Edisi Juni 2006

  SETELAH 61 TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN  
   
  Ini bukanlah sebuah cerita, buncah api atau bara
  atau bunyi senapan sesekali letup di dada.
   
  Ini hanyalah deru,
  entah mengapa mengabut di mata
  bersama luka senja yang terlanjur luruh
  setelah seharian matahari garang menghajar
  kepala tua penuh uban
  dan jari-jemari keriput
  menenteng koyak sepasang sepatu usang
  telah torehkan jejak langkah
  sepanjang 61 tahun umur republik.
   
  Ini bukanlah rangkaian kisah
  serpih duri ataupun setangkup keluh kesah.
  Walau teramat bekap,
  pada sisa amis darah dan anyir mesiu
  serupa goresan runcing bambu
  tepat menyayat ke ulu hati.
   
  Ini cuma renta menera umur sendiri
  berdiri setengah goyah di depan monumen perjuangan
  namun getar itu serasa mati, debar itu serasa mati
  larut bersama semua perih, hunjamkan pedih
  mencabik ingatan yang tak juga berlalu
  dari bekas luka tembak di kaki kiri.
   
  Ini hari masih teramat jauh dari harap
  degup yang tiada henti teriakkan bara
  yel-yel yang serukan kata MERDEKA!
  kini tak sanggup lagi terkata di bibir keriput
  nyeri dalam jiwa yang kian merapuh:
  “Bagaimana hendak acungkan kepal
    bila tangan hanya mampu gemetar
    menopang tubuh yang nyaris rubuh?”
   
  Cuma nyalang mata ini yang mungkin masih sanggup bicara
  sekalipun rabun membayang setiap kenang
  ketika dulu lagi ditatapnya penuh hormat
  dalam kilau kagum yang tak akan henti luapkan asa
  pada seri wajah Bung Karno yang genggam selembar teks
  dan Bung Hatta demikian khidmat berdiri di sebelahnya.
  Menggetarkan seluruh roma dan miang di sekujur tubuh
  lentik-lentik api yang merah sekejap berdenyar di dalam darah.
   
 
Tapi duh, kemana lagi perginya segenap rasa itu?
  sergapan hasrat yang dulu menggugah semangat di dalam dada?
   
  Walau kini masih dirasanya damba
  buncah harap yang berdetak bersama kibar bendera
  Sang Saka Dwi Warna berjaya di puncak langit
  bersama alunan lagu Indonesia Raya
  serupa iringan orkes yang menyuarakan keabadian.
   
  Hingga tiada terasa air matanya menitik
  menahan gejolak yang kian lama kian perih.
   
  :Kemana lagi perginya nilai-nilai
  ketika kemerdekaan henti sebagai tugu
  dicorat-coret kata-kata busuk dan umpatan menjijikkan.
  Kemana lagi perginya hakekat perjuangan
  ketika semangat pahlawan henti sekedar sebagai catatan
  dalam buku pelajaran sejarah di sekolah.
   
  Sementara gejolak tiada lagi bersisa
  selain hiruk-pikuk keramaian permainan kanak-kanak
  tiap kali menjelang bulan Agustus.
   
  Segurat makna Kemerdekaan,
  apakah sungguh masih bertalu di jantung setiap anak negeri?
  sedang harap pun berlalu bersama seluruh sisa kenangan
  bekas manusia pejuang, perlahan-lahan dilupakan.

*Titon Rahmawan, Sarjana Teknik Arsitektur lahir di Magetan pada tahun 1969, beberapa karya dapat ditemui di situs Cybersastra.net dan beberapa milis-milis sastra baik dalam bentuk puisi maupun esai.  Beberapa karyanya tergabung di dalam antologi bersama “Dian Sastro For President #2 Reloaded” (ON/OFF, AKY 2004) dan “Sastra Pembebasan” (Yayasan Damar Warga, 2004). Pernah memenangkan Puisi Bulan Ini Puitika.net Edisi Maret 2006.  saat ini masih bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan property di Jakarta.

Puisi ini terpilih sebagai Puisi Bulan Ini Edisi Juni 2006
dengan tema "Kemerdekaan Kita, Kemerdekaan Sesungguhnya" setelah melalui mekanisme pemilihan oleh Editor Puitika.net dan penjurian secara langsung oleh pembaca.

Komentar Dukungan

Dear puitika,
   
  Kerumitan tema rupa-rupanya tak menghalangi penyair ini untuk menuangkan
gagasannya dengan cara yang sangat apik. Ia tidak saja bercerita, ia mengajak kita
pada sebuah refleksi sepintas perjalanan sejarah negeri ini. Betapa banyak jejak
yang masih tertinggal yang ironisnya justru kita lupakan begitu saja.
   
  Fanny TA. <theoraagatha@yahoo.com>
_____________________________________

Kekuatan utama sajak adalah di dalam caranya menyampaikan ironi dan mengolah imaji
menjadi sesuatu yang patut untuk direnungkan. Sajak ini tidak saja secara lugas
menampilkan sisi lain dari realitas bangsa ini namun dengan gaya menggugat yang
halus ia tampil menohok. Sudah saatnya bangsa ini lebih menghargai mereka-mereka
yang terasingkan itu. Para pejuang yang diam-diam kita lupakan.
   
  Saiful saja – Surakarta <saiful.saja@yahoo.co.id>
______________________________________________

Esensi puisi pada dasarnya untuk menyampaikan rasa yang paling dalam dari
penyairnya. Apa yang lahir dari hati sang penyair adalah pencerminan dari rasa puisi
itu sendiri. Disini terlihat kedalaman seorang penyair dalam mengolah rasa batinnya,
kepekaannya dan sekaligus kepeduliaannya pada potret realitas yang berada di luar
dirinya. Puisi ini secara utuh mencerminkan hal itu dan sebagai sebuah rasa yang
dalam ia telah berhasil menyuarakan kegelisahan jiwa sang penyair.
   
  rugard_exo <rugard_exo@yahoo.co.id>
_____________________________________

Halo Puitika,
   
  Saya suka sekali dengan sajak yang satu ini. Entah mengapa sajak ini terasa
merasuk di hati saya, saya merasa trenyuh dengan nasib laki-laki tua itu.
Penyairnya pinter menangkap wacana. walau mungkin hanya dalam puisi tapi puisi ini
mampu berbicara banyak.
   
  Ratna Lestari <ratna.lestari@yahoo.co.id>
_______________________________________

menarik sekali membaca penafsiran angkatan ini mengenai makna kemerdekaan, dan walau
tidak sepenuhnya memperlihatkan ‘nada’ keoptimisan barangkali justru hal tersebut
menjadi cermin bahwa makna kemerdekaan sepertinya telah banyak mengalami pergeseran
dan perubahan tafsir. Sebagaimana yang terlihat di dalam sajak ini, yang saya pikir
secara jujur menyuarakan kata hatinya. Tapi jangan putus harapan kawan, teruslah
berjuang.
   
  Salam,

"ludi riwanto" <ludi.riwanto@yahoo.com>
_______________________________________

Saya kira puisi ini adalah yang paling bagus dalam menjabarkan tema yang diberikan
oleh pihak penyelenggara, nggak berbelit, makna yang disampaikan juga jelas. Menurut
saya oke banget.
   
  Desta <putra.surya@yahoo.co.id>
________________________________

Sajak ini saya anggap berhasil menyiasati tema dan menggabungkannya dengan cara
bertutur puisi yang puitis, ia tidak saja menyentuh namun ia bahkan sanggup
berbicara banyak. Perenungan yang disampaikannya menyeret kita untuk lebih dalam
lagi menafsirkan makna kemerdekaan yang sesungguhnya.
   
  Salam dari Bram
"brametya yudhistira" <adekmu_bram@yahoo.co.id>
______________________________________

Rekoleksi pengalaman kita atas makna kemerdekaan memang beragam namun untuk
menuangkannya dalam sebuah puisi jelas bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Dan
sajak ini dengan lugas telah berhasil menjawab tantangan tersebut.
   
  Tinung Nuarista Sella Nugraha <arman.kelana@yahoo.com>
________________________________________

Ini baru sajak yang unik dan sekaligus menarik, gamblang dan tanpa bahasa yang
muluk-muluk. saya yang nggak seberapa ngerti puisi juga dapat menangkap maksudnya
dengan cukup jelas, tapi nggak kehilangan bahasa puitisnya. bravo.
   
  Agustinus Susanto  <s.agustinus@yahoo.co.id>
______________________________________________

Dari 7 judul Nominasi yang dihasilkan oleh Panitya Sayembara, pilihanku sangat
mantap untuk mendukung Puisi yang berjudul
   
  SETELAH 61 TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN.
   
  Aku memiliki alasan yang sangat kuat untuk menjagokan puisi ini, yakni karena
   
   Puisi ini telah menemukan dan mencoba mengangkat  nilai nilai yang hilang tak
terwariskan dari generasi para pejuang perintis kemerdekaan  kepada generasi
penerusnya saat ini  Yaitu  Semangat Berkorban demi Nusa Bangsa.
   
  Semangat rela berkorban yang menjadi jiwa dan semangat perjuangan ketika itu
misalnya saja ,semboyan MERDEKA ATAU MATI, kini lenyap tak berbekas lagi
dikalangan kita semua.,dan telah berganti dengan tabiat individulaistis tak
perduli kepada orang lain, malahan telah menjelma suatu sikap yang kuat untukl
menghalalkan segara cara untuk merampok kepentingan bangsa dan negara demi
kepentingan pribadi.
   
  Suatu keadaan yang sangat bertolak belakang dan sangat mengkhawatirkan
   
  Puisi inipun akan menyadarkan kita betapa bangsa ini telah mengkhianati nilai
nilai suci yang tertanam pada jiwa para pejuang kita lebih dari itu kitapun kini
sama sekali tak perduli kepada tua renta eks pejuang kemerdekaan Republik ini,
yang kini hidup sengsara, terlunta lunta, dililit kemiskinan dan ketidak adilan
dari bangsa yang dahulu diperjuangkan kemerdekaannya dengan taruhan nyawanya.
   
  Siapa yang peduli kepada Bapak Paijo veteran Perang Kemerdekaan yang gagah berani
saat itu,  namun kini tinggal di Jambi dalam sebuah rumah seukuran 3 kali 5 meter
,yang sedang sakit sakitan ?
   
  Atau kepada Bapak Husein Pon eks kopral T K R yang bicaranya sudah pelo  hidup
miskin, sangat miskin sampai sampai makanpun sulit dalam kerentaan umurnya yang 80
tahunan itu…?
   
  Sungguh aku khawatir jangan jangan kita ini sedang dihukum Tuhan dengan berbagai
bencana,atas kelalaian kita menghargai jasa jasa para pahlawan negeri ini…bukan
hanya lalai tapi berkhianat
   
  Kerisauanku terobati dengan masih adanya penyair kita yang menyadari dan mencoba
mengangkatnya dalam karya puisinya yang berjudul seperti diatas.
   
  Aku dukung puisi ini untuk dipilih menjadi Juara Sayembara Puisi kali ini., karena
memang PANTAS..
   
  Mungkin kegembiraanku ini akan bertambah besar jika penulis puisi ini adalah
generasi muda dibawahku.
   
  Wasallam
  Putra Nusantara

<cephi2002@yahoo.com>
_________________________

Tinggalkan komentar


CATATAN - Anda bisa menggunakan HTML Label dan atribut:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>