Arsip Bulanan: Mei 2006

Yogyakarta

Telah dibungkam semua tawa-canda,
telah gugu dan kelu semua puisi,
membacamu pada pagi 27 Mei yang memar dan menangis

+852673141xxx

Gus tf Sakai

Gus tf Sakai, lahir pada tanggal 13 Agustus 1965 di Payakumbuh Sumatera Barat. Ia menamatkan studinya di Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang. Mulai menulis prosa pada usia 13 tahun sejak sebuah cerpennya memenangkan hadiah pertama pada sebuah lomba penulisan cerpen. Hingga sekarang ia telah menyelesaikan 2 novel, 7 novelet, dan 18 cerpennya memperoleh penghargaan yang diselenggarakan oleh berbagai media seperti majalah Anita, Femina, Gadis, Hai, Kartini, Matra dan harian Kompas. Dua bukunya yang diterbitkan oleh Gramedia berjudul Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999) dan Tiga Cinta, ibu (2002)

Anakku, Maafkan Bapakmu : Ragil Sukriwul

Pembacaan Puisi ARS Ilalang oleh Ragil Sukriwul
Puisi berjudul, " Anakku, Maafkan Bapakmu"
Dalam Acara Peluncuran Buku Dialog-Dialog Sumbang.
tanggal 23 Mei 2006 di Kafe Gama Malang.

Malam Peluncuran "Dialog-Dialog Sumbang"

Setelah kurang lebih satu tahun dari peluncuran bukunya yang terakhir “ Jangan Menangis Kekasihku”, tepat hari Selasa tanggal 23 Mei 2006, ARS Ilalang kembali melaunching antologi puisi terbarunya yang berjudul “Dialog-Dialog Sumbang”. Penyair yang sempat dimuat profilnya di Puitika.net (Jejak penyair –Red) mengirimkan sejumlah pesan melalui friendster dan teks SMS prihal hajatannya kali ini dan juga berlaku sebagai undangan terbuka bagi siapapun yang berminat untuk hadir.

Saya yang kebetulan dihubungi oleh editor kepala Puitika.net (Oktarano Sazano) kurang lebih dua hari sebelum hari-H nya merasa senang kaena bisa berjumpa langsung dengan cak Rego, panggilan akrab ARS Ilalang. Alat perekam beserta notes kecil yang berguna untuk mewawancarai mereka yang terlibat dan juga pembacaan puisi langsung dari acara (dapat anda nikmati di bagian Download bagian Acara Bertajuk Puisi)

Malang, selepas Isya 23 Mei 2006 pukul 19.15.
Saya bergegas menuju kafe Gama yang terletak di bilangan jalan Watugong, Ketawanggede Malang. Sebagai pengetahuan untuk pembaca, kafe yang selain menjual makanan dan minuman siap saji ini juga acapkali dimanfaatkan sebagai tempat untuk acara kesenian contohnya, diskusi musik Indie, pameran lukisan, pemutaran film dan peluncuran buku. Di tempat ini pula sejumlah nama seperti Lintang Sugianto, Nanang Suryadi, Oktarano Sazano, dan lainnya pernah singgah untuk meluncurkan buku mereka. Mengingat lokasi kafe yang dekat dengan kampus Unibraw sungguh tidak mengherankan jika mayoritas pelanggan yang datang untuk bersantap adalah mahasiwa/i. Alasan ini pula yang mungkin mendorong ARS Ilalang untuk membedah dan mendiskusikan antologi puisinya yang terbaru ditempat ini. Menarik sebanyak mungkin perhatian kawula muda Malang untuk mengapresiasi karya sastra khususnya teks puisi.

Acara dimulai sekitar jam 20.00 malam. Molornya acara lebih dikarenakan menunggu sebagian tamu yang belum datang karena cuaca yang tidak cukup bersahabat. Rintik-rintik gerimis yang menghujam kota Malang syukurnya tidak menjadi lebat padahal beberapa hari belakangan hujan turun dengan deras. Sembari menunggu, saya menyempatkan diri untuk mencicipi makanan siap saji di kafe ini. Menu yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari ayam goreng plus nasi hingga steak yang harganya terjangkau untuk kocek ukuran mahasiswa. Setelah berfikir beberapa saat saya memutuskan untuk mencoba paket nasi ayam kremes dan segelas es jeruk seharga delapan ribu rupiah. Perlu dicatat bahwa makanan dan minuman tidak gratis tetapi harus dibayar oleh pengunjung yang datang. Strategi ini sebenarnya saling menguntungkan kedua belah pihak. Bagi mereka yang membuat acara tidak dibebankan biaya apapun dan timbal baliknya pengunjung yang datang akan membeli makanan dan minuman dari kafe.Pesanan datang beberapa menit kemudian. Tak lama berselang acara pun segera di mulai, alhasil jadilah saya mengunyah makanan dan mulai menyiapkan catatan.

Saya melemparkan pandang ke arah pengunjung kafe yang datang. Mereka terlihat antusias, cukup ramai. Mungkin ada yang memang berniat untuk menghadiri acara peluncuran atau cuma sekedar menikmati malam bersama teman-teman atau orang terkasih menikmati santap malam di kafe ini. Tetapi apapun motif kedatangan mereka suasana cair dan bersahabat segera melingkupi. Perhatian segera tertuju kepada Aan Coboy yang mengawali acara dengan membacakan puisi dari antologi “Dialog-Dialog Sumbang” , disusul dengan Ragil Sukriwul setelahnya. Tepat pukul 20.20 acara inti yaitu Bedah Buku pun dimulai. Beberapa pembicara telah siap untuk mengulas buku ARS Ilalang. Pembicara yang menjadi pembedah malam itu adalah M. Nasrul Chatib (Dosen Sastra UB) dan Dodik W. Pribadi (Wartawan Kompas).

Saat acara berlangsung saya melihat rekan-rekan penyair kota Malang serta penggiat komunitas teater yang hadir sebagai tanda penghargaan atas produktivitas dan sepak terjang penyair yang lahir di Nganjuk, 7 Oktober 1973. Dengan latar belakang penulis yang cukup erat kaitan dengan komunitas teater, kehidupan jalanan serta pernah menjalani profesi sebagai supir dan petani tentunya banyak pihak yang mengharapkan bahwa karya ARS Ilalang yang terbaru akan memberikan nuansa yang berbeda.

M. Nasrul Chatib yang menjadi pembicara pertama menyampaikan beberapa pertanyaan sebagai lontaran untuk mendiskusikan lebih lanjut . Ia membayangkan dialog-dialog sumbang dalam beberapa hal akan sumbang, akan tetapi gaya bahasa diksi yang Rego pakai halus bahkan cenderung sopan. Tidak masalah karena ini sebuah pilihan. Ketika Rego sudah memilih berdiri pada posisi seperti itu, seorang penyaji kata yang santun dan menghadirkan fenomena sosial dalam puisinya dengan begitu sopan dan halus, tidak meledak-ledak, ada beberapa hal yang mau tidak mau tidak tersampaikan. Satu hal yang ia tengarai dalam kumpulan ini, Rego sepertinya ogah bercengkrama dengan wanita. Secara keseluruhan hanya satu atau dua saja. Ia sempat salah sangka dengan kebrewokannya. Kemudian gejolak sosial yang ditangkap oleh Rego dalam puisinya cenderung tidak nakal, ia sendiri secara pribadi berharap ada kekasaran-kesasaran dalam puisinya karena itulah realita kehidupan, kasar, nakal dan kadang tidak adil. Kekurang ajaran dalam hidup menjadi samar. Yang menjadi masalah ketika judul buku puisi adalah Dialog-Dialog Sumbang, dialog itu tidak disampaikan oleh mereka-mereka yang juga sumbang. Mas rego seperti berdiri pada satu sisi kehidupan saja tapi tidak banyak menyentuh hal-hal kepahitan , kebobrokan yang memang dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dodik W. Pribadi melanjutkan mengulas buku ini. Ia mengungkapkan bahwa ia seorang yang tidak paham puisi. Ketika ia dihubungi bung Rego untuk mengulas buku puisinya respon pertama ia menolak karena tidak paham puisi, tapi penampilan bung rego yang santun dibalik kumis dan cambangnya membuatnya menyetujui dan mengambil resiko membuat ulasan puisi-puisi Rego. Menurutnya hal penting pertama dari puisi itulah esensi, nomor satu adalah pesan dan bentuk adalah cara berikutnya bagi penyair untuk menyampaikan gagasan-gagasannya. Ketika membaca puisi yang terjadi adalah proses menjadi bebas. Lebih lanjut Dodik W. Pribadi menjelaskan prihal Moment poetica (MP) . Pada diri setiap orang dibekali untuk memahami MP, suatu peristiwa yang mengguncangkan sendi estetik diri manusia sehingga diri manusia itu terkesan,. Dan betapa indahnya, bahwa MP ada pada diri setiap orang, siapapun itu. MP adalah instrumen kemanusiaan yang asasi. Dengan MP itulah bagi common people (orang kebanyakan) untuk memahami estetika secara bersama-sama. Permasalahannya MP berdiri di atas state of mind (SoM), kedirian kita yang permanen. Setiap kita memiliki SoM sesuai dengan latar belakang kita dan lainnya. Seperti tonggak batu dalam diri kita. Dua hal inilah bagi kita untuk bisa memahami puisi Cak Rego. Sekilas membaca puisi Rego agak melelahkan, frasa-frasa yang agak panjang dan lainnya.

Cak Rego sendiri tidak memberikan banyak tanggapan karena ia memberikan kebebasan sepenuhnya pada pembaca untuk menafsirkan sendiri puisi-puisinya. Ia juga menyempatkan menyampaikan rencana menerbitkan bukunya tahun depan jika ada dana untuk itu.

Forum dialog dibuka sekitar jam 21.30 malam. Sayangnya antuasiasme pengunjung yang sempat fokus di awal acara menurun energinya di bagian ini. Hal ini bisa dimengerti mengingat malam yang semakin larut saja. Hanya ada satu pertanyaan yang terlontar dari pengunjung seputar isi buku. Moderator yang melihat gejala rendahnya respon segera berinisiatif meminta Lies Analysa dan Win Herlambang membacakan puisi yang pada malam itu diringi oleh iringan musik akustik dari Symphony Accoustic dan Anak Belantara. Pembacaan Puisi oleh cak Rego menuntaskan acara. Puisi-puisi yang dibacakan nya Distorsi, Kavling Surga Telah Habis, Sajak Pemulung.

Pukul 22.00
Usai bercakap-cakap dengan beberapa rekan , saya memutuskan untuk pulang. Me
nurut saya acara cukup sukses walaupun masih ada kekurangan di sana sini.
Meski demikian patut diacungkan jempol untuk ARS Rego yang telah meramaikan agenda-agenda kesusasteraan di kota Malang. Kami tunggu karya-karyamu selanjutnya cak!

Syahrirul Habib Ramadhan

Pembacaan Puisi Oleh Ragil Sukriwul

Pembacaan sebuah puisi dari Ragil Sukriwul
Judul puisi "Di Depan Stadion"

Malam Tenggelamkan Mimpi Malioboro

Malam tenggelamkan
mimpi Malioboro
Auman Nyi Roro Kidul
menggaung di kalbu.
Sayur lodeh telah kering .
Malam banjir airmata.

081328xxxxx

Jeruji

 

 Dunia yang sempit
Seperti risau yang galau

Ragil Sukriwul

Lelaki ceking dan keriting ini bernama Ragil Supriyatno namun biasanya dipanggil Kriwul oleh teman-temannya, sehingga ia pun akhirnya memasukan frasa ini kedalam nama aslinya dan menjadi nama gaul-nya: “Ragil Sukriwul, Avonturir Kesenian”. Lahir dan besar di kota Karang; Kupang, Nusa Tenggara Timur, januari 1978. hijrah ke Malang pada tahun 1997. Pernah mampir kuliah di fakultas Psikologi UMM namun akhirnya memutuskan untuk keluar dan belajar langsung dari kehidupan. Senang aktif di dunia teater dan mengakrabi puisi sejak masa SMA. Sering mengikuti lomba-lomba pembacaan puisi namun sekalipun tidak pernah kebagian hadiahnya.

Lelaki ceking dan keriting ini bernama Ragil Supriyatno namun biasanya dipanggil Kriwul oleh teman-temannya, sehingga ia pun akhirnya memasukan frasa ini kedalam nama aslinya dan menjadi nama gaul-nya: “Ragil Sukriwul, Avonturir Kesenian”. Lahir dan besar di kota Karang; Kupang, Nusa Tenggara Timur, Januari 1978. hijrah ke Malang pada tahun 1997. Pernah mampir kuliah di fakultas Psikologi UMM namun akhirnya memutuskan untuk keluar dan belajar langsung dari kehidupan. Senang aktif di dunia teater dan mengakrabi puisi sejak masa SMA. Sering mengikuti lomba-lomba pembacaan puisi namun sekalipun tidak pernah kebagian hadiahnya.

Mantan ketua UKM Komunitas Teater UMM (2001), yang setelah lepas jabatan bergabung dengan Komunitas Suket Indonesia; melakukan pertunjukan teater ke beberapa desa dan kota di jawa timur. Lalu juga melakukan pentas keliling ke beberapa kota di Jawa Tengah, Kalimantan selatan dan Kalimantan tengah. Satu cerpennya pernah dimuat majalah ON/OFF dan tiga judul puisinya baru saja dimuat dalam majalah Gong edisi desember’05. Antologi sajak ‘Looser Lost Time’ ini menjadi buku yang pertama kali menghimpun puisi-puisinya. Selain itu juga menulis esai-esai yang pernah dimuat di Kompas.

Kru Puitika.Net berkesempatan bertatap muka langsung dan berikut perbincangannya.

Sejak kapan Anda menulis puisi?

Sejak SMA di Kupang mulai senang belajar menulis. Pemicunya karena saya aktif disanggar dan teater juga. Itulah awal-awalnya sangat dekat dengan sastra melalui pertunjukan-pertunjukan penuh verbal itu. Materi-materinya kan sastra salah satunya puisi-puisi.

Dari mana Anda mendapatkan inspirasi-inspirasi untuk menulis puisi?

Dulu, ketika di Kupang (masa SMA-red) sangat sedikit hanya berkisar masalah aktivitas. Setelah kemudian sanggarnya bubar akhirnya hilang juga. Kalau sekarang inspirasi berasal dari keseharian, dari pergaulan, pertemanan, membaca, dan lain-lainnya.

Anda juga aktif di komunitas teater, seberapa besar peran komunitas membentuk proses kepenyairan Anda?

Sangat besar. Kehidupan komunal dan hal-hal yang idealnya digeluti dalam komunitas itu terus bisa mengasah kepenyairan.

Bagaimana proses kreatif menulis puisi?

Standar saja, mesti corat-coret dulu di kertas. Banyak juga yang tidak jadi.

Penyair yang menjadi favorit Anda?

Rata-rata senang dengan semua "senior-senior" yang sudah jadi kanon itu. Salah satu yang saya tertarik misalnya Jopin (Joko Pinurbo-Red) . Selain karena memang dia sudah diperbincangkan oleh orang-orang tapi juga ada keinginan untuk menulis seperti dia. Puisi-puisinya cukup cerdas, menggelitik, dan juga mengena. Aku juga suka Sitor Situmorang. Banyak terpengaruh dengan puisi-puisi pendeknya Sitor dan akhirnya ada juga tulisan-tulisan pendek saya yang saya anggap puisi. Terutama juga Chairil Anwar.

Referensi-referensi lain yang mempengaruhi karya sastra Anda?

Banyak. Sebenarnya tidak sampai memfigurkan seseorang atau wacana, saya pikir semuanya saya konsumsi. Mungkin kadang-kadang ada beberapa orang teman yang mengatakan kebingungan dengan style menulis saya. Saya sendir5i tidak terpaku pada satu bentuk tertentu.

Pesan apa yang anda sampaikan melalui puisi Anda?

Pesan sederhana saja, pesan-pesan umum. Cinta dengan kehidupan saja.

Usaha apa yang paling penting untuk meningkatkan minta orang muda saat ini di Malang bisa intens dalam kegiatan sastra, khususnya menulis puisi?

Salah satu mungkin pernah dilakukan oleh teman-teman di Forum Penyair Muda malang. Membuka ruang dan alternatif-alternatif baru untuk mengapresiasi puisi. Berkeliling ke segala tempat dan lainnya. Tapi juga yang penting kembali lagi pada masalah personal. Apakah kita memang mampu menunjukkan pada orang-orang bahwa kita mencintai puisi-puisi.

Saya berharap juga pada rekan-rekan di milis sastra. Proses afiliasi juga tidak masalah.

Kembali kebuku Anda yang beberapa bulan belakang baru diluncurkan. Judulnya Looser Lost Time. Bagaimana proses kolaborasi dan benang merah dari puisi anda yang terpilih dalam kumpulan ini?

Sederhana saja. Kebetulan dua orang teman mengajak untuk membuat kumpulan bersama. Penyusunan materi isi diserahkan kepada saya. Kalaupun style penulisan kita agak berbeda tapi ternyata ada kesamaan tematik dari sebagian besar tulisan. Seputar puisi-puisi personal, puisi-puisi kamar. Judulnya juga diambil dari penggalan judul-judul puisi kita. Sempat juga kita bawa berkeliling ke Tuban dan Surabaya selain di Malang.

Rancangan ke depan?

Masih mengumpulkan puisi-puisi lagi. Teman-teman siap membantu juga khususnya untuk membuat antologi pribadi yang baru.

Anda lebih senang dipanggil sebagai cerpenis atau penyair?

Saya lebih senang dipanggil dengan avonturir kesenian. berat juga mengemban kedua predikat cerpenis atau penyair. Saya banyak terlibat dalam banyak hal, membantu sana sini.

Kami penasaran darimana Anda mendapat kata "sukriwul' di belakang nama Anda?

Wah ini jelas-jelas karena rambut saya yang kriwil hehehe.

Kota kelahiran dan Malang penting dalam puisi Anda?

Sebenarnya tidak begitu terpaku pada kota kelahiran atau dimana saya menetap. Meski demikian ada beberapa puisi yang saya buat ketika di kota kelahiran dan Malang itu sendiri melalui frasa-frasa tertentu, membawa lokalitas itu.

Kalau boleh tahu grup musik atau penyanyi favorit?

Sekarang saya lagi suka dengar musik Jazz misalnya Norah Jones.

Makanan Favorit?

Apa ya? Paling favorit kalau gratis hahahaha . makan favorit saya ikan bakar karena kota saya dekat dengan laut.

Penyair seringkali lekat dengan hal yang romantis dan perempuan, bagaimana dengan anda sendiri? Ada cerita menarik?

Hahahaha wah kalau saya justru lebih sering menggila-gilai dibanding digilai hahaha (tersenyum dalam, sekedar info saat di wawancarai ada seorang gadis manis yang setia menemani sang penyair ini)

Apakah penting usaha memasyarakatkan puisi ke strata masyarakat melalui komunitas teater yang sering berkeliling ke desa atau daerah-daerah pinggiran?

Penting, untuk mendapatkan apresiasi dan memotivasi mereka yang diluar sana untuk menulis puisi.

Membaca puisi paling berkesan?

Sepertinya semua tempat dan pembacaan berkesan. Yang mungkin pertama-tama mungkin momen yang menarik saat membuat dramtisasi puisi di Hala Bihalal sekota Kupang. Saya sempat membuat draft dua halaman lebih narasi agak panjang dan itu dibacakan oleh teman-teman. Mungkin itu momentum saya jadi terjebak di dunia tulis menulis hahaha

Tiga kata yang mewakili seorang Ragil Sukriwul

Apa ya, Ya salah satu mungkin cenderung emosional, bersemangat dan pemarah hahaha sepertinya emosional sudah melengkapi semuanya, cuek, kadang-kadang ngawur hahahaha

Ada pesan-pesan yang ingin disampaikan?

Saya punya harapan besar terhadap www.puitika.net, punya respon yang sangat baik dengan penyair muda dan sangat begitu bekerja keras untuk bisa mempertahankan diri. Saya secara pribadi tetap dukung.

Terakhir, apa itu Puisi menurut Anda secara pribadi?

Puisi itu bahasa pribadi kita yang paling dekat dan paling kita pahami.

Terima kasih cak Ragil

Sama-sama Sazano

E-mail : Ragils_id@yahoo.com
No Hp : 081703233870

Maharaja Disastra

Buku kumpulan puisi "Maharaja Disastra" merupakan jalan pintas mengenal penyair-penyair dari tanah Bumi Rafflesia. Selain penyair, puisi-puisi juga disumbangkan dari para petinggi provinsi Bengkulu. Strategi melibatkan pemerintah daerah dalam proyek sastra seringkali dicurigai sebagai usaha kepentingan politis sesaat. Akan tetapi mengingat rendahnya terbitan-terbitan penyair di daerah maka mekanisme semacam ini menjadi jalan keluar yang cukup baik dengan syarat kualitas yang baik dari puisi-puisi yang ada di dalamnya.


Maharaja Disastra

Penerbit Ombak dan Taman Budaya Bengkulu
Cetakan I, April 2006
128 Halaman

salah satu puisi dari antologi:

IntrosPeksi (Di Depan Cermin)
oleh Choirul Muslim

Di depan cermin kupoles umurku dengan kerut merut
Di dalam cermin itu kulihat api lilin yang tersulut
Kini kian redup, hampa,
tinggal sejemput

Rinduku terasa tak terkira pada siapa kesebut
Mimpi kini
Bagai isi durian memergok duka Kekasih tengah menjalin mimpi
Disitu duta setiamu menanti pada embun yang menempel kaca
Meresap bisikannya: "perjalanan kita masih jauh" katanya.

Yang justru menghapus kerut merut polesan cermin
Sehingga kita tampak selalu muda
Akupun hanya menurut jemputan Meski tak ku tahu hendak kemana
Sampai kini aku masih bertanya

Minggu, 03 April 2005

Kusampaikan

Setelah novel terakhirnya "Matahari Di Atas Gili", Lintang Sugianto meluncurkan antologi puisinya yang terbaru berjudul "Kusampaikan". Buku ini menawarkan 45 puisi untuk dibaca dan diberikan pengantar oleh WS Rendra. Sekedar untuk diketahui bahwa Lintang Sugianto adalah seorang perempuan. Tentunya buku yang dikemas dengan indah ini menambah warna-warni dunia kesusasteraan Indonesia. Selain WS Rendra ada beberapa komentar lain seperti Taufik Ismail, Putu Wijaya, Jajang C Noer dan DR. Soetanto Soepiadhy yang akan membantu anda memahami sekilas karya-karya penulis kelahiran 28 April 1969 ini. Buku ini selain enak dibaca juga akan menjadi kado yang manis jika diberikan kepada orang-orang yang anda cintai.

Kusampaikan

Lintang Sugianto
Penerbit : Balai Pustaka
Cetakan I, Jakarta 2006
126 Halaman

"Sesudah Novelnya Matahari di atas Gili, sastrawati muda usia Lintang Sugianto muncul dengan kumpulan sajak ini. Himpunan Puisi jolong ini menunjukkan produktivitas dans emangat berkaryanya. Ucapan-ucapannya mengalir deras, tak dapat menahan gemuruh perasaannya. Semangat mendobrak apa yang terasa senjang dan lain sekitarnya, menggebu-gebu. Tak ada yang keliru dalam hal ini"
Taufiq Ismail

"Spontan, Tanpa pretensi dan jauh dari menggurui. Curahan rasa Lintang dalam kumpulan sajak-sajak yang bernuansa relijius ini terasa akrab dan jujur. Membagikan rasa haru karena ketulusannya. Ditengah maraknya penulisan puisi dewasa ini yang sudah menampilkan berbagai teknik berekspresi dan manipulasi artistik yang membuat puisi sering menjadi gelap dan kadangkala hanya timbunan opini saja"
Putu Wijaya

salah satu puisi dari antologi:

KUSAMPAIKAN

Anak-anak
kusampaikan maaf ini karena Tuhan belum selesai membuat jarak
ingin ku lukis matahari seperti milik Tuhan
agar kita segera pindah dan menempati dunia baru yang ku cipta

akan kuhembuskan sendiri angin-anginnya
ku bentuk bulan agar tidak pandai menggantung saja
melainkan duduk di tepi meja mengajak kalian bercerita
ku tusuk mendung berserta malam dan mimpi-mimpinya
karena ku ingin kalian bernyanyi dan bukan tidur di sana
dunia ciptaanku ini rata dan bukan bundar, anak-anak
sehingga lautan pun tidak sedalam ketakutan kalian

bermainlah, anak-anak…
telah ku huat karang dan ikan bercerita
kalian akan dapat melihat unggas-unggas yang tergelitik angin sayap-sayapnya mereka terbahak bersuara mirip kalian
pohon-pohon berceloteh berlarian mengejar kalian semua ku buat berbicara dan bukan membisu sehingga tidak akan ada sepi, anak-anak

ku sampaikan maaf ini
lantaran kuturunkan juga bintang-bintang sejengkal tangan kalian agar merendah dan tak bermain ketinggian
ku buat jauh menjadi dekat
coleklah angkasa itu, anak-anak
ia pun segera membongkar rahasianya
tanpa menunggu kalian bertanya atau menduga-duga

langit, ku jadikan penuh gambar dan tidak hanya biru
kalian bisa melompat-lompat di situ
sebab langit bukan di atas

kusampaikan maaf ini
karena segera ku bubarkan benua-benua beserta bangsa-bangsanya
ku bubarkan penguasa

ku bubarkan manusia
ku bubarkan neraka dan setannya
ku bubarkan usia
ku bubarkan kematian itu sendiri
ku bubarkan segenapnya ….

ku cipta semua menjadi anak-anak…
dan inilah dunia itu…

kusampaikan maaf ini kepada Tuhan
karena belum selesai membuat jarak

Bangil, 25 Mei 1999