Monthly Archives: Juni 2006

Jiwa Terdustakan

Selamat pagi tuan puisi
aku datang dengan sebuah pena kehadapanmu
pena yang dengan itu selama ini kutata kata atas namamu
Aku sudah pergunakan hak yang dulu kau hadiahkan kepada dua jiwaku untuk berfoya tintanya.
Kini aku kembalikan bersama pahala yang tercatat sedangkan dosa yang terakibat telah aku mintakan kepada Tuhan penciptamu untuk dapat kutebus sebelum pintu mati kian mendekat.

Selamat pagi tuan puisi
aku mohon diri, pulang ketempat jiwa lainku yang tengah bertapa.
jiwa yang tak terlalu mengagungkan kejujuran pun juga tak menginginkan kepura puraan.

Terimakasih meski kumengerti tujuan sesungguhnya tuan tersamarkan
namun selama ini kaupun tak menyadari letak jiwa ketigaku yang aku sembunyikan

Tuhan Aku Mohon ampun (3)

Aku mencuri dengar dari pembicaraan dua 0rang malaikat di sebuah altar negeri misteri.
si malaikat WAKTU berkata, ‘’aku merasa bersalah kepada mereka,
mengapa aku mesti berdiri diantara keduanya.
bila memang harus demikian kenapa pula engkau tak menjauhkannya?’’.
Sang malaikat JARAK menjawab, ‘’ya..aku juga merasakan hal yang sama,
sudah berusaha aku melebarkan rentang tangan namun tak kuasa tuk memisahkan’’.
lantas di ruang manakah seharusnya kebenaran berada dan diadakan?
Tuhan kita melarang namun Tuhan dia mengiyakan.
Bukankah Tuhan itu maha esa?
lantas siapakah yang memberi batasan sedangkan Tuhan ada pada manusia??’’..

Aku tak tahan untuk tetap berdiam (dan smoga mereka tidak mengenali aku).
Wahai Dua malaikat yang di hati kalian penuh kesucian..tak kan pernah engkau mengerti apa yang memang Tuhan berkehendak kalian untuk tak mengalami.
Biarkanlah mereka berdua mencari dimensi mereka sendiri tatkala kalian berpura pura terlelap tidur dan bermimpi. (dan sungguh aku ingin kalian tak terjaga lagi..)

Bernikmat Mencumbu Nafsumu

Biar ku sejenak menghentikan langkah ,menelusupkan jemari dilekuk hatimu lalu mengajak menimang kesempurnaan cinta yang menari diantara ujung lidah saat bibir kita menyatukan nafsu.
Biar ku sejenak menghentikan nalar pikir,menyandarkan kepala dipusar rasamu lalu menyanyikan gelora rindu yang tak pernah bosan memainkan hasrat tuk memilikimu.
Kemudian aku takan pernah berhenti menyetubuhi pejam mata itu serta menjadi pemilik desah nikmat yang terucap dari puncak-puncak kejujuranmu

Aku…Sahabat dari Sahabatmu

Sahabat
Ada butir keringat di dahimu
Pandang aku !!!
Ada butiran putus asa di semangatmu
Telah berusaha keras kau tutupi, aku tahu itu
Di puncak cemara pernah kau bertapa
Di dasar samudera pernah kau bersukaria
Sengat kedzaliman belum pernah lunturkan senyum
Gemulai sang penikmat laknat pun tak pernah menjadi pencoreng santun
Lantas badai sedasyat apakah yang mampu merobek ujung daun lentur sahabatku?
Sangat bisa kumengerti bila tak kau ciprati kuping ini dengan keluh kesahmu karena memang engkau tahu kupasti tak kuasa ikut mencicipi
Coba lakukan apa yang pernah engkau ajarkan kepadaku
Sujudlah pada ibu bumi
Mohon ampun dan serahkan kepalamu tuk di belai kodrat keikhlasannya
Titipkan bebanmu kepada ibu lalu biarkan sang bumi menunjukkan kebesarannya
Masing masing kita pernah bersalah dan melakukan kesalahan
Dan rasa seperti yang kau rasakan adalah kiriman surat teguran dari pengendali jaman
Pandang aku sahabat (aku memandangmu)
Ku tunggu engkau disini….(tunggu aku disini)
Kubersihkan jalanmu ….. Kujaga jejak dan petilasanmu
Kembalikan wajahmu di wajahku bertumpu pada harga dirimu dan sejatiku
Dan aku akan kembali

Mentari DAN Pelangi

Seorang laki laki berniat menyempurnakan mimpi dan mempersiapkan diri demi sebuah esok hari.. hari pada saat nanti dimana bunga bunga harga diri menjadi hiasan peti mati. Seorang laki-laki yang sedang mengemasi perbekalan perjalanan sukma lengkap dengan cungkup saji berupa tujuh cakra meditasi serta sekeranjang nyali. Namanya adalah Mentari.. seorang laki-laki yang sedang berpamitan kepada sang istri sekaligus memohon juga melaksanakan ritual suci menyalakan api abadi pertanda masih adanya ikatan hati. Mengangguklah sang istri..dia adalah Pelangi. Mentari: Tak ada alasan menghindar dari busuk penghuni jaman karena dunia adalah pasar..memang adalah tempat jual beli kehormatan, ada harga yang ditawarkan meski tak terjangkau oleh sebagian orang. Pelangi: Akan tetapi sekarang engkau membutuhkan ruang dengan bau kemenyan demi keseimbangan..aku paham dan akan selalu paham. Mentari: Engkau lebih mengerti bila saatnya sudah datang… siapakah Dewa yang telah mendatangimu untuk memberikan kabar ini? Pelangi: Seribu Dewa yang menyampaikan..seribu lainnya mengiyakan.. dan seribu lainnya meragukan senyumku sebagai tanda kesediaan serta keihlasan. Dengarkan ucapan ini suamiku, ucapan yang kusampaikan pada tigaribu Dewa yang mendatangiku… “Aku dan suamiku adalah pasangan jiwa. Raga kami adalah sangkar cinta ang tahu apa arti dahaga dan cara membasahinya. Kami adalah saling pemanfaatan, kami adalah saling pelengkapan. Seperti jari jemari kami yang menyatu genggam membentuk satu kepalan tuk melawan apa dan siapapun yang berniat mengoyak masa depan. Suamiku sedang sekarat hati karena lelah menghirup busuknya pelaku kehidupan.. aku bisa melihat itu lebih dulu dari pada kalian para Dewa, karena kalian diatasnya sedang aku ada di dalam kalbunya”. Mentari: Ya pasangan jiwaku..terimakasih.. bukalah bibirmu karena akan kuhembuskan ruh syahwat duniaku, aku titip itu karena memang hanya engkaulah yang mampu memeliharanya. Pelangi: Ya pasangan jiwaku .. terimakasih.. ini bibirku, lalu ciumlah aku seperti pertamakali dulu kau mencium bibirku, kuingat waktu itu sudah yakin bahwa engkau akan mampu menjadi pembendung airmataku. Sekarang pergilah.. berangkatlah menuju pertapaan menemui guru sejatimu. Sudah engkau sampaikan banyak jawaban, bahkan dari yang aku tak mampu merangkai kata sebagai pertanyaan.. kini sudah saatnya engkau mengajari dirimu sendiri, kelak bimbinglah aku dan keturunanmu. Lihat wahai Suamiku… Mentari dan Pelangi sedang ditantang para Dewa……