Arsip Bulanan: Maret 2006

Ode Untuk Cak La

Maj-Nun
Gi-La
Menyusuri jalan panjang penuh stopan
mengais renah-renah kata di pinggir jalan,
dan puntung-puntung yang terbuang di tong sampah aneka warna
mereka tertawa, disangkanya gila
tetap saja mencintai mereka
( cemooh dan puja menjadi titanic, ada untuk tiada, abadi sebagai
tanda )

Kata warna, angka, rasa
terbungkus sarung polos coklat tua
diberikan, dipinjam, dicuri siapa saja
tawa dalam rela

Sungaimu mengalir menuju samudera
batas tak terhingganya, kelilipan mataku karenanya
( menunggang hiu menggenggan mutiara )
nafasku memburu, tubuhku membiru
Lho, malah menguap, aku tak bersayap untuk jadi senyap

"Umbu, umbu !" bisik paraumu
"Kamu, kamu !" serak suaraku

                        Caruban-Madiun, 25 Desember 2005

ketika hadir mu ku rindu

Hati kecil yang berbisik lirih
seakan mendorong laju jiwa
berlari tuk gapai sgala asa
ungkapan hasrat cinta

tubuh ku rebah….
tubuh ku lemah…..
kala bayang mu menggugah

layangkan pandang jauh ke atap atap…
sekejap mengejap rimbunnya banyang mu
tersedar sepenuh hati
hadir mu yang slalu ku nanti

pedih nya menyayat di hati
kala sedih menghuni
dengan hadirmu yang tak pasti
hanya kegelisahan yang ku nikmati

dikala hadir mu ku rindukan
hati ku mengerang maraung
bagai tersayat duri sembilu
sungguh..sungguh ku rindu hadir mu dan belaian mu

kepada seorang kawan

mantra atau apakah
doa atau serapah atau apakah
yang kau panjatkan kau teriakan
kawan
hingga tak habis habis tak putus putus
seperti gema seperti gaung atau apakah
seperti pedang atau apakah
yang kau sisakan cuma suara cuma sayatan
kawan
hingga tak habis habis tak putus putus
tapi kenapa tak sekalipun aku dengar takbir
apalagi sujud apalagi kiblat
kawan
 
 
o...
duduk saja di sini diam bersamaku
menikmati hujan menikmati hembus angin
biar tenang biar hening
lalu ku catat engkau dalam peta perjalanan
dan, selamat jalan di ujung persimpangan
kawan
    
 
kr, 30 maret 2006

 

Medy Loekito

"Inspirasi terutama dari alam. Bagi saya alam adalah elemen dominan kehidupan, ia begitu luas dan misterius. Kadang menyakiti, seringkali pula menyediakan bahagia. Sifatnya yang tidak terduga membuat kita menjadi kreatif dan merenung lebih dalam dan lebih dalam lagi, tidak ada habisnya. Seperti di salah satu puisi, saya menulis “pokok flamboyan melontar angin ke sudut langit”, padahal mungkin dan biasanya anginlah yang melontarkan dahan-dahan flamboyan. Menarik bukan sang Alam itu?"

Ini adalah jawaban dari sang penyair mengenai sumber inspirasi untuk menulis. Dan dalam satu paragraf jawaban, kemampuan alami Medy Loekito untuk meng-capture dan menghidupkannya kembali menjadi terlihat .. meskipun dalam barisan kata-kata pendek yang ia tuliskan.

Diluar dari prestasi-prestasinya, perempuan dengan nama Medijanti Loekito (Medy Loekito) lahir di Surabaya, Jawa Timur, 21 Juli 1962 ini sepertinya tidak terlihat berhenti untuk menulis. Ia menulis puisi, cerpen, dan esai sejak 1978, di Horison, Seloka, Romansa, Gamma, Mitra Budaya, Sastra, Pelangi, Bahana, Kompas, Indonesia Times, dll. Ikut dalam sejumlah antologi puisi bersama di dalam dan luar negeri. Menulis kata pengantar antara lain untuk buku Dua Tengkorak Kepala karya Motinggo Busye. Penelitian bersama tentang Pemetaan Komunitas Sastra di Jakarta, Bogor, Tengerang, dan Bekasi . Tercatat dalam International Who's Who in Poetry and Poets Encyclopedia, The International Biographical Center, Cambridge, Inggris (1999). Tergabung dalam Poet 2000 Sculpted Library, Dublin, Irlandia (2000).

Puisi-puisinya begitu minimalis, terdengar merdu dan liris.

Sendiri di Sudut Petang

ketika sepi datang
kutanya hati
siapa membunuh angin
dan memenjarakan derunya

( Mei, 1995 )

Saat ini Medy bermukim di Jakarta bersama suami dan anak-anak selain disibukkan dengan pekerjaan sebagai Executive secretary di Shimizu Corporation.

Ia pernah menjadi wakil Republik Indonesia untuk Conference of Asian Foundation & Organizations, bidangkebudayaan (1999, 2000, 2001).Wakil Republik Indonesia untuk International Writing Program, Iowa City, AS (2001). Karyanya antara lain In Solitude, Penerbit Angkasa, Bandung (1993) dan Jakarta Senja Hari, Penerbit Angkasa, Bandung (1998). Penghargaan yang pernah diterima antara lain Semifinalis North American Open Poetry Contest, AS (2000) – Semifinalis Montel Williams Open Poetry Contest, AS (2000). Kegiatan lainnya, – Research Board of Advisors The American Biographical Institute, AS (1999) , Dewan Pendiri Komunitas Sastra Indonesia; – Dewan Pendiri Organisasi Pembina Seni , Dewan Pendiri Yayasan Multimedia Sastra.

Khusus menyambut hari Kartini, kru Puitika.Net menampilkan sosok perempuan yang tidak asing lagi dalam dunia kepenyairan di Indonesia. Penyair yang baru saja bersama keenam penyair perempuan yaitu Toeti Heraty, Poppy Hutagalung, Isma Sawitri, Cok Sawitri, Dorothea Rosa Herliany, Rieke Diah Pitaloka yang karya mereka diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis dan diterbitkan oleh CCF dalam sebuah kumpulan puisi dua bahasa. Antologi ini akan diluncurkan pada tanggal 10 Maret 2006.

Berikut wawancara kru Puitika.net dengan Medy Loekito.

Sazano: Banyak penulis memiliki latar belakang yang unik dan terkadang "mengerikan", bagaimana dengan anda? Bagaimana peran orang tua dalam hidup anda dan jika itu mempengaruhi tulisan anda.

Medy Loekito : Wah, keluarga saya sangat mengerikan. Mereka berkomunikasi dalam bahasa Belanda, Inggris, Indonesia dan Jawa. Jadi ketika masih kecil, banyak kawan-kawan yang tak mengerti apa yang saya katakan. Mengerikan bukan? Tapi saya tidak pernah mencoba menjelaskan, karena saya sendiri tak tahu, mana yang benar mana yang salah. Mungkin itu sebabnya puisi saya amburadul ya? Hehe.

S:Ada apa di tahun 1978 yang membuat anda mengambil pena dan mulai menulis puisi?

M: Tahun 1978 kayaknya dunia masih waras-waras aja. Semuanya bermula disebabkan oleh seorang sahabat pena bernama Kardy Syaid (yang saya anggap sahabat dan guru saya selalu). Beliaulah yang penyair dan penggiat seni, di Aceh maupun di Sumatra Barat. Terpesona oleh kegiatannya itulah lalu saya menulis puisi, yang ternyata lolos masuk Koran. Setelah puisi lolos, lalu saya menulis cerpen, hanya untuk uji coba saja, ternyata dimuat juga di Koran. Setelah tulisan saya bisa lolos Koran dan majalah, ya udah, saya tidak begitu semangat lagi menulis, sebab ketika itu memang sifatnya hanya uji coba kemampuan sendiri.

S:Ditahun yang sama puisi anda dimuat di media cetak. Bagaimana tulisan anda berubah dibandingkan anda berumur 13 atau 14 tahun pada waktu itu?

M : Perbedaan yang utama jelas kematangan dalam memilih kata. Dan yang jelas sekarang semakin irit.

S:Literatur-literatur apa yang menjadi favorit anda

Sejujurnya saya jarang sekali membaca literature sastra, kecuali pada saat butuh referensi untuk menulis. Saya lebih suka membaca buku sejarah, kebudayaan dan buku tentang flora fauna.

S:Puisi-puisi anda pendek-pendek, kesulitan untuk membuat puisi panjang atau memang strategi menulis anda?

M :Ya, bagi saya menulis panjang itu sulit sekali. Biasanya otomatis kalau sudah 4 baris, lalu mandeg tak ketemu lagi kata-kata. Saya seringkali terpesona pada mereka yang bisa menulis panjang sekali atau berbicara panjang sekali. Mungkin karena bakat saya ya cuma segitu-gitunya ya?

S:Jadi bagi mereka yang belum pernah mendengarkan anda membaca puisi , bagaimana anda menjelaskan puisi anda ? Melalui pembacaan puisi atau sekedar teks?

M: Puisi saya memang bukan jenis yang menarik untuk dibacakan. Apalagi saya juga sama sekali tidak menarik ketika membacakan puisi. Rasanya lebih enak jika para peminat membaca sendiri, lalu merenungkan sendiri, dan mengartikan sendiri.

S:Apakah anda menulis untuk alasan tertentu … Apakah anda merasakan memiliki tujuan tertentu sebagai seorang penulis puisi?

M: Dulu pada langkah-langkah pertama, ya, saya menulis untuk uji coba kemampuan. Setelah terbukti bisa, selanjutnya tak ada tujuan atau alasan tertentu lagi.

S:Bagaimana peran komunitas dan seberapa penting itu buat anda?

M: Bagi saya komunitas sangat penting dan perlu, maksudnya komunitas sastra kan ya? Pada jenis masyarakat Indonesia yang sangat beragam budayanya serta sangat banyak kuantitasnya, komunitas-komunitas kecil ini perlu. Komunitas berperan sabagai tempat pendidikan atau peningkatan kemampuan berkesenian, juga sebagai lahan ekspresi, dan juga bisa menjadi jalan menuju komunitas yang lebih besar lagi. Ini bukan berarti bahwa komunitas kecil itu kurang berarti, tetapi saya katakan di sini “bisa menjadi jalan”, tetapi tidak berarti “harus” menuju komunitas atau dunia yang lebih besar. Jika keterlibatan di dalam komunitas kecil itu sudah membawa bahagia, ya tidak perlu mengejar dunia yang lebih besar.

S:Bagaimana ceritanya anda pertama kali terlibat dengan rekan-rekan di YMS dan cybersastra.net?

Ini semua karena seorang penyair bernama Muhary Wahyu Nurba dari Makassar. Ketika itu beliau merasa susah karena tak bisa berangkat ke USA untuk menerima hadiah sastra. Atas kesusahan Muhary ini, beberapa orang yang biasa berinteraksi melalui cyber lalu berpikir bagaimana kita bisa membantu masalah-masalah semacam ini untuk di masa yang akan datang. Lalu sampailah kita pada ide membuat suatu organisasi nirlaba yang bertujuan membantu pengembangan sastra Indonesia.

S:Apa benar terjadi konflik dalam tubuh YMS yang mengakibatkan situs cybersastra.net mandeg?

Tentang masalah ini saya kurang tahu, karena sudah satu tahun ini saya tidak bergiat di YMS dan cybersastra. Mungkin bisa ditanyakan langsung kepada para pendiri dan pengurusnya ya?

S:Apakah perkawinan merubah anda sebagai seorang penulis? Dan anak-anak?

M: Wah, perkawinan dan anak-anak kan tak perlu merubah sastra. Saya tetap saja menulis semau saya. Masalahnya malah terjadi setelah anak beranjak dewasa, sebab sekarang anak saya sudah bisa bilang “tulisan Mama jelek!” Celaka ya?!

S:Apakah anda pernah membaca karya seseorang belakangan ini yang tulisannya membuat anda kembali berfikir tentang apa yang anda tulis? Apakah anda pernah punya keraguan pada puisi atau dimana anda akan mengakhirinya?

M: Akhir-akhir ini saya sering diminta membahas tulisan karya anak-anak. Dan saya sering berpikir “waduh, tulisan saya kok jelek amat ya, padahal udah hampir kadaluwarsa begini, dibandingkan tulisan anak-anak itu kok rasanya tidak sebanding”. Biasanya saya lalu ambil nafas panjang, lalu cengengesan sendiri, lalu menulis lagi, tidak pernah berpikir untuk mengakhirinya, karena ya itu tadi, wong belum apa-apa kok udah diakhiri, justru seharusnya terus berusaha memberi manfaat bagi semua orang.

S:Apakah anda merasa karir kepenyairan anda terbantu dengan status anda sebagai perempuan, istri dan sekaligus ibu? Cuma keberuntungan saja? Atau anda perlu membangunnya bertahun-tahun untuk bisa seperti sekarang?

M: Nah, ini bagian paling seru. Begini, ketika puisi-puisi saya dulu muncul di media massa, baik pembaca maupun redaktur berpikir bahwa “Medy Loekito” itu seorang pria. Hal ini berlaku bertahun-tahun hingga sekitar tahun 1996 ketika saya sedikit muncul secara fisik di publik, barulah sebagian dari masyarakat sastra tahu bahwa saya bukan pria. Bahkan sampai sekarang pun, masih banyak sekali yang mengira saya ini pria. Dan saya sendiri tidak pernah mencoba meralat sebab saya suka bersembunyi. Bagi saya ini seperti sebuah permainan. Sampai ketika mereka jumpa langsung, barulah mereka terkejut. Dan ekspresi terkejut ini salah satu bagian yang saya sukai, rasanya lucu dan seru, hehe.

Jadi ya saya kurang tahu apakah status “wanita” itu berpengaruh, berguna, atau tidak berarti dalam dunia sastra karena saya hampir tidak pernah merasakannya.

S:Bagaimana menurut anda penyair perempuan di Indonesia sekarang? Apakah jumlah mereka cukup representatif? Jika tidak usaha-usaha apa sebaiknya dilakukan untuk membangkitkan minat perempuan menulis puisi?

M: Jumlah penyair wanita secara kuantitas jelas tidak sebanding dengan jumlah penyair pria maupun dengan jumlah wanita di seluruh Indonesia. Tetapi secara kualitas masih bisa bersaing.

Untuk membangkitkan minat wanita menulis puisi rasanya sudah banyak yang diusahakan kawan-kawan, seperti Badai Siregar yang mengumpulkan dan menerbitkan puisi-puisi para penyair wanita, kemudian Ibu Tuti Heraty juga melakukan hal yang sama, dan saya juga pernah melakukan hal yang sama. Mungkin akan baik apabila dimulai dari pendidikan sastra di sekolah-sekolah sejak dini.

S:Anda memiliki rentang masa kepenyairan yang cukup panjang (1978-skrg) bagaimana perlakuan setiap dekade, 80-an, 90-an dan terakhir 2000-an terhadap penyair perempuan?

M: Nah, ini seperti yang tadi saya katakan, saya kurang tahu bagaimana fakta nyatanya karena saya sendiri kurang merasakan. Tetapi rasanya dari penglihatan sepintas, dalam dunia kepenyairan nampaknya tidak ada perbedaan gender. Atau mungkin saya salah, tak tahu juga.

S:Anda pernah beberapa kali mewakili Indonesia ke luar negeri. Negara mana yang berkesan bagi anda sebagai penulis perempuan?

Mungkin sebagai “penulis” ya, bukan “penulis perempuan”? Pertama saya terkesan dengan Indonesia, yang begitu kaya dengan budaya, yang sesungguhnya bisa menjadi sangat lestari dan menawan apabila penangannya benar, termasuk di dalam hal sastra dengan warna tradisional.

Kedua saya terkesan dengan kota kecil Bozeman di Montana. Ketika saya “ditugaskan” berkunjung ke sana, salah satunya adalah sebuah Sekolah Dasar. Bangunannya amat sederhana. Pertama tiba di gerbang saya terkesan dengan patung, yang jelas kelihatan sebagai karya anak-anak, dan patung ini dipasang di depan sekolah dengan bangga. Kemudian di dalam, saya disambut dengan acara pentas puisi oleh anak-anak yang bertajuk “Poetry is fun for everyone”, dimana murid-murid bekerja sama dengan para Guru dalam pengadaannya. Mereka tampil dengan bangga dan bahagia, dan tetap bernuansa kanak-kanak.

Saya pikir, jika di Indonesia, anak-anak Sekolah Dasar diberi kesempatan yang sama, mungkin akan sangat indah, baik bagi anak-anak itu pada saat itu, maupun bagi sastra Indonesia di masa yang akan dating.

S:Siapa penyair perempuan favorit anda?

M: Dorothea Rosa Herliany. Bagi saya, puisinya sangat menarik.

S:Apa rencana anda selanjutnya?

M:Wah, saya jarang punya rencana. Saya biasanya hanya membantu orang-orang/teman-teman yang punya rencana. Jadi saya ikut saja.

S:Membaca puisi paling berkesan?

M: Saya jarang sekali membaca puisi di depan publik, karena saya pikir saya bukanlah tontonan yang menarik, kasihan nanti para penonton itu. Tetapi ada satu saat di TIM, ketika saya membaca puisi. Karena puisi saya pendek, maka ketika para wartawan siap membidikkan kamera, tepat saat itu saya mundur dari pentas. Rasanya geli sekali melihat ekspresi bingung para wartawan dan juru foto saat itu. Setelah itu banyak yang protes, tetapi saya malah merasa gembira karena lucu.

S:Terakhir, bisa anda jelaskan dengan kata-kata anda sendiri apa itu puisi?

M: Ketika berbicara di Iowa, saya katakan bahwa penyair adalah penterjemah kehidupan. Jadi puisi adalah terjemahan dari kehidupan. Seperti salah satu puisi saya:

Puisi, Engkaukah

engkaukah sepi
wujud maya kata

engkaukah kata
wujud nyata sepi

( mei 2002 )

Infeksi

pada tanah
kering jiwa jiwa terbakar
kemarin,
lusuh kain benderaku robek
pahit cinta
berkali harus kusemai

pada nisan
yang menebar bau anyir darah
kemarin,
mesiu telah mengirim kabar
bahwa pagi ini kerja belum lagi selesai

dan akutemui darah ini mendidih
menamparku `tuk segera memburu
bergegas ku berlari
mewadahi desing peluru

hingga pada luka
yang memar membekas popor senapan
hadirku untuk bersaksi
telah membuat luka luka infeksi

Pemimpi

lahirlah engkau para pemimpi
dengan sorot mata merah dan dada terbuka!

bumi yang pengap ini dipenuhi tanya:
ditanda makna
langit masih juga biru warnanya
dan laut airnya jadikanlah tinta petik setiap tanya
serbukkan menjadi makna

tumbuhlah engkau para pemimpi
meletas dari gendongan ibumu
melecut langkah sendiri
menderak rimba hari:
`tuk menakar seberapa bermakna hari ini
jika sepi mengguncangmu,    
tangkap lehernya dan persaksikan:
adakah makna pula tandang menyertai

dewasalah engkau para pemimpi
dengan sorot mata bersahaja
mentanahairkan cinta    
namun tetap dengan dada terbuka

karena engkau para pemimpi
pacar setiap kebodohan dan kecongkakan kami

Pagi Ini Milik Siapa

merdeka, Bung! pagi ini milik siapa?
matahari menatap tajam jalan jalan aspal
berkilapan dengan pantulan debu
diantara mesin mesin kota yang beringas

ada kerling kejenuhan menyeruak lihat betapa beci rindu ia
jalan jalan ini, ia mengasuhnya di pelukan waktu ditaburinya daun daun kering
dan bebunga warna belia saat musim demi musi_m tiba dan angin sedemikian sabar
menghitung terik berlaksa laksa

merdeka, Bung! pagi ini milik siapa?
kemarin seorang renta pedagang kaki lima mati
nestapa tubuhnya redam dihantam truk,
saat dengan cemas dan ketakutan berlari
dikejar sekawanan kamtib kota
remuk jiwanya di aspal ini pula
matahari menyaksikannya
dan angin dengan hiba segan
mempercepat kematiannya

merdeka, Bung! pagi ini siapa punya?

Sajak Cinta Seorang Demonstran

aku bikin selebaran ini, kekasih
seperti ketika seorang demonstran tertembak mati
aku kirim selebaran ini, kekasih
segenting amuk massa di tengah kobaran api

orang orang ini bangkit dari gorong gorong kota
mengalir dari ladang ladang yang nestapa seperti juga aku
yang dihasut salakan jiwa
dibakar amuk rasa

aku berikan selebaran ini, kekasih
demi harapan agar kamu percaya
bahwa sengit surya pada aspal jalan jalan kota
tak pernah redamkan asa
betapa insektisida makin melangit harganya
sedang kelaliman pasar
sudah lama jadikan saat panen tak pesta

itulah alasan kenapa aku harus tumpah di sini
meneriakkan yel yel
dan mengibarkan panji panji cinta
di depanmu. Kepadamu

sebab seperti juga mereka
aku selipkan selebaran ini, kekasih
karena aku begitu mencintai hidup
lantaran harapanku padamu adalah suburnya padi
yang tumbuh di ladang hati yang bersih
bukan dedar benih obsesi lantas mati
bukan candu obat obatan non organik yang blai
seperti mimpi petani yang merdeka menjual hasil kerja
tanpa gemetar di hadapan teror permainan harga

aku hasut kamu, kekasih
untuk mencintaiku
seperti kebenaran para penghuni gorong gorong kota yang terjepit
seperti kepapaan yang melulu menghimpit
yang menyumpah dan mengumpati hidup akibat sulitnya hidup
yang meratapi lambungan harga harga akibat timbunan barang barang langka yang sebenarnya tak langka

aku hasut kamu, kekasih
untuk kumiliki
karenanya aku bikin selebaran ini
lantaran dalam hidup
aku masih kuasa untuk bermimpi

Mengunjungi Ibu

Pada pertengahan hari yang kubanjiri dengan kebencian,
air susu ibu yang kujadikan tombak dan parang seketika
menolak untuk kupakai menyerang. Padahal tubuhku
sendiri sudah basah kuyup oleh darah segar, dan keringatku
memancar layaknya mata air yang tak beranjak kering.

Lalu aku berangkat menemuimu untuk bertanya tentang
semua kemelut ini, semua kepahitan yang tak kumengerti:

Kenapa justru aku yang menjadi tawanan dalam peperangan ini?

Bukankah setiap gerakku adalah pantulan dari setiap peristiwa masa lalu.
Yang pernah kupetik di ladang ladang buku dan museum museum?
Apa hanya sekedar karena aku terlahir di musim ini, sehingga pun engkau kurasa begitu jauh dan tampak sedemikian dekat dengan mereka?

Ibu, tolonglah aku yang mestinya tak mengeluhkan hal ini kepadamu, sebab setiap pertanyaan itu sebenarnya sudah lama telah kujawab sendiri, yang kemudian justru membuatku terpelanting, dalam kekosongan ini. Dan apalagi aku pun sudah pasti tahu bahwa engkau tak ‘kan pernah menjawabnya, tidak akan pernah, meski sekedar seuntai kalimat saja.

Tapi pikirkan jika sedikit saja engkau mengalah, ibu. Kalaupun bukan dukungan, setidaknya aku butuh keyakinan! Dan jika tak lagi kuhisap air susumu, itu karena memang aku sudah terlalu mabuk.

Sekarang, biarkanlah putramu ini menyandarkan kepala barang sejenak. Lalu engkau belailah rambutku, sekali saja. Dan bersama itu ceritakanlah kembali dongeng yang pernah engkau kisahkan pada setiap kali aku hendak tidur di setiap malamnya, di masa kecilku dulu.

Damai Agung Nusantara

Raharjaning nuswantara
Langit kedap biru
Cumlorot cahyaning srengenge
Linandep ing antaraning mega-mega

damai agungmu nusantara
dalam pernik pemik yang ditumbuhi pepohonan
yang cabang dan rantingnya menjalari cakrawala
maka bila temu kau patahan dahan atau bebijian
yang sintuh di wangi bumimu
lekas serabut kecil itu pula menyeruak
dan segera membelukar dalam subur perutmu

damai agungmu nusantara
yang mematut khatulistiwa dengan kapas mendung
pada pagi cerah
serta mega warna kuning keemasan
saat matahari tenggelam ke dasar lautan

indahmu samudra…
yang menyimpan pantai dengan pasir warna warni
hingga buih dan sauh pun
akan menjadi teramat betah berlama lama di sana
hingga para nelayanmu
adalah prajurit gagah perkasa
yang enggan menyerah

Raharjaning nuswantara
Langit kedap biru
Cumlorot cahyaning srengenge
Linandep ing antaraning mega-mega

gemulai pertiwi
mengibas lengan dengan lentik jemari
menebar bunga pada landai angin laut pantai
serta sejuk pada rindang teguh gunung gunungmu
yang termenung

senyumnya menyeruak galau
lembut sorot matanya rindu
membelai kaki kaki bukit
yang melukis pelangi pada batas cakrawala
usai hujan yang membasah
ia mengusap batang batang padi
serta pucuk pucuk pinus
yang menari di antara seribu matahari

damai agungmu nusantara
hingga maha tak terkiralah
luka mata hunjam di jiwa