/1/
Gelombang keberapa
Terhitung jariku
Ketika perahu
Berlabuh di telukmu
Sepanjang teluk
Kecipak air membuih
Buih-buih masa lalu
Terbujur beku
Gelombang senja
Membentang jala
Waktu membangkai
Di pantai yang landai
Gelombang keberapa
Bisa kugapai?
/2/
Remah waktu
Bagai sembilu
Remah laut
Sila berpaut
Sepanjang teluk
Seroja berduri
Matahari membangkai
Di ujung kali
Gelombang mengkurva
Garis tak tentu
Sebuah nama di sungai hanyut
Mambang si hantu turun berbuyut
Telukmu pelukku
Gelombang rindu di tubuhmu
/3/
Ini perahu
Tertidur di pantaimu
Gelombang milik-Nya
Kita tak tahu
Gelombang darat berkarat
Sebab tanah sekarat
Gelombang laut bersilat
Karena nelayan kianat
/4/
Ucap serapah
Karena marah
Tak tahu hendak alirkan darah
Kais pagi makan pagi
Kais petang makan petang*
Aduhai sayang
Padahal layar tinggi menjulang
Padahal negeri nama terngiang
Ini negeri
Negeri yang mana
Junjung menjunjung
Rakyat merana?
/5/
Empat ratus sembilan puluh dua
Usia yang renta
Raja-raja duduk bersila
Kehilangan rupa
Kepiting terbenam
Terubuk terendam
Bakau terpendam
Kita pun diam
Ujung tanjak** terlipat
Ujung kain terbebat
Satu kaki terikat
Langkah tersendat
Gelombang yang datang
Tak pernah diundang
Tak malam tak siang
Kian meradang
“Puih…, lantaklah lantak!
Gelombang akan menggulung daratan secuil ini!!”
Rumahlaut, 2004
*sebuah pepatah melayu
**bagian dari pelengkap baju melayu Riau berupa kopiah penutup kepala
0 Komentar