LK Ara dan Proyek-proyek Penerbitan Buku Sastra di Bangka Belitung

Tahun 2005 penerbitan buku kumpulan sastra begitu marak di Bangka Belitung (Babel), yang dimotori oleh LK Ara (LKA) dan Penerbit Yayasan Nusantara Jakarta (YNJ). Contohnya, Bunga Rampai Bangka Barat (bekerjasama dengan Pemkab Bangka Barat, Januari), Antologi Puisi Lingkungan Hidup Kelekak (bekerjasama dengan Dewan Kesenian Kota Pangkalpinang, Juni), Antologi Pantun Melayu Bangka Pucuk Pauh (bekerjasama dengan Pemkab Bangka Induk, Desember), dan Bangka Belitung Bercahaya dalam Pantun dan Puisi (bekerjasama dengan PLN Babel dan Dewan Kesenian Kota Pangkalpinang, Desember), dan lain-lain. Terkecuali Pelangi Budaya Bangka Tengah (pemkab Bangka Tengah, Desember) yang luput dari ‘proyek’ LKA bersama YNJ karena orang-orang Dinas Kebudayaan Bangka Tengah telah mengetahui ‘siapa sesungguhnya kontraktor nakal’ dalam penerbitan buku-buku sastra di Babel akhir-akhir ini.

Kesemarakan penerbitan tersebut sepintas berhasil mereduksi kemandulan dunia sastra literatural di Babel. Akan tetapi, sesungguhnya, ‘proyek-proyek’ bernilai puluhan juta rupiah tersebut bukan merupakan usaha yang berlandaskan itikad tulus – edukatif untuk mencerdaskan kehidupan bersastra dan berkarya bagi generasi muda peminat sastra di Babel. Sama sekali bukan! Kecuali merupakan ‘proyek penambangan uang’ milik penyair nasional asal Aceh yang menggunakan sakan sastra sebagai alat pengeruk dan penguras dana pembangunan rakyat Babel.

Perekrutan karya secara massal melalui media massa lokal maupun mulut sastrawan-sastrawan lokal tidak dilanjutkan dengan proses seleksi yang logis dan kualified. Karya-karya sastra yang masuk dan dimuat tidak melalui jalur seleksi semestinya. Peran Editor LKA lebih mendominasi kegiatan ‘proyek’ dibanding budayawan sekaligus pemangku adat Babel, Editor Suhaimi Sulaiman. Contohnya puisi Utak-Atik Angka Koran dalam Bunga Rampai Bangka Tengah. Puisi yang ditujukan untuk : penjual koran dan ditulis di Sungailiat (Bangka Induk) 5 Agustus 2003 itu sama sekali tidak mencerminkan hal-hal yang bercitra Bangka Barat.

Ada juga yang ‘belum puisi’ tapi diloloskan begitu saja oleh Editor LKA dalam Bangka Belitung Bercahaya dalam Pantun dan Puisi. Contohnya, puisi Toboali di Ujung Selatan Bangka karya Tarmizi Jemain. Kota Nenas julukan untuk kota Toboali / Nenasnya manis sekali / Berbeda dengan nenas-nenas dari daerah lainnya / Barangkali karena kondisi tanahnya / Dan iklimnya agak berbeda dengan daerah lainnya. Ataupun puisi Batu Satam. Batu satam hitam batu mulia / ‘Satam’ dari bahasa orang cina / ‘Sa’ berarti tanah / ‘Tam’ artinya empedu / Satam berarti “empedu tanah”.

Demikian pula kemiripan isi. Contohnya puisi Igauan Punai dan puisi Luka Membahana karya seorang pemuisi dalam antologi Kelekak. Bahkan dalam Bangka Belitung Bercahaya dalam Pantun dan Puisi terdapat dua puisi dengan pemuisi yang sama, yakni puisi Senandung Anak-anak Kecil karya A. Zinwar bin Dahlan di halaman 28 dan 29.

Berikutnya, kesalahan-kesalahan aksara dalam pengetikan ulang. Contoh puisi Lagu Duka karya Djamaliah Syaiful dalam Bangka Belitung Bercahaya dalam Pantun dan Puisi, pada kalimat Kambali aku kabalik debu. Dan pada buku itu terdapat lebih dari 20 kata kesalahan aksara, seperti untuk umpri (seharusnya untuk umi) lambayan, berhendus, kibawan, keusadahannya, peluikan, tidfak, bersarmu, memabulkan, melam, membantuk, zaintun, lemai gemulai, dihadpan, terbanyang, pantan, keramain, dsan, Bak, dianatara, berebenteng, begandeng, menyujukkan, sebuaah, maatkaan, listik, menghilangl, mesyarakat, ibadsah, atukah, kehadiranmua, yanmg, daiajak, katankan, dan lain-lain. Ini jelas-jelas merusak karya sekaligus melecehkan penciptanya!

Kapasitas LKA sebagai editor yang tidak banyak mengerti bahasa Melayu Babel kian merusak kualitas karya. Satu contohnya, pantun no. 20 dalam antologi pantun Melayu Bangka Pucuk Pauh karya Sulaiman Yusuf. Perahu ikan didera batu / Penyair buyan menyandera bajak / Ke hulu kene bubu / Ke hilir kene tengkulak. Kata “tengkulak” merupakan kesalahan ketik ulang editor. Kreator pantun sebenarnya menulis “tekalak”; sejenis perangkap ikan mirip bubu yang terpasang duri-duri tajam pada lubang masuk perangkap sehingga ikan tidak akan nekat meloloskan diri. Tapi karena Editor LKA hanya tahu “tengkulak”, maka dengan seenaknya ia merubahnya menjadi “tengkulak”. Makna karya justru rusak di tangan Editor ‘tengkulak’ LKA!

Dari buku-buku hasil ‘proyek’ LKA tersebut pun tampak sekali bahwa LKA melakukan ‘one man show’, dari proposal, penggarapan hingga dapur percetakan. LKA tidak memiliki tim kerja sebagaimana patutnya sebuah yayasan yang bergerak di bidang sastra (penerbit buku).

Kritik Sastra di Babel

Kehadiran media massa lokal di Babel, misalnya harian Bangka Pos, Babel Pos, Rakyat Pos, tabloid Babel Ekspres, dan lain-lain sejak Mei 1999 ternyata tidak juga dibarengi oleh kehadiran sebuah kritik sastra, paling tidak kritik minimalis. Sastrawan lokal, misalnya Ian Sancin, Roestam Robain, Rustian Al Ansori, Surtam A. Amin, Amiruddin Dja’far, Fahrurrozi, Sobirin Hatip, Heru Herlambang, Mustafa Kamal, Mamaq Dudah, Kario Bin Nawi, Saad Toyib, Sulaiman Jusuf, Saderi, DN Kelana, Dedi Priadi, Buding, Irmansyah, Endang Bidayani, dan lain-lain selama satu tahun hingga awal tahun 2006 ini sama sekali tidak menanggapi realitas memilukan tersebut melalui tulisan kritis (semacam kritik sastra) di media massa lokal. Di antara mereka hanya berani melakukan ‘pergunjingan angin’.

Para pembaca ideal (berpendidikan sastra Indonesia), misalnya Ira Esmiralda Kurnia, Tien Rostini, dan Sobri, masih saja asyik dengan dunia mereka sendiri. Ira dengan keluarga dan taman bunganya. Tien Rostini dengan keluarga dan sekolahnya. Sobri dengan sekolah dan kegiatan individualnya. Sarjana-sarjana sastra lainnya juga tengah sibuk dengan entah apa lagi.

Kondisi krisis kritik sastra ini dipengaruhi pula oleh budaya ‘dak kawah nyusah’ alias budaya pragmatis yang telah menyatu utuh dalam nadi dan hati para peminat, pengamat maupun penggiat sastra di Babel. Ketiadaan (bukan langka, punah/mati!) kritik sastra yang berwibawa itu andil langsung dalam kelancaran aktivitas ‘proyek-proyek penambangan’ LKA dan YNJ.

Dewan Kesenian dan Komunitas Sastra Daerah

Kalau di luar Babel eksistensi departemen sastra dalam struktur organisasi dewan kesenian daerahnya memang memiliki ‘wibawa’, tidaklah demikian dengan realitas yang terjadi di Babel. Provinsi Kepulauan Babel resmi terbentuk 21 Desember 2000, tapi sampai 2005 tidak ada Dewan Kesenian Provinsi karena ketidakpedulian pemeritah provinsi terhadap kesenian (kebudayaan) daerah, kecuali jika dibutuhkan untuk acara seremonial, misalnya penyambutan tamu atau hajatan pejabat. Sementara dewan kesenian kota/kabupaten, yang notabene mitra pemerintah daerah, ternyata sebatas ‘status fiktif’ pada ‘kop surat’. Kualitas SDM anggota departemen sastra berada jauh di bawah standar minimal. Orang-orang depatemen sastra tidak lebih dari ‘nama-nama mati’ seperti nisan-nisan di makam para pahlawan sastra Indonesia.

Melempemnya dewan kesenian daerah dibarengi oleh ketiadaan sanggar-sanggar sastra, workshop, pelatihan, apalagi diskusi-diskusi sastra bermutu. Tidak ada usaha pembinaan, baik dari pemerintah maupun sastrawan. Komunitas Pekerja Sastra Pulau Bangka (KPSPB) yang berdiri sejak tahun 1999 tapi 2002 tiba-tiba ‘mati suri’ gara-gara persoalan personal yang tak jua terselesaikan, dan anggota Yayasan Aktualita Karsa Pangkalpinang (salah satu penerbit buku sastra di Babel yang diketuai oleh Ki Agus Hazirianjaya), Willy Siswanto yang juga “one man show” mengatasnamakan yayasan untuk menerbitkan buku sastranya sendiri sekaligus membuat ulasan-ulasan ‘provokatif’ seperti kata pengantar maupun ‘promosi’ di sampul belakang bukunya seolah dari ulasan singkat penerbit, menambah daftar panjang keprihatinan dunia sastra Babel.

Selain itu, sastrawan-sastrawan muda ‘bergerilya’ secara individual dengan penuh kesadaran diri untuk terus meningkatkan kualitasnya, dan thank’s God, beberapa di antaranya berhasil memperkenalkan karya-karyanya di media massa lokal seberang sampai nasional. Putera-puteri Babel, khususnya yang merantau dan tidak dibesarkan dalam geliat sastra lokal semisal Novelis Andrea, juga kemudian (thank’s God !) berhasil menuai apresiasi yang positif. Sekali lagi, mereka tetap melakukan kegiatan bersastra secara individual, dan God bless them.

Tetapi kondisi birokrasi, institusi sastra dan para sastrawan lokal yang melempem serta gerilya karya sebagian sastrawan muda ke luar Babel, mau-tidak mau telah menyulap dewan kesenian daerah menjadi “tukang stempel” bahkan foto pejabat ukuran 3 R yang dimanfaatkan sebaik-liciknya oleh LKA bersama YNJ untuk kelanggengan ‘proyek-proyek profit’-nya.

Kesempatan Emas

Selama masa pemantauannya terhadap kehidupan sastra tradisional dan kontemporer di Babel sejak tahun 2003 lampau, ternyata situasi serba memprihatinkan tersebut merupakan kesempatan emas bagi LKA beserta YNJ yang telah lebih dua puluh tahun bergaul intim dengan sastra untuk melakukan kegiatan-kegiatan ‘malpraktek’. Lahan-lahan sastra yang ‘dilalaikan’ oleh institusi sastra dan sastrawan lokal, merupakan ‘lahan subur’ bagi LKA untuk ‘mengeruk materi’, baik dari pemerintah daerah maupun BUMN lokal. Lebih celaka lagi, LKA bersama YNJ sering mengajak dewan kesenian daerah Babel untuk menjadi ‘pembawa stempel’ bahkan ‘alat/stempel’ guna melegitimasi ‘proyek-proyek’ penerbitan buku sastra!

Hegemoni plakat ‘pensiunan Balai Pustaka’ yang disandang LKA sekaligus pesona prestasinya juga berhasil telak menghipnotis sebagian besar logika birokrasi kebudayaan di Babel. Pejabat-pejabat penting di pemerintahan daerah hanya bisa manggut-manggut dan mandah ketika LKA melakukan ‘manuver-manuver’ sastranya dengan segepok proposal akal-akalan atau sekadar ‘olah lidah’, kendati ‘angka-angka yang telah ‘dipatgulipat’ itu pun tetap tanpa mengindahkan hak-hak intelektual para kreator, termasuk acara baca sastra di sekolah-sekolah.

Dari seluruh hasil kerja Editor LKA bersama YNJ sampai tahun 2005 lalu, termasuk pemuatan foto-foto pejabat setempat, lembar-lembar iklan produk konglomerasi lokal serta penataan yang acak-acakan, tampak sekali bahwa kepedulian LKA terhadap pembinaan, peningkatan kualitas kehidupan sastra dan dokumentasi sastra di Babel bukanlah berakar dari itikad luhur dan batin yang tulus. Tetapi semata-mata ‘proyek-proyek profit’ atas nama sastra. Sungguh menyedihkan realitas dunia sastra Babel mutakhir yang habis-habisan ‘diperdaya’ semena-mena oleh ‘intervensi eksploitatif pihak asing’ ini!

*Agustinus "Gus Noy" Wahyono, lahir di Sungailiat, 14 Desember 1971, dan menetap di tempat asalnya, kampung Sri Pemandang Pucuk, Sungailiat, Bangka (Bangka Belitung). Esai, cerpen, puisi, kartunnya pernah dimuat di sejumlah media massa lokal dan nasional. Setelah memboyong gelar Sarjana Teknik Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta, ia dan kawan-kawannya (Sunli Thomas Alexander, Ira Esmiralda, Ali Akbar, dll.) aktif bersastra di Bangka, dan tergabung dalam Gerombolan Pecinta Hujan.

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>