yang tersengal-sengal mencari tempat perlindungan. Di belakangnya sayup semayup terdengar lirik ketakutan, di antara reruntuhan syair pembangunan yang satire.

VII
Maaf, ngomong aja sendirian dulu! Saya sedang menangis di kamar mandi!

Bangkalan, 2006