Edisi Maret 2006

Hanya Sebuah Refleksi Sejarah

  Adakah telah kau tafsir sejarah sejak bertahun silam? Sunyi yang menyusun dirinya dari gema lonceng gereja, suara bedug Masjid, tajam perih kerikil, bulu-bulu yang gugur dari sayap burung gagak dan bau sampah yang membusuk? Siapakah manusia yang masih sanggup mengingat warna kelabu dari wajah sejarah negerinya yang tercabik? Selain pantulan kaca retak yang menempel di pintu-pintu hati rakyat, gerbang istana presiden yang masih megah berdiri, batu-batu berlumut di gedung perwakilan rakyat, serta darah merah yang mengalir dari sebutir peluru? Rangkaian kisah reformasi, masih serupa rahasia. Sebab sejarah telah lama menutup dirinya di dalam kepalan tangan dan sebatang palu besi. Siapa sesungguhnya manusia yang mampu mengurai kebekuannya?

  Sejarah telah menjelma menjadi gergasi berwajah kelabu, dengan taring-taring besi menyala dan cakar berkilat. Mereka yang telah mengabdikan dirinya selama berabad-abad untuk tangan-tangan penguasa. Siapa berani menyangkal keberadaan mereka? Tiada tatap mata iba yang terpancar dari kedalaman mereka yang garang, karena tak ada hasrat selain kekuasaan, selain kekalnya sejarah di dalam kepalan tangan. Singasana berukir emas dan kilau mahkota yang akan menera seluruh kemegahan nama mereka. Sejarah yang telah lama tertulis, dan tidak untuk dilupakan. Sejarah yang tercatat dengan tinta merah sewarna darah. Siapa manusia yang cukup punya nyali, yang berani mengusik keberadaan mereka, selain dirimu?

*
Titon Rahmawan
, Sarjana Teknik Arsitektur lahir di Magetan pada tahun 1969, beberapa karya dapat ditemui di situs Cybersastra.net dan beberapa milis-milis sastra baik dalam bentuk puisi maupun esai.  Beberapa karyanya tergabung di dalam antologi bersama “Dian Sastro For President #2 Reloaded” (ON/OFF, AKY 2004) dan “Sastra Pembebasan” (Yayasan Damar Warga, 2004) saat ini masih bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan property di Jakarta.

Puisi ini terpilih sebagai Puisi Bulan Ini Edisi Maret 2006
dengan tema "Refleksi Reformasi" setelah melalui mekanisme pemilihan oleh Editor Puitika.net dan penjurian secara langsung oleh pembaca.

Komentar Dukungan

pilihan saya jatuh pada yang ini nih… ‘Hanya Sebuah Refleksi Sejarah" dengan alasan:
- dari keseluruhan nominasi puisi ini yang paling kental kaidah puisinya, tetap mempertahankan karakter sajak sebagai sebuah fiksi  
- saya merasakan sajak tersebut dapat mengambil jarak dengan realitas jadi bukan sekedar menggambarkan realitas, soalnya yang lain cenderung apa adanya.
  – bisa mewakili tema secara utuh, mengungkapkan seluruh perjalanan refleksi reformasi tanpa harus tampil sebagai pamflet.
  -terus pilihan kata-katanya asyik, nggak seperti sedang baca berita di koran yang cenderung protes menggebu-gebu.
  -tapi walau begitu saya masih merasakan nuansa dari suasana yang ingin digambarkannya, keterlibatan pengarangnya dan sekaligus apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan sebagai wujud kepeduliannya.
  -secara keseluruhan yang menjadi nominasi cukup berbobot sayangnya masih ada yang terlalu apa adanya, gitu… nggak kerasa aroma puisinya.
  -jadi pilihan saya tetep yang satu ini…

Diah Ajeng <diah.ajeng@yahoo.com>
________________________________

Karena ini hanya sebuah refleksi, maka kuingin nyatakan perih
  karena ini hanya sebuah refleksi, maka kuingin berikan pedih
  karena ini hanya sebuah refleksi, maka kuantar perih kusampai pedih
  karena ini hanya sebuah refleksi, maka sajak ini yang aku pilih
  karena ini hanya sebuah refleksi, maka sedikit kutitip harap
  semoga refleksi ini dapat memberikan sebuah perubahan.
  
  
Theora Agatha" <theoraagatha@yahoo.com>
______________________________________

Memilih sebuah puisi yang baik memang gampang-gampang susah, karena puisi
menurut saya tidak pernah terlepas dari nilai-nilai yang sangat subyektif
sifatnya. JAdi kalau saya memilih puisi ini sebagai puisi pilihan saya,
tentu saja hal ini tidak terlepas dari pilihan saya secara subyektif.
betapapun sebuah puisi mengemban nilai-nilai yang harus estetis dan puitis
tentunya. dan barangkali hal itulah yang menjadi ukuran saya, selain tema
dan bangunan keseluruhan puisi itu yang menurut saya bagus. Jadi, yah
kira-kira begitulah saya menganggap puisi ini mewakili subyektifitas saya.
jadi selamat sekali lagi.

Siu Ling <austpacprd_jakarta@hotmail.com>
_______________________________________

Mengalir, itu saja.
 
    Nanang Musha <kerjakata@yahoo.com>
__________________________________

Puisi kontemplatif ini berhasil menggambarkan
imaji-imaji reformasi secara puitis dan menyajikannya
lewat pengontrasan berbagai metafor dan simbol, baik
yang indah/lembut seperti “gema lonceng gereja,”
“suara bedug masjid,” maupun yang kasar/keras, seperti
“sampah yang membusuk” “peluru” atau “darah.” 

Tone atau "nada" puisi ini relatif tenang, tidak
(lagi) murka dan provokatif, melainkan penuh dengan
pemahaman terhadap situasi. Cara ini saya kira efektif
dan konsisten dengan appeal terselubung terhadap
manusia muda. Bagi saya, yang terpenting dalam appeal
reformasi bukanlah lagi "what to say" melainkan "how
to say it". Puisi ini saya kira akan menggugah banyak hati.

“Siapa manusia yang cukup punya nyali, yang berani
mengusik keberadaan mereka, selain dirimu?”

Tjipoetat Quill <tjipoetatquill@yahoo.com>
____________________________________

Tidak cukup kata atas "rahasia" yang masih tersembunyi di balik kisah tragis Mei 98. Kesedihan akan alur bangsa ini , tentang kebenaran sesungguhnya sepertinya tidak akan pernah usai.

Abimanyu <abim_Id@yahoo.com>
_____________________________


  1. rossy29860@yahoo.com

    Untuk ukuran puisi,puisi ini terlalu panjang meskipun meskipun gaya pengungkapannya bagus seperti,,sunyi yang menyusun dari gema lonceng gereja dan suara bedug masjid.juga kata ,,selain pantulan kaca retak yang menempel di hati rakyat,,adalah ungkapan yang berhasil mewakili perasaan penyair.tapi dengan alur yang panjang kita jadi jenuh karena kehilangan format puisinya.kita seperti membaca teks orasi yang dipuisisasikan.

Tinggalkan komentar


CATATAN - Anda bisa menggunakan HTML Label dan atribut:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>